I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
144. Kabar bahagia



Cafe dengan nuansa hangat dengan hiasan bunga dan lilin disetiap meja memberikan kesan romantis untuk tempat itu.


Disalah satu meja, Bram tengah duduk seorang diri dengan gelisah. Sesekali ia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, lalu mengarahkan pandangannya kearah pintu.


Beberapa menit berlalu, Bram bangun dari duduknya ketika melihat seseorang yang ditunggunya terlihat dipintu masuk.


"Maaf, aku datang terlambat," sesalnya.


"Tidak apa-apa, ayo duduk dulu," ajak Bram.


Wanita itu tersenyum manis, mengikuti Bram kearah meja yang telah dia pesan untuk mereka. Dengan Bram menarik kursi untuk si wanita duduk, ia menarik kursi untuk dirinya sendiri dan duduk berhadapan dengan si wanita.


"Entah kenapa, sepertinya aku rela jika harus berada disini hingga pagi asalkan bisa melihat wajahmu, Jes," ucap Bram dengan tulus.


"Caramu dalam berkata manis meningkat pesat, Bram," sindir Jesica terkekeh pelan.


"Oh ayolah,,, jangan merusaknya, aku mengatakan yang sebenarnya. Bukankah mengatakan hal manis untuk kekasihku sendiri adalah hal wajar?" sambut Bram.


"Entahlah," sambut Jesica menaikan bahunya.


"Hanya saja, itu seperti bukan dirimu," ujar Jesica sembari menopang dagunya.


"Haiss,,," desah Bram mengacak-acak rambutnya. "Aku memang tidak bisa seromantis Joel dalam hal ini," tutur Bram.


"Dan aku tidak bisa semanis Ariel," balas Jesica.


Mereka saling pandang selama beberapa saat sebelum akhirnya terbahak bersama. Mentertawakan ucapan mereka sendiri.


"Omong-omong, aku merindukan mereka. Terakhir kali kita bertemu saat acara tuan Adonis waktu itu," ucap Jesica memulai percakapan.


Sebelum Bram bisa menjawab, seorang pelayan menyela mereka untuk menanyakan pesanan mereka.


"Jadi, apa yang sedang ingin kamu makan?" tanya Bram.


"Hemm,, aku akan mengikutimu untuk saat ini. Kurasa kita memiliki selera sama dalam hal ini," jawab Jesica dengan sikap santainya.


"Baiklah," sambut Bram.


Bram mulai menyebutkan menu untuk mereka nikmati kepada pelayan yang segera mencatatnya.


Pelayan itu pergi meninggalkan mereka setelah Bram selesai mencatat, dan kembali lagi setelah beberapa menit dengan membawa pesanan mereka. Dengan hati-hati meletakkan semua pesanan mereka di meja dan meninggalkan mereka untuk menikmati makan malam.


"Bagaimana jika kita berkunjung ke apartemen mereka besok malam?" tawar Bram.


"Hei,,, itu ide bagus. Bukankah kita lama tidak berkumpul bersama? Kita juga bisa membawa serta Charlie dan adiknya," sambut Jesica.


"Aku tidak yakin soal mereka, yang ku dengar, Charlie menjadi lebih sibuk ketika malam, dan ia juga memiliki kehidupan pribadinya," jawab Bram.


"Aku tau, tapi kita bisa mencobanya. Dan jika memang mereka tidak bisa, ya sudah. Cukup kita berempat," sahut Jesica.


"Baiklah, aku setuju," jawab Bram.


Mereka menikmati makan malam mereka dengan sesekali berbincang ringan. Tiba-tiba, Bram mencondongkan tubuhnya kearah Jesica dengan tangan terulur.


Jesica terpaku sejenak saat menyadari Bram menyapukan ibu jarinya disudut bibirnya. Mereka saling pandang selama beberapa saat tanpa mengatakan apapun.


Kedekatan mereka yang terjadi dengan tiba-tiba membuat jantung mereka berdegup lebih cepat, sampai Bram memecah keheningan dengan berkata.


"Maaf, ada noda cream di sana, jadi aku_,,, uhm,,," Bram berubah gugup saat Jesica berada sangat dekat dengan wajahnya.


"Tidak apa-apa. Terima kasih," sambut Jesica dengan wajah merona.


Suasana berubah canggung sampai mereka menyelesaikan makan malam mereka. Hal itu membuat Bram sebisa mungkin kembali membuka suaranya.


"Jika aku mengajakmu ke suatu tempat, apakah kamu bisa menerimanya?" tanya Bram.


"Kemana tepatnya?" tanya Jesica.


"Bukan tempat yang tebilang mewah, hanya saja aku merasa kamu akan menyukainya," jawab Bram.


"Baiklah, aku ikut," jawab Jesica.


Bram tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. Mengandeng Jesica keluar dari cafe menuju tempat dimana ia memarkirkan mobilnya.


Bram mengemudi hingga mencapai pingiran kota. Dimana itu adalah salah satu sisi pantai yang sangat jarang dikunjungi.


"Apa yang kamu pikirkan dengan membawaku kemari?" tanya Jesica bingung.


"Aku sudah menduganya kau tak tau tetang ini," jawab Bram.


Bram meminta Jesica untuk berjalan lebih jauh mendekati bibir pantai dengan menginjak bebetuan yang ada disana. Lalu memintanya untuk berbalik, hingga apa yang dilihatnya membuat kedua matanya terbuka lebar.


Seluruh kota terlihat jelas didepan matanya bagaikan lautan berlian dengan kilauan lampu yang menerangi malam.


"Wwoow,,,, ini luar biasa. Aku tak pernah menyangka kota tempatku tinggal selama ini terihat seperti ini," ucap Jesica.


Bram berdiri disamping Jesica, bergabung untuk menikmati pemandangan yang mereka lihat dengan jari tangan mereka yang saling bertaut.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


#Keesokan harinya.


Ariel mengeliat pelan dan tidak merasakan tangan yang biasanya berada dipinggangnya. Dengan mata masih tertutup, ia membalikkan badannya dengan tangan terulur. Namun keningnya berkerut saat tidak merasakan siapapun ada disampingnya.


Matanya terbuka, kembali memastikan tempat disisinya yang ternyata memang kosong. Membuat ia segera bangun dan duduk sembari memandangi tempat kosong disana.


"Bukankah tadi malam dia bilang tidak bekerja hari ini?" gumam Ariel pelan.


Tanpa merapikan dirinya sendiri, Ariel melangkah keluar kamar dan mendengar suara didapur.


"Bunny,,,?" panggil Ariel dengan suara parau.


"Eii,,, kenapa bangun? Tidurlah lebih banyak, aku masih menyiapkan sarapan," saran Joel.


Ariel menghampiri suaminya yang tengah menumis sesuatu. Entah apa yang dibuatnya ia tidak begitu memikirkannya. Ariel berdiri dibelakang Joel, lalu melingkarkan tangannya, memeluk suaminya dari belakang.


"Ada apa? Hemm,,? Apakah kamu bermimpi buruk?" tanya Joel menepuk tangan Ariel dengan tepukan lembut.


Satu tangannya masih sibuk dengan masaknnya, dan ia merasakan dari punggungnya Ariel mengelengkan kepalanya.


"Tidak," jawab Ariel. "Hanya saja, terasa aneh ketika bangun dan kamu tidak ada disana seperti biasanya," jawab Ariel.


"Aku juga membuat makanan kesukaanmu," papar Joel.


"Apakah itu alasanmu bangun lebih pagi dari biasanya?" tanya Ariel.


"Tentu saja, kapan lagi aku bisa membuatnya?" sambut Joel.


Bunyi BIP pada oven seketika membuat Joel menoleh dan mematikan pemanggangnya.


"Sudah selesai?" sambut Ariel tersenyum senang.


"Sebentar, aku keluarkan dulu dari oven," ujar Joel membuat Ariel melepaskan tangannya.


Joel membuka oven hingga tercium aroma lezat dari kacang dan coklat. Kue yang sangat disukai istrinya, Pai kacang.


Joel sengaja bangun lebih pagi hanya untuk membuat kue yang tak pernah ia buat lagi semenjak pernikahan mereka. Namun kabar baik yang ia terima membuatnya ingin menyenangkan hati istrinya, dan teringat istrinya sangat menyukai pai kacang yang ia buat.


"Ini dia,," ucap Joel menunjukan kue yang baru saja keluar dari oven, lalu meletakkannya di meja.


Namun, Ariel justru mengernyit sembari menutupi hidungnya. Memberikan tatapan protes pada suaminya.


"Kamu yakin membuat ini?" tanya Ariel.


"Ini seperti bukan buatanmu," imbuhnya masih terus menutupi hidungnya.


"Ini pai kacang kesukaanmu, Sweety," jawab Joel sembari mengerutkan keningnya, bingung dengan sikap istrinya.


"Ugh,,, apakah bahan yang kamu gunakan masih layak pakai? Kenapa baunya aneh?" tanya Ariel lagi.


"Aku baru membelinya kemarin, dan tidak ada yang aneh dengan aromanya," jawab Joel.


Ariel hanya diam, namun detik berikutnya segera berlari menuju kamar mandi yang berada dikamarnya. Melihat hal itu, Joel segera menyusul Ariel setelah mematikan kompor.


"Sweety,,,?" panggil Joel.


"Jangan kemari!," larang Ariel dengan posisi bersimpuh didepan closet yang ia buka untuk mengeluarkan isi perutnya.


"Hey,,Sweety,,, " panggil Joel lagi sembari mengosok lembut punggung istrinya.


Merasa tak tega melihat istrinya sudah menguras isi perutnya disaat dia bahkan belum memakan apapun.


"Aku sudah bilang jangan kemari," keluh Ariel segera menutup closet dan menekan tombolnya.


Joel membimbing Ariel duduk diatas closet, dan berlutut didepannya. Membersihkan sudut bibir Ariel menggunakan ibu jarinya.


"Apa kau lupa sumpah yang ku ucapkan ketika kita menikah?" tanya Joel tersenyum tipis.


"Ketika sehat dan sakit," ucap Joel lagi mengusap wajah sang istri.


"Tapi, itu kan,,, sedikit,,," Ariel tidak bisa meneruskan kalimatnya. 'Jorok' batin Ariel


"Lalu kenapa? Lagipula kamu istriku," jawab Joel seolah bisa membaca pikiran Ariel.


"Aku akan singkirkan kuenya agar kamu tidak perlu lagi mencium baunya, sekarang mandilah dulu!" saran Joel.


"Dan kita bisa ke rumah sakit," sambungnya.


"Tapi, kamu sudah susah payah membuatnya, dan aku tidak memakannya. Padahal kamu juga bangun lebih pagi untuk itu," sanggah Ariel merasa tak enak.


"Itu bukan hal penting untuk saat ini. Masalah kue itu hal mudah, kita bisa mengundang Bram dan Jesica kemari, dan mereka bisa memakannya," jawab Joel.


Ariel mengangguk dengan wajah haru. Membiarkan suaminya keluar sementara dirinya melakukan ritual paginya.


>>>>>>--<<<<<<<


"Selamat dokter Joel, istri anda positif hamil," ungkap dokter wanita yang baru saja memeriksa kondisi Ariel.


"Kamu benar-benar hamil" sahut Joel senang segera memeluk istrinya dan mengcup keningnya.


"Usia kandungannya memasuki minggu keempat, dan ini masih cukup muda, jadi anda diharapkan untuk lebih bisa menjaga istri anda. Usia kandungan yang masih muda cukup rentan. Saya yakin anda tau tentang hal itu," terangnya.


"Saya mengerti, terima kasih dokter Sisca," sambut Joel.


"Saya akan membuat resep obat serta vitamin untuk istri anda," ujarnya lagi.


"Baik," jawab Joel.


Joel tak sekalipun melepaskan tangan istrinya, membuat dokter Sisca yang melihat mereka hanya mengelengkan kepalanya.


"Anda memiliki sisi tak terduga, dokter Joel," goda Sisca.


"Apakah karena ini alasan anda meminta cuti hari ini?" tanyanya lagi.


"Benar," jawab Joel tanpa basa-basi.


"Ish,,, kenapa menjawab tanpa jeda begitu?" gerutu Ariell menyikut suaminya.


"Ha ha ha,,, anda sungguh berbeda ketika bersama dengan istri anda," ucap Sisca.


"Apa yang harus saya katakan? Dia terlalu berharga untuk diabaikan," jawab Joel.


"Rasanya seperti ingin selalu memanjakannya hanya agar dia selalu bersikap seperti ini_,, aduh," kalimat Joel berakhir dengan suara erangan pelan ketika Ariel dengan sengaja menginjak kakinya.


"Kenapa Bunny? Apakah kamu sakit?" tanya Ariel dengan wajah polos.


"Apakah anda sakit, dok?" tanya Sisca dengan wajah heran.


"Tidak, hanya sedikit kram," kilah Joel.


Sisca mengerutkan keningnya, sementara Ariel berusaha menahan tawa.


Setelah selesai menuliskan resep obat, Sisca memberikan catatan itu pada Joel yang segera menerimanya dan pamit untuk meninggalkan rumah sakit.


Melihat Joel yang termasuk dokter teraktif disana bersama seorang wanita baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan, membuat berita tentang kehamilan Ariel menyebar tanpa bisa di cegah. Mereka yang sebagian besar hadir diacara pernikahan segera menghampiri Joel dan Ariel.


Tanpa bertanya, mereka memberikan ucapan selamat secara bergilir kepada Joel dan Ariel. Hingga mereka tertahan di rumah sakit lebih lama dari yang mereka rencanakan.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


To be Continued...