
Dapur yang hanya berisi dua orang didalamnya, tampak seperti ada lima orang telah mengacaukan dapur yang ada dirumah Joel.
Bram beberapa kali salah memotong sayur dan menumpahkan minyak. Namun, Joel masih menahan diri dan tidak meledakkan amarahnya.
Bram dengan percaya diri menumis sayuran dan menyodorkan hasilnya pada Joel dengan senyum bangga.
"Kau yakin ini sesuai arahanku?" tanya Joel menyipitkan matanya.
"Tentu saja. Bukankah kau juga melihatnya?" sambut Bram.
"Aku hanya melihatmu mengeksekusi sayur dengan brutal. Dan mengabaikan cara memasakmu saat aku sibuk dengan sup dan pai kacang milikku," sanggah Joel.
"Kalau begitu coba saja. Ariel pasti akan menyukainya," ucap Bram percaya diri.
Joel menatap masakan Bram sembari menelan ludahya. Potongan yang tidak beraturan, warna yang tidak tau apakah itu dari kecap ataupun hangus karena terlalu lama ketika memasak.
"Kau yakin ini bisa dimakan?" Joel bertanya lagi dengan tatapan ngeri.
Bram mengangguk percaya diri dengan senyum lebar terhias diwajahnya. Dengan ragu-ragu, Joel menyendok masakan yang dibuat oleh Bram dan memasukan kedalam mulutnya.
Detik berikutnya Joel segera melepehkan makanan yang belum sempat ia kunyah dan meneguk segelas air.
"Hei,,, itu sama saja kau meremehkanku," sambut Bram tidak terima makanan yang telah ia buat susah payah dilepehkan begitu saja.
Joel mendengus kesal dan segera menyendokan makanan itu kedalam mulut Bram dan segera menutup mulut Bram menggunakan tangannya.
"Telan itu,!" ucap Joel tersenyum puas.
Bram melebarkan matanya saat lidahnya merasakan masakan yang telah ia buat. Dengan segera ia menepis tangan joel dan melepehkan makanannya.
"Mengerikan,,, uhuk,,uhuk,," desis Bram setelah berhasil mengeluarkan makanan yang ia masak dari mulutnya.
"Berapa banyak garam yang kau masukan kedalamnya, Bram?" decak Joel melipat kedua tangannya.
"Entahlah,, kurasa empat atau lima sendok mungkin," jawab Bram polos.
"Apa kau sudah gila???" seru Joel menepuk dahinya.
"Kau memasukan takaran yang seharusnya cukup untuk lima belas orang," geram Joel.
"Hei,, aku hanya mencoba. Aku tidak menyangka makanannya akan seasin itu," bela Bram.
Joel mengusap wajahnya putus asa dengan sikap Bram yang masih tetap menyangkal bahwa dia memang sama sekali tidak bisa memasak.
"Keributan apa lagi sekarang?" sela Ariel yang tiba-tiba muncul dari balik tirai.
Ariel membuka mulutnya saat melihat keadaan dapur yang berantakan. Bram segera menegakkan tubuhnya dan menutupi hasil masakannya dengan tubuhnya sendiri.
Sementara Joel berdiri dangan wajah kesal dan sedikit manyandarkan tubuhnya di meja counter sembari melipat tangannya.
"Apakah ada gempa bumi atau sesuatu? Kenapa aku tidak merasakannya?" tanya Ariel tanpa berkedip.
"Tanyakan itu padanya," gerutu Joel menunjuk Bram dengan dagunya.
"Bukankah aku sudah mengingatkanmu, Joel," sambut Ariel tersenyum geli.
"Tapi aku tidak menyangka dia akan sepayah ini," jawab Joel. "Au bahkan sudah mengajarinya," sambungnya.
"Baiklah,, baiklah,,, biarkan aku yang membantu, kau tunggulah dimeja makan, Bram!" tawar Ariel segera menghampiri mereka.
"Tidak,,," seru Joel.
"Jangan,,," seru Bram.
Mereka berseru serentak dengan tangan terulur kedepan melarang Ariel masuk lebih dalam kedapur.
"Apakah kalian meremehkanku?" sambut Ariel meyipitkan matanya.
"Bukan begitu," sanggah Joel mengosok belakang lehernya.
"Aku tau kamu jauh lebih baik dariku, tapi aku ingin membuatkan sesuatu untukmu," sambung Bram.
"Kau akan membunuhnya dengan masakanmu, itu jauh lebih tepat untuk diucapkan," sindir Joel.
"Hei,, ayolah. Kau bisa mengajariku lagi," protes Bram.
"Tidak akan aku biarkan," jawab joel tegas. " Kau hanya akan membuat dapurku lebih hancur dari ini jika mencoba bereksperimen lagi," sambut Joel.
"Tck,,, " decak Bram.
Namun Bram tidak bisa menyangkal bahwa yang dikatakan Joel padanya. Dirinya memang tidak sebaik Joel jika berurusan dengan membuat makanan.
"Maka biarkan aku membantu, Joel," tawar Ariel mencoba mengurangi kekesalan Joel.
"Aku akan menyelesaiknnya sendiri dengan cepat, kamu duduk saja," larang Joel.
"Aku merasa tidak enak jika aku tidak melakukan apapun," sanggah Ariel.
"Kalau begitu, bantu aku mengeluarkan penganggu ini, itu akan sangat membantuku sekali," pinta Joel penuh harap.
Ariel tersenyum geli sembari mengelengkan kepalnya. Namun, sebelum Ariel menjawab perkataan Joel, dering ponselnya menyela mereka.
"Ah,, maaf. Aku akan menerima ini sebentar," ucap Ariel cepat setelah melihat layar ponselnya dan segera berbalik meninggalkan mereka yang saling pandang dengan tatapan heran.
Mereka mengangguk seolah telah membuat kesepakatan dan mengikuti Ariel dari belakang. Mencuri dengar apa yang diperbincangkan, sekaligus untuk mengetahui siapa yang telah membuat Ariel buru-buru untuk menerima panggilan masuk.
"Ya, Ken?" sambut Ariel ketika meletakkan ponsel ditelinganya.
"Ah,, maaf kak, aku menganggu waktu kakak. Apakah kakak ada waktu sebentar?" tanya Ken ponsel Ariel.
"Ya,, tentu. Katakan, apa itu," pinta Ariel.
" Pertunjukan yang kakak daftarkan minggu lalu, diadakan dua minggu lagi, apakah aku bisa berlatih di apartemen kakak besok pagi? Aku ingat besok kakak tidak akan datang ke studio. Jadi_,,," Ken mengantung kalimatnya karena ragu.
"Kamu bisa datang kapan saja, Ken. Justru akan bagus jika kamu lebih banyak berlatih diluar jadwal," ucap Ariel.
"Ehhh,,, sungguh? Kakak tidak sedang bercanda kan?" tanya Ken girang.
"Tentu saja, karena aku yang bertanggung jawab penuh dengan pertunjukanmu," jelas Ariel.
"Terima kasih bayak, kak," sambut Ken girang.
"Oh,, benar juga. Besok kamu tunggu saja distudio, aku akan kesana membawa Cello yang telah selesai diperbaiki, jadi kamu bisa ikut bersamaku kembali keapartemen, sekaligus mengambil Cello milikku yang berada disana" papar Ariel.
"Bagaimana jika ada yag melihat kakak?" sanggah Ken.
"Apa masalahnya? Gerry tidak akan mengatakan hal aneh jika kau bersamaku. Dia bahkan tau tentang keikutserataanmu dipertunjukan nanti," sambut Ariel.
"Bukan begitu," sanggah Ken.
"Tapi, anak-anak lain, mereka akan berpikir kakak pilih kasih karena hanya mengajariku diluar jam latihan, sedangkan mereka tidak," jelas Ken.
"Karena mereka tidak memintanya," jawab Ariel tenang.
"Jika mereka meminta, aku akan memberikannya. Tapi mereka tidak melakukannya, jadi itu salah mereka,"terang Ariel.
"Aku bahkan ragu mereka akan memikirkan hal itu," jawab Ken.
"Aku hanya melatih tujuh orang, Ken, termasuk kamu didalamnya. Selain Gina dan Oliver. Kaulah yang aktif dibawah didikanku. Jika mereka protes, aku hanya perlu membuat mereka melihat diri mereka sendiri apakah mereka pantas untuk mengajukan protes padaku," jelas Ariel.
Hening. . . . .
Ken terdiam beberapa saat, perasaan nyaman ketika berbicara dengan Ariel yang menjadi pelatihnya ketika pelatih lain menyerah mengajarinya karena sikap kerasnya.
Sosok Ariel yang tidak mau terlibat dengan hal yang rumit namun selalu mengambil tanggung jawab penuh dengan apa yang ada didepannya.
"Apakah kakak pernah berpikir untuk menjadi pengacara?" tanya Ken tiba-tiba.
"Apa hubungannya pertanyaanmu dengan musik?" tanya Ariel datar.
"Ha ha ha,, tidak,, tidak ada. Aku hanya berpikir jika kakak menjadi pengacara mungkin kasus akan terselesaikan dengan mudah," terang Ariel.
"Aku tidak tertarik menjadi pengacara, karena __,,,,"
"Itu bukan bidangku," Ken melanjutkan ucapan Ariel secara bersamaan.
Ariel tertawa pelan ketika baru menyadari, Ken hanya menyanjungnya.
"Kakak selalu mengatakan itu," sambut ken tertawa.
"Ohoo,,, jadi kau merasa sudah mengenalku?" sambut Ariel tersenyum.
"Hanya sedikit," jawab Ken.
Sementara itu, dibalik pintu Bram dan Joel mencuri dengar apa yang dibicarakan Ariel mulai saling pandang dan bertanya-tanya.
"Siapa Ken?" tanya Bram.
"Entahlah," jawab Joel menaikan bahunya. "Kalau aku tidak salah ingat Ariel pernah menyebut namanya ketika dia selesai mengajar pada pria yang lebih muda darinya dan membawakan koper Cello yang rusak," papar Joel.
"Kapan? Apakah mereka dekat?" selidik Bram.
"Entahlah. Aku tidak mengetahui detainya karena aku tidak bertanya lebih jauh," ungkap Joel.
"Bodoh," cibir Bram.
PLAKK,,,!!
"Ugh,,," erang Bram saat Joel menampar keras bahunya.
"Apa maksudnya itu?" protes Bram meringis.
"Kenapa? Sakit?" cibir Joel.
"Tentu saja sakit," sungut Bram.
"Lemah," sindir Joel.
"Kau benar-benar suka mencari keributan," dengus Bram.
"Kaulah yang mulai lebih dulu," balas Joel.
"Kau tersinggung karena aku menyebutmu bodoh?" tanya Bram menyipitkan matanya.
"Aku dengan senang hati menyuntikmu agar kau tidur hingga besok pagi," ancam Joel.
"Apakah itu sikap yang pantas dilakukan oleh seorang dokter?" cibir Bram.
"Kenapa aku harus peduli dengan itu?" balas Joel.
"Eerrgghhh,,," geram Bram. " Yang ingin ku bahas disini adalah, kenapa kau tidak mencari tau siapa yang bernama Ken itu?Bagaimana jika dia juga menyukai Ariel?" geram Bram.
Joel terdiam seoalah baru menyadari hal itu bisa saja terjadi. Ia mulai berpikir bagaimana jika Ariel memilih orang lain?.
Joel mengelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran buruk yang menyelinap kedalam pikirannya.
"Itu tidak boleh terjadi," sambut Joel.
"Aku setuju," balas Bram.
Mereka kembali mengawasi Ariel yang masih berbicara melalui ponselnya dimana Ariel sesekali tertawa ringan entah apa penyebabnya kerena mereka tidak mendengar apa yang dikatakan Ken pada Ariel.
"Baiklah,,, apakah ada lagi yang ingin kamu katakan?" tanya Ariel.
"Tidak, aku menghubungi kakak karena ingin meminta jadwal latihan tambahan," ungkap Ken.
"Baiklah kalau begitu, aku tutup dulu," ucap Ariel.
"Terima kasih banyak, kak," sambut Ken.
"Kapanpun, Ken" jawab Ariel.
Areil berbalik dan memergoki mereka tengah memperhatikan dirinya.
Mereka dengan panik menarik kepala mereka dengan cepan dan berebut menuju dapur.
"Ada apa dengan mereka?" gumam Ariel tersenyum geli.
Setelah menyimpan ponsel disaku cekananya, Ariel menyusul mereka menuju dapur.
...>>>>>>>--<<<<<<<...