I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
30.Berteman



Mobil yang tengah melaju dengan kecepatan sedang, menepi disebuah rumah yang berada di dekat laut.


Tak lama kemudian, Joel keluar dari mobil dengan wajah masam. Tangannya membanting pintu mobil dan melangkah memasuki rumah dengan langkah gontai.


Joel menjatuhkan tubuhnya di sofa, lalu mendesah panjang. Kembali merutuk dirinya sendiri karena melewatkan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Ariel.


"Eerrgghhh,,," Joel mengeram kesal sembari mengacak-acak rambutnya.


Menyandarkan punggungnya menatap langit-langit rumahnya, Joel mengingat kembali saat Ariel mengunjungi rumahnya, kemudian mendesah lagi.


"Apakah mungkin mereka kembali bersama? Mereka terlihat lebih akrab dari sebelumnya," gumam Joel.


"Ariel bahkan tidak menghubungiku sama sekali. Dan ini suda sore, dia masih saja tidak memberikan kabar apapun. Atau mereka masih pergi bersama?" gumamnya lagi.


Joel memejamkan matanya. Berusaha untuk menenangkan hatinya. Tangannya merogoh saku celanannya untuk mengeluarkan ponsel dan melihat apakah ada pesan masuk dari Ariel.


"Hahhh,,," ******* kecewa keluar dari mulutnya saat tidak ada notifikasi apapun yang masuk kedalam ponselnya.


"Jika mereka bersama lagi, apa yang harus aku yang harus aku lakukan?" gumamnua pelan.


"Eerrghh,,,, sudahlah,,,!" geram Joel mengusap wajahnya. " Lagi pula aku tak berhak melarangnya untuk bersama siapapun, kenapa hal tadi begitu menganggu pikiranku?" gerutunya.


Joel bangun dari duduknya dan memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di pantai untuk menikmati matahari terbenam sebagai pengalih perhatian.


Itulah niatnya, sayangnya ketika Joel tiba disana, dirinya justru kembali melihat Ariel bersama Bram bermain skate bersama.


Bercanda dan tertawa bersama dengan tangan yang saling berpegangan. Hal terakhir yang Joel lihat, mereka menikmati matahari terbenam.


Joel mendengus kesal dan berbalik. Berniat untuk meninggalkan tempat itu. Namun, langkahnya terhenti dan kembali menoleh kebelakang.


'Tidak bisa! Jika aku mundur, sama saja aku membiarkan dia menang dan mendapatkan Ariel dengan mudah. Aku tidak bisa melepaskan Ariel begitu saja,' batin Joel.


Joel kemudian berbalik lagi dan menghampiri mereka. Dengan langkah berjingkat setelah melepaskan alas kakinya, Joel menabrakkan diri ditengah-tengah diantara mereka hingga membuat mereka terkejut.


"Wooo,,,, tak kusangka aku akan melihat kalian disini," ucap Joel tertawa ringan dengan tangan yang merangkul di bahu mereka.


"Joellll,,,!" protes Ariel terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.


"Cih,, menyebalkan. Gangguan telah datang," sambut Bram kesal.


"Apakah kau seorang penguntit?" ujar Bram menyipitkan mata.


Bram menepis tangan Joel yang berada dibahunya.


"Singkirkan tanganmu," ujar Bram kesal.


"Oh,, maaf saja. Aku bukan penguintit. Tapi aku tinggal tidak jauh dari sini," terang Joel.


"Itu tidak membuatku terkesan," cibir Bram.


"Aku bahkan tidak berniat untuk membuatmu terkesan," jawab Joel menyeringai.


"Kalau begitu, pergilah,!" ucap Bram mengibaskan tangannya.


"Ini tempat umum, sobat. Siapapun bisa dan boleh berada disini," sambut Joel.


"Oke,,, kalau begitu kami yang akan pergi," balas Bram sembari menarik tangan Ariel.


"Tidak bisa,!" cegah Joel menahan tangan Ariel


"Hei,, berhenti,!" ucap Ariel saat kedua tangannya ditarik dari arah berlawanan.


"Kenapa tidak? Aku yang datang bersama Ariel. Dan dia juga akan pulang bersamaku," ucap Bram menarik Ariel kearahnya.


"Tolong hentikan!" ucap Ariel lagi.


"Kau bisa pulang sendiri, dan aku yang akan mengantar Ariel pulang," balas Joel menarik Ariel kearahnya.


"Hentikan!" ucap Ariel.


"Bukankah tadi kau bilang rumahmu disini? Kenapa kau harus mengantarnya ketika kau sendiri sudah berada dirumahmu?" sambut Bram tak mau kalah kembali menarik Ariel kearahnya.


"Hei,, berhentilah menarik tanganku," ucap Ariel mulai kesal.


"Apa masalahnya jika aku yang mengantarnya? Aku tidak keberatan sama sekali," ucap Joel.


Mereka terus berdebat tanpa memperhatikan Ariel. Mereka hanya terus menarik Ariel kearah mereka.


"Tidakah kamu menyadari bahwa kamu telah menganggu?" sindir Bram.


"Sama sekali tidak," jawab joel enteng.


"Kau--,,," Bram mendengus kesal.


"CUKUP,,,,!!!!" sentak Ariel sembari mengibaskan tangannya.


Ariel menepis tangan mereka berdua dengan kesal. Menatap tajam mereka bergantian yang kini menundukkan kepalanya.


"Kenapa kalian sangat suka bertengkar?" keluh Ariel menutupi wajahnya dengan satu tangannya.


"Aku tidak bermaksud begitu," sanggah Bram.


"Aku tidak berniat bertengkar," sanggah Joel.


Mereka berdua berkata secara bersamaan, membuat mereka saling melempar pandangan.


Ariel mendesah panjang. Menatap kedua pria yang ada didepannya dengan putus asa. Kesal karena mereka selalu membuat keributan, namun lega karena mereka tidak saling membenci satu sama lain.


"Maaf," ucap Joel dan Bram.


"Aku janji tidak ribut lagi,"


"Baiklah,, Baiklah,,, aku tidak ingin berdebat lagi," ucap Bram mengangkat kedua tangan disela tawanya.


"Aku setuju, atau hal ini akan membuat Ariel lebih marah lagi," sambut Joel.


Ariel tersenyum tipis sembari mengelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian makan malam dirumahku?" tawar Joel.


"Jadi rumahmu benar-benar disini?" sambut Bram melebarkan matanya tak percaya.


"Apakah kau pikir aku main-main dengan ucapanku?" sindir Joel.


"Ehmm,,," Bram berdeham sebelum melanjutkan ucapannya.


"Hanya menerka," elaknya.


"Itu terdengar seperti kau benar-benar menganggapku sebagai penguntit," ujar Joel melipat tangannya.


"Maaf jika itu salah," ucap Bram tulus.


Joel mengangkat bahunya dan mengarahkan pandangannya pada Ariel lagi.


"Jadi, bagaimana?" tanya Joel mengulurkan tangannya.


"Mau makan malam bersama?" tawar Joel.


"Aku masih memiliki waktu untuk membuat makan malam jika hanya untuk tiga orang," sambungnya.


"Kau bisa memasak?" sela Bram menyipitkan matanya.


"Tentu saja, itu adalah hal dasar. Terlebih jika kau tinggal sendiri," sambut Joel santai.


"Kau yakin?" tanya Bram lagi.


"Tck,,, aku tidak butuh kau yakin atau tidak," decak Joel. " Aku menawarkan ini pada Ariel, dan jika kamu mau bergabung, lebih baik tidak perlu banyak bicara," sergah Joel mulai kesal lagi.


"Aku hanya bertanya," sanggah Bram.


"Maka kau hanya perlu melihat, bukan bicara," sahut Joel.


"Hei,,, sudah cukup," lerai Ariel tersenyum geli.


"Apa?" jawab Joel melipat tangannya. " Dia terlalu banyak bicara?" gerutu Joel.


"Aku baru tau ada seorang dokter pemarah sepertimu," cibir Bram.


"Melihatmu yang banyk bicara seperti ini, aku terpikirkan kau bekerja dalam bidang pemasaran," balas Joel.


Kali ini Ariel tidak bisa menahan tawanya. Mengingat Bram memang cukup baik dalam bidang pemasaran diperusahaan yang ia kelola.


Mereka berdua menghentikan perdebatan mereka dan menatap Ariel tengah tertawa sembari memegangi perutnya.


"Sekarang apa?" tanya Bram dan Joel.


Mereka kembali saling pandang dan ikut tertawa bersama Ariel menyadari kekonyolan mereka.


Pada akhirnya mereka sepakat untuk mengunjungi rumah Joel untuk menyantap makan malam, setelah lebih dulu menyimpan Quad Skate yang baru saja Ariel dan Bram gunakan kedalam bagasi mobil Bram.


Mereka berjalan beriringan dengan Ariel berada di tengah.


Sama seperti pertama kali Ariel datang kerumah Joel, tak dapat disembunyikan bahwa Bram juga mengagumi rumah Joel.


"Duduklah, aku akan menyiapkan makanannya," ucap Joel ketika mereka telah masuk kedalam rumah Joel.


"Biarkan aku membantu, Joel," tawar Ariel.


"Aku menghargainya. Tapi tidak perlu, Ariel. Kamu hanya perlu duduk manis saja disini, karena aku yang menawarkan suguhan untukmu, jadi kamu tidak perlu melakukan apapun," jawab Joel.


"Mana bisa begitu," sanggah Ariel.


"Kalau begitu aku saja yang membantu Joel memasak," tawar Bram.


"JANGANN,,,!" seru Ariel.


"Kau hanya akan menghancurkan dapur Joel jika membantu," ssambung Ariel tersenyum ngeri.


"Oho,,, tampaknya ada yang payah dalam satu hal," ejek Joel.


"Hei,,, aku tak seburuk itu," protes Bram.


"Kalau begitu, buktikan itu," tantang Joel.


"Lebih baik kamu pikirkan ulang tentang itu jika tidak ingin dapurmu terbakar, Joel," sela Ariel mengingatkan.


"Tenang saja, Ariel. Jika hal itu terjadi, aku hanya perlu melemparnya kelaut," sambut Joel tersenyum lebar.


"Baik, ayo kita lakukan," jawab Bram percaya diri.


"Tapi--,,,"


"Kamu hanya perlu merapikan meja jika bersikeras ingin membantu, Ariel," potong Joel.


"Jika dia membuat masalah dan mengacaukan masakanku, aku hanya perlu menendangnya dari dapurku," ucap Joel mengedipkan matanya.


Mereka akhirnya berjalan menuju dapur sementara Ariel mematung menatap punggung mereka. Berharap tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


...>>>>>>>--<<<<<<<...