I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
77. Salah paham



Joel pulang saat hari menjelang pagi, wajahnya tampak lelah dan matanya berkedut menahan kantuk yang luar biasa. Pencariannya berakhir buntu dan dirinya justru menghabiskan waktu dipinggiran kota dengan berkutat dengan laptopnya.


Joel menelusuri semua informasi seorang pria yang pernah disebutkan Ariel padanya. Bagaimana sepak terjangnya dan apapun informasi yang mungkin berguna. Hingga mencari tau kemungkinan pria itu terlibat dalam insiden Ariel mengkinsumsi obat itu.


Beristirahat sejenak dirumahnya, Joel kembali keluar untuk bekerja hingga tanpa ia sadari lima hari berlalu begitu saja, dan ia tidak menemukan apapun, bahkan seringkali ia mengabaiakan Ariel yang terus menghubunginya dan memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan yang terjadi.


Seperti kali ini, ia kembali pulang menjelang pagi, Joel tertidur disofa hingga matahari menjulang tinggi. Begitu ia bagun dari tidurnya, ia segera membersihkan diri, berharap tubuhnya menjadi lebih segar setelah mandi.


"Jika aku mengatakan ini pada Bram, dia tentu akan membantuku, dan dia jauh lebih bisa diandalkan jika mencari informasi dibandingkan denganku. Tapi, rasanya sulit jika aku meminta bantuannya disaat dia juga masih memiliki perasaan terhadap, Ariel,"


Joel bergumam ada dirinya sendiri, lalu mendesah pelan. Ia baru saja selsai mandi dan tengah mengeringkan rambutnya, ketika tiba-tiba seseorang mengedor pintu rumahnya.


"Apakah anak-anak kembali bermain dan terjadi sesuatu?" gumam Joel berjalan menuju pintu dalam keadaan tubuh yang hanya terbungkus handuk.


"Siapa_,,, Ehh,, Hei,, apa yang kau lakukan,? Christina, lepaskan tanganmu,"


Joel terkejut saat tiba-tiba Christina memeluknya dan mendorong tubuhnya masuk.


"Lepaskan tanganmu!" perintah Joel berusaha melepaskan tangan Christina yang melingari pinggangnya.


"Tidak," jawab Christina mengelengkan kepalanya.


"Aku tau aku membuat kesalahan, aku minta maaf tentang itu, tapi tolong jangan menjauhiku dan membenciku," ratap Christina mulai menangis.


"Kita bisa bicara, tapi lepaskan dulu tanganmu," pinta Joel.


Entah kenapa Joel justru merasa sangat tidak nyaman ketika Christina menempel padanya, bahkan hanya duduk berdampingan saja terasa aneh baginya.


"Tapi, kamu tidak akan mengusirku kan?" harap Christina.


"Oke,,, aku tidak akan mengusirmu, tapi lepaskan tanganmu dariku," titah Joel.


Perlahan, Christina melonggarkan pelukannya, lalu menatap manik mata hazel milik Joel yang masih terasa menusuknya.


"Katakan! Ada perlu apa kau kemari?" tanya Joel sebisa mungkin tidak memperlihatkan emosinya.


"Meminta maaf padamu," jawab Christina menunduk.


"Bukan aku yang seharusnya mendapatkan permintaan maaf darimu," jawab Joel datar.


"Tapi, aku tetap bersalah padamu," balas Christina. "Aku juga berjanji akan meminta maaf pada Ariel jika itu yang kamu inginkan," imbuhnya.


"Apa lagi yang ingin kau katakan?" tanya Joel lagi.


"Apakah kamu memaafkan aku atau tidak?" tanya Christina memberikan tatapan sendu.


"Bagaimana menurutmu?" balas Joel dingin.


"Apakah dengan meminta maaf padanya kamu akan kembali bersikap baik padaku?" harap Christina.


"Entahlah," jawab Joel menaikkan bahunya.


Menyadari dirinya belum berpakaian, membuat dirinya semakin tidak nyaman dengan keberadaan Christina. Berbeda dengan Christina yang justru menikmatinya, Joel melangkah mundur.


"Ah,,, sebentar," ucap Joel seraya berbalik, berniat ke kamarnya untuk mengenakan pakaian, namun Christina mencekal pergelangan tangannya, membuat Joel berbalik untuk meminta melepaskan tangannya, namun dengan gerakan cepat Christina mencium bibir Joel.


Di sudut lain, disaat mereka tengah berbicara, dari arah lain Ariel tampak berjalan dengan langkah ringan menuju rumah Joel.


Satu tangannya membawa sebuah kotak berisi kue, sedangkan satu tangannya lagi menenteng sebuah paper bag hitam berisi hadiah yang akan ia berikan pada Joel di hari ulang tahunnya.


Ariel tersenyum lebar saat melihat pintu rumah Joel dalam keadaan setengah terbuka, menandakan pemilik rumah ada disana. Ia segera mempercepat langkahnya dan membuka pintu, berniat untuk memberi kejuan.


Namun, sebelum Ariel membuka suara, ia justru mendapatkan kejutan lebih dulu setelah mendorong pintu agar terbuka lebih lebar. Joel dan Christina berciuman didepan matanya.


Ariel melebarkan matanya, saat itu juga matanya terasa pedih, dan tanpa ia sadari, bulir bening lolos dari matanya, membasahi kedua pipinya. Kedua barang yang ia bawa di kedua tanganya terlepas begitu saja, hingga menimbulan suara yang mengejutkan mereka berdua.


'BRRUUKKK,,,,!!!'


"A-Ariel,,," desis Joel terkejut.


Ariel melangkah mundur, tersenyum getir menatap nanar kearah Joel yang tampak panik karena dirinya memergoki Joel bermesraan bersama Christina.


"Hahh,, sepertinya aku datang di tempat dan waktu yang salah. Aku tidak seharusnya datang dan menganggu kalian," ucap Ariel dengan suara bergetar.


"Tunggu,Ariel! Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," sambut Joel panik, bergerak mendekati Ariel.


"Stop,,! Tetap di tempatmu," ucap Ariel sembari mengulurkan satu tangannya kedepan.


"Beri aku waktu untuk menjeaskannya, Ariel, kumohon," harap Joel kembali melangkah maju.


"BERHENTI,,,!" sentak Ariel. "Aku bilang tetap di tempatmu," imbuhnya.


Air matanya terus mengalir tanpa bisa ia cegah. Mengangkat wajahnya, Ariel menatap tajam Joel yang tidak bisa berkutik didepannya.


Menarik nafas dalam-dalam, Ariel tersenyum getir, berusaha menahan air matanya lalu menatap Christina sesaat, dan kembali pada Joel.


"Maaf, sudah menganggumu, kalian bisa melanjutkannya setelah ini, aku permisi," ucap Ariel.


Ariel membalikkan badanya dan melangkah keluar. Namun, lagi-lagi Joel menahannya dengan mencengkram pergelangan tangannya.


"Jangan sentuh aku,!" sentak Ariel sembari menepis tangan Joel dengan kasar.


"Kumohon, Ariel. Dengarkan aku dulu, dia tiba-tiba datang dan bersikap seenaknya, itu bukan murni keinginanku," jelas Joel.


"Mana mungkin," bantahnya. "Dia bertindak tiba-tiba dan itu_,,,"


"Apa itu dalih terbaik yang bisa kau keluarkan?" potong Ariel.


"Maaf, aku tak memiliki cukup waktu untuk mendengarnya," ucap Ariel lagi.


"Dan jangan mengikutiku, atau menemuiku," tegas Ariel mengangkat telunjuknya, memberikan tatapan sedingin es yang baru pertama kali Joel terima.


"Arielll,,,!!!" seru Joel.


Joel segera berbalik untuk mengenakan pakaiannya dengan cepat, berusaha mengejar Ariel.


"Tunggu, Joel," cegah Christina menahan tangan Joel.


"Kau sengaja memperburuk keadaan dengan diammu ini bukan? Atau kau sengaja melakukan ini karena tau Ariel akan datang?" Joel menatap tajam pada Christina seolah akan membunuhnya, membuat Christina beringsut dan melepaskan tangan Joel begitu saja.


Mengabaikan Christina yang mematung, Joel berlari secepat mungkin mengejar Ariel. Berharap masih sempat mengejarnya.


Joel yang sangat mengerti kebiasaan Ariel tau persis dimana Ariel memarkirkan mobilnya, itu berjarak beberapa meter dari rumahnya. Dan benar saja, Joel melihat Ariel baru saja akan membuka pintu mobil dengan kuncinya.


"Ariell,,,!" seru Joel.


Ariel yang mendengar suara Joel menjadi terburu-buru membuka pintu mobil, pikirannya mendadak buntu, air mata yang terus mengalir membuat pandangannya buram, hingga ia menjatuhkan kunci mobilnya.


"Argh,, ayolah,," rutuknya dengan putus asa.


Bagaikan di sebuah film yang memunculkan adegan kebetulan, tiba-tiba, mobil Bram muncul. Ariel mengabaikan kunci mobilnya dan berlari menuju mobil Bram sebelum mobil itu benar-benar berhenti.


Ariel segera membuka pintu depan dan naik, tidak membiarkan Bram turun dari mobilnya.


"Apa yang kau lakukan? tadi itu berbahaya," geram Bram kesal bercampur khawatir.


"Pergi dari sini sekarang!" pinta Ariel sembari menghapus air matanya.


Bram tercengang selama beberapa saat ketika melihat Ariel


"Apa yang terjadi?" tanya Bram menoleh kearah Joel yang tengah berlari.


"JALANKAN MOBILNYA SEKARANG,!" sentak Ariel di sela isak tangisnya.


Bram segera menjalankan mobilnya, meninggalkan Joel yang terengah-engah dibelakang mobilnya saat gagal mengejar Ariel.


Keheningan menyelimuti perjalanan Ariel dan Bram. Sesekali Ariel menyeka air matanya yang terus saja mengalir meski ia tak ingin mengeluarkannya. Sedangkan Bram lebih memilih diam, merasa Ariel perlu waktu sejenak untuk mengatur emosi dihatinya.


Joel hanya menatap kepergian Ariel bersama Bram dengn wajah lesu. Ia segera mengambil kunci mobil yang Ariel tinggalkan dan membawa kunci itu bersamanya kembali ke rumah.


Setibanya dirumah, Christina sudah tidak terlihat, membiarkan pintu rumahnya terbuka lebar. Mata Joel tertuju pada kotak dan paper bag yang ditinggalkan Ariel saat datang dan melihat isinya.


Sebuah kue ulang tahun yang disiram coklat dan ditabur kacang dengan tulisan singkat diatasnya, namun berkesan baginya meski kini sudah setengah rusak karena terjatuh.


'Birthday my Bunny'


Didalam paper bag sebuah long coat beserta syal dengan warna senada dilipat rapi didalamnya.


"Arrgghh,,,,,!" erang Joel mengacak-acak rambutnya.


"Kenapa sekarang jadi seperti ini?" rutuknya.


Joel baru akan membawa kedua barang itu kedalam rumah ketika matanya tak sengaja menangkap sesuatu dibawah kursi santai didepan rumahnya.


Saat ia mengambilnya, seketika pikirannya menjadi buntu, merasa kesalahannya bukan hanya di tidak sengaja bersama Christina.


"Sejak kapan ikat rambut Ariel ada disini? Aku ingat Ariel tidak berkunjung selama beberapa hari, tapi kenapa ini ada disini?" gumam Joel, namun berpikir keras untuk mencoba mengingat sesuatu.


"Oh,, sial,," umpatnya ketika Joel ingat saat Ariel menghubunginya beberapa kali dan menanyakan dimana dirinya.


"Jangan bilang, saat dia menghubungiku, dia ada disini. Itu artinya dia tau aku berbohong padanya, tapi dia diam saja. Ini akan semakin sulit menjelaskan semuanya,"


Joel mencengkram kepalanya, merasakan masalah yang ia hadapi menjadi lebih rumit. Ia masuk kedalam rumah membawa ikat rambut yang ia temukan berserta kue dan coat yang Ariel bawakan untuknya, kemudin menyimpan didalam kamarnya.


Tepat saat Joel akan pergi untu menemui Ariel, ponselnya berbunyi dengan notif pesan. Satu pesan yang ternyata dari Bram membuat Joel segera membukanya.


[[ Ini hanya saranku, jangan menemuinya untuk saat ini, besok saja. Biarkan dia menenangkan pikirannya dulu sebelum bertemu denganmu. Aku akan mencoba untuk mendinginkan keadaan,]] @ Bram.


[[ Bisakah aku menemuinya nanti malam?]] @Joel.


[[ Aku tidak melarang, hanya saja aku tidak yakin dia akan menemuimu. Dia hanya perlu waktu sejenak untuk sendiri,]] @Bram.


[[ Aku mengerti, terima kasih, Bram,]] @Joel.


[[ Aku percaya padamu, tapi jangan berterima kasih padaku dengan nada seperti itu, itu membuatku geli,]] @Bram.


[[ Aku menyesal telah berterima kasih padamu,!]] @Joel.


[[ Begitu lebih baik,]] @Bram.


[[ Meski aku tidak tau apa yang terjadi, aku percaya padamu,]] @Bram.


Joel tersenyum kecil saat membaca pesan dari Bram, dan Ia merasakan Bram melakukan ini untuknya juga untuk Ariel dengan tulus, membuat ia percaya pada Bram dan memutuskan untuk menemui Ariel nanti malam meski hatinya gelisah menunggu waktu selama itu.


...>>>>>>>--<<<<<<<...