I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
11. Kencan



Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~


 -----------


Suara deburan ombak yang kuat namun menenagkan menyambut kedatangan Ariel ketika ia tiba di pantai.


Ia mengarahkan pandangannya pada laut lepas yang terbentang luas di depan matanya.


"Hhaahh,,, kenapa sekarang aku ada disini?" keluh Ariel.


Ariel memandangi ombak yang ada di depannya. Telapak tangannya diletakkan menutupi wajahnya lalu mendesah pelan. Mengingat kembali apa yang terjadi malam itu dimana Joel tiba-tiba muncul di konser musik yang dihadiri olehnya.


##Flashback##


Ariel merasakan tangan yang mendarat dibahunya membuat dirinya berbalik untuk mengetahui siapa yang ada di belakangnya.


"Joel,,,!" desis Ariel kaget melihat Joel telah berada di belakangnya.


Tangannya kini merangkul bahu Ariel dan menarik Ariel mendekat kearahnya. Matanya menatap tajam pada Bram yang tersenyum kecut menyambutnya.


"Bisakah setidaknya kau menjaga taanganmu darinya?" sindir Joel.


"Oh, kenapa aku harus menjaga tanganku sementara kau tidak?" balas Bram.


"Bukankah itu sudah jelas?" jawab Joel geram.


"Tidak sama sekali," balas Bram lalu tersenyum sinis " Aku tau kalian hanya berpura-pura," sambungnya.


"Kenapa aku harus berpura-pura denganmu?" sanggah Joel.


"Aku mengenalnya lebih lama darimu, dan aku tau bagaimana dia jika dia berbohong," sambut Bram.


"Haa,,, itu sudah beberapa tahun lalu sobat, setiap orang bisa saja berubah," sambut Joel.


"Sikap seperti itu bukanlah hal yang bisa diubah hanya dalam beberapa tahun," balas Bram.


Ariel menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Matanya secara bergantian menatap Joel dan Bram yang terus berdebat.


Merasa kesal dengan sikap mereka, Ariel menepis tangan Joel yang ada dibahunya dan mengibaskan tangannya agar dapat terlepas dari Bram dan meninggalkan mereka tanpa mengatakan apapun.


"Hei,,, tunggu," protes Joel.


"Tunggu Ariel," cegah Bram mencoba mengejar Ariel, namun Joel mendorongnya menjauh.


Ariel mengabaikan mereka yang saling dorong untuk mengejarnya dan terus melangkah.


"Ariel, tunggu," ucap Bram dan Joel bersamaan.


Bram berhasil meraih tangan Ariel, begitu pula Joel juga berhasil meraih satu tangannya dan menariknya.


"Eeh-h-h,,, Ah," keluh ariel saat kedua tangannya di tarik dari arah yang berlawanan.


Joel menarik tangan Ariel kearahnya, namun Bram juga tidak mau kalah dan melakukan hal yang sama.


Saling tarik menarik pun tidak dapat dihindarkan. Saat Joel menarik Ariel kearahnya, detik berikutnya Bram menarik Ariel kearahnya.


"HENTIKAN,,,!!!?!!" hardik Ariel menghentikan aksi mereka.


"Apa kalian ingin memotongku menjadi dua bagian?" sentak Ariel menatap Joel dan Bram bergantian.


"Hei,,, bung, bukankah seharusnya kau melepaskan tanganmu,!" sindir Joel.


"Kaulah yang seharusnya melepaskan tanganmu, semua baik-baik saja sebelum kau datang," balas Bram.


"Errgghhh,,,," geram Ariel kesal dan menarik tangannya agar terbebas dari tangan mereka.


"Kalian bisa lanjutkan pertengkaran konyol kalian, tapi aku tidak ingin melihatnya," sentak Ariel.


"Apakah kalian tidak malu bertengkar disini? Apa yang sedang kalian pikirkan?" cecar Ariel.


"Aku pergi, dan jangan mengikutiku jika kalian hanya ingin kembali bertengkar," ancam Ariel.


"Maaf,,," ucap Joel dan Brem serentak.


Ariel berbalik meninggalkan mereka menuju belakang panggung mengabaikan mereka.


Mereka pun akhirnya lebih memilih diam karena tidak ingin membuat Ariel menjadi lebih marah. Mengikuti Ariel dari belakang, mereka hanya saling melempar tatapan protesnya masing-masing.


Dibelakang panggung, Ariel kembali menemui Gina dan Oliver yang telah selesai tampil diatas panggung, meninggalkan sorakan meriah dibelakangnya.


Ariel memberikan mereka senyum puas yang segera mereka balas dengan memeluk Ariel dari arah yang berbeda.


"Terima kasih kak," ucap Gina dan Oliver bersamaan.


"Permainan yang bagus, kalian harus bisa lebih menguasai diri kalian sendiri ketika berada di atas panggung," puji Ariel.


"Ini semua berkat kakak juga," sambut Gina.


"Tapi tetap saja permainan kami tidak sebaik permainan kakak," keluh Oliver.


"Perlu waktu dan kerja keras jika kalian ingin mendapatkan hasil yang sempurna. Termasuk menampilkan musik yang sempurna," sambut Ariel tersenyum.


"Apakah mereka teman kakak?" sela Gina saat melihat Joel dan Bram saling sikut di belakang Ariel.


Ariel berbalik dan menatap Joel juga Bram dengan berkacak pinggang.


"Jika kalian tidak bisa diam, aku benar-benar akan meminta securty untuk menendang kalian dari tempat ini," ancam Ariel.


Suara cekikikan terdengar dari mulut Gina dan Oliver yang menutup mulut mereka. Melihat Joel dan Bram yang sama sekali tidak bisa berkutik saat Ariel marah membuat mereka tidak bisa lagi menahan tawa.


"Sekarang apa yang membuat kalian tertawa sampai seperti itu?" tegur Ariel menatap Gina dan Oliver bergantian.


"Aku cuma memikirkan satu hal agar mereka berhenti saja kok kak," elak Gina.


"Apa itu," sela Bram.


"Adu ketangkasan," jawab Oliver terkekeh.


"Adu ketangkasan,?" Joel mengerutkan kening.


"Benar, yang menang bisa berkencan dengan kak Ariel besok. Dan yang kalah di hari berikutnya," papar Oliver.


"Hei,,,! Apa-apaan itu. Aku tidak mau," protes Ariel.


"Bagaimana aturan mainnya,?" timpal Bram antusias.


"Tunggu,,, tunggu,,, kenapa kau jadi bersemangat seperti itu, Bram?" tanya Ariel bingung.


"Heh, kau pikir aku juga akan mengabaikan kesempatan ini?" balas Joel tersenyum percaya diri.


"Cukup,,!!!" hardik Ariel. " aku tidak mengatakan bahwa aku setuju dengan usul konyol ini," geram Ariel.


"Sepertinya kakak harus setuju deh, dari pada mereka bertengkar disini yang akan menarik perhatian semua orang," saran Oliver.


Ariel memandangi sekeliling mereka dan melihat beberapa orang mulai memperhatikan mereka.


Pengurus tempat itu juga terlihat mulai memperhatikan mereka. Senyum kemenangan terlukis dengan jelas di wajah Joel dan Bram melihat Ariel tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui usulan Oliver.


Akhirnya, setelah menghembuskan nafas panjang, Ariel menerima usulan itu, membuat mereka yang mendengarnya bersorak senang.


"Ini siapa yang tercepat bisa menjawab, dialah pemenangnya. Tapi kalian harus ingat, tidak ada yang boleh protes apapun hasilnya," terang Oliver.


"Oke,, apa yang harus kami lakukan?" tanya Bram.


"Ini berhubungan dengan hal yang di sukai kak Ariel, dan itu adalah musik," terang Oliver.


"Mudah," sambut Bram percaya diri.


"Oke,, " sambut Joel.


"Lebih baik kamu bersiap untuk kalah, aku mengenal Ariel lebih lama dibandingkan denganmu," ucap Bram percaya diri.


"Bukan waktu yang menentukan apakah kau mengenalnya dengan baik atau tidak. Tapi, itensitas hubungan yang terjadi diantara kamu dengannya lah yang menjadi penentu," sambut Joel.


"Kita lihat saja nanti," balas Bram menyeringai.


Oliver memulai dengan memainkan musik, dan meminta mereka menebak apakah melodi yang di mainkan adalah benar atau salah.


Entah bagaimana, Oliver memainkan melodi yang di mainkan Ariel dimalam saat Joel memintanya untuk bermain gitar.


Melodi gitar yang tersimpan dalam hatinya seolah membantunya dan membuat Joel menebak dua detik lebih cepat dibandingkan Bram.


"Baiklah, kak Joel yang menebak lebih cepat, jadi dialah yang memenangkannya," ujar Oliver.


"Sudah kubilang kan?" ucap Joel tersenyum. " bukan waktu yng menentukan seberapa baik kau mengenalnya," sambungnya.


"Tck,,, kau hanya sedang beruntung. Tapi aku juga akan tetap bisa mengajak Ariel kencan setelah dirimu," decak Bram menyembunyikan rasa kecewanya.


Ariel melihat mereka secara bergantian dan berlalu pergi begitu saja.


"Ariel, tunggu," seru Joel. " jangan mengikuti kami,!" tegas Joel pada Bram sebelum pergi.


Bram mendengus kesal dan pergi meninggalkan tempat itu. Pergi kearah yang berlawanan dengan arah yang dituju Ariel dan juga Joel.


Sementara Joel mengejar Ariel yang melangkah cepat sembari menghindari orang-orang yang berpapasan dengannya.


"Tunggu, Ariel,,,!!" ucap Joel setelah berhasil meraih tangan Ariel dan menghentikan langkahnya.


"Lepaskan tanganku," pinta Ariel.


"Tidak, selama kau pergi dalam keadaan marah seperti ini," tolak Joel.


"Dan kaulah yang membuatku marah," balas Ariel.


"Dengarkan dulu penjelasnku," pinta Joel tidak melepaskan tangan Ariel.


"Apa? Soal kau memenangkan taruhannya? Aku menyesal telah setuju dengan usul konyol itu," ungkap Ariel.


"Aku tau, tapi alasanku menerima usulan itu adalah karena aku merasa aku bisa melakukannya," terang Joel.


"Jika aku yang memenangkannya, setidaknya kamu terlepas sementara darinya, dan kamu tidak harus pergi denganku," terang Joel.


Ariel berbalik dan menatap Joel dengan tatapan binggung.


"Kenapa kamu melakukan ini, Joel?" tanya Ariel. " lalu bagaimana jika dia yang memenangkannya?" sambungnya.


"Jika kamu merasa nyaman saat bersamanya, aku tidak akan protes. Tapi, aku tau kamu sangat terganggu dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah tidak terkendali," jelas Joel.


"Dan jika dia yang memenagkannya, aku akan tetap mengikutimu untuk melindungimu," ungkap Joel.


"Kenapa kamu melakukan ini untukku, Joel?" tanya Ariel.


Joel hanya menaikan bahunya lalu tersenyum lagi.


"Kamu tidak perlu pergi besok jika kamu tidak menginginkannya. Aku tidak mau membuatmu berada di pemikiran bahwa kamu adalah taruhan," ucap Joel lembut.


" Aku tidak suka jika kamu menganggap dirimu sendiri sebagai taruhan, kamu jauh lebih berharga dari itu," ungkapnya.


"Ayo kita pulang," ajak Joel mulai berjalan dengan mengandeng tangan Ariel.


Ariel merenungi setiap kata yang di katakan Joel padanya. Setelah berpikir beberapa saat, Ariel menghentikan langkah Joel dengan menahan tangannya.


"Ada apa, Ariel? Apakah kakimu sakit lagi?" tanya Joel cemas saat Ariel menahan langkahnya dengan menarik pelan tangannya.


"Aku tidak keberatan untuk pergi denganmu besok," ungkap Ariel.


"Sungguh??" seru Joel dengan mata berbinar.


"Ya, lagipula aku tidak pernah bilang aku tidak mau pergi denganmu dengan atau tanpa taruhan konyol itu," terang Ariel.


"Aku sangat senang mendengarnya, Ariel. Terima kasih," sambut Joel meremas lembut tangan Ariel.


"Jadi, apa yang kamu rencanakan untuk besok?" tanya Ariel.


"Pantai," jawab Joel.


"Lagi?" sambut Ariel menepuk dahinya tak percaya.


"Bukankah kamu juga menyukainya?" balas Joel. " Tapi, aku janji besok akan berbeda," terang Joel.


"Baiklah, aku akan menantikan apa yang ingin kau tunjukan," sambut Ariel.


Joel bersorak senang mendengar Ariel setuju dengan ajaknnya.


Dengan hati senang, Joel mengantar Ariel pulang.


##Flasback off##


Ariel menghela nafas panjang mengingat kejadian malam itu. Kaki telanjangnya yang menapaki pasir putih membuatnya merasa bebas.


...>>>>>>--<<<<<<<...