
Tirai penutup tempat Jesica menganti pakaian kembali terbuka, menampilkan pelampilan Jesica yang di balut gaun putih yang berhasil membuat Ariel terpana.
Ariel bangun dari duduknya dengan sedikit susah payah untuk menghampiri sahabatnya. Kedua matanya menelisik penampilan Jesica dari atas sampai bawah dengan seksama.
"Ini bagus, tapi aku merasa ada yang kurang," ujar Ariel.
"Mata anda jeli sekali, nona," puji pegawai yang membantu Jesica.
"Gaun ini memang memiliki desain lain dimana akan ada kain penutup dibahunya," terang pegawai.
"Tidak,,," jawab Ariel mengeleng pelan. "Meski pakai kain penutup, itu tetap tidak bisa," jawab Ariel.
"Kau hanya perlu mengatakan ganti, Ariel," sindir Jesica.
"Jika itu perlu, aku sudah mengatakannya," sanggah Ariel.
"Tapi, gaun ini ada sesuatu yang hilang, itu sebabnya aku memintamu untuk mencoba dengan yang terakhir aku pilih," jelas Ariel.
Jesica hanya bisa menghela nafas panjang, namun menuruti permintaan sahabatnya. Ia menganti gaun dengan gaun yang dipilih Ariel sebelumnya, dan ketika Jesica selesai, Ariel segera mengetahui kekuranganya.
"Aku ingin tau, apakah gaunya bisa di rubah sedikit?" tanya Ariel pada pegawai.
"Tentu nona, kami bisa melakuknnya. Hanya saja perlu waktu_,,,"
"Tidak, bukan merubah yang sampai melibatkan membongkar gaunnya, hanya menambahkan pada gaun yang sudah ada," potong Ariel.
"Tentu nona, itu bisa dilakukan," jawab pegawai itu dengan senyum ramahnya.
"Gunakan gaun yang sebelum ini, namun bagian bahu, letakan dengan yang ini (menunjuk yang sedang di kenakan jesica)," jelas Ariel.
"Saya mengerti," jawabnya.
Ariel kembali duduk, menunggu sampai sahabatnya selesai dengan gaunnya. Sementara Jesica yang berada dibalik tirai tersenyum sembari mengelengkan kepalanya.
"Saya tak menyangka sahabat anda jauh lebih teliti dari sebelumnya," ucap pegawai memecah keheningan.
"Dia selalu begitu jika pada orang lain, hanya saja sering mengabaikan dirinya sendiri," jawab Jesica.
Pegawai itu mengangguk mengerti, dan kembali dengan tugasnya. Setelah menyelesaikan tugasnya, seketika pegawai itu menatap takjub pada Jesica yang terlihat menawan.
"Nona, anda sungguh luar biasa. Penampilan anda seolah menunjukan kecantikan sempurna," pujinya.
"Baiklah, mari kita lihat reaksinya," jawab Jesica.
Tirai kembali terbuka, dan segera saja Ariel bertepuk tangan tanda puas dengan penampilan Jesica.
"Kamu mempesona, Jessi. Sungguh," puji Ariel.
"Jadi, gaun ini?" tanya Jesica memastikan.
"Yap,,, gaun ini sangat sempurna untukmu_,,, Akh,,,,"
Ariel memegangi perutnya disertai rintihan pelan.
"Kamu kenapa?" sambut Jesica cemas.
"Tidak," jawab Ariel mengelengkan kepalanya, mencegah Jesica menghampiri dirinya.
"Kamu memiliki dua suara disini," ujar Ariel lagi.
"Jadi, tadi_,,," Jesica memandangi wajah sahabatnya dengan khawatir.
"Mereka sepertinya setuju dengan ucapanku," jawab Ariel meringis.
"Mereka menendang tepat saat aku mengatakan gaun itu sempurna untukmu," terang Ariel.
Jesica tersenyum bahagia, hanya dengan mendengar hal itu cukup membuat dirinya senang.
"Baiklah, ayo kita lihat reaksinya ketika melihatmu," ucap Ariel
Disisi lain, Bram akhirnya menemukan setelan yang cocok untuknya setelah entah berapa kali ia terus menganti setelan yang ditolak Joel.
"Baiklah, tunggu sebentar, aku akan memastikan mereka sudah selesai, dan biarkan dia melihat penampilamu," ucap Joel.
Joel berjalan kearah tirai lain. Tak lama kemudian, istrinya menjulurkan kepalanya dan berkedip kearahnya sebagai tanda Jesica telah selesai.
Joel mengangguk, dan kembali menghampiri Bram. Dalam hitungan ke tiga, tirai dibuka memperllihatkan penampilan baru mereka.
Bram tidak bisa mengalihkan pandangannya ketika melihat penampilan Jesica didepannya. Ia segera menghampiri kekasihnya dengan senyum menghiasi wajahnya.
Joel mendekati sang istri dan melingkarkan tangan dibahunya.
"Gaun itu, pasti kamu yang merubahnya," bisik Joel.
"Bagaimana kamu bisa tau?" sambut Ariel menoleh kearah suaminya.
"Entahlah," jawab Joel menaikkan bahunya.
"Aku hanya melihat ada sentuhanmu di gaun itu," sambungnya.
"Aku lelah sekali, bisakah kita duduk diluar saja?" harap Ariel.
"Apapun yang kamu inginkan," jawab Joel tersenyum.
Joel menggunakan kursi lain dan meletakkannya didepan istrinya. Tanpa merasa canggung dengan posisi mereka berada saat itu, Joel mengangkat kaki Ariel keatas pangkuannya untuk memberikan pijatan ringan selama menunggu dua sahabat mereka keluar dari ruang ganti.
"Eeii,,, Bunny, mereka memperhatikan kita," tegur Ariel mencoba untuk menepis tangan suaminya, namun gerakanya justru terhalang perutnya sendiri.
"Jika mereka melihat, biarkan saja melihat. Lagipula aku tidak melakukan hal ilegal," sanggah Joel terkekeh melihat tingkah istrinya.
"Aish,,, kamu terlihat sangat menikmatinya ketika aku kesulitan?" sungut Ariel.
"Justru sebaliknya," jawab Joel masih memijat kaki Ariel.
"Ehem,,, Sweety," panggil Joel.
"Apa?" sambut Ariel memilih bersandar, merasa percuma untuk mencegah suaminya disaat tangannya bahkan tidak bisa menyentuh kakinya sendiri.
"Kakimu sedikit bengkak, bagaimana kalau kita ke rumah sakit untuk cek?" tawar Joel merasa iba melihat kaki sang istri membengkak.
"Dokter bilang hal itu wajar, jadi tidak perlu ke rumah sakit," jawab Ariel.
Beberapa pegawai yang melihat interaksi Joel dan Ariel serta Jesica dan Bram saling berdecak kagum. Mereka bahkan tak menyangka pelanggan yang mereka layani kini kembali datang dan hubungan mereka masih sehangat ketika mereka pertama kali melihatnya.
Disisi lain, Bram meletakkan tangannya dipinggang Jesica dan menariknya mendekat. Tersenyum lembut memandangi wajah kekasihnya yang ia pilih untuk menjadi istrinya.
"Jika kupikirkan lagi, entah kenapa semua yang terjadi menjadi sangat lucu seolah kita bertukar pasangan meski kita tak berniat untuk melakukannya," ucap Bram.
"Aku juga berpikir sama. Semua yang telah terjadi seolah saling terhubung satu sama lain, tapi aku sungguh tidak menyangka bisa melihat cinta yang begitu besar dari dalam diri Joel kepada Ariel," tutur Jesica.
"Dan aku melihat cinta yang sama yang diberikan Ariel untuknya. Satu hal terpenting dari semuanya bagiku adalah, aku juga melihatnya didalam dirimu," jawab Bram.
Bram mengecup lembut kening Jesica, tak lama setelah itu, pegawai yang membantu mereka kembali datang untuk membantu mereka melepaskan gaun yang di pakai Jesica.
Mereka berdua melangkah keluar dengan menjalinkan jari tangan mereka dan melihat Joel tengah memijat kaki Ariel disofa yang disediakan untuk pelanggan.
"Kenapa kalian tidak pulang saja?" saran Jesica setelah sampai didekat Ariel dan duduk disampingnya.
"Hei,, Joel, kakinya bengkak seperti itu, tidakah akan lebih baik jika kau membawanya kerumah sakit?" tanya Bram merasa tak tega melihat kaki Ariel.
"Aku baik-baik saja," jawab Ariel.
"Tapi, sepertinya aku memang ingin pulang sekarang," sambungnya.
"Apakah kamu ingin makan sesuatu?" tawar Jesica.
"Ehmmm,,," Ariel bergumam sembari menengadah.
"Apakah aku boleh membebani Steve?" tanya Ariel.
"Steve?" ulangJesica mengerutkan keningnya.
"Tentang apa?" tanya Jesica.
"Steak yang dia buat sungguh lezat, aku ingin makan itu lagi," jawab Ariel.
"Baiklah, aku akan memintanya untuk mengantar ke apartemenmu, ada yang lain?" tanya Jesica lagi.
"Tidak," jawab Ariel.
"Kalau begitu, pulanglah dan istirahat," ucap Jesica memberikan pelukan singkat.
Joel merangkul bahu Bram sejenak, memberikan senyum pengertian seolah ingin mengatakan bahwa dirinya turut bahagia tanpa bicara.
Mereka akhirnya berpisah setelah menghabiskan hari itu dengan memilih pakaian untuk hari bersejarah mereka.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
##Lewat tengah malam diapartemen.
Joel merasa seperti baru saja terlelap, namun merasakan pergerakan pelan disampingnya seolah berusaha untuk tidak membuat dirinya terbangun. Penasaran dengan apa yang terjadi, ia membuka matanya dan melihat Ariel bergerak dengan gelisah disampingnya.
"Sweety,,, ada apa?" tanya Joel sembari mengusap wajahnya untuk menghilangkan kantuk.
"Semua posisi terasa tidak nyaman dan aku juga tidak bisa tidur," keluh Ariel.
"Dan sekarang aku membangunkanmu," sambung Ariel dengan wajah kesal.
Merasa kesal pada dirinya sendiri karena telah mengaggu tidur sang suami.
"Hei,, kenapa berkata begitu?" sambut Joel lembut mengusap puncak kepala istrinya.
"Tunggu sebentar, aku ambilkan bantal sofa," sambungnya seraya turun dari tempat tidur.
Joel kembali dengan beberapa bantal sofa ditangannya, ia meletakkannya di sekeliling Ariel dan memastikan posisi ternyaman bagi Ariel. Bahkan bantal yang ia gunakan tak luput untuk digunakan.
"Sementara seperti ini dulu, besok aku carikan sesuatu untuk membantumu tidur. Sekarang, tidurlah!" tutur Joel.
Joel bersandar pada sandaran tempat tidur, mengusap lembut kepala istrinya hingga Ariel terlelap. Sementara dirinya tertidur dengan posisi bersandar dengan tangan terus menyentuh kepala istrinya.
...>>>>>>>--<<<<<<<<...
To be Continued