
Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
** Keesokan harinya.....
Ariel datang ketempatnya bekerja dengan menenteng koper Cello yang ia bawa dari apartemennya.
Kedatangannya di sambut dengan senyum cerah Ken yang segera mengambil alih Cello dari tangan Ariel.
" Sepertinya hari ini kita akan berlatih keras," ucap Ken tersenyum lebar.
"Ku harap kau sudah mempersiapkan mentalmu, Ken," sambut Ariel.
"Tentu saja, kak. Aku tidak ingin mengecewakan kakak," jawabnya.
"Ohoo,,, anak yang semula sulit di atur sekarang sangat pandai menyanjung orang lain," sindir Ariel sebelum tertawa.
Ken ikut tertawa, namun wajahnya tersipu malu saat Ariel menyinggung soal kenakalan yang pernah dilakukan olehnya.
"Kau terkenal dengan sikap kerasmu, kenapa kau bertahan lama bersamaku, Ken?" tanya Ariel.
Mereka melangkah menyusuri lorong untuk menuju tempat mereka berlatih. Ken terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan Ariel. Lalu menoleh menatap Ariel yang tetap fokus dengan langkahnya.
"Aku hanya merasa jika bersama kakak itu terasa nyaman, dan hatiku juga damai," ungkap Ken.
PLETAK,,,!!!
"Aduh,,,!" Ken mengaduh saat Ariel menjitak kepalanya.
"Jika orang lain yang mendengar apa yang baru saja kau ucapkan, mereka akan bepikir kau tengah mengodaku, Ken," sindir Ariel.
"E-e-ehh,,, aku kan ngak bermaksud begitu kak," kilah Ken dengan wajah memerah.
Ariel tertawa dan mengelengkan kepalanya.
"Aku hanya bercanda, Ken. Kenapa kau sesrius itu?" sambut Ariel.
'Karena aku sebenarnya menyukai kakak, tapi aku tau rasa sukaku tidak akan terbalas dan aku juga tak ingin kakak tau perasaanku,' ratap hatinya.
"Karena sulit bagiku untuk mengetahui apakah kakak sedang bercanda atau sedang serius. Mereka hampir tidak ada bedanya," sambut Ken.
" Sekarang kau mengolokku?" Ariel menyipitkan matanya.
"Aduhhh,,, bukan bagitu," keluh Ken mengacak-acak rambutnya.
Ariel tertawa dan menepuk pelan bahu Ken sembari tersenyum lembut. Menunjukkan bahwa dirinya hanya bercanda.
Mereka akhirinya memasuki ruangan yang mereka gunakan untuk berlatih.
Ken meletakkan Cello pada penyangganya dengan hati-hati. Tagannya dengan lembut membersihkan Cello dan semua alat msik yang berada di ruangan itu.
"Cello-kakak benar-benar terawat dengan sangat baik," komentar Ken terdengar memecah keheningan yang sempat terjadi di antara mereka.
"Tentu saja, karena aku memang merawatnya," sambut Ariel.
"Apakah kakak juga bermain musik saat di apartemen?" tanya Ken.
"Yah,,, terkadang jika aku sedang bosan dan pikiranku tidak tenang," jawab Ariel.
" Rasanya seperti aku juga ingin bisa melakukan hal itu," sambut Ken.
"Jika kamu mau, kamu bisa datang ke aparemenku," balas Ariel.
"E-e-ehhh,,,, tapi itu kan apartemen kakak. Rasanya agak_,,,," sikap Ken berubah canggung.
"Apa_,,??" Ariel menaikkan alisnya lalu tersenyum.
"Kau tau dengan jelas bukan? Jika bakat yang terus di asah itu akan berkembang dengan baik?" tanya Ariel.
"Aku tau kok kak, tapi tempat ini tidak mengijinkan kami berlatih tanpa pengawasan," terang Ken.
"Itulah sebabnya aku memintamu untuk datang ke apartemenku. Lagi pula, Cello ini tidak akan ku tingalkan di sini," jelas Ariel.
"Apakah itu tidak apa-apa?" tanya Ken was-was.
"Tentu saja. Akulah yang menawarkan ini padamu. Tapi kau bisa memilih apakah akan menerima ataupun menolaknya," terang Ariel.
"Terima kasih, kak," sambut Ken senang.
Ariel tersenyum sembari mengeleng-gelengkankan kepalanya. Tak lama setelah Ken membersihkan alat-alat musik, beberapa orang yang menjadi anak didiknya muncul bergantian.
Dan dengan itu, acara latihan mereka pun berlangsung.
Sesekali Ariel membenarkan letak jari Ken yang salah memposisikan pada senar Cello yang ia mainkan.
Arahan yang di lakukan Ariel dengan lembut, perlahan namun sangat cepat meresap dalam hati dan pikiran mereka. Semua yang di ajarkan olehnya dengan hati-hati namun tegas, membuat siapapun yang di latih olehnya sangat cepat berkembang.
Hingga saat jam istirahat makan siang, mereka memutuskan melanjutkan latihan agar dapat menunjukkan penampilan terbaik mereka kepada Ariel.
"Baiklah. Latihan sampai di sini. Aku sedang ada urusan, jadi setelah jam makan siang, terserah kalian apakah kalian ingn lanjut berlatih atau pulang," papar Ariel.
"Tapi, bukankah kami tidak bisa berlatih jika kakak pergi?" tanya salah satu diantara mereka.
"Bisa. Aku akan meminta Gery menjadi pengawas kalian," jawab Ariel.
"Tapi, bagaimana jika terjadi sesuatu lagi?" sela Ken gelisah.
"Aku yang akan bertanggung jawab," balas Ariel.
Mereka tersentak mendengar jawaban Ariel. Terlepas dari mereka yang telah mengecewakan Ariel dan merusak alat musik, Ariel masih tetap peduli pada mereka.
"Baiklah. Aku pergi dulu," ucap Ariel melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.
'**S**epertinya aku akan terlambat' batin Ariel.
Ariel pergi meninggalkan mereka yang membarinya tatapan penuh tanya di wajah mereka
>>>>>>>>
Ariel tiba di lokasi yang di kirmkan Joel padanya.
Setelah menghentikan mobilnya, Ariel mengeluarkan ponselnya berniat menghubungi Joel, sesuai intruksi yang pernah di katakan pada Ariel sebelumnya.
"Apakah kamu sudah sampai?" tanya Joel saat panggilan telah terhubung.
"Ya,, aku sudah sampai di lokasi yang kamu kirimkan. Lalu kemana aku harus pergi sekarang? Aku hanya melihat kedai dan laut," ucap Ariel sembari mengedarkan pandangannya.
" Berjalanlah ke arah timur. Kamu akan melihat tebing tinggi dan taman kecil di sana dengan banyak pohon palem," terang Joel.
"Oke,,, aku berjalan kesana," jawab Ariel mulai melangkah.
Langkah kaki nya sesaat terhenti ketika melewati deretan pohon palem yang tersusun rapi.
"Woww... Joel,,," gumaman Ariel menghentikan penjelasan arah jalan dari Joel.
" Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Joel.
" Di sini benar-benar indah. Aku tak percaya kamu tinggal di tempat seperti ini," decakan kagum Ariel meghadirkan tawa ringan di ponsel yang tertempel di telinganya.
" Itu juga alasanku menerima tawaran untuk tinggal di sini walaupun hal ini membuatku jauh dari tempat berkerjaku," papar Joel.
" Tapi, hal itu sepadan jika aku bisa melihat pemandangan itu setiap sore," sambungnya.
"Oh..." seru Ariel. "Aku melihatnya," sambungnya.
"Apa?" tanya Joel.
"Rumahmu yang ada papan selancar di depannya kan?" tanya Ariel.
"Benar. Itu rumahku. Tunggu, aku akan keluar," jawab Joel.
Joel mematikan ponselnya dan segera keluar dari rumah untuk menyambut kedatangan Ariel.
Ariel menatap takjub saat melihat rumah Joel.
Rumah yang menghadap laut dengan beberapa pohon di sekitarnya
Teras depan dengan sebuah taman mini yang terlihat sangat indah dengan beberapa bunga yang mulai mekar.
Ariel menghampiri pintu dan akan mengetuk pintu, namun di hentikan dengan Joel yang lebih dulu membuka pintu dengan senyum lebar di bibirya.
Apron hijau lumut menempel pada tubuh bidangnya dan memperlihatkan otot lengan yang tidak tertutup sempurna karena pakaian yang di pakainya tidak mendukungnya untuk menutupi tubuh sempurnanya.
"Selamat datang, senang melihatmu di sini Ariel," sambut Joel memberi pelukan singkat pada Ariel.
"Hemmm,, aroma selai kacang," celetuk Ariel membuat Joel tersipu dan mengosok belakang lehernya.
" Aku hampir selesai. Ayo masuk," ajak Joel melebarkan pintu rumahnya.
" Kau memiliki rumah yang luar biasa, Joel," puji Ariel.
"Aku mendekorasinya sendiri," terang Joel. " Dan terima kasih sanjungannya," sambungnya.
"Mengesankan. Aku bahkan tidak menyangka jika kamu yang mendekorasinya," sambut Ariel.
"Aku akan menyelesaikan masakan terakhir," ungkap Joel lalu berlaih ke dapur lagi.
Ariel mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah Joel yang terkesan hangat. Semua sentuhan tangan Joel terlihat sangat jelas di sana.
Ketika matanya melihat meja, pandangannya terhenti di sebuah bingkai foto yang memperlihatkan seorang wanita tua namun berkaharisma dan anak laki-laki tengah memegang bola basket dikedua tangannya tengah tersenyum lebar.
Tanpa di tanya pun, Ariel mengetahui bahwa itu adalah Joel saat masih anak-anak. Ariel membelai foto itu dan tersenyum melihat senyum bahagia di foto itu.
"Joel,,," panggil Ariel.
"Hemmm,,?" Jawab Joel dengan gumaman.
Joel tengah memeriksa oven dengan pai kacang didalamnya.
"Apakah kamu keberatan jika aku menanyakan siapa yang ada di foto ini?" tanya Ariel hati-hati.
Joel menoleh sesaat lalu tersenyum hangat.
"Dia adalah nenekku. Nenek terhebat yang pernah ada bagiku," jawab Joel.
"Aku mulai berpikir, keahlianmu memasak berasal darinya," sambut Ariel tulus.
"Yah,,, aku memang belajar memasak darinya. Terkadang saat aku membuat sesuatu dan nenek akan menilai masakanku, entah kenapa aku selalu ingin membuat hal yang berada di luar ekspektasi nenek," terang Joel. " Walaupun aku lebih sering menghancurkannya alih-alih besemangat setelah mendapat kritikan pedas nenek," sambungnya.
"Nenek juga mengajarkan banyak hal padaku, dan menjadi orang tuaku di waktu yang sama," sambungnya.
"Lalu orang tuamu?" tanya Ariel.
"Mereka tak sedikitpun peduli tentangku, mereka hanya peduli dengan bisnis mereka. Hal itu membuatku melupakan mereka dan tidak lagi mengenali mereka. Hanya nenek yang selalu menemaniku," papar Joel.
"Nenekmu pati sosok yang sangat luar biasa," puji Ariel meletakkan kembali foto itu dimeja.
"Sangat. Dia bisa menjadi siapapun untukku. Papa, Mama, saudara bahkan sahabat," terang Joel.
"Lalu dimana dia? Kenapa dia tidak tinggal disini bersamamu?" tanya Ariel.
"Nenek meninggal tahun lalu," papar Joel.
"Maafkan aku, Joel. Aku sungguh tidak bermaksud," desah Ariel menyesal telah menarik keluar kesedihan dalam hati Joel.
"Tidak apa-apa, lagi pula kamu juga tidak tau. Dan itu sudah sati tahun yang lalu. Tapi aku yakin nenek pasti akan sangat menyukaimu jika dia ada di sini," tutur Joel.
"Terkadang saat aku merindukannya, aku akan membuat makanan kesukaanku dan nenek. Dan itu cukup untuk sedikit menutupi rasa rinduku padanya," sambungnya.
"Aku yakin, nenekmu pasti bangga padamu," sambut Ariel.
"Ini dia, pai kacang. Untuk menu terakhir kita hari ini," ucap Joel membawa satu loyang pai kacang dan meletakkannya dimeja.
Ariel mendekati meja yang kini telah penuh dengan berbagai macam makanan.
Joel membuka jendela dan tirai lebih lebar , memparlihatkan lebih jelas laut lepas yang terbentang luas.
Angin laut yang berhembus memasuki ruangan menambah kenyamanan tempat mereka berada saat ini.
Mereka mulai menyantap makan siang mereka dengan sesekali mengobrol, dan bersenda gurau.
Joel mulai memberesakan meja saat mereka akhirnya menyelesaikan makan siang, namun tangan Ariel menahan tangan Joel.
"Bukan begitu caranya, Joel!" ucap Ariel menahan tangan Joel saat hendak mengangkat piring kosong.
"Apa?"tanya Joel binggung.
"Kamu sudah memasak, jadi piring ini bagianku," ucap Ariel.
"Mana bisa begitu," sanggah Joel. " Akulah yang mengundangmu di sini. Itu artinya kamu tamuku. Tamu tidak di perkenankan untuk ikut bekerja," sambungnya.
"Kalau begitu, aku akan membantu," Ariel kekeh membereskan meja dan membantu Joel mencuci piring.
Joel akhirnya hanya tersenyum dan membiarkan Ariel membantu pekerjaannya.
Wajahnya yang berseri tidak bisa lagi di sembunyikan olehnya. Ariel yang sangat menikmati masakan yang di buat olehnya, seolah mendorongnya uantuk melakukan hal lebih untuk Ariel,
>>>>>>>--<<<<<<<