I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
134. Flyboarding



Namun, Ariel segera menutup pintu dan menguncinya dengan cepat sebelum Joel memiliki kesempatan untuk masuk.


'BLAMM'


"Heii,,, Sweety,,, aku belum masuk, buka pintunya,!" protes Joel.


"Aku tidak mengatakan aku setuju dengan usulmu, tunggu saja di luar sampai aku selesai. Itu sebagai hukumanmu karena membuatku kesal pagi ini," jawab Ariel.


"Tapi bukan kamu satu-satunya yang berada di posisi kesal hari ini," sanggah Joel.


"Dan bukan aku yang memiliki pikiran aneh dengan membayangkan apa yang tidak terjadi," balas Ariel.


"Ukh,,, baik,, baik,, kau menang," gerutu Joel.


"Itu arinya, kamu setuju untuk Flyboarding hari ini," ucap Joel seenaknya.


'CEKLEK,,,!'


Pintu langsung terbuka dengan memperlihatkan wajah protes Ariel.


"Tunggu dulu! Kapan aku sepakat tentang it_,, Heii,,,,"


Sebelum Ariel berhasil menyelesaikan kalimatnya, Joel menerobos masuk kedalam kamar mandi sembari mendorong Ariel kedalam, dan mengunci pintunya.


"Licik,," cibir Ariel.


"Bukan licik, tapi cerdik," ralat Joel tertawa.


"Permainan katamu sangat meningkat," sindir Ariel tidak mau kalah.


"Bukankah kamulah yang mengajarkannya padaku?" balas Joel.


Suara jeritan kecil Ariel disertai tawa terdengar dari luar pintu. Sesekali candaan mereka dan saling meledek juga terdengar di akhiri dengan tawa. Seolah ingin mengunakan waktu yang mereka miliki hanya untuk mereka.


Mereka membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya untuk keluar dari kamar mandi, memesan sarapan mereka dan menikmatinya di balkon.


"Kita memang sudah menundanya beberapa kali, aku tidak akan memaksamu bermain Flyboarding jika kamu tidak menginginkannya," tutur Joel ketika melihat Ariel termenung di tengah sarapan mereka.


"Tapi, bukankah itu tujuan awal kita kemari?" tanya Ariel merasa tak enak. "Dan itu salah satu hal yang kamu sukai," imbuhnya.


"Hanya karena aku menyukainya, bukan berarti itu harus mengabaikan bagaimana perasaanmu,"


"Yang terpenting bagiku sekarang adalah kamu merasa nyaman dengan apa yang kamu lakukan, dan tentu saja tanpa tekanan apapun. Kita berada disini untuk menikmati waktu kita dan itu untuk bersenang-senang," jawab Joel.


"Dan kamu belum bersenang-senang sepenuhnya sebelum melakukan apa yang sangat ingin kamu lakukan," balas Ariel.


"Jadi, ayo kita lakukan hari ini," sambungnya.


"Bukankah akan sangat disayangkan jika kita sudah membayar dan tidak melakukannya?" ujar Ariel lagi.


"Hanya saja, aku ingin kamu berjanji untuk mengatakannya jika kamu ingin berhenti," pinta Joel.


"Sepakat," sambut Ariel.


'Aku sangat berharap tidak terjadi hal diluar dugaan dengan aku melakukan ini. Rasanya sudah cukup bagiku untuk melihatnya terus memendam apa yang dia rasakan, bahkan dia memilih untuk mengigit tangannya sendiri untuk menekan rasa takutnya daripada mengeluarkannya,' batin Joel.


Mereka menyelesikan sarapan mereka dan segera bersiap untuk menuju lokasi yang menyediakan fasilitas olahraga air.


Satiap olahraga air yang di nikmati setiap pengunjung didampingi oleh instruktur yang membimbing dan menjaga keselamatan tiap orang. Scuba diving, Snorkeling, dan satu yang sedikit menarik perhatiannya, Flyboarding.


Salah satu dari mereka setengah berlari menyambut kedatangan Joel dan menyapanya ketika melihat Joel datang bersama Ariel.


"Woahh,,, akhirnya datang juga," sambutnya dengan antusias dan memberikan pelukan singkat seolah teman lama.


"Kamu, mengenalnya, Bunny?" tanya Ariel.


"Yah begitulah, dia salah satu yang terbaik dalam menyelam, dan kami bertemu ketika masih remaja," jelas Joel.


"Kau pasti Ariel?" ujarnya tersenyum hangat.


"Ah,, aku sangat menyesal karena tidak bisa menghadiri acara pernikahan kalian, aku tidak bisa mendapatkan tiket untuk penerbangan kesana," sambungnya memasang wajah murung.


"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Tapi,kamu mengenalku? Bagaimana?" sambut Ariel sedikit bingung.


"Ah,, soal itu, aku pernah melihat fotomu ketika aku berkunjung ke rumahnya," jawabnya tersenyum jahil.


"Foto?" ulang Ariel mengerutkan keningnya.


"Yap,,, jika ku ingat, foto itu terlihat seperti disebuah tebing batu, dan saat matahari terbenam," ujarnya sembari menengadah dengan dua jari didagunya.


Ariel melebarkan matanya dan beralih menatap Joel yang hanya menaikan kedua bahunya.


"Tak kusangka, kamu bahkan lebih cantik dibandingkan di foto. Dan itu membuatku mengerti kenapa dia ingin melamarmu," ujarnya lagi.


"Sekarang kau terlalu banyak bicara," sela Joel.


"Jadi, dia mengatakannya padamu?" sambut Ariel mengabaikan Joel.


"Tentu saja," jawabnya tersenyum lebar.


"Hei,, cukup disana bicaranya," protes Joel.


"Apa yang dia katakan olehnya?" tanya Ariel penasaran.


"Ayolah,,,Sweety, kenapa sekarang kamu juga sama sepertinya?" protes Joel.


"Banyak hal, termasuk bagaimana cara untuk melamarmu. Dan aku menyarankan untuk melakukannya ketika festival lentera karena saat festival itu, kemungkinan di tolak adalah 2%," ungkapnya.


"Dasar pengkhianat,!" umpat Joel segera mendororongkan telapak tangannya di wajah sang teman lalu mendorongnya menjauh dari Ariel.


Dia hanya tertawa terbahak-bahak dengan sikap Joel padanya, seolah memang begitulah cara mereka membuat hubungan mereka lebih dekat.


"Ah, aku hampir lupa," ujarnya lagi sembari mengulurkan tangannya.


"Liam," ungkapnya. "Senang akhirnya bisa bertemu denganmu," lanjutnya.


"Senang bertemu denganmu, dan kamu sudah tau siapa namaku," sambut Ariel menjabat tangannya dengan singkat.


"Baiklah, siap untuk Flyboarding?" tanya Liam.


"Tenang saja, kamu berada di tangan yang terbaik, dan itu adalah suamimu sendiri," paparnya.


"Eehh,,? Jadi ini bukan pertama kalinya dia bermain?" sambut Ariel terkejut menatap suaminya.


"Katakan saja, dia lebih dari kata layak untuk mendapatkan lisensi sebagai instruktur, tapi jiwa dokternya tidak bisa membuatnya berpaling dari dunia medis," ungkap Liam.


"Aku tak tau apapun tentang itu," sambut Ariel.


"Sangat wajar, sejauh yang aku tau, dia tidak begitu tertarik untuk membicarakan tentang dirinya sendiri, dan kau tau apa?" ucap Liam dengan senyuman yang kian melebar.


"Kau adalah orang pertama yang mengetahui hal ini," ungkap Liam.


"Apa maksudmu mengatakan itu?" sela Joel.


"Dia istriku, tentu saja hal wajar jika dia tau tentang ini," sambungnya.


"Baiklah,,," ujar Liam tertawa renyah dengan dua tangan terangkat.


"Pasangan yang tengah berbulan madu tidak seharusnya di ganggu," goda Liam lalu tertawa.


"Aku sudah menyiapkan semua peralatannya, hanya perlu cek sekali lagi sebelum kalian menggunakan alatnya," paparnya.


"Kamu memiliki teman yang asik untuk di ajak mengobrol," bisik Ariel.


"Apakah dia juga mengenal David?" tanya Ariel.


"Tentu saja dia mengenalnya," jawab Joel.


"Mereka berdua tidak pernah kehabisan bahan obrolan ketika bertemu," tambahnya.


"Aku tidak meragukan hal itu," sambut Ariel tersenyum geli membayangkan jika mereka berdua bertemu.


"Sekarang aku penasaran, apa yang di kuasai David dalam olahraga air? Kamu menguasai surfing, dia (menunjuk Liam dengan dagunya) menyelam, lalu David?" tanya Ariel.


"Dia tidak menguasai satupun olahraga air, dia bisa berenang, tapi hanya sebatas itu, dan dia juga kerap kali tenggelam jika terlalu lama berada didalam air," terang Joel.


"Tentang apa yang dia kuasai, kamu sudah mengetahuinya, bukan?" jawab Joel balas bertanya.


"Jadi, maksudmu reparasi?" tanya Ariel sedikit terkejut.


"Benar," jawab Joel. "Hanya saja, dia payah dalam memainkan semua alat musik, tapi bisa mengetahui apakah alat musik itu dalam kondisi benar atau tidak hanya dengan mendengarkan melodinya," sambung Joel menjelaskan.


"Wwow,, mengesankan," puji Ariel.


Ketika berada diatas speedboat, Ariel masih bisa mengendalikan dirinya sendiri, hingga ketika mereka tiba dilokasi dan Liam membantu Joel mengenakan peralatan Flyboarding dikakinya, perasaan cemas mulai merayap di hatinya.


Pandangannya tertuju pada air yang berada dibawah kakinya, membuatnya beberapa kali menelan ludahnya hingga keringat mulai terbentuk di keningnya.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Liam.


Suara Liam tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuatnya tersentak.


"Eh,,,Ya,, aku tidak apa-apa," jawab Ariel sedikit tergagap.


Joel menyadarinya, namun tetap melanjutkan aktivitasnya. Sampai Liam menegurnya.


"Joel, kau yakin istrimu baik-baik saja?" tanya Liam cemas.


"Aku tau apa yang aku lakukan, Liam. Dan dia juga tau kapan seharusnya dia akan berhenti," jawab Joel.


"Lanjutkan saja," imbuhnya.


"Apakah dia memiliki phobia?" tanya Liam lagi dengan berbisik.


"Tidak, lebih tepatnya,,, trauma," jawab Joel lirih.


"Kau yakin akan tetap melakukan ini?" tanya Liam lagi. "Apa kau yakin dia siap melakukan ini?" imbuhnya.


"Dia berjanji akan mengatakan berhenti jika memang dia ingin berhenti, dan aku memilih untuk mempercayai ucapannya," jawab Joel.


"Baiklah, aku percaya kau tau persis dengan apa yang kamu lakukan, hanya saja jangan terlalu mendorongnya," saran Liam.


"Aku tau, terima kasih," sambut Joel tersenyum.


Liam kembali menghampiri Ariel yang masih di posisi sebelumnya, meminta Ariel untuk mendekat ketika Joel telah selesai memasang alat di kakinya. Hingga dia mulai masuk kedalam air dan Liam menghidupkan mesin jetski.


Dalam hitungan detik, flyboard yang terpasang di kaki Joel menyemburkan tekanan air hingga membuatnya melambung. Joel menyeimbangkan tubuhnya sembari menyesuaikan arah gerak flyboard dikakinya.


Setelah beberapa saat ia merasa keseimbangannya bisa ia kuasai, Joel mulai bergerak mendekati speedboat dimana Ariel berada, mengulurkan tangannya.


"Ayo,,!" ajak Joel.


"Kamu sudah bisa naik," ucap Liam yang berada di samping Ariel.


"Pijakkan saja kakimu di sisi kakinya," jelas Liam.


Ariel melihat kebawah dengan ekspresi ngeri. Langkahnya berubah ragu dan membuat ia terpaku ditempatnya.


'Berapa kedalaman air dibawah sana? Apakah akan lebih dalam dari sebelumnya? Atau lebih dangkal? Jika aku terjatuh lagi, apa yang akan terjadi? Apakah aku akan merasakan hal itu lag_,,,' Ariel terus memikirkan banyak hal ketika suara Joel menariknya kembali ke kenyataan.


"Sweety,,,," panggil Joel lembut.


"Uhm,,,, itu,,," Ariel menatap Joel sesaat sebelum kembali melihat kebawah dimana kedalaman laut seolah menanti dirinya.


"Jangan melihat kebawah!" ujar Joel.


"Lihatlah kemari, lihat aku, okey!"


"Ulurkan tanganmu, dan naiklah perlahan," tutur Joel dengan lembut.


"Akankan aku jatuh ke bawah sana?" tanya Ariel lirih, masih ragu untuk mengulurkan tangannya.


"Tidak akan! Aku tidak akan membiarkanmu jatuh," janji Joel. "Kemarilah, dan jangan melihat kebawah," sambungnya.


"Kamu percaya padaku, bukan?" tanya Joel tersenyum.


"Tentu saja aku percaya," sambut Ariel cepat.


"Kalau begitu, kemarilah!" ucap Joel.


"Berpengangan padaku untuk sementara," saran Liam mengulurkan tangannya.


"Dia salah satu yang terbaik dalam hal ini selain surfing, jadi percaya saja padanya," ujar Liam.


Ariel tersenym tipis, menyambut uluran tangan Liam dengan rasa terima kasih, sementara satu tangannya lagi meraih tangan Joel. Satu kakinya mulai berpijak di sisi kaki Joel. Ketika satu kakinya lagi akan naik, Joel menarik sedikit tangannya hingga Ariel seketika berada dalam pelukannya.


Ariel memejamkan matanya dan memeluk erat suaminya ketika meresakan tubuhnya melayang dengan percikan air yang mengenai wajahnya.


"Hey,,, buka matamu, dan lihatlah," bisik Joel sedikit terkekeh.


Ariel mengeratkan pelukannya, ragu untuk membuka matanya.


"Bukankah aku janji untuk tidak membiarkanmu jatuh? Apa kamu tidak percaya padaku?" tanya Joel.


Perlahan, Ariel mulai membuka matanya, mencoba untuk memberanikan dirinya sendiri. Tangan Joel yang melingkari pinggangnya serta suaranya yang terus meyakinkan dirinya membuat Ariel tidak ingin usaha suaminya berakhir sia-sia.


Hembusan angin serta percikan air menerpa wajahnya ketika Ariel akhirnya membuka kedua matanya. Melihat sekeliling dimana itu terasa berdiri diatas air dengan tatapan takjub, terpesona dengan keindahan laut dimana ia bisa melihat beberapa batu karang yang terpantul cahaya teriknya matahari.


Joel tersenyum lembut ketika Ariel menatapnya, perlahan perasaan takut didalam hatinya berkurang, digantikan dengan rasa aman hanya dengan berada didalam pelukan suaminya.


"Lihat,,," ujar Joel.


"Bukan air yang kamu takuti,"


Satu kalimat itu berhasil menghadirkan senyum di bibir Ariel, hingga ia perlahan melonggakan tangannya yang sebelumnya melingkar kuat dipinggang suaminya.


Joel bergerak dengan berkala. Perlahan, melambung tinggi sesekali berputar tanpa melepaskan kedua tanganya dari pinggang sang istri. Dengan terus memperhatikan reaksi dari wajahnya dan ketegangan yang di rasakan istrinya.


...>>>>>>>>>--<<<<<<<...


To be Continued..


Penjelasan,;


-Lisensi\=> adalah dapat diartikan sebagai pemberian ijin berdasarkan perjanjian tertulis.


-Instruktur\=> adalah pendidik yang bertugas mengajarkan dan memberi pelatihan pada praktik tertentu.


-Scuba Diving\=> adalah penyelaman yang memungkinkan kita untuk bernafas didalam air dengan membawa tangki scuba.


-Snorkeling\=> adalah kegiatan berenang atau menyelam menggunakan masker selam.