
"Senang berkenalan denganmu, Ken" sambut Joel tersenyum kaku.
"Senang berkenalan denganmu," timpal Bram dengan tatapan tajam.
'Senang? Jangan bercanda! Kalian jelas lebih terlihat ingin membunuhku,' rutuk hati Ken.
'Mereka sepertinya juga menyukai kak Ariel. Jangan bilang mereka cemburu padaku!' batin Ken
"Uhm,,, kak,, sepertinya aku harus pergi," ucap Ken sembari melihat ponselnya.
"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Ariel.
"Bukan," kilah Ken sembari mengibaskan kedua tangannya. " Bukan terjadi sesuatu, tapi ada seorang teman meminta untuk bertemu,dan waktunya pas sekali dengan teman kak Ariel datang. Jadi, setidaknya kakak tidak sendirian disini," sambungnya.
'Lebih baik aku menghindari mereka sebelum mereka benar-benar membunuhku,' rutuk Ken dalam hati.
"Baiklah," ucap Ariel. "Tetaplah berhati-hati selama perjalanan," sambung Ariel mengingatkan.
"Tentu kak," sambut Ken tersenyum.
Ken mengarahkan pandangannya pada Joel dan Bram, lalu tersenyum kaku. Seolah tatapan mereka mengatakan 'Ya, pergilah secepatnya!'
"Uhm,,, saya pergi dulu kak, semoga lain waktu kita bisa bertemu lagi," ucap Ken canggung.
"Yah,,, kuharap begitu," sambut Joel.
Ken pergi meninggalkan mereka bertiga dengan buru-buru.
'Aura mereka mengerikan! Seolah mereka siap membunuh sipapun yang mencoba mendekati kak Ariel. Parahnya kak Ariel justru tidak menyadarinya. Herrrr,,,,, ' batin Ken bergidik ngeri.
'Kalaupun aku mau bersaing dengan mereka, aku tetap akan kalah. Karena sejak awal kak Ariel tidak memiliki perasaan lebih padaku. Jadi menyerah saja. Yang terpenting adalah kak Ariel bisa terus tersenyum seperti itu,,' ungkap hatinya.
Ken melenggang meninggalkan pantai, dan menoleh kebelakang ketika telah berada didekat mobilnya. Sedetik kemudian tersenyum sembari mengusap kepalanya. Mengusap kembali tempat dimana Ariel mengacak-acak rambutnya.
'Aku berharap, hubungan ini tidak akan berubah. Meskipun aku harus membunuh perasaanku sendiri, tetapi aku puas dengan keadaan yang sekarang,' ungkap hati Ken.
Ken pergi dengan mobilnya. Sementara Ariel msih berada ditepi pantai menatap Joel dan Bram secara bergantian dengan tatapan heran.
"Apakah kalian salah minum obat atau sesuatu?" tanya Ariel menyipitkan matanya.
"Siapa dia?" tanya Joel dan Bram serentak, mengabaikan pertanyaan Ariel.
"Muridku. Kenapa?" jawab Ariel mengerutkan keningnya.
"Kenapa kamu bisa bersamanya disini? Terlebih ini belum waktunya untuk pulang?" tanya Bram.
"Ah,, itu ya? Aku hanya bosan. Itu sebabnya aku berada disini," terang Ariel santai.
"Kalau dia,,," Ariel mengantung kalimatnya selama beberapa saat. "Dia hanya khawatir padaku karena dia pikir aku marah padanya," papar Ariel.
"Kenapa dia harus khawatir jika kamu marah? Bukankah hal itu wajar terjadi dalam hubungan guru dan murid?" samung joel.
"Karena aku marah untuknya," jawab Ariel.
DEG!
Joel dan Bram tersentak.
"M-Maksudmu?" tanya Bram terbata.
"Hemm,,, bagaimana menjelaskannya ya?" gumam Ariel menegadah dengan dua jari didagu.
Mereka berdua menunggu penjelasan Ariel dengan hati gelisah. Namun masih berusaha menutupi kegelisahan hati mereka.
"Karena dia meminta pelatihan pribadi sebelum pertunjukan pertamanya, semua orang yang berada distudio beranggapan kami menjalin hubungan. Seringnya kami bersama membuat mereka menilai buruk Ken dan iri padanya," terang Ariel.
"Dan kamu marah karena mereka mencelanya dan mengabaikan usaha kerasnya?" tanya Bram.
"Tepat!" sambut Ariel.
"Bagaimana aku tidak kesal? Aku sendiri yang melihat usaha kerasnya. Dan mereka seenaknya menilai tanpa melihat apa yang sudah Ken korbankan," gerutu Ariel.
Ariel mengerutu tanpa melihat raut wajah Joel dan Bram yang berubah lega seolah mendapatkan undian.
"Kalau begitu, ayo!" ucap Joel sembari menarik tangan Ariel.
"E-eehh,,, apa-apaan?" Ariel ditarik begitu saja agar mengikuti Joel.
"Tunggu,,!" protes Ariel. " Barang-barangku," Areil mencoba memberontak namun berhenti saat melihat Bram mengambil semua barang-barangnya.
"Kamu ikut saja," ucap Bram tersenyum.
"Apakah kalian bersekongkol?" sungut Ariel.
"Anggaplah begitu," sambut Joel masih menarik tangan Ariel agar mengikuti langkahnya.
"Apa???" seru Ariel melebarkan matanya.
"Hei Joel,,,!" panggil Bram.
"Huh,,??" Joel menghentikan langkahnya dan menoleh dengan alis terangkat.
Bram melemparkan sesuatu pada Joel yang segera ditangkap.
"Awas saja jika sampai tergores,!" ancam Bram.
Joel membuka tangannya dan melihat kunci mobil ditangannya. Detik berikutnya senyum mengembang di wajahnya.
"Kau bisa percaya padaku," sambut Joel percaya diri.
"Haa,,,,???" Ariel memiringkan kepalanya.
Ariel menatap dua pria itu secara bergantian. Seoalah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Hingga mereka berhenti didekat mobil Bram.
"Tunggu dulu,!" ucap Ariel.
"Aku juga membawa mobil, aku bisa pulang sendiri," tolak Ariel.
"Berikan kunci mobilmu padaku,!" sela Bram dari belakang Ariel.
"Apa yang kalian rencanakan?" selidik Ariel sembari menutup pintu mobil Bram.
"Kami hanya ingin mengantarmu pulang, Ariel," jawab Bram.
"Lalu?" tanya Ariel menaikan alisnya.
"Hal yang pasti adalah kami tidak berencana untuk menculikmu atau apapun itu," jawab Joel.
"Apakah kamu tidak mengijinkan kami berkunjung keapartemenmu?" tanya Bram.
"Aku tidak mengatakan kalian tidak boleh datang, tapi kalian bersikap aneh," sanggah Ariel.
"Apakah kamu lebih suka kami akur atau kami bertengkar?" sambut Bram menyipitkan matanya.
"Hahhhh,,,," desah Ariel. " Baiklah," imbuhnya.
"Kunci mobilku ada didalam tas yang kamu bawa," jawab Ariel.
Bram mengangguk dan pergi menuju mobil Ariel. Sementara Joel kembali membuka pintu mobil dan meminta Ariel untuk masuk.
Ariel menurut dan masuk kedalam mobil Bram.
Joel segera menjalankan mobil menuju apartemen Ariel. Sementara Bram mengikuti mereka dari belakang.
Tanpa terasa, mereka telah tiba diapartemen Ariel. Setelah memarkirkan mobil, mereka bergegas menuju lantai dimana apartemen Ariel berada.
"Kalian tidak merencanakan sesuatu yang aneh-aneh kan?" tanya Ariel ketika hendak membuka pintu.
"Kenapa kami harus merencanakan ketika bisa bertindak tanpa rencana?" sambut Bram.
"Pernyataanmu sama sekali tidak membantu," gerutu Ariel.
"Lagi pula, kau sudah mengenal kami. Kalaupun aku menghancurkan dapurmu, ada orang yang bisa diandalkan untuk mengatasinya," ucap Bram melirik Joel.
"Hei,,, aku tidak mau jika harus membersihkan kekacauan yang kau buat," balas Joel.
"Aku tidak memintamu, tapi kau akan melakukannya karena tidak punya pilihan," jawab Bram.
"Jangan mulai lagi," keluh Ariel. " Masuk,!" perintah Ariel.
Mereka segera masuk tanpa mengeluh dan duduk diofa bahkan sebelm Ariel mempersilahkan mereka duduk.
"Kalian mau minum sesuatu?" tawar Ariel.
"Apakah coktail cocok untuk saat ini?" sambut Bram.
"Tentu saja. Aku bisa membuatkan kalian coktail jika kalian mau. Kurasa aku masih memiliki campurannya," papar Ariel.
"Kalau begitu aku mau," sambut Joel.
"Oke,,, tunggu sebentar," ucap Ariel.
Areil menuju table caunter den menyiapkan beberapa bahan dan gelas. Sementara itu, Joel dan Bram saling pandang dan berbisik.
"Kurasa kita tidak perlu membuat alasan alat musik lagi," bisik Joel.
"Aku setuju. Aku juga sudah menyiapkan semuanya, jadi kau tenang saja. Kita hanya perlu memancignya agar dia pergi ke atap," balas Bram ikut berbisik.
"Dalam hitungan ke-5," ucap Bram lagi.
5
4
3
2
1
........
BAMM.... !!!!
Suara keras yang berasal dari atap mengejutkan Ariel. Membuatnya menghentikan aktivitasnya dan melihat keluar melalui balkon apartemen.
"Suara apa itu tadi?" ucap Ariel cemas.
"Apakah terjadi sesuatu diatas?" sambungnya.
"Bagaimana jika kita memeriksanya?" tawar Joel.
"Aku setuju," jawab Ariel cepat.
Mereka bertiga bergegeas menuju atap. Apartemen yang Ariel tempati tidaklah tinggi. Sehingga hanya butuh waktu singkat bagi mereka untuk mencapai atap.
Areil tercengang setelah membuka pintu. Atap yang telah dihias dengan beberapa lampion dan lampu warna-warni yang saling berkedip.
"Apa,,, Ini,,,???" gumam Ariel bingung.
"SURPISE,,,,!!!"
...>>>>>>>--<<<<<<<...