
### Kediaman Jesica. Siang hari
Mobil yang dikendarai Joel berhenti tepat didepan gerbang tinggi dan megah kediaman keluarga Jesica.
Jesica terkejut saat melihat Joel datang mengunjungi rumahnya, namun ia juga senang dengan kedatangan Joel yang tiba-tiba, berpikir bahwa Joel berubah pikiran dan kembali padanya.
Namun, senyum hangat Jesica justru berhadapan dengan tatapan dingin milik Joel yang menusuk hatinya.
"Aku sangat senang kamu mengunjungiku, Jo, tapi ada apa dengan tatapan itu? Kenapa kau menatapku seperti kau akan membunuhku?" keluh Jesica.
"Kau sangat pandai berpura-pura, dan aku yakin, kau bisa mendapatkan predikat akting terbaik jika itu di perlombakan," dengus Joel.
"Kau datang sejauh ini hanya untuk menuduhku?" sambut Jesica menyipitkan matanya.
"Aku tidak menuduh, tapi aku tau itu kau yang melakukannya," balas Joel sengit.
"Itu bahkan terdengar sama disaat kau tidak memiliki bukti," cibir Jesica mulai kesal.
"Aku sudah cukup dengan Bram yang terus menuduhku, dan sekarang kau juga datang hanya untuk melemparkan tuduhan padaku," sambungnya.
"Lalu, jelaskan kenapa kau juga selalu berada ditempat yang sama ketika Ariel mendapatkan masalah?" tandas Joel kesal.
"Kenapa hanya dia yang berada ditempat terbaik disaat dia mendapatkan masalah? Aku bahkan mulai muak mendengarnya," sahut Jesica kesal.
"Karena dia pantas mendapatkannya?" sambut Joel.
"Dan aku tidak? Bahkan ketika dia yang membuat kesalahan, aku yakin kau tak akan menyudutkannya sama seperti kau menyudutkanku," balas Jesica sengit.
"Aku mulai muak melihatmu, pergi dari rumahku!" usir Jesica lantang.
"Aku dengan senang hati pergi dari sini, aku datang hanya untuk mengingatkanmu bahwa aku tidak akan diam meskipun aku harus mengorbankan segalanya untuk menghadapimu," tegas Joel.
Rahang Jesica mengeras, namun ia tetap bergeming ditempatnya. Matanya menatap Joel dengan kemarahan dan kekecewaan yang dalam.
Setelah mengatakan hal itu, Joel berbalik dan pergi meninggalkan rumah Jesica. Sementara Jesica hanya bisa menatap punggung Joel yang semakin menjauh.
"Seberapa besar sebenarnya kebenciannya padaku?" keluh Jesica pelan.
"Kenapa dia harus mengatakan hal mengerikan seperti itu?" imbuhnya.
"Aku tau dia berpikir aku memiliki kuasa penuh karena posisiku dan ayahku, tapi itu tidak akan aku gunakan untuk melawannya," ratapnya.
"Ariel,,, kau semakin meyebalkan," dengus Jesica.
Jesica berbalik dan memilih untuk masuk kedalam rumahnya. Sementara Joel keluar dari rumah Jesica dengan langkah gontai.
"Wow,,, sebuah kejutan. Apa yang kau lakukan disini?"
Sebuah pertanyaan menyambut Joel ketika ia keluar dari gerbang utama rumah Jesica.
"Apa yang kau lakukan disini?" jawab Joel balas bertanya.
"Apakah salah jika aku menemui sahabatku sendiri, Joel?" sindirnya.
"Tidak, hanya saja aku terkejut melihatmu masih tetap menjalin hubungan dengannya, Charlie," jawab Joel.
"Entahlah," jawab Charlie menaikan bahunya.
"Tapi, rasanya salah jika aku menjauhinya hanya setelah aku berteman dengan Ariel. Aku tidak mungkin hanya berada disalah satu pihak saja, aku memilih untuk berdiri diantara mereka, tidak membela siapapun dan mempercayai apa yang kuanggap benar," papar Charlie.
"Meskipun aku juga tau masalah mereka, aku tetap tidak bisa memalingkan wajahku dari Jesica. waktu yang kuhabiskan bersamanya tidaklah sebentar, dan kau tau itu," sambungnya.
"Yah,, kau benar. Mungkin posisimu yang tersulit disini," sambut Joel.
"Lalu, apa yang kau lakukan disini? Atau lebih tepatnya, apa yang sedang kamu pastikan dari Jesica?" tanya Charlie.
"Aku hanya memastikan apakan dia yang memberikan obat Afrodisiak pada Ariel ditengah acara yang dia hadiri beberapa hari lalu," ungkap Joel.
"Apaa,,?" seru Charlie kaget.
"Kenapa harus obat itu?" tanya Charlie.
"Apakah kau bertanya padanya atau menuduhnya?" selidik Charlie.
"Aku_,,, haah,, baiklah, aku memang menuduhnya karena dia berada disana saat Ariel meminumnya," terang Joel.
"Apakah Ariel baik-baik saja?" tanya Charlie.
"Maksudku, orang yang telah meminum obat itu akan_,,,," Charlie mengusap wajahnya, tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Yah,, tentu saja dia akan begitu, tapi kebetulan aku menemuinya karena khawatir, dan bisa mengatasinya,"
Raut wajah Joel kembali memperlihatkan kemarahan.
"Aku hanya tidak bisa menerima efek samping dari obat itu yang harus diterima Ariel," papar Joel.
"Apakah buruk?" tanya Charlie.
"Memang tidak, tapi tetap saja dia harus merasakan sakit kepala dan mual," terang Joel.
"Baiklah, aku akan membantu menyelidikinya, hanya saja untuk sekarang, jangan terlalu terburu-buru untuk mengambil kesimpulan," pinta Charlie.
"Maksudmu?" tanya Joel.
"Aku memiliki dua presepsi tentang ini," ucap Charlie serius.
"Kita asumsikan saja Jesica yang melakukannya, jika kau terlalu gegabah, itu hanya akan membuat dia merencanakan hal lain dengan lebih hati-hati karena kamu mengawasinya," jelas Charlie.
"Tapi, jika bukan dia yang melakukannya, kita harus mencarinya, dan itu akan sulit karena seseorang bisa saja membayar orang lain untuk melakukannya," tutur Charlie.
"Jika dia bergerak diam-diam, kita hanya perlu mengikuti permainannya sekaligus menariknya keluar," imbuhnya.
Joel bersandar pada mobilnya, merenungkan apa yang dikatakan Charlie memang tidaklah salah, bahkan sangat masuk akal. Dan ia juga tidak ingin memposisikan Ariel dalam bahaya.
"Aku mengerti, aku akan lebih berhati-hati, terima kasih, Charlie," ucap Joel.
"Sekarang, lebih baik kau pergi sebelum Jesica mengetahui kau masih disini. Aku akan menemuinya sebentar," ucap Charlie.
"Baiklah, kabari aku jika kau mendapatkan sesuatu," harap Joel.
"Tentu," jawab Charlie.
Charlie menatap kepergian Joel sebelum masuk kedalam rumah Jesica.
Butler yang mengenal Charlie segera menyambut hangat dan mempersilahkan Charlie masuk ke kamar Jesica.
"Jes, boleh aku masuk?" ucap Charlie setelah mengetuk pintu.
Tak berselang lama, pintu terbuka. Memperlihatkan wajah datar Jesica yang dihiasi dengan kerutan tajam di keningnya.
"Ada urusan apa kau di sini?" dengus Jesica.
"Melihat Steven tidak memintaku pergi, sepertinya kamu tidak mengatakan apapun padanya," jawab Charlie santai.
"Apakah menurutmu itu penting? Kau bahkan tak sepenting itu bagiku, Charlie," sambut Jesica sinis.
"Benarkah? Lalu jelaskan padaku kenapa kau tidak mengusirku?" tantang Charlie.
"Aku memiliki caraku sendiri," jawab Jesica seraya berbalik.
Charlie tersenyum, dan mengikuti Jesica masuk kedalam kamar, tak lupa ia segera menutup pintu setelah berada di dalam.
"Apakah kau atau Ariel saling menemui satu sama lain belakangan ini?" tanya Charlie hati-hati.
"Itu bukan pertanyaan yang harus aku jawab," sambut Jesica.
"Apa kau juga datang dengan melempar tuduhan padaku?" tanya Jesica sinis.
"Cih,,, kenapa banyak sekali orang yang membela orang naif sepertinya?" imbuhnya.
"Apakah kau membencinya?" tanya Charlie.
"Kau tau apa jawabannya, jadi tak perlu lagi kau menanyakan pertanyaan yang sama," sambut Jesica.
"Kau hanya perlu menjawab ya atau tidak, Jes," balas Charlie.
"Dan kenapa aku harus melakukannya?" jawab Jesica mencibir.
"Kamu bisa memberikan jawaban sederhana, tidak perlu berputar-putar seperti itu, Jes," sahut Charlie.
"Aku menolak," jawab Jesica.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, maka pergilah. Bergabunglah bersama si naif itu," sambung Jesica.
"Bisakah kita membicarakan hal ringan saja, Jes? Kita bahkan tidak lagi saling mengobrol sejak_,,,"
"Sejak kalian menuduhku melakukan sabotase, lalu sekarang apa?" potong Jesica menatap Charlie, kemudian memalingkan wajahnya.
"Pulanglah,!" pinta Jesica.
"Aku sedang ingin sendiri," imbuhnya.
"Jes,,,"
"Aku memintamu dengan sangat, Charlie. Pulanglah!" potong Jesica sebelum Charlie menyelesaikan kalimatnya dan membelakanginya.
"Aku tak memiliki rahasia apapun denganmu, dan kau tau? Aku memiliki seorang adik yang kini tinggal bersamaku. Aku hanya ingin kamu tau tentang itu, dan berharap hubungan kita bisa seperti dulu," bujuk Charlie.
Jesica berbalik dan melebarkan matanya, "Adik? Bagaimana mungkin? Sejak kapan?" desis Jesica.
"Mereka menyembunyikan kebenaran tentangnya dariku, dan aku mengetahui itu belum lama ini," terang Charlie.
"Oh,,,"
Jesica tampak ingin mengajukan pertanyaan, namun menahannya dan membiarkan Charlie pergi dari kamarnya.
"Lho,,, anda sudah akan pulang nona? Saya baru akan mengantarkan kudapan untuk anda," sapa butler saat berpapasan dengan Charlie.
"Sayang sekali, Steve, aku tidak lama, aku hanya memberitahunya sesuatu," sambut Charlie.
"Anda sudah lama tidak berkunjung, kenapa sekarang cepat sekali pergi?" tanya Steven.
"Aku memiliki banyak pekerjaan belakangan ini, jadi sayang sekali aku tidak bisa meluangkan waktuku sebanyak dulu," kilah Charlie.
"Begitu rupanya, nona Jesica juga jarang dirumah belakangan ini, saya sempat mengira nona bersama anda," terang Steven.
"Apakah kau tau kemana dia pergi, Steve?" tanya Charlie.
"Sama sekali tidak, tapi nona pernah pulang sangat larut," papar Steven.
"Oh,, itu saat dia pergi bersamaku, jadi kau tidak perlu melaporkannya pada orang tuanya," kilah Charlie.
"Ah,, begitu rupanya. Saya mengerti," jawab Steven.
"Aku pergi dulu, sampai jumpa Steve," pamit Charlie.
"Sampai bertemu lagi nona," sambut Steven membungkukkan badannya.
Charlie pergi meninggalakan kediaman Jesica dengan berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.
'Kemana Jesica pergi hingga membuatnya pulang larut? Dan kenapa waktu itu Ken pulang larut? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua terasa semakin rumit?' batin Charlie.
...>>>>>>>--<<<<<<<...