I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
107. Marah bag.2



Ariel dan Sam serentak melebarkan mata mereka, sementara Joel memberikan tatapan bingung juga bertanya-tanya tentang siapa pria paruh baya yang menyela mereka.


"Sungguh kebetulan yang menyenangkan, aku kembali bertemu denganmu disaat aku ada perlu denganmu, Ariel," ucapnya tersenyum kepada Ariel.


Senyuman Evrad memudar saat melihat Sam berada didekat Ariel, dahinya berkerut dengan tanda tanya.


"Heee,,, sejak kapan kau disini, Sam?" tanyanya penuh selidik.


"Saya hanya memantau pekerjaan disini yang diserahkan tuan muda kepada saya, tuan," sambut Sam.


"Dan kau bersama Ariel? Bagaimana bisa?" tanyanya lagi dengan kerutan tajam dikeningnya.


"Kami hanya kebetulan bertemu disini, Mr.Evrad," jawab Ariel cepat.


"Ahh,, kenapa kau masih saja memanggilku seformal itu?" sambut Evrad tertawa singkat.


"Akan memiiki dampak buruk jika saya bersikap santai kepada anda didepan umum seperti ini, bukankah begitu, Mr.Evrad?" jawab Ariel bertanya dengan suara tenang.


"Sayang sekali, padahal aku tak mempermasalahkan hal itu," sambut Evrad.


Sam menoleh cepat dan menatap Ariel dengan khawatir. Situasi Ariel saat ini sedang sangat tersudut, dimana Sam berasumsi pria bernama Joel adalah orang yang Ariel sebut sebagai orang yang ada di hatinya. Dan dia berdiri didepan Ariel ketika Ariel memberikan jawaban yang berdampak menambah kecurigaan Joel terhadap Ariel.


'Bagaimana ini? Jika nona menjawab pertanyaan tuan besar sekaligus melindungi tuan Bram, itu akan berdampak buruk dengan hubungan nona. Bisa jadi salah paham ini akan membesar,' batin Sam.


"Apakah kau tinggal diapartemen ini?" tanya Evrad. "Kelihatannya kau mulai menyukai sesuatu dengan tampilan mewah kali ini," imbuhnya.


"Saya menempati apartemen lain untuk saat ini," jawab Ariel.


"Ada perlu apa kiranya anda mencari saya?" tanya Ariel mengalihkan topik.


"Tuntu saja untuk memberikan dokumen pernikahan kalian," jawab Evrad santai.


Bagaikan disambar petir, tiga orang yang berada di depan Evrad terkejut dengan kalimat santainya.


Mereka bertiga melebarkan mata mereka, namun dengan pikiran yang berbeda.


"Maaf? Apa maksud anda?" tanya Ariel kaku.


"Apa maksud pertanyaanmu? Tentu saja dokumen pernikahanmu dangan anakku Bram," ungkap Evrad tanpa beban.


"Aku ada urusan tak jauh dari sini, dan kebetulan melihatmu, jadi aku berhenti sebentar untuk menemuimu,"


"Tapi kenapa kau sekarang bersama pria lain? Apakah dia salah satu orang yang kamu latih seperti waktu itu?"


"Atau karena kamu sedang marah dengan Bram, dan kamu bersamanya? Bukankah itu adalah hal yang tidak seharusnya kau lakukan, Ariel?"


Tiap kata yang diucapkan Evrad terasa menampar Ariel tepat diwajahnya. Hal serupa juga dirasakan Joel saat mendengar semua yang dikatakan Evrad.


Wajah Joel mengelap, menahan seluruh tumpukan emosi yang telah ia tahan sejak melihat rekaman Ariel bersama Bram.


Dan sekarang Ariel memakai pakaian yang berbeda dengan yang dipakainya saat mengantar Bram pulang ke apartemennya malam itu.


"Baiklah,, Baiklah,, kau masih muda dan aku tak akan mengatakan apapun padanya jika kamu bersenang-senang. Tapi jangan marah terlalu lama,"


"Ini," ucap Evrad memberikan sebuah dokumen kepada Ariel.


Ariel bergeming saat Evrad memberikan dokumen itu dan diterima oleh Sam.


"Kau juga lebih baik diam, Sam," ucap Evrad.


"Aku pergi dulu," pamitnya.


Evrad pergi meninggalkan mereka bertiga begitu saja. Meninggalkan jeda keheningan panjang antara Joel dan Ariel.


"Aku terlalu bodoh percaya begitu saja dengan semua kata-kata manis yang kau ucapkan,"


"Selamat, Ariel. Kau berhasil jika tujuanmu untuk menghancurkan hati seseorang," ucap Joel tersenyum getir.


"Bukan seperti itu, Joel. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," jawab Ariel dengan suara bergetar.


Air matanya bergulir dengan bebas. Tangannya kembali meraih tangan Joel, namun sekali lagi Joel menepisnya dengan kasar.


"Setelah semua yang aku dengar kau masih bisa berdalih?" sambut Joel kesal.


"Kau bahkan mengakui bahwa kau tinggal disini," imbuhnya.


"Itu,, sedikit rumit. Beri aku waktu untuk menjelaskannya!" pinta Ariel memelas.


"Aku butuh ruang untuk sendiri," tukas Joel.


Joel melangkah meninggalkan Ariel, namun Ariel mengejar Joel, menangkap tangannya.


"Aku mohon dengarkan aku, dokumen itu palsu, semua yang dikatakan Mr.Evrad tidak benar,"


"LEPAS,,!" bentak Joel.


Joel menarik tangannya dan mendorong Ariel menjauh, hingga tanpa sengaja membuat Ariel tersungkur.


Selama beberapa saat, Joel tertegun. Satu sisi hatinya merasa tidak tega melihat Ariel terjatuh dan ingin segera membantunya, namun sisi hatinya yang lain merasakan amarah dan kekecewaan yang besar.


Berusaha melawan hatinya sendiri, Joel mengabaikan Ariel dan segera masuk kedalam mobilnya, meninggalkan Ariel begitu saja.


"JOEELL,,," teriak Ariel.


Ariel menatap nanar kepergian Joel. Mobilnya sama sekali tidak berhenti bahkan setelah ia berteriak memanggil nama kekasihnya.


Kepalanya tertunduk, air matanya mengalir deras, dan tangannya terkepal kuat. Berusaha untuk menenagkan hatinya sendiri.


"Ijinkan saya mengantar anda," ucapnya.


"Tidak perlu," jawab Ariel.


Dengan sisa tenaganya, Ariel berjalan lesu menuju mobilnya. Namun, saat Ariel akan menutup pintu mobil setelah duduk dibelakang kemudi, Sam kembali menahannya.


"Berbahaya bagi anda mengemudi dalam keadaan seperti ini, nona," ucap Sam mengingatkan.


"Aku ingin sendiri," ucap Ariel.


Tangan Ariel menyingkirkan tangan Sam dan menutup pintu. Taka lama berselang, suara deru mesin mobil Ariel terdengar, dan mulai berjalan meninggalkan Sam dalam kebingungan.


"Nona,,," seru Sam.


Namun suara Sam hanya tertelan oleh keheningan saat mobil Ariel menghilang dari pandangannya.


Sam berbalik dan menuju mobilnya sendiri, perasaannya merasakan tidak enak jika membiarkan Ariel mengemudi sendiri, lalu dengan cepat mengejar mobil Ariel.


Waktu terus berjalan, hingga Ariel menghentikan mobilnya disebuah apartemen dan masuk kedalam apartemen tanpa mengetahui Sam telah mengikutinya.


Sam menghembuskan nafas lega, kembali menjalankan mobilnya untuk kembali keapartemen tuannya, menceritakan semua yang ia dengar dan apa saja yang terjadi kepada Bram.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


###Malam hari.


Ariel mengetuk pelan pintu rumah Joel. Namun setelah lama menunggu, pintu rumahnya tak kunjung dibuka.


Berapa kalipun Ariel menghubungi Joel, dan seberapa banyak Ariel mengirim pesan, satupun tak mendapatkan balasan.


Sementara itu, Joel tampak mengintip dari balik tirai rumahnya. Sesaat hatinya goyah dan ingin keluar untuk menemui Ariel, menariknya kedalam pelukannya.


Namun, mengingat Ariel bersama orang lain dan bahkan orang tua Bram mengatakan tentang pernikahan membuat emosi dihatinya menyingkirkan keraguannya.


"Kumohon pulanglah," gumam Joel lirih.


"Aku terlalu lemah untuk menghadapimu sekarang," imbuhnya.


Joel bersandar pada pintu, tubuhnya merosot hingga ia terduduk dengan bersandar pada pintu.


"Joel,,," panggil Ariel.


"Bisakah kamu mendengarku?"


Joel hanya menarik nafas panjang, namun tetap tidak menjawab apapun.


"Apapun yang kamu dengar dari Mr.Evrad hari ini tidak sepenuhnya benar. Banyak hal yang terjadi hingga aku tidak tau dari mana aku harus memulainya, beberapa hal juga terlalu rumit untuk dijelaskan,"


"Bukan berarti aku tidak ingin menjelaskannya, hanya saja hal ini terjadi begitu cepat," ucap Ariel.


Ariel duduk bersandar pada pintu, lalu menghembuskan nafas panjang dan menengadah.


Banyaknya bintang yang bersinar di langit seolah tidak cukup untuk menerangi sisi hatinya yang mulai mengelap. Entah keberapa kalinya air mata itu kembali membasahi pipinya.


Didalam rumah, Joel kembali mengintip dari balik tirai, dan masih melihat Ariel menunggunya diluar.


"Kenapa masih blum pulang juga?" decak Joel. "Ini sudah sangat larut," imbuhnya.


Joel berbalik meninggalkan pintu menuju kamarnya untuk tidur, memilih mengabaikan Ariel yang masih menunggumnya, dan berpikir Ariel tidak akan sanggup bertahan di luar dengan hembusan angin laut saat malam.


Namun, perkiraannya salah. Ariel sedikitpun tidak berpindah dari duduknya, bahkan tidak tertidur sedikitpun.


Pagi harinya saat Joel akan berangkat bekerja, ia terkejut saat membuka pintu Ariel masih berada didepan rumahnya.


"Apa kau sudah gila? Apa maksudmu melakukan ini?" sentak Joel.


"Kau pikir dengan melakukan ini akan membuatku melupakan apa yang sudah kamu lakukan?" dengus Joel.


"Aku tidak akan memintamu untuk melupakannya, karena aku tau itu tidak mungkin," sambut Ariel tetap tenang.


"Beri aku waktu sepuluh menit saja untuk menceritakan apa yang terjadi," harap Ariel.


"Aku tidak memiliki waktu untuk omong kosongmu, pulanglah!" pinta Joel.


"Yang aku katakan bukanlah omong kosong, aku hanya mengatakan apa yang memang terjadi," jawab Ariel.


"Kau sungguh ingiin mengatakanya?" tantang Joel.


Ariel mengangguk.


"Sekarang pergilah, dan datang kembali satu minggu kemudian, maka aku akan mendengarkanmu, tapi jangan terlalu berharap aku akan mempercayainya," ucap Joel.


Selesai mengatakan itu, Joel melewati Ariel begitu saja, kembali meninggalkannya dalam keheningan panjang.


Ariel berbalik menatap punggung Joel yang mulai menjauh. Punggung yang ia jadikan sebagai tempat bersandar, namun Ariel tidak lagi mengejar Joel.


Arel hanya memejamkan matanya sembari mangatur nafasnya.


"Jika itu maumu, maka itulah yang akan aku lakukan," lirih Ariel.


Dengan langkah gontai, Ariel pergi meninggalkan rumah Joel. Sebisa mungkin menahan air matanya agar tidak kembali bergulir.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


To be Continued