
Menit,,,, jam,,, hari,,, minggu,,,
Ponsel Joel kembali berdering disaat jam istirahat, entah sudah keberapa kalinya nama yang sama menghubungi dirinya diikuti dengan pesan dari orang yang sama. Namun lagi-lagi Joel mengabaikannya.
'ARIEL'
Beberapa kali juga Ariel datang ke rumah sakit untuk bertemu, namun Joel selalu tidak menemuinya.
Ariel mulai menghubungi Joel lagi setelah satu minggu sesuai dengan yang diinginkan Joel, hingga Ariel terus mencoba meski diabaikan.
"Kumohon hentikan ini, Ariel," pinta Bram setengah kesal.
"Apa kau sadar sudah berapa lama menunggu disini? Mau sampai kapan?"
Bram menghentikan Ariel yang saat itu akan kembali menemui Joel dirumah sakit.
"Kita pergi sekarang," ucap Bram sembari meletakkan tangannya dibahu Ariel.
Ariel hanya diam tanpa suara, namun tidak menolak ketika Bram menuntunnya untuk meninggalkan rumah sakit menggunakan mobilnya, sementara mobil Ariel dibawa Sam ke apartemen.
"Apa kau akan terus seperti ini?" Bram mengeram kesal.
"Tidak," jawab Ariel singkat.
"Lalu apa?" tanya Bram meninggikan intonasi suranya.
"Jika dia masih tetap tak percaya padaku, ini terakhir kali aku ke rumah sakit ini," jawab Ariel datar.
Bram menoleh cepat kearah Ariel, lalu kembali fokus pada jalan didepannya.
"Cih,,," cibir Bram.
Keheningan menyelimuti mereka, hingga mereka sampai di apartemen Ariel.
"Terima kasih sudah mengantarku, tapi maaf, aku sedang ingin sendiri, jadi bisakah kamu pulang saja?" harap Ariel.
"Baiklah," desah Bram.
"Istirahatlah,,, kumohon,,," harap Bram.
"Tentu," jawab Ariel mulai tersenyum.
"Sampai jumpa lagi, Bram," ucap Ariel sebelum keluar.
"Sampai jumpa," jawab Bram.
Bram menatap punggung Ariel dengan tatapan sedih, tangannya terkepal memikirkan satu orang yang harus bertanggung jawab atas perubahan drastis yang terjadi.
>>>>>>>--<<<<<<<
Pintu rumah Joel terbuka hanya untuk memperlihatkan wajah lelah Joel setelah bekerja dan segera masuk kedalam.
Ia menghempaskan tubuhnya di sofa setelah melemparkan tasnya dengan asal. Tangannya sesekali mengusap wajahnya, tidak bisa memahami dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya, laut bahkan tidak bisa menghibur dirinya, semua terasa sangat jauh berbeda ketika ia merasakan sakit yang di goreskan Jesica padanya.
Semua pikiran itu tanpa sadar membuatnya jatuh tertidur, hingga tidak lagi bisa mendengar seseorang mengetuk pintu rumahnya dan terus menunggu sang pemilik rumah membuka pintu.
Pada keesokan harinya, Joel terbangun saat langit telah berubah terang. Mengeliat dan merentangkan tubuhnya, Joel segera pergi ke kamar mandi untuk melakukan rutinitas paginya.
'TOK,,,
'TOk,,,
'TOK,,,,
Suara ketukan pintu membuat Joel yang baru saja selesai bergegas mengenakan pakaiannya, dan berjalan menuju pintu. Matanya melebar setelah tau siapa yang berkunjung pagi itu.
"Apa yang membuatmu datang sepagi ini, Ariel?" tanya Joel.
'Kamu tampak lebih kurus, apakah kamu sakit?' tanya Joel dalam hati.
"Terima kasih sudah membuka pintu untuk menemuiku, Joel," ucap Ariel.
"Ahh,,, apakah kau datang karena janji itu lagi? Padahal aku sudah mengabaikannya dan itu sudah lebih dari satu minggu, apa kau masih belum mengerti?" cibir Joel.
Ariel mengerakkan bibirnya seakan ingin mengatakan sesuatu, namun apa yang sudah di ujung lidahnya, ia telan kembali, memilih diam.
"Baiklah, tapi sebelum itu, aku ingin mengatakan sesuatu, sekaligus bertanya padamu, kuharap kamu menjawabnya dengan jujur," ucap Joel.
Ariel terdiam, tidak mengalihkan pandangannya dari Joel sedikitpun, lalu mengangguk setuju.
"Apakah kamu berada di aparteman Bram dimalam yang sama setelah kita menemui David?" tanya Joel.
"Benar," jawab Ariel.
"Bram yang menghubungimu?" tanya Joel.
Ariel mengeleng. "Bukan, tapi bartender yang bekerja disana menghubungiku mengunakan ponsel Bram, dan mengatakan dia mabuk," jawab Ariel tanpa keraguan.
"Dan kau tetap datang meski itu sudah sangat larut?" tanya Joel.
"Karena bartender itu memiliki alasan kenapa dia tetap memintaku untuk datang dan tidak bisa menghubungi orang lain," jawab Ariel.
"Bagaimana caranya kau tau apartemen Bram jika dia mabuk? Jika bukan satu-satunya alasan adalah kau sudah tau sejak awal?" sambut Joel.
"Karena dia terus merancau pajang bahwa aku pernah ke apartemennya disaat itu adalah pertama kalinya aku melihat Bram mabuk," jawab Ariel datar.
"Dan apa yang kau lakukan disana?" tanya Joel.
"Kau mengatakan jawaban konyol, kau tau?" sambut Joel mencibir.
Semua pertanyaan dijawab dengan intonasi yang tidak berubah sedikitpun, datar dan wajah tanpa ekspresi.
"Aku bisa menerima jika kau mengantarnya, tapi kenapa kau tidak pulang setelah itu? Dan pagi harinya kau juga mengenakan kemeja miliknya, siang harinya kau memakai pakaian berbeda setelah pria asing yang kau sebut Sam datang, apa yang terjadi dengan pakaianmu sebelumnya?" tanya Joel menatap tajam.
"Bagaimana kamu akan menjelaskan hal itu?" imbuhnya.
Kali ini Ariel terdiam, namun tidak berpaling dari Joel yang mentap tajam padanya. Hatinya bertanya-tanya bagaimana bisa Joel mengetahui detailnya disaat ia belum mengatakan apapun? Namun ia hanya diam dan mulai mengerti mengapa Joel bisa sangat marah padanya, dan itu menyakitkan bagi Joel.
"Sekarang katakan, apa yang ingin kau katakan," pinta Joel setelah menunggu Ariel tetap diam.
"Aku sudah mengatakan apa yang ingin kukatakan," jawab Ariel. "Dan aku tidak memiliki pembelaan apapun," imbuhnya.
Ariel tersenyum tipis, menyadari sebanyak apapun penjelasan yang akan ia keluarkan, Joel hanya percaya dengan asumsinya sendiri alasan Ariel tidak segera pulang setelah mengantar Bram keapartemennya.
"Aku datang bukan untuk membuatmu percaya padaku, aku datang hanya karena aku perlu mengatakan apa yang perlu ku katakan, setelah ini aku tak akan menganggumu," ucap Ariel.
Ariel melangkah mendekat, entah bagaimana, Joel justru membeku ditempatnya, bahkan saat Ariel memeluknya dengan erat, Joel hanya bergeming ditempatnya.
"Kumohon ijinkan aku seperti ini sebentar, hanya lima detik saja," ucap Ariel.
Sisi hatinya sangat ingin membalas pelukan kekasih yang ia rindukan, sisi lain hatinya masih terus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatnya berpikir Ariel telah melakukah hal lain bersama Bram.
"Maaf,," lirih Ariel.
"Maafkan aku telah melukai hatimu,"
"Maafkan aku,,"
Setelah mengatakan itu, Ariel melepas pelukannya dan pergi meninggalkan rumah Joel.
Tubuh Joel terhuyung kebelakang seolah kehilangan seluruh kekuatan dikakinya hingga hampir terjatuh ketika punggungnya membentur pintu. Ia kembali masuk kedalam rumahnya, mengambil air, lalu meneguknya. Kini, ia merasakan kekosongan yang luar biasa dihatinya.
"Aku tidak ingin terus-terusan seperti ini," keluh Joel.
Joel mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Memikirkan kembali apa saja yang sudah terjadi dan mengapa itu semua terjadi. Sampai suara ketukan pintu kembali terdengar setelah beberapa menit lalu Ariel pergi.
"Apakah Ariel kembali?" gumam Joel bergegas membukakakan pintu, berharap Ariel kembali.
"Kau,,?" desis Joel saat wajah Bram muncul didepannya.
"Dimana dia?" tanya Bram.
"Siapa yang kau maksud?" jawab Joel balas bertanya.
"Kau tau persis siapa yang ku maksud," jawab Bram kesal.
"Jika yang kau maksud adalah kekasihmu, seharusnya kaulah yang lebih tau dimana dia," sambut Joel.
"Cukup dengan itu," geram Bram.
"Dia bahkan jauh lebih baik darimu ketika menyikapi masalah yang datang, dan tidak berasumsi tanpa dasar sepertimu," dengus Bram.
"Apakah kau masih belum sadar juga? Seseorang sangat ingin hubungan kalian rusak dan melakukan segala cara untuk menghancurkan hubungan kalian?" ucap Bram meluapkan emosinya.
"Kau salah satunya," jawab Joel.
'BUGH,,,!!!'
Bram melayangkan tinjunya tepat mengenai wajah Joel, dan segera mencengkram kerah baju Joel dengan kasar sebelum Joel sempat melakukan perlawanan.
"Kau sudah menunjukan sisi breng*sekmu, dan masih bersikap kau lebih baik dariku?" hardik Bram.
"Cih,,, bukankah kau juga sama? Kau mau menculiknya disaat dia sakit," tuduh Joel.
"Tuduhan tanpa dasar, dan sungguh bodoh. Bagaimana bisa aku berada di dua tempat sekaligus? sehari setelah aku mengatarnya pulang saat bertengkar denganmu, aku kembali kekotaku beberapa hari karena masalah dokumen pernikahan palsu yang di buat si tua itu,"
"Aku kembali lagi kemari tepat saat dia sudah terlihat lebih baik setelah dia mengatakan sakit hingga kau merawatnya dan mengatakan hubungan kalian kembali membaik,"
"Hal lain yang perlu kau tau, seseorang memasukan Afrodisiak ke minumanku tanpa kusadari, aku menyadari itu setelah meminumnya,"
"Aku bodoh, ku akui itu karena aku tidak bisa ingat siapa wanita itu, dan dia juga yang meminta bartender untuk menghubungi Ariel untuk menjemputku,"
"Kau bukan dokter bodoh yang tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya bukan?"
"Tapi Ariel berhasil membuatku tak sadarkan diri dan merawat lukaku karena rasa bersalahnya, tapi apakah kau tau dia gemetar ketika berada didekat lawan jenisnya?"
"Saat itu juga pria tua itu kembali datang membuat semuanya menjadi lebih berantakan dan disaat yang sama kau menghancurkan hatinya,"
Bram mendorong Joel dengan kasar. Tangannya terkepal kuat seolah sangat ingin menghajar Joel saat itu juga, namun ia berusaha menahannya.
"Saat dia sangat membutuhkan dukungan darimu, kau justru membuat situasi menjadi lebih buruk,"
"Pria tua itu bahkan memuat semua berita tentang dirinya tanpa persetujuan apapun, hal yang tidak bisa kuhindari disini adalah pria tua itu adalah ayahku sendiri,"
Joel merasakan semua beban jatuh tepat diatas kepalanya. Hatinya terguncang hebat mendengar apa yang baru saja Bram katakan padanya.
.....
....
.
.
To be Continued