
Joel dan Bram akhirnya berhasil mencapai puncak tebing. Mereka sedikit terkejut saat melihat Christina dan Jesica berdiri disana menutupi Ariel yang berada didepan mereka berdua.
Ketika Joel dan Bram baru akan melangkah mendekat, mereka justru melihat salah satu dari mereka mendorong Ariel hingga Ariel terjun bebas kelaut yang berada di bawah mereka.
"HEEYYYYY,,,,,,"
Joel dan Bram serentak berteriak panik sembari berlari, membuat dua wanita itu serentak menoleh. Mereka terkejut setelah tau Joel serta Bram berada disana dan melihat apa yang terjadi.
Dua pria itu menatap tak percaya pada dua wanita didepan mereka. Bram menghentikan larinya, melihat kebawah dan tidak lagi melihat Ariel, seolah telah ditelan ombak. Namun tidak begitu dengan Joel.
Tanpa menghentikan larinya, Joel melompat begitu saja, menceburkan dirinya sendiri ke laut.
"BYUURRR,,,"
Bram melihatnya dari atas tebing dan tidak lagi melihat Joel. Mereka berdua seolah telah ditelan oleh lautan. Namun, Bram mempercayai Joel sepenuhnya dan segera membalik badannya menatap dua wanita yang masih berada disana, tercengang dengan aksi Joel.
"Jangan berharap ini sudah selesai, kalian berdua tidak akan ku lepaskan begitu saja," dengus Bram.
"Apakah kalian berdua akan ikut baik-baik atau aku harus menyeret kalian dengan paksa?" ancam Bram bertanya sembari berjalan melewati mereka.
Bram turun dari tebing dan menuju bibir pantai, mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Joel dan Ariel. Sementara Christina serta Jesica hanya berdiri tak jauh dari Bram.
"Sial,,," umpatnya.
Bram melihat titik tebing dan tempat Ariel memungkinkan mendarat dibawahnya, hingga tanpa peringatan, Bram menceburkan diri ke laut.
Menyelam untuk mencari keberadaan Ariel, namun ia tidak melihat Ariel dimanapun. Hal serupa juga dialami Joel yang telah lebih dulu menyelam, namun tidak menemukan apapun, hingga mereka berdua naik ke permukaan.
Pandangan mereka bertemu saat mereka mengambil nafas, Bram menunjuk satu arah dengan tangannya lalu menunjuk Joel dan arah lainnya untuk dirinya sendiri.
Joel mengangguk dan kembali menyelam, begitu pula dengan Bram. Dalam keadaan panik itu, Joel berusaha menenangkan hatinya, berusaha menajamkan penglihatannya didalam air.
'Ariel,,, kamu dimana? Kumohon beritahu aku dimana kamu sekarang,' batin Joel penuh harap.
'Kumohon,,,, beri aku tanda dimana kamu sekarang,' batin Joel lagi.
Joel menyelam lebih dalam, berharap itu bisa berguna dan bisa menemukannya. Seolah sesuatu menuntunnya untuk terus menyelam lebih dalam, saat itu juga Joel melihatnya.
Mengerahkan seluruh tenaganya, Joel berenang kearah dimana Ariel dalam keadaan tidak sadar dan menjangkau pergelangan tangannya, lalu menariknya mendekat kearahnya sebelum arus laut membuat Ariel menjauh.
Setelah berhasil mendapatkan Ariel, Joel melingkarkan tangannya di tubuh Ariel dan berenang kepermukaan.
Bram muncul dipermukaan lebih dulu dengan tangan kosong, wajah frustasinya mencari keberadaan Joel. Tak lama kemudian, Joel muncul seraya berenang menepi dengan Ariel ditangannya.
Melihat hal itu, Bram mengikuti Joel menepi. Khawatir akan hal yang tidak diinginkan terjadi ketika melihat Ariel terkulai dalam gendongan Joel saat mereka telah sepenuhnya keluar dari air.
Joel meletakkan tubuh Ariel diatas pasir, lalu mendekatkan telingannya di hidung Ariel, kepanikan hampir menguasainya saat Joel sama sekali tidak bisa merasakan hembusan nafas Ariel.
Tangannya mengangkat sedikit kepala Ariel, menutup hidungnya dan meniupkan nafas melalui mulutnya.
Tangannya berpindah menekan dada Ariel beberapa kali, berharap ia mendapatkan reaksi. Joel kembali mengulang meniupkan nafasnya, dan menekan dadanya. Namun kembali sia-sia.
"Kumohon,,, bernafaslah," harap Joel masih terus menekan dada Ariel berulang kali.
Jesica yang saat itu membatu ditempatnya segera tersadar dan perlahan mendekati mereka, melepaskan jaket yang ia kenakan, menyisakan atasan tanpa lengan ditubuh Jesica, dan memberikan jaket itu pada Joel.
Joel menerima tanpa bertanya, pikirannya saat ini hanya tertuju pada Ariel dan bagaimana caranya untuk membuat Ariel kembali bernafas.
Joel merobek pakaian basah yang Ariel kenakan dan memakaikan jaket dari Jesica ke tubuhnya, menjaga agar tubuh Ariel tetap hangat dan kembali memberikan nafas serta menekan dadanya berulang kali.
"Tidak,,, berhenti menakutiku,,," gumam Joel dengan suara begetar
"Kumohon,,,, bernafas,,," ucap Joel lagi
Bram mendekat saat melihat apa yang dilakukan Joel sia-sia. Tangannya meraih pergelangan tangan Ariel untuk memeriksa nadinya.
Nafas Bram tercekat saat ia tidak lagi merasakan apapun, tangan Ariel bahkan terasa lebih dingin dari sebelumnya. Hal itu membuat Bram terduduk lemas disamping Ariel tanpa melepaskan tangannya.
"Dia,,,,"
Bram tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, pandangannya tertuju pada Joel yang terus berusaha membuat Ariel kembali bernafas, namun usahanya sia-sia.
"Heii,,,, Sweety,,, bangun,,,, kumohon,,,," ucap Joel membelai wajah Ariel yang semakin pucat.
"Aku akan menerima hukuman apa saja, tapi ,,, jangan hukum aku seperti ini,,, ku mohon buka matamu," pinta Joel mulai mengeluarkan air mata.
"Aku tak akan membunuhmu, kau lebih pantas hidup dengan perasaan seperti itu," ujar Bram putus asa.
"Membunuhmu hanya menunjukan aku terlalu baik padamu," imbuhnya.
Joel mendengar apa yang dikatakan Bram dengan sangat jelas, bahkan dirinya sendiri akan lebih senang jika Bram memang membunuhnya saat itu juga.
"Ayoolah,,,, bernafas,,,," ucap Joel semakin putus asa.
"Cukup," imbuhnya.
"Tidak,,," Joel menepis tangan Bram dan kembali menekan dada Ariel.
"Dia tidak mungkin melakukan ini," sanggah Joel.
"Hentikan!" cegah Bram.
"Aku seorang dokter,,, apa gunanya hal itu jika aku bahkan tidak bisa menolong kekasihku sendiri," jawab Joel meninggikan intonasi suaranya.
"Lalu apa?" balas Bram. "Apa kau akan terus menekan tubuhnya seperti itu?" bentaknya.
Gerakan tangan Joel berubah semakin pelan, hingga akhirnya ia menghentikan gerakannya. Air matanya jatuh bebas dengan mata yang terus memandangi wajah Ariel.
Wajah yang selalu tersenyum, bahkan tetap tersenyum saat dirinya mengatakan kata-kata pedas padanya. Kini wajah itu berubah semakin pucat.
"Leluconmu sungguh tidak lucu,,, bangun,,,Sweety,,, bangunlah,,, buka matamu,,,"
Joel menagkup wajah Ariel, hingga air matanya menetes tepat di wajah Ariel yang tidak lagi bergerak.
"Kamu bisa marah sepuasnya padaku,,, kamu bisa melemparkan barang apa saja padaku,,, tapi kumohon bangunlah,,," ratap Joel putus asa.
Joel mengangkat kepala Ariel yang terkulai, tubuhnya semakin dingin seiring berjalannya waktu. Mendekapnya dengan erat.
"Maafkan aku,,,, maafkan aku,,,," ucapnya terisak.
"Seharusnya aku mendengarkanmu,,,, seharusnya aku percaya padamu,,, maafkan aku,,, kumohon kembalilah padaku,," isaknya.
Joel terus mendekap tubuh Ariel dalam pelukannya, berharap tubuh dinginnya akan kembali hangat.
"Aku mohon kembalilah padaku,,," ratap Joel.
"Jangan tinggalakan aku dengan cara seperti ini, aku minta maaf,,,"
Joel mengangkat wajahnya menatap dua wanita yang masih berdiri disana, namun tidak mengatakan apapun dan kembali menunduk.
Bram berdiri dan menatap Jesica serta Christina secara bergantian.
"Salah satu dari kalian mendorongnya," ucap Bram.
"Dan itu dilakukan secara sengaja," imbuhnya.
Pandangan Bram tertuju pada Jesica sebelum kembali membuka suaranya.
"Jika kau bukan wanita, aku sudah lama menghajarmu," geram Bram.
"Kau menuduhku?" sambut Jesica dengan alis terangkat.
Bram menatap tajam dalam diam.
"Cih,,, kau benar,,, lalu?" tantang Jesica.
Bram mengepalkan tangannya, rasa kehilangannya jauh lebih besar dibandingkan emosi yang meluap dihatinya. Ia kembali berbalik menatap Joel yang masih mendekap erat tubuh Ariel.
Hatinya merasakan kehilangan yang teramat dalam, namun ia tau satu hal, Joel jauh lebih merasa kehilangan dibandingkan siapapun.
"Berikan ponselmu!" perintah Bram pada Jesica.
"Kenapa aku harus menurutimu?" sambut Jesica sinis.
"Kalau begitu, hubungi Charlie sekarang!" perintah Bram.
"Apa?" sambut Jesica terkejut.
"Kau tentu memiliki nomor ponselnya," ucap Bram. "Atau kau takut terbukti bersalah?" sambungnya.
Jesica baru akan mengeluarkan keberatannya saat mata Bram seolah menusuknya, pandangannya beralih pada Joel dan kembali lagi pada Bram.
"Baik, aku akan menghubunginya, kau senang?" jawab Jesica kesal.
Jesica menghubungi Charlie, mengatakan hal yang terjadi dengan singkat lalu menutup ponselnya begitu saja.
"Datang ke rumah Joel sekarang, seseorang membunuh Ariel," ucap Jesica singkat.
Tanpa menunggu tanggapan, Jesica menghempaskan ponselnya dengan kesal, sementara Christina terlihat akan mengatakan sesuatu namun mengurungkan niatnya.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
To be Continued