
Keesokan harinya
"Eghmmm,,,,,"
Ariel mengerang pelan dan mengeliat dibawah selimut, perlahan membuka matanya, namun kembali terpejam saat merasakan dunia di sekitarnya berputar.
"Argh,,,,, !!!" erangan pelan kembali terdengar disertai dengan mencengkram kepalanya saat merasakan kepalanya berdenyut.
"Apakah aku berhasil pulang?" gumam Ariel linglung.
Ia mengedarkan pandangannya dan benar itu adalah kamarnya. Saat merasa lega, ia kembali dikejutkan dengan Joel yang tidur disampingnya ketika ia membalikkan badannya.
"Aaakkhh,,,,!!!!"
Suara teriakan Ariel berhasil membangunkan Joel. Ia mengerjapkan mata dan tersenyum lembut.
"Selamat pagi, Sweety, Kamu sudah bangun?" sapa Joel tanpa beban.
Ariel menatap Joel dengan tatapan tak percaya. Ketika Joel bangun dari tidurnya dan menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, ia hanya mengenakan celana dan membiarkan dada bidangnya terpampang.
"A-A-Apa yang sudah terjadi?" tanya Ariel terbata.
"Kenapa kamu bertanya? Kamu sendiri yang memulainya," jawab Joel tenang.
"Tidak mungkin," sanggah Ariel menggelengkan kepalanya dengan kuat.
Ariel melihat dirinya sendiri dibalik selimut, dan mendapati dirinya mengenakan bathrobe. Ia mulai berpikir keras, mengingat apa yang terjadi malam itu, namun otaknya sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama.
Tanpa ia sadari, air matanya mengalir, membuat Joel tercengang. Ia mengulurkan tangannya, berniat menenagkan Ariel, namun tangannya segera ditepis.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kamu bisa ada disini? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?" ucap Ariel parau.
"Hei,,, Sweety, dengarkan aku," ucap Joel merasa tidak tega untuk melanjutkan mengodanya.
Ariel beringsut, kembali menghindari tangan Joel yang berusaha menyentuhnya. Namun Joel segera mencengkram kuat lengan Ariel dan membalikkan badannya untuk menghadapnya.
"Lepas!" ujar Ariel memberontak, kembali menepis tangan Joel darinya.
"Tidak terjadi apapun semalam, aku bersumpah tidak terjadi apapun, oke. Jadi, tenanglah dan dengarkan aku menjelaskannya," harap Joel.
Ariel berhenti memberontak, ia menatap Joel untuk mencari tau apakah yang dikatakannya berbohong atau tidak. Dengan air mata masih mengalir, Ariel membuka suaranya.
"Sungguh? Tidak terjadi apapun?" tanya Ariel.
"Tidak ada yang terjadi. Yaahh,,, sebenarnya hampir, karena aku hampir kehilangan kendali, tapi aku tidak melakukannya," terang Joel.
Ariel menunggu, tetap menatap lekat kedalam mata Joel.
Joel tersenyum, lalu menghapus air mata Ariel dengan ibu jarinya.
"Alasan kamu memakai bathrobe, karena aku terpaksa membuatmu berendam, dan aku tidak mungkin membiarkanmu dengan pakaian basah hingga pagi," terang Joel.
"Kenapa?" tanya Ariel.
"Itulah yang ingin kutanyakan padamu," jawab Joel.
"Apa hal terakhir yang kamu ingat?" Joel melanjutkan pertanyaannya.
Ariel termenung selama beberapa saat, berusaha mengingat apa saja yang bisa ia ingat dari acara yang ia hadiri.
"Aku hanya menunggu Ken selesai membahas sesuatu bersama keluarganya," jawab Ariel.
"Apakah kamu makan atau minum sesuatu?" tanya Joel lagi.
"Ya,, aku minum segelas moctail, dan hanya itu," jawab Ariel.
"Bersama seseorang?" selidik Joel.
"Ehmm,,," merenung untuk mengingat sesuatu.
"Ahh,, ya, ada orang yang mengajakku bicara, dan itu hanya berlangsung sebentar. pria itu juga membawa minuman ditangannya," terang Ariel.
"Pria?" ulang Joel mengerutkan keningnya.
"Ya, dia adalah seorang pebisnis, Emm,, kau tau? Pemilik perusahaan parfum termuda yang sempat menjadi berita hangat karena dia menciptakan parfum baru diusianya yang masih muda," papar Ariel.
"Dan kamu tertarik padanya?" tuduh Joel.
"Hei,,, kamu yang bertanya, dan aku hanya menjawab. Kenapa reaksimu terdengar mengambil kesimpulan secara sepihak?" tanya Ariel bingung.
"Hahh,,, sudahlah," desah Joel.
"Kembali ke pertanyaannya, apakah dia melakukan hal yang terasa aneh bagimu?" tanya Joel menekan emosinya.
"Tidak, kami hanya berbasa-basi singkat, dan dia pergi karena ada urusan," terang Ariel.
"Apa lagi yang kamu ingat?" tanya Joel.
"Aku melihat_,,,,"
Ariel mengantung kalimatnya, ia kembali mengingat malam itu melihat Jesica di acara itu, namun tidak begitu memikirkannya mengingat keluarganya juga bergelut didunia bisnis, maka tak heran jika ia berada disana. Ia bahkan tidak menyapanya, dan seperrtinya Jesica juga tidak melihatnya.
"Siapa?" desak Joel.
"Jessi," jawab Ariel lirih.
"Apaa,,????" seru Joel kaget.
"Dia disana? Bagaimana bisa?" sambungnya.
"Karena itu memang pertemuan bisnis, aku hanya merasa hal wajar jika dia disana," jawab Ariel.
"Baiklah, apa lagi yang bisa kamu ingat?" tanya Joel lagi.
"Saat aku minum moctail, tenggorokanku terasa kering, jadi aku menghabiskan minumannya. Tapi setelah itu kepalaku justru sakit dan aku berjalan keluar meninggalkan acara, tentu saja berniat pulang," ungkap Ariel.
"Aku tidak bisa mengingat apapun lagi setelah keluar dari tempat itu," imbuhnya.
"Tidak ada hal lain yang kamu ingat setelah itu?" tanya Joel memastikan.
Ariel hanya mengeleng pelan, dan mulai mencengkram kepalanya lagi.
"Akh,,, " erangnya pelan, dan mulai mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku ambilkan minum dulu," ujar Joel.
Joel menghilang selama beberapa saat dan kembali dengan segelas air, ia membantu Ariel meminumnya dan meletakan gelas di meja samping tempat tidur.
"Minuman yang kamu minum tadi malam mengandung Afrodisiak," ungkap Joel.
"Apaa,,??" seru Ariel kaget.
"Tapi bagaimana bisa?" Ariel tampak bingung dan berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar.
'Afrodisiak? Yang benar saja? Kapan aku mengkonsumsi obat itu?' batin Ariel.
"Seseorang mungkin memasukannya kedalam minumanmu tanpa kamu sadari, apakah kamu mengambil sendiri minumanmu?" tanya Joel.
Ariel mengeleng pelan. "Tidak, tapi seorang pelayan yang mengantarkannya padaku," jawabnya.
"Itu menjadi alasan lebih kuat bahwa seseorang dengan sengaja memberimu minuman yang sudah tercampur dengan obat itu," sambut Joel.
"Tapi kenapa? Tempat itu adalah pertama kalinya aku datang kesana," ucap Ariel tidak habis pikir.
"Terlepas dari siapapun yang melakukannya dan siapa orang itu, satu hal yang pasti adalah, dia mengenalmu," papar Joel.
Ariel kembali terdiam, berusaha mengingat apa saja yang bisa membantunya, namun otaknya sedikitpun tidak mau diajak bekerja sama. Kepalanya justru semakin berdenyut setiap kali ia berusaha mengingat sesuatu.
"Hei,,," Joel mengusap kepala Ariel dengan lembut.
"Tidak perlu diingat lagi, jangan memaksakan diri, hal terpenting saat ini adalah, kamu baik-baik saja," ucap Joel. "Dan sekarang kamu mengerti bukan, kenapa aku terpaksa membuatmu berendam air dingin saat malam?" imbuhnya bertanya.
"Tapi, kenapa kamu bisa ada disini? Aku ingat kamu mengatakan lembur dirumah sakit," jawab Ariel balas bertanya.
"Aku menghubungimu saat akan pulang," jawab Joel.
"Menghubungiku?" ulang Ariel mengerutkan keningnya.
"Kapan? Kenapa aku tidak tau?" sambut Ariel.
"Kurasa, saat itu kamu sudah tidak menyadari dengan apa saja yang kamu lakukan," ucap Joel.
"Aku mengkhawatirkanmu, saat aku menghubungimu, aku justru mendengar suara teriakanmu, disusul dengan suara benda terjatuh,"
"Jadi, aku melacakmu, dan ternyata kamu sedang dalam perjalanan pulang bersama Ken. Jadi, aku yang mengambil alih merawatmu dan membiarkan Ken pulang," terang Joel.
"Jadi, Ken yang mengantarku pulang?" ulang Ariel.
"Setidaknya itulah yang aku lihat," jawab Joel.
"Apa maksudnya itu?" sambut Ariel menyipitkan matanya.
"Kamu tidak tau bagaimana kamu tadi malam kan?" balas Joel.
"Aku bahkan sampai kesulitan menjinakkanmu_,,, Hemp,,"
Ariel dengan cepat membekap mulut Joel dengan kedua tangannya. Wajahnya memerah menahan malu.
"Apapun itu,,, aku minta maaf sudah merepotkanmu, dan tolong lupakan kejadian memalukan yang kulakukan tanpa aku sadari," ucap Ariel memasang wajah memohon.
Joel tersenyum lembut, menurunkan tangan Ariel, lalu mengecupnya.
"Apa maksudmu merepotkanku? Kamu tidak pernah merepotkanku dalam hal apapun. Dann,,,,"
Joel menatap Ariel dan sengaja memasang senyum nakalnya.
"Entah kenapa aku menyukai apa yang kamu lakukan tadi malam, bagaimana mungkin aku melupakannya?"
"JOEELLL,,,!" sungut Ariel.
"Ha ha ha,, aku hanya menjawab pertanyaanmu Sweety, sekarang bersihkan saja dirimu, aku akan melihat dapur. Mungkin aku bisa membuat sesuatu untuk mengurangi efek samping obatnya," tutur Joel.
Ariel mengangguk pelan, dan melangkah menuju kamar mandi. Dalam hatinya ia merasa sangat beruntung memiliki Joel disisinya. Sosok yang dengan tulus menjaganya, dan tidak mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri meski dia mendapatkan kesempatan.
Ketika selesai dan berjalan menuju dapur, Joel baru saja selesai membuat sarapan. Hal itu kembali menghadirkan sebuah senyuman di wajah Ariel, betapa ia merasa di cintai dan dihargai.
Ariel duduk di kursi dengan meja yang menjadi satu dengan meja caunter, menunggu Joel keluar dari kamar mandi menyelesaikan ritual paginya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Joel saat menyadari Ariel terus menatapnya.
"Kau terlihat tampan tanpa kacamata," jawab Ariel.
"Hemm,, jadi jawabannya tidak jika aku memakai kacamata?" Joel menaikkan alisnya.
"Apa maksudmu? Dasar konyol," sambut Ariel tertawa. "Pada dasarnya kamu sudah tampan, kacamata hanya aksesoris tambahan," sambungnya.
"Itu sanjungan mematikan," cetus Joel sebelum tertawa.
Ariel tersenyum simpul, kembali menikmati sarapannya. Kemudian kembali mengangkat wajahnya seolah ingin memastikan sesuatu.
"Joel,,," panggil Ariel.
"Uhm,,," Joel menaikkan alisnya sebagai tanggapan.
"Apa yang membuatmu bisa tidak melakukannya?" tanya Ariel.
"Maksudmu?" tanya Joel.
"Tadi malam_,,," Ariel mengantung kalimatnya, seolah ragu untuk menanyakannya.
"Adalah kesempatan dimana aku bisa melakukannya? Itukah yang kamu maksud?" tanya Joel.
Ariel mengangguk pelan.
"Jujur saja, aku ingin, sangat ingin melakukannya. Hanya saja, aku tidak ingin melakukannya disaat kamu dalam keadaan tidak sadar," terang Joel.
"Bagiku, hal seperti itu tidak bisa dilakukan sesuka hati, dan atas keinginan sepihak," imbuhnya.
Ariel tersenyum haru, merasa tersentuh atas sikap yang diambil Joel untuknya.
"Tapi, tetap saja. Kau itu sangat sulit untuk di tolak, kau tau? Terlebih kau terlihat begitu menggod_,, akhmm"
Ariel dengan cepat menyuapkan sesendok makanan kedalam mulut Joel, berharap Joel tidak mengucapkan kalimat yang akan membuatnya lebih malu lagi.
"Ya ya ya,, terima kasih sudah menahan diri, nikmati makananmu," ucap Ariel menudingkan sendok didepan wajah Joel.
Joel tertawa puas menikmati wajah Ariel yang memerah. Merasa paginya menjadi lebih baik hanya dengan melihat Ariel didepannya.
Untuk kedua kalinya, ia menikmati pagi hari bersama Ariel, dan ia berharap bisa terus seperti itu di tiap paginya.
.
Notebook
-Afrodisiak \= sejenis obat untuk menaikkan gairah, yang biasa di sebut obat perang*sang.
Dalam dosis normal itu aman, namun dosis berlebihan dapat menyebabkan efek samping seperti mual dan sakit kepala.
...>>>>>>>>--<<<<<<<...