I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
6. Tinggal Bersama 2



Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~


 


Di sebuah kursi panjang di bawah pohon yang berada di taman rumah sakit, Ariel masih duduk menunggu.


Matanya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian mendesah pelan.


"Aku sudah menunggu di sini selama satu jam, apa dia tidak jadi mengantarku? Kalaupun tidak jadi, entah karena sibuk atau apapun itu, setidaknya kabari aku dong,!" sungut Ariel.


Ariel masih menunggu, sesekali tangannya memainkan daun kering yang gugur kearahnya.


Tiba-tiba bahunya terasa berat saat seseorang meletakkan tangan di atas bahunya. Ketika menoleh, sebuah senyuman tersungging di sudut bibirnya.


"Maaf, aku membuatmu menunggu lama," sesalnya.


"Apa yang kamu lakukan hingga membuatmu begitu lama, Joel?" protes Ariel.


"Mengurus surat keluarmu dan juga surat ijin agar aku bisa merawatmu," jelas Joel.


"Apakah ada masalah,?" tanya Ariel khawatir.


"Tidak sama sekali, hanya kamu harus tetap datang ke sini untuk pemeriksaan lanjutan dan untuk pelepasan gips," terang Joel.


"Syukurlah kalau begitu," sambut Ariel.


"Jadi, kita berangkat sekarang?" tanya Joel.


"Yah, tentu," jawab Ariel.


Ariel bangun dari duduknya dan bersiap untuk kembali berjalan. Namun, sebelum Ariel melakukannya, Joel lebih dulu mengendong Ariel dan membawanya ke mobil.


"Eehhh,,, Joel,,,! Apa yang kamu lakukan?" protes Ariel saat Joel mengangkat tubuhnya.


"Begini akan lebih cepat, dan lebih aman dari pada kamu melompat dengan satu kaki," sambut Joel.


"Tapi kan_,,,"


"Sshhh,,, kamu hanya harus tenang dan diam, itu saja," potong Joel.


Ariel pun meletakkan tangan di leher Joel dan membiarkan Jeol mengendongnya.


Dalam perjalanan menuju apartemen Ariel, mereka saling mengobrol dan saling mengenali satu sama lain.


Mereka tiba di sebuah apartemen yang tampak begitu asri. Tempat parkir yang cukup luas dan sebuah lift barang yang berada di sudut tempat parkir memudahkan siapapun yang memiliki banyak barang untuk di bawa ke apartemen mereka.


Joel keluar dari mobil dan mengitarinya, membuka pintu penumpang dimana Ariel duduk dan membantunya keluar.


Joel kembali mengendong Ariel dan berjalan menuju Lift.


"Di lantai berapa?" tanya Joel.


"Lantai 6," jawab Ariel.


Joel mengangguk dan menekan tombol. Hingga pintu terbuka, Joel sama sekali tidak melepaskan Ariel.


"Bukankah aku berat?" tanya Ariel membuka suara.


"Jika yang sepertimu berat, aku tidak tau bagaimana dengan orang sepertiku," sambut Joel terkekeh.


"Aku serius, Joel. Aku bisa berjalan menuju apartemenku," tawar Ariel.


"Kamu sama sekali tidak berat, Ariel. Jadi jangan khawatir," balas Joel.


TING,,,,


Bunyi lift di sertai dengan terbukanya pintu menyela mereka.


"Pintu apartemenku di sana," tunjuk Ariel.


Joel mengangguk dan melangkah mengikuti arah yang di tunjuk Ariel. Hingga mereka berdiri di depan pintu yang masih terkunci.


Joel menurunkan Ariel dangan hati-hati dan meminta Ariel untuk bersandar.


"Tunggu sebentar, aku akan megambil barang-barangmu. Kunci apartemenmu ada disana bukan?" tanya Joel.


"Iya, benar," jawab Ariel.


"Baiklah, aku akan mengambilnya," ucap Joel yang segera berlari begitu saja.


Ariel menunggu dengan bersandar sesuai yang di sarankan Joel padanya. Tak butuh waktu lama, Joel kembali lagi dengan beberapa tas berada di tangannya.


Joel membuka pintu apartemen dan memasukan semua barang Ariel kedalamnya. Baru kemudian dia membantu Ariel masuk kedalam dan duduk di sofa.


Joel mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, dan berdecak kagum.


"Apakah kamu tinggal sendiri?" tanya Joel.


"Ya, apakah aku belum mengatakannya?" Ariel balas bertanya.


"Kurasa belum," sambut Joel.


"Kalau begitu aku baru saja mengatakannya," balas Ariel.


"Jadi, maksudmu kita hanya berdua disini?" tanya Joel lagi membelalakan matanya.


"Kenapa sekarang kamu yang terlihat terkejut begitu?" sambut Ariel.


"Terus terang saja, sekarang pertanyaanmu terdengar mengerikan!" sambut Joel.


"Jangan berlebihan,!" tukas Ariel. "Selama kamu tinggal di sini, kamu tidur di sofa," sambungnya.


"Jahat sekali," protes Joel.


"Hei,,, bukankan itu bagian dari kode etik kedokteran yang menjadi kebanggan kalian?" cibir Ariel.


"Baiklah,,, Baiklah,,, aku kalah," jawab Joel mengangkat kedua tangannya.


Mata Joel kini tertuju pada sebuah piano yang berada di sudut ruangan di dekat jendela kaca besar. Memperlihatkan balkon dengan sebagian tirai yang tertutup dan tampak nyaman di jadikan tempat untuk bersantai.


Joel menghampiri ruang piano itu dan menjadi lebih terkejut lagi saat melihat seisi ruangan itu.


Rak buku yang terisi penuh dan tersusun dengan rapi, meja kecil yang beralas tikar dan bantal duduk berada di dekatnya, sebuah keranjang dengan lembaran-lembaran instrumen musik yang di bungkus dengan plstik tebal dan di kelompokkan sesuai dengan jenis musik, juga sebuah gitar dan cello yang di letakkan dengan apik dan terlihat sangat terawat.


"Ariel,,," panggil Joel di tengah keterkejutannya , dan kembali berdiri di depan Ariel.


"A-A-Apakah alat musik ini milikmu?" tanya Joel terbata. Matanya melebar memperlihatkan rasa terkejut dan tidak percaya pada waktu yang sama.


"Jika ini adalah tempat tinggalku, dan benda itu ada di sini, tentu saja itu milikku," sahut Ariel datar.


"Kamu bisa memainkan piano?" tanya Joel lagi.


"Ada yang bilang, aku cukup baik dalam memainkannya," jawab Ariel.


"Lalu, gitar dan cello?" tanya Joel lagi dengan jari masih menunjuk ruangan tempat piano.


"Aku bisa memaainkannya, namun tidak mahir," elak Ariel.


'Lebih tepatnya, aku mengajar musik,' lanjutnya dalam hati.


"Aku ragu kamu mengatakan hal yang sebenarnya," sambut Joel.


"Kamu belum mengenalku, Joel. Kamu hanya akan sakit telinga jika kamu mendengarkan permainanku," kilah Ariel.


"Itu terdengar lebih aneh lagi. Jika memang benar, kamu tidak mungkin menyimpan alat musik dan merawatnya dengan sangat baik seperti ini," sanggah Joel.


"Terserah apa yang kau katakan deh," jawab Ariel.


Ariel merebahkan diri dan mengangkat kakinya ke sofa. Tangannyaa menutupi wajahnya.


"Apakah kamu lapar?" tanya Joel.


Ariel menyingkirkan tangan dari wajahnya dengan cepat dan menatap Joel penuh harap.


"Sangat,,," sambut Ariel. "Apakah kamu mau memasakkan sesuatu untukku?" harap Ariel.


"Hanya jika kamu mau memakannya," jawab Joel.


"Tentu saja aku akan memakannya," sambut Ariel antusias.


"Baiklah, mari kita lihat ada apa saja di dapurmu," balas Joel.


"Kurasa kita perlu membeli sesuatu, aku belum belanja sejak hari terakhir aku disini sebelum kecelakaan terjadi," tutur Ariel.


"Kita bisa membeli bahan besok, sekarang kita gunakan saja apa yang ada," sambut Joel.


Joel melangkah menuju dapur dan melihat isi kulkas dan lemari.


'Hmmm,,, pasta, bacon, telur, dan sayuran kering. Kurasa ini cukup hingga untuk makan malam. Dan tadi aku juga melihat cereal, itu bisa untuk sarapan besok, aku hanya perlu menghaluskan teksturnya,' batin Joel.


Joel menggertakkan jari dan mulai memotong beberapa bawang dan mulai memasak.


Ariel yang duduk di sofa, merasa tidak tahan lagi ketika aroma sedap yang memenuhi hidungnya dan segera menyusul Joel di dapur.


"Kenapa kamu kesini?" protes Joel ketika melihat Ariel berjalan dengan satu kaki dan sedikit melompat.


"Aku tidak tahan dengan aromanya, itu sangat harum. Apa yang sedang kamu buat, Joel?" bela Ariel.


"Pasta, ini akan siap sebentar lagi, jadi duduklah," pinta Joel.


Ariel menurut duduk di kursi tinggi yang ada di depan meja counter. Matanya menatap kagum melihat tangan terampil Joel yang tengah memasak.


"Kurasa siapapun wanita yang akan menjadi kekasihmu, dia akan bahagia," celetuk Ariel tanpa menatap Joel.


Matanya tertuju pada gerakan tangan Joel yang begitu cekatan di matanya. Ariel menopang dagunya dan terus memperhatikan apa yang di lakukan Joel.


"Kenapa begitu," tanya Joel.


"Kamu pandai memasak, dan harus kuakui, aku kalah jika di bandingkan denganmu. Bukan berarti aku tidak bisa, tapi kamu benar-benar berbeda," puji Ariel tulus.


Joel menghentikan kegiatannya sesaat dan menatap Ariel yang tidak menatapnya. Namun dirinya tau, perkataan yang baru saja Ariel lontarkan adalah tulus.


"Haruskah aku mengambilkan piring?" tawar Ariel.


"Tidak perlu," tolak Joel. " Aku sudah menyiapkannya," sambungnya.


Hening,,,,


Joel menjadi lebih diam dari sebelumnya, dan Ariel merasakannya. Matanya memperhatikan raut wajah Joel yang kini telah berubah.


"Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah padamu, Joel?" tanya Ariel hati-hati.


"Tidak," jawab Joel singkat.


"Tapi sikapmu mengatakan Ya," sambut Ariel tidak menyerah.


"Bukan sesuatu yang penting," elak Joel.


"Jika sikapmu sampai seperti ini, itu hanya membuktikan itu adalah hal penting," tukas Ariel.


Joel diam dan mengabaikan pertanyaan Ariel. Tangannya menuangkan makanan kedalam piring dan segera di berikan pada Ariel.


"Makanlah,!" ucap Joel seraya menodorkan piring di depan Ariel dan meletakkan piring di depannya untuk dirinya sendiri.


"Joel,,,!" panggil Ariel menahan pergelangan tangan Joel. "Ada apa? Aku minta maaf jika aku mengantakan hal yang menyinggung perasaanmu tanpa kusadari," lanjutnya.


"Tidak ada yang salah, maaf jika aku bersikap berlebihan," sesal Joel.


"Kamu bisa berbicara apapun padaku, Joel," ucap Ariel tidak puas dengan jawaban Joel.


"Ini adalah urusanku, kamu tidak perlu masuk kedalamnya, dan berhenti bersikap seolah kamu tau apa yang aku rasakan," sentak Joel.


Ariel terhenyak, tangannya segera melepaskan tangan Joel dan menunduk. Mulai memakan makanannya dalam diam.


"Maaf,,," ucap Ariel lirih.


......>>>>>--<<<<<<......