
Joel berlari mengejar Ariel dan mengabaikan Christina yang kembali menangis. Ia terus berlari hingga akhirnya melihat punggung Ariel yang masih berlari meninggalkan pantai, berusaha untuk cepat mencapai dimana mobilnya terparkir.
"Ariell,,, berhenti!" teriak Joel berharap.
Ariel terus berlari tanpa mengerti apa alasan sebenarnya yang membuatnya tiba-iba berlari meninggalkan Joel.
'Kenapa aku berlari? Kenapa aku menghidarinya? Jelas-jelas Joel mengatakan mencintaiku. Tapi, kenapa aku seperti ini?' ratap hatinya.
"Ariell,,," panggil Joel lagi.
Ariel masih tetap mengabaikan Joel yang terus memanggilnya. Larinya mulai melambat dengan nafas terengah-engah, namun tetap tidak menghentikan larinya.
Ia meraba wajahnya saat merasakan air mengalir dipipinya dan tertegun saat menyadari dirinya telah meneteskan air mata.
'Sejak kapan aku mulai menangis?' batin Ariel bingung menyeka air matanya.
'Kenapa tidak mau berhenti? Kenapa air mata ini terus keluar?' racaunya dalam hati.
"Kumohon berhenti," gumam Ariel terisak pelan sembari terus menyeka air mata yang terus mengalir.
"Ariell,, tunggu,!" harap Joel.
Joel akhirnya berhasil menangkap salah satu tangan Ariel, menguatkan pegangannya agar Ariel tidak kembali berlari darinya. Kemudian tertegun saat melihat Ariel menangis.
"Hei, ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Joel cemas.
Joel membalikan badan Ariel agar menghadapnya dengan lembut. Menatapnya yang kini tengah menunduk sambil terus menyeka air matanya.
"Aku baik-baik saja, hanya_,,, hanya,, aku konyol sekali," jawab Ariel tertawa sumbang.
"Kamu jelas tidak terlihat baik-baik saja Ariel. Katakan padaku, ada apa?" tanya Joel .
Hening,,,,
Ariel mencoba untuk menatap Joel yang kini berada dihadapannya, namun ketika menatapnya air mata kembali lolos dari matanya, membuat ia kembali menunduk.
"Aku tidak tau apa yang sudah kamu lihat, atau kamu dengar. Tapi, aku bisa menjelaskannya," harap Joel pelan.
Perlahan Ariel mengangkat wajahnya, menatap kedalam mata Joel yang membalas tatapannya dengan cinta didalamnya.
'Aku terlalu sibuk dengan pemikiran bahwa dia juga tidak berbeda dengan Bram. Hingga aku melupakan satu fakta bahwa dia juga mengalami rasa sakit yang sama yang dia dapatkan dari Jessi. Tapi, dia terus saja menunjukan perasaannya meski aku tidak membalasnya, kenapa baru sekarang aku melihatnya?' bisik hati Ariel.
"Aku tidak tau kenapa Christina datang tiba-tiba dan mengatakan hal itu padaku, aku bahkan tidak pernah memberikan alamat rumahku padanya," jelas Joel.
Ariel menggeleng pelan saat Joel mulai memberikan penjelasan padanya, lalu menyeka sisa air matanya yang telah berhenti mengalir.
"Ariel,,, ku mohon,, setidaknya beri aku sedikit waktu saja untuk menjelaskannya," harap Joel dengan wajah memelas. "Aku hanya tidak ingin kamu salah paham padaku," imbuhnya.
"Aku tau sejak awal dia menyukaimu," ucap Ariel.
"Kamu,,, tau,?" ulang Joel terkejut.
Ariel mengangguk pelan dan mulai mengatur nafasnya. Rasa khawatir tumbuh begitu saja di dalam hatinya. Khawatir jika perasaan Joel terhadapnya akan berubah karena dirinya terlalu lama membiarkan Joel menunggu dan mengabaikan perasaannya.
"Aku tidak skeptis dengan dia yang memiliki perasaan padamu. Tapi, dia tau bagaimana perasaanya, dan dia memberitahumu. Bahkan ketika kamu menolaknya, dia tetap memberitahumu. Dan itu membuatku takut, bahwa aku telah membuang semuanya," ungkap Ariel.
"Apa yang aku rasakan tidak akan pernah berubah, meski seseorang berusaha untuk merubahnya," tutur Joel.
Tangan Joel terulur untuk menyentuh dagu Ariel, mengangkat wajahnnya hingga mata mereka bertemu.
"Aku tidak menyukai keadaan dimana kamu merasa terbebani dengan perasaanku. Aku tau kamu pernah terluka, dan aku tidak bisa mengatakan bahwa apa yang kamu rasakan sama dengan yang aku rasakan. Tapi, hanya karena gagal dan hatimu hancur, bukan berarti cinta tidak ada untuk orang lain,"
"Dan aku sangat berharap, daripada menilai pria yang telah kamu kubur beberapa tahun lalu, kamu bisa belajar mencintai pria yang ada didepanmu, dan aku tidak akan mendesakmu," tutur Joel dengan suara lembut.
Sekali lagi, Ariel merasakan kehangatan mengalir dihatinya, sebuah perasaan yang selalu ia sangkal, dan rasa takut jika rasa itu menghilang darinya.
Membayangkan bagaimana hari-hari yang akan ia lalui tanpa Joel didalamnya, membuat hatinya terasa sesak.
Keinginan dilubuk hatinya untuk memohon pada Joel agar selalu disisinya, dan keinginan egoisnya yang berharap senyuman itu tidak dimiliki orang lain selain dirinya.
Hal itu mambuat Ariel akhirnya sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada Joel.
"Maaf telah membuatmu melihat sisi menyedihkan dariku, aku dengan konyolnya menangis seperti itu," ucap Ariel dengan suara bergetar.
"Dasar bodoh!" ucap Joel menyentil dahi Ariel pelan.
"Dua hal itu adalah hal yang tidak bisa kita kendalikan sampai kapanpun, kenapa kamu harus meminta maaf karena hal itu?" sahut Joel dengan senyum tulus.
Untuk waktu yang terasa cukup lama bagi Ariel, ia terdiam dan termenung. Seluruh waktu yang ia habiskan bersama Joel kembali terputar didepan matanya.
Dia yang selalu berusaha ada untukku, Dia yang berusah keluar dari zona nyamannya hanya untukku, dan dia yang selalu membuatku tertawa dengan tingkah konyolnya serta membuatmu kesal disaat yang sama namun aku tidak membenci sikapnya.
Lalu bagaimana jika hal itu meningalkamu begitu saja hanya karena dirimu sediri terlalu takut untuk keluar dari zona nyamanmu sendiri? Akankan dia berubah?
Memkirkan hal itu, tanpa sadar membuat Ariel kembali meneteskan air matanya. Membuat Joel terkejut dan panik diwaktu yang sama.
"Hei,,hei,, Ariel,, ada apa? Kumohon, jangan menangis," harap Joel sembari menyeka air mata yang bergulir dengan ibu jarinya.
"Tidak,, tidak apa-apa," jawab Ariel mengeleng pelan.
"Lalu, kenapa kamu menangis? Apakah aku melakukan kesalahan? Apakah tanpa sadar aku telah menyakitimu?" tanya Joel lembut.
"Justru akulah yang telah menyakitimu. Aku hanya fokus pada diriku sendiri hingga apa yang aku lakukan tanpa sadar telah menyakitimu, menyakiti hatimu," tutur Ariel lirih.
"Bahkan tidak sedikitpun," jawab Joel.
"Jujur saja, awalnya memang sedikit kesal, tapi saat melihatmu tersenyum, itu membuat aku mengerti satu hal. Bahwa cinta yang aku miliki untukmu tanpa syarat. Hanya karena aku mengatakan cinta padamu, bukan berarti kamu harus membalas dengan kalimat yang sama, tapi aku tetap bersungguh-sungguh dengan semua yang aku katakan," ungkap Joel.
Ariel meletakkan telapak tangannya dipipi Joel, dan ia meletakkan telapak tangannya diatas tangan Ariel. Memejamkan mata untuk sesaat, lalu kembali membuka matanya hanya untuk menyadari Ariel tengah menatapnya dalam-dalam.
"Aku menyadari satu hal, aku menyukai semua hal yang kamu lakukan untukku, menghabiskan waktu bersamamu, dan membayangkan setelah hari ini kamu tidak lagi bersamaku terasa seperti mimpi buruk yang aku harap tidak akan pernah terjadi, tapi aku jujur--,,,"
Jeda terjadi sesaat ketika Ariel manarik nafas dalam dan menghembuskanya perlahan. Menatap mata Joel yang selalu terbingkai indah di balik kacamatanya, dan tersenyum tulus.
" AKU MENCINTAIMU, JOEL,,,"
...>>>>>>>--<<<<<<<<...