
#Di ruang latihan
Ken memainkan Cello ditangannya sesuai dengan arahan Ariel. Sesekali Ariel mendengar anak didiknya yang lain berbisik dan membicarakan tentang dirinya ketika ia membimbing Ken.
Sejujurnya, dirinya juga sudah tau bahwa beberapa hari belakangan ini, ia menjadi oarng yang sering dibicarakan hanya karena ia sangat sering bersama Ken bahkan ketika pulang.
Namun, sejauh ini, ia hanya diam dan mengabaikan semua yang dibicarakan semua orang tentang dirinya.
"Kenapa kak Ariel perhatian sekali pada Ken?" bisik salah satu diantara mereka.
"Aku kemarin melihat Ken masuk kedalam mobil kak Ariel," sambung yang lain.
"Bukan hanya kemarin, tapi itu sudah berjalan seminggu lebih," timpal yang lain lagi.
Nayla menegakan badannya dan berbalik menghadap mereka. Menatap tajam mereka satu persatu membuat mereka beringsut. Merasa semua itu sudah cukup baginya untuk tetap diam.
"Sepertinya satu hal yang tidak kalian ketahui tentangku adalah, telingaku sangatlah sensitif," ucap Ariel dingin. "Dan semua yang kalian bicarakan dengan berbisik seperti itu, terdengar sangat jelas ditelingaku," sambungnya.
Mereka bungkam dan menundukan kepalanya. Tidak menyangka Ariel tetap mendengar mereka disaat berada di dekat Ken yang tengah memainkan Cello-nya.
"Ikuti permainanku, dan perhatikan temponya!" perintah Ariel.
"BAIK," jawab mereka serentak.
"Karena Oliver dan Gina tidak hadir hari ini, kalian bisa mendegarkan sendiri seperti apa permainan kalian," ucap Ariel sebelum duduk dikursi piano.
Didalam ruangan yang hanya berisi enam orang termasuk Ariel. Mereka mengambil posisi dengan alat musik masing-masing.
Ken dengan Cello
Ariel dengan Piano
pria bernanama Alex dengan Biola
Satu pria lain juga memegang Cello, sedangkan satu wanita mengambil piano dan juga biola.
Ariel memulai menekan tuts dengan nada rendah dan pelan. Seiring waktu tempo nada yang dimaikan menjadi lebih cepat.
Mereka bisa mengimbangi permainan Ariel dengan baik diawal permainan, namun terlihat mereka mulai terlihat kesulitan mengimbangi Ariel yang terus menambah kecepatan temponya.
Ken masih dengan tenang mengimbangi Ariel bermain.
TENG,,,,!
Suara kesalahan menekan tuts piano terdengar. Areil tersenyum tipis. Tiba-tiba Ariel menambah lagi tempo permainannya, hingga mereka tidak sanggup mengimbangi dan banyak melakukan kesalahan.
Ken masih mengimbangi Ariel dengan baik tanpa kesalahan hingga membuat mereka yang semula membicarakan Ken terpana.
Permainan Ariel yang diiringi Ken berlangsung cukup lama.
Semakin cepat,,, semakin cepat,,, dan lebih cepat lagi. Ken berhasil mencapai akhir lagu tanpa kesalahan hingga mereka yang mendengarkan permainan Ariel dan Ken bertepuk tangan.
Tanpa disadari, permainan mereka terdengar hingga ruangan sebelah dan beberapa murid lain menonton dari luar ruangan termasuk Gerry melihat mereka dengan pandangan kagum.
PROK,,,!!!
PROK,,,!!!
PROK,,,!!!
Permainan berakhir dan disambut tepuk tangan dari mereka yang menonton permainan Ariel.
Ken sedikit terengah-engah namun tersenyum menatap Ariel seolah meminta penilaian.
"Permainanmu semakin baik, Ken," puji Ariel tulus. "Hanya kau harus lebih meningkatkan staminamu," lanjutnya.
"Terima kasih banyak, kak," jawab Ken tersenyum bangga. "Ini semua berkat, kakak," sambungnya.
"Jarang sekali kamu memuji muridmu sendiri , Ariel," celetuk Gerry menghampiri Ariel yang masih duduk.
"Karena dia pantas mendapatkannya," sambut Ariel.
"Dia berlatih keras hingga malam, dan itu setiap hari. Jadwal latihannya bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan mengkritik kemampuan orang lain," sindir Ariel.
Mereka yang berada disana seakan ditampar dan menundukan kepalanya. Ariel bangun dari duduknya dan menatap semua yang berada disana.
"Dalam beberapa hari ini aku selalu diam karena aku memang tidak peduli, tapi itu mungkin berbeda dengan apa yang dirasakan Ken atas sikap kalian," ucap Ariel datar.
"Diam yang kulakukan ternyata membuat kalian lupa akan satu hal. Kalian hanya melihat apa yang kalian lihat tanpa melihat usaha kerasnya," ucap Ariel tajam.
"Saat kalian pulang setelah berlatih disini, Ken berlatih tiga hingga empat jam bersamaku. Jika dia lebih unggul, kenapa kalian mengeluh? Atas dasar apa? Kalian bahkan tidak menambah jadwal kalian sendiri," ucap Ariel lagi.
Ariel menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. Mereka semakin menundukkan kepala mereka, merasa malu.
"Jika kalian bertanya kenapa aku tidak memberi kalian latihan tambahan, jawabnya sangatlah sederhana," ujar Ariel.
"Karena kalian tidak memintanya, sedangkan Ken, dia menghubungiku hanya untuk meminta waktu tambahan untuk latihan. Apakah itu di sini setelah jadwal latihan bersama selesai ataupun malam di tempat lain bahkan dihari libur," papar Nayla.
Semua yang berada disana mengangkat kepalanya dan melebarkan matanya, terkejut dengan fakta yang diungkapkan Ariel pada mereka.
Ariel yang mereka pikir adalah pelatih yang terlalu tegas, justru menerima dengan senang hati siapapun yang ingin latihan tambahan bersamanya. Dan yang lebih mengejutkan adalah Ken yang berinisiatif untuk meminta latihan tambahan secara pribadi.
Mereka hanya mengenal Ken sebagai sosok yang malas ketika berhubungan dengan musik. Tetapi, apa yang dikatakan Ariel justru sebaliknya.
"Jika kalian iri dengan dia yang ikut serta dalam pertunjukan musik, aku akan memberikan itu pada kalian jika kalian bisa melampauinya. Karena aku hanya mendaftarkan mereka yang siap bermain, bukan yang hanya banyak bicara," tegas Ariel.
Ken menghampiri Ariel dan meraih tangannya.
"Kak Ariel tidak perlu sampai seperti ini, lagi pula aku sudah terbiasa. Bahkan sejak aku ada disini, hal seperti ini sudah kuterima. aku justru mengkhawatirkan kakak," ucap Ken lirih.
"Hahhh,,, sudahlah," desah Ariel. " Kalian bisa istirahat, latihan nanti kalian bisa berlatih sendiri," ucap Ariel mengibaskan tangannya sembari membalikan badanya dan melepaskan tangan Ken dari tangannya.
Dari balik punggungnya, mereka bisa melihat raut kecewa yang sangat besar diwajah Ariel. Ariel berjalan menuju kursi yang ada disudut ruangan, dimana ia meletakkan tas miliknya.
Ariel duduk dan merogoh tas miliknya, mengeluarkan ponsel sembari menyilangkan kakinya.
"Kalian bisa keluar, kalian memerlukan istirahat," ucap Ariel dengan mata tertuju pada ponselnya.
Mereka segera keluar tanpa suara. Gerry menatap Ariel sembari mengelengkan kepalanya lalu menghampiri Ariel.
"Padahal aku ingin mengatasi masalah ini, tapi kamu bertindak lebih cepat," ucap Gerry
"Jika kau berniat melakukannya, kau sudah melakukannya jauh sebelum ini," sambut Ariel tanpa menoleh.
"Baiklah,,,Baiklah,,, aku tau itu terlambat. Dan aku terlalu banyak berpikir," sesal Gerry
"Tak perlu menyesali apapun,! Keluarlah! Aku ingin sendiri," sambut Ariel datar.
"Haahhh,,,, baiklah," desah Gerry.
Gerry pun keluar dengan wajah lesu. Sementara Ken masih berdiri disana.
"Kak,, aku_,,,"
"Kau juga keluar, Ken," potong Ariel tanpa menoleh.
"Bukankah sudah kubilang aku ingin sendiri?" sambungnya.
"Tapi_,,,"
"Aku tidak marah padamu, jika itu yang kau khawatirkan," potong Ariel lagi.
Ariel mendongak dan menatap Ken, membuatnya menundukkan kepalanya.
"A-A- Aku keluar," jawab Ken gugup dan berbalik pergi meninggalkan Ariel sendiri. Setelah pintu tertutup, Ariel mendesah panjang, dan kembali melihat ponselnya.
Notif pesan masuk dari Bram membuat Ariel mengerutkan keningnya. Bukan hanya itu, pesan dari Joel juga masuk dan menanyakan hal yang sama.
[ Joel : jam berapa kamu selesai bekerja?]
[Bram : Jam berapa kamu pulang?]
'Ada apa lagi sekarang?' keluh hati Ariel.
[Ariel: Aku selesai bekerja jam empat sore, kenapa? ].
[Joel & Bram: Aku akan menjemputmu,]
"Apa-apaan mereka?" gumam Ariel saat membaca balasan dari mereka .
"Apakah mereka bekerja sama untuk mengirim pesan padaku?" gumamnya pelan.
"Tapi itu tidak mungkin kan?" gumamnya lagi mengelengkan kepalanya. Ariel kembali mengetik pesan dan dikirimkan pada mereka.
[Ariel : Tidak perlu,!]
[Bram: Apakah kamu baik-baik saja?]
[Joel: Apakah terjadi sesuatu?]
Ariel mengusap wajahnya dan menghela nafas panjang, sebelum kembali membalas pesan mereka satu persatu.
[Ariel: Aku baik-baik saja. @Bram]
[Ariel: Tidak. @Joel]
Ariel bangun dari duduknya sembari memasukan ponsel kedalam tasnya. Ia pun keluar dari ruang latihan, dan berjalan keluar gedung menuju tempat parkir.
Setelah menemukan mobilnya, Ariel segera masuk dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan gedung tempatnya melatih musik.
Mobil itu terus melaju hingga mencapai pantai. Tanpa disadari olehnya, seseorang telah mengikuti Ariel sejak keluar dari gedung hingga saat Ariel memarkirkan mobilnya, mobil yang mengikutinya juga melakukan hal yang sama.
Ariel berjalan menuju bibir pantai dan melepas sepatunya ketika air laut menyentuh kakinya.
'Hemmm,,,, angin pantai memang obat terbaik ketika aku merasa buruk terhadap sesuatu,' batin Ariel sembari memejamkan matanya.
Tepat saat Ariel menikmati hembusan angin, sentuhan dibahunya membuat ia membuka matanya dan menoleh.
"Ken,???" sambut Ariel terkejut dan melebarkan matanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ariel.
"Aku khawatir, kakak pergi dengan amarah seperti itu, jadi aku mengikuti kakak," ungkap Ken.
"Kakak seperti itu juga karena aku, maafkan aku," papar Ken.
"Sudah kubilang kan? Ini bukan salahmu. Jadi lupakanlah. Aku tidak ingin membicarakannya," tegas Ariel.
"Tapi_,,,"
"Aku baik-baik saja, Ken," potong Ariel.
"Hei,,, lebih baik kita mencari tempat yang sedikit lebih teduh dari ini, disini cukup terik," ucap Ariel mengalihkan pembicaraan.
"Itupun kalau kau masih ingin berada disini," sambungnya.
"Jadi, kakak tidak keberatan aku berada disini," jawab Ken.
"Tentu saja tidak," sambut Ariel tersenyum hangat.
'Ugh,,, kenapa kakak selalu tersenyum seperti itu?' keluh hati Ken.
"Ayo," ajak Ariel.
Ken mengangguk dan berjalan beriringan dengan Ariel menuju sebuah pohon palem dan duduk dibawahnya.
"Aku akan membeli sesuatu, kakak tunggu disini sebentar ya," ucap Ken.
"Tidak, Eh_,,,, Ken,," Ariel belum sempat menjawab ketika Ken pergi begitu saja mengabaikan dirinya.
"Anak ini,,, benar-benar,," decak Ariel lalu terseyum tipis.
Beberapa menit kemudian, Ken kembali dengan dua buah kelapa muda yang telah buka ditangannya. Senyum lebar yang menghiasi wajahnya, mau tak mau menarik perhatian Ariel.
Dirinya baru menyadari bahwa Ken ternyata memiliki pesonanya tersendiri. Ditambah lagi kini Ken memili sikap percaya diri yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Ini untuk kakak," ucap Ken menyodorkan kelapa muda pada Ariel yang segera ia terima.
"Terima kasih," ucap Ariel saat menerima minumannya.
Ken duduk disamping Ariel. Sesekali ia melirik Ariel yang tengah menyeruput minumannya.
'Mau dilihat berapa kalipun, kak Ariel tetaplah cantik,' batin Ken.
"Apakah kau menyukai pantai, Ken?" tanya Ariel tanpa menoleh, membuyarkan lamunanya.
"Eh,, itu,,, saya menyukainya," jawab Ken tergagap.
Ariel menoleh mengerutkan keningnya. Tangannya terulur menyentuh dahi Ken, membuat tubuhnya menegang.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Ariel.
"S-S-Saya baik-baik saja," jawab Ken tergagap.
"Lalu ada apa dengan sikap formalmu ini?" tanya Ariel menaikan alisnya.
"Eh,, Itu,,, maaf kak, kelepasan," jawab Ken memalingkan wajahnya.
"Wajahmu merah lho Ken," ujar Ariel.
"Duuhh,, kak,, jangan disebutkan dong," keluh Ken menutupi wajahnya.
"Apa yang terjadi dengan sikap dewasamu yang sempat muncul tadi? Kemana hilangnya?" sindir Ariel menahan tawanya.
"Sudah dong kak,,, kenapa kakak suka sekali mengodaku,!" keluh Ken, wajahnya kian memerah.
Ariel tertawa pelan, dan kembali mengarahkan pandagannya pada lautan yang ada didepannya.
"Apa yang kamu sukai dari pantai?" tanya Ariel lagi.
"Bebas," jawab Ken.
Ariel kembali menoleh kearah Ken yang kini menatap lautan yang ada didepan mereka. Untuk beberapa saat, Ariel melihat kilau disudut matanya. Seolah Ken berusaha keras menahannya agar tidak terjatuh.
Ariel meletakkan tangannya dipuncak kepala Ken dan mengusap pelan. Tersenyum hangat saat Ken menoleh menatapnya.
"Mungkin sedikit terlambat jika mengatakan ini sekarang, tapi kau bisa menceritakan apapun padaku, Ken," ucap Ariel lembut.
Hati Ken menghangat, memunculkan seutas senyum tulus dibibirnya. Merasa tersentuh dengan tindakan sederhana yang dilakukan Ariel padanya namun menghangatkan hatinya.
...>>>>>>--<<<<<<<...