I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
141. Suka usil



"Haahh,,," desah Ariel segera menghempaskan tubuhnya di sofa begitu masuk kedalam apartemen.


"Aku lelah sekali," keluhnya menyandarkan kepalanya.


Joel hanya tersenyum sembari mengelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya. Mereka baru saja tiba di apartemen lewat tengah malam, dan itu karena beberapa orang menahan Ariel untuk diajak berfoto bersama di area luar hotel.


"Padahal kita bisa menginap di hotel, setidaknya itu bisa membuatmu istirahat lebih cepat," ucap Joel menghampiri Ariel disofa setelah mengunci pintu.


"Aku lebih suka di sini," jawab Ariel menutup matanya.


"Kupikir kamu lebih suka disana, yang artinya kamu juga bisa melihat Darcie lebih lama," ujar Joel duduk di samping Ariel.


Kedua mata Ariel seketika terbuka lebar dan segera menegakkan badannya.


"Hei,,, apa maksudnya itu?" sambut Ariel mengerutkan keningnya.


Joel segera memutar badannya hingga mereka saling berhadapan. Kedua matanya menelisik kedalam manik mata Ariel, memberikan tatapan tajam pada sang istri.


"Apa artinya tatapan itu sekarang? Kau membuatku merinding, Bunny," ujar Ariel mulai bergidik.


"Bukankah kau sendiri yang mengatakan, dia sosok sempurna? Tampan, kaya, dan memiliki segalanya?" ujar Joel mengulang apa yang dikatakan Ariel ketika mereka masih diacara pesta perayaan Darcie.


"Sedangkan aku, tidak," imbuhnya.


"Tunggu sebentar," sambut Ariel mengangkat satu tangannya sembari menyipitkan mata.


"Aku mengatakan itu karena semua orang akan berpikir begitu dan itu cara tercepat untuk mengalihkan perhatian mereka sekaligus membuat mereka diam," sanggah Ariel.


"Semua orang?" ulang Joel mengangkat alisnya. "Termasuk dirimu sendiiri, begitukah?" sambungnya.


"Kenapa sekarang kamu meributkan hal ini?" keluh Ariel.


"Kamu mengatakan hal seperti itu didepan semua orang dan didepanku tanpa beban, itulah masalahnya," jawab Joel.


"Bukankah aku sudah mengatakan alasannya? Dan lagi, aku mengatakan hal seperti itu tanpa di dasari perasaan apapun," terang Ariel mulai panik karena suaminya salah paham.


'Pft,,ha haha,, Astaga,,kenapa dia menjadi terlihat mengemaskan ketika panik seperti ini? Membuatku semakin ingin mengodanya saja,' batin Joel.


"Hei,,, Bunny, jangan bilang kalau kamu cemburu hanya karena hal itu," tebak Ariel.


"Hanya?" ulang Joel menyipikan matanya.


"Jadi menurutmu itu adalah hal wajar dan sebuah kesalahan jika aku cemburu?" tanya Joel memasang wajah datar.


"Tidak, bukan begitu," jawab Ariel mengoyangakan kedua tangannya.


"Tapi apa yang aku katakan tentangnya tanpa dasar perasaan apapun, berbeda ketika apa yang ku katakan berkaitan denganmu atau semua tentangmu,"


"Bukankah aku juga sudah mengatakan hal itu didepan mereka?" ucap Ariel.


"Bukankah itu sama saja? Apa yang membuatnya terdengar berbeda?" sambut Joel masih mempertahankan wajah datar.


"Jika itu tentangmu, aku mengatakannya karena aku memang mencintaimu, bukan hanya untuk mengalihkan perhatian mereka dimana aku tidak memiliki perasaan apapun didalamnya," terang Ariel.


Joel memalingkan wajahnya, menyembunyikan raut wajahnya dari Ariel ketika ia berusaha menahan tawanya.


"Hei,,, Bunny," panggil Ariel dengan suara memelas.


"Aku minta maaf jika apa yang aku lakukan membuatmu tersinggung, aku tidak bermaksud begitu," jelas Ariel.


"Kamu tau aku hanya akan mencintaimu, bukan?" sambungnya sembari meraih tangan Joel dan mengenggamnya.


Joel menoleh dengan gerakan cepat, hembusan nafasnya seketika berubah berat, sampai ia meletakkan tangannya di tengkuk Ariel dan meraup bibirnya dengan kasar.


Ariel terkesiap dengan perubahan suasana yang tiba-tiba, merasakan ada yang berbeda dengan suaminya, hingga kedua tangannya berusaha untuk mendorong Joel menjauh namun tenaga yang ia keluarkan hanya membuat Joel bergeming. Suaminya justru berubah lebih agresif dari sebelumnya.


Tangan Joel mulai meraba-raba resleting dari gaun yang masih menempel di badan Ariel dan menariknya kebawah, membuat Ariel kian terkejut dan semakin memberontak.


'Aku harus mengingat untuk tidak lagi membuat dia cemburu, dia menjadi mengerikan ketika cemburu,' batin Ariel masih berusaha memberontak meski sia-sia.


Ariel memukul dada Joel beberapa kali saat merasakan ia hampir kehabisan nafas, membuat Joel menarik wajahnya, menunjukan seringai lebarnya yang membuat Ariel tersadar.


"Menyebalkan!" sungut Ariel mendorong Joel menjauh, namun Joel masih tetap tidak melepaskan Ariel begitu saja.


"Kamu hanya mengodaku, bukan?" tanya Ariel.


"Kupikir_,,,,"


"Aku tidak berbohong ketika aku mengatakan aku cemburu karena kamu mengatakan hal manis tentang pria lain didepanku," potong Joel cepat.


"Namun aku juga mengerti dengan apa yang kamu maksudkan. Hanya saja itu terdengar menyebalkan," papar Joel.


"Dan kamu berkata seperti itu dengan begitu tenangnya disaat aku bahkan tidak bisa menyentuhmu dengan benar selama beberapa hari. Ditambah lagi penampilanmu yang seperti ini,"


"Untuk mengobrol sebentar saja, seperti tidak memiliki kesempatan karena pekerjaan dirumah sakit menyita waktuku," keluh Joel.


"Tapi kenapa harus mengodaku dengan cara seperti tadi? Aku sempat berpikir kamu benar-benar marah padaku," gerutu Ariel.


"Bukankah kamu juga sering melakukan hal itu?" ujar Joel balas bertanya.


"Ohh,, jadi kamu melakukan balas dendam?" sambung Ariel menyipitkan matanya.


Joel tersenyum dan menjawab dengan tindakan, ia segera menarik Ariel berdiri, membuat setengah dari dress yang di kenakan sang istri meluncur ke bawah dengan perlahan hingga bahunya terekspos sepenuhnya didepan mata Joel.


Ia mendorong sang isatri untuk mamasuki kamar, sementara tangannya yang masih bebas perlahan mulai menanggalkan pakaiannya sendiri. Hingga, ketika mereka berada didalam kamar, Joel hanya memberikan tarikan lembut pada dress itu untuk membuat terlepas sepenuhnya.


"Kamu membuat drama panjang hanya untuk ini?" tanya Ariel dengan tatapan tak percaya.


"Apapun hal tentangmu bukan sekedar 'hanya' bagiku," ujar Joel merengkuh pinggang Ariel.


"Setidaknya aku masih bisa menahan diri sampai kita mendapatkan waktu privasi kita, bukan melepaskannya ketika kita masih di dalam mobil," ujar Joel.


"Hemmm,,," gumam Ariel melingkarkan tangannya di leher Joel.


"Aku ingin tau, seberapa baik kamu dalam mengendalikan diri? Hemm?" tantang Ariel.


"Apakah itu cara halusmu untuk meminta hadiah dariku?" tanya Ariel tersenyum.


Senyuman di wajah Joel melebar, menempelkan dahinya didahi Ariel.


"Apa yang akan kamu lakukan jika aku mengatakan 'Ya'? Kau tau aku tidak menyukai ponolakan, bukan?" jawab Joel balas bertanya.


"Maka, ambilah hadiahmu," balas Ariel.


###Beberapa saat sebelumnya


Acara yang di selenggarakan Darcie berakhir hingga lewat tengah malam. Namun hal itu seolah bukan penghalang bagi para tamu yang masih belum meninggalkan tempat pesta.


Ken telah lebih dulu pulang bersama Alice. Malam itu Alice telah melihat semua kebenaran yang selama ini di perdebatkan bersama teman-temannya. Rumor palsu yang sempat beredar dan menjadikan Ariel dinilai buruk berbalik arah membuat Ariel disegani oleh orang dari berbagai kalangan kelas atas.


Bram pergi untuk mengantar Jesica pulang tanpa hambatan, hingga kini menyisakan Ariel dan Joel yang juga bersiap untuk pulang, namun terhalang oleh beberapa orang yang meminta untuk foto bersama setelah acara selesai.


Ketika acara masih berlangsung, mereka tidak bisa menggunakan ponsel mereka karena aturan yang diberlakukan adalah tidak diperkenankan menggunakan ponsel untuk memotret ataupun merekam.


Beberapa saat setelah Ariel dan Joel meninggalakan tempat itu, disisi lain, Darcie ditemani asistennya tengah berhadapan dengan Evrad.


"Ku harap, ini adalah yang terakhir kali kau menganggu mereka, juga anakmu. Meski kau ayahnya, tapi kini dia juga menjadi mitra bisnisku,"


"Kau berada dalam pengawasanku, tuan Evrad," tegas Darcie dengan intonasi suara penuh penekanan.


"Pergerakan kecil yang kau lakukan dan itu berhubungan dengan mereka berempat, akan ku artikan sebagai kau menantangku,"


"Dan aku tidak akan segan lagi jika hal itu terjadi,"


Darcie meninggalkan Evrad yang terduduk lemas ditanah. Dirinya tidak bisa lagi melakukan pergerakan apapun.


###Keesokan harinya...


Ariel tersentak dipagi harinya dan segera membuka lebar kedua matanya ketika melihat kearah jendela sinar mentari telah menembus tirai kamar mereka.


"Astaga,,, jam berapa ini?" ujar Ariel terkejut.


Ia meraba-raba diatas nakas untuk mencari ponsel miliknya, namun gerakannya sedikit tertahan saat menyadari Joel masih terlelap disampingnya dan masih mendekap tubuhnya.


Bergerak perlahan, Ariel menemukan ponsel untuk melihat jam berapa saat itu karena lupa menganti baterai jam dinding yang ada dikamar. Seketika ia melebarkan kedua matanya saat melihat jam yang tertera di ponsel 08.30am.


"Celaka, aku terlambat," rutuk Ariel.


Ia menyingkap selimut dengan perlahan karena tidak ingin membangunkan suaminya yang masih terlelap. Menggeser tangan Joel yang melingkari pinggangnya dengan hati-hati.


Namun, sebelum usahanya berhasil, Joel kembali menarik Ariel hingga kembali berbaring.


"Tidur lagi saja,!" saran Joel dengan mata masih terpejam.


"Ini sudah sangat terlambat, Bunny," keluh Ariel.


"Hari ini aku tidak bekerja, jadi bisakah kita pergi jalan-jalan saja?" bujuk Joel membuka matanya.


"Kita bisa melakukannya, tapi biarkan aku berangkat bekerja pagi ini, dan kita berangkat saat jam makan siang nanti, bagaimana?" jawab Ariel.


"Kamu serahkan saja pada Ken!" bujuk Joel lagi.


"Aku masih ingin seperti ini lebih lama," ucap Joel mengeratkan tangan yang melingkar di pinggang Ariel.


Sementara satu tangannya yang lain merebut ponsel Ariel dan menghubungi Ken tanpa menunggu jawaban istrinya.


Beberapa saat menunggu, suara Ken terdengar dengan beberapa suara lain yang ikut berbicara.


"Ya, kak? Apa kak Ariel datang terlambat hari ini?" sambut Ken.


"Ini aku," ujar Joel.


"Ehh,,, kak Joel? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Ken.


"Hari ini dia tidak berangkat, bisakah kamu mengatasinya?" tanya Joel.


"Bisa saja, tapi kenapa? Apakah kak Ariel sakit?" tanya Ken.


"Tidak, tapi kami ada urusan," kilah Joel.


"Jadi, bisakah kamu mengatasi hari ini tanpa, Ariel?" tanya Joel.


"Tentu saja bisa," jawab Ken.


"Kalau begitu, tolong ya, aku tutup dulu," ucap Joel segera memutuskan panggilannya sebelum mendengar jawaban Ken.


Joel meletakkan ponsel Ariel diatas nakas, sementara Ariel hanya menatap suaminya dengan menyipitkan matanya.


"Caramu berbohong sungguh meyakinkan," sindir Ariel.


"Terima kasih pujiannya," sambut Joel seenaknya.


"Itu bukan pujian, Bunny," tukas Ariel.


"Ya,,ya,,ya,, apapun. Sekarang ayo tidur lagi," ajak Joel.


"Sebagai gantinya, hari ini aku yang akan memasak untukmu," bujuk Joel.


"Selama satu minggu kedepan," tawar Ariel.


"Hei,,, itu tidak adil," protes Joel.


"Ya atau aku berangkat ke studio," ancam Ariel.


"Licik," cibir Joel.


"Kamu sendiri yang mengatakan ini cerdik, bukan licik," balas Ariel menjulurkan lidahnya.


"Baiklah,, Baiklah,, kamu menang. Sampai satu minggu kedepan aku yang akan memasak, kau senang?" sahut Joel menaikan alisnya.


"Sangat,," jawab Ariel tersenyum lebar kembali membenamkan wajahnya didada Joel.


Sejujurnya Ariel masih sangat mengantuk pagi itu, dan dengan cara Joel menghubungi Ken sedikit membantunya untuk mendapatkan tambahan waktu untuk beristirahat.


Dan Ariel juga tau, suaminya menyadari hal itu, namun bersikap seolah tidak tau dan menerima permintaanya untuk memasak hanya karena suaminya ingin memanjakan dirinya.


"Kamu adalah suami sempurna dalam hidupku," bisik Ariel.


Joel hanya tersenyum kecil, mengeratkan dekapannya, hingga tak butuh waktu lama bagi mereka untuk kembali terlelap.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


To be continued