I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
28. Dilema 2



Sebuah Bistrot dipinggir kota tampak cukup ramai ketika waktu memasuki jam makan siang. Hampir semua meja terisi oleh pengunjung, entah itu berpasangan ataupun sendiri.


Salah satu dari mereka, Ariel tengah duduk di dekat jendela dengan sepiring pasta didepannya. Matanya menatap keluar jendela dengan menopang dagunya, melihat sebuah toko coklat yang ada diseberang bistrot dimana ia berada.


Di seberang sana, Joel tengah bersama Christina. Saling mendorong main-main lalu tertawa. Christina terlihat sangat menikmati waktunya bersama Joel.


'Kenapa sekarang rasanya seperti ini? Apa yang salah denganku?' gerutunya dalam hati.


Tangannya mengaduk-aduk pasta yang ada di depannya. Ketika sebuah suara menegurnya.


"Permisi, apakah saya boleh duduk bersama anda, nona?" sapanya lembut.


"Tidak, carilah kursi kosong lain," jawab Ariel datar tanpa menoleh.


"Apakah Joel yang bersama wanita lain menganggu pikiranmu, Ariel?" tanyanya lagi.


Pertanyaan itu seolah menyadarkannya dan membuatnya mendongak karena kaget. Lebih terkejut lagi saat tau pria yang menyapanya adalah Bram yang masih tersenyum ditempatnya berdiri.


"A-A-apa yang kau lakukan disini?" tanya Ariel tergagap.


" Bukankah itu pertanyaan yang sudah jelas jawabannya?"sambut Bram menahan tawa.


"Jangan mengolokku,!" sambut Ariel memajukan bibirnya.


"Jika kau mau duduk, maka duduklah. Tapi jika tidak, maka lebih baik kau pergi!" sambungnya.


Bram tergelak sembari menarik kursi yang berada didepan Ariel. Wajahnya tersenyum penuh kemenangan ketika wajah Ariel mulai memerah.


"Apa yang menganggu pikiranmu,?" tanya Bram setelah tawanya mereda.


"Dan kau akan mengolokku setelah mendapatkan jawabannya?" sambut Ariel menyipitkan matanya.


"Apa kau mengikutiku?" selidik Ariel.


Bram kembali terbahak sembari menutupi wajahnya.


"Percayalah, aku sangat ingin melakukannya. Dan itu sangat mudah bagiku," jawab Bram disela tawanya. " Tapi, aku tidak melakukan hal serendah itu karena aku menghargaimu," sambungnya.


Wajahnya berubah serius dengan cepat saat mengatakan kalimat terakhir. Membuat Ariel tertegun sesaat.


Dalam ingatannya, sikap hangat Bram seperti inilah yang membuatnya jatuh cinta kala itu. Tatapan matanya yang tulus terlihat lagi di pelupuk matanya.


'Menyebalkan! Kenapa dia menunjukan sikap seperti ini lagi sih,!' keluhnya dalam hai.


"Awww,,," keluh Ariel saat Bram menarik hidungnya.


"Apa sih," sungutnya.


"Salah sendiri kamu melamun," ledek Bram.


"Aku tidak melamun," sangkal Ariel.


"Apakah kau melihat wajahmu, Ariel?" goda Bram. " Ada apel dipipimu ketika kamu berbohong," sambungnya.


Wajah Ariel semakin memerah mendengar ucapan Bram yang berhasil menyudutkannya. Dengan usaha terakhir, Ariel memalingkan wajahnya, kembali menatap luar jendela.


"Silahkan pesanan anda, tuan," sela seorang pelayan meletakkan makana di depan Bram.


"Terima kasih. Ah ya,, tolong gabungkan tagihannya dengan milikku, kami bersama," ucap Bram sembari menunjuk Ariel dengan jarinya.


"Baik," sambut pelayan itu tersenyum ramah.


Ariel menoleh sesaat dan kembali memalingkan wajahnya ketika matanya bertemu dengan Bram.


"Itu artinya, kamu mengijinkan aku mentraktirmu kan?" tanya Bram menyeringai.


"Lakukan sesukamu," jawab Ariel menoleh sesaat dan kembali memalingkan wajahnya


"Apakah makanannya tidak enak?" tanya Bram mencoba terus berbicara dengan Ariel.


"Entahlah," jawab Ariel menaikkan bahunya tanpa menoleh.


"Itu artiinya kamu belum makan?" tanya Bram lagi. " kamu hanya mengaduk-aduk makanannmu. Sejauh yang ku ingat, kamu tidak begitu menyukai pasta," lanjutnya.


"Aku bahkan tidak tau kenapa aku memesannya," jawab Ariel.


Ariel mulai mengarahkan pandangannya pada Bram. Menghembuskan nafas panjang dan menatap makanan yang Bram pesan. Lalu menelan ludahnya sembari mengigit bibirnya.


"Makanlah," Bram menyedorkan makanan miliknya. "Dan biarkan aku memakan ini," sambung Bram menarik piring pasta yang ada didepan Ariel.


"Eeehh,,, Tidak, jangan," Ariel menahan tangan Bram yang hendak mengambil alih piringnya.


"Aku tidak tau akan seperti apa rasanya," cegah Ariel. " Selain dingin, aku sudah mengaduk-aduk makanan ini seperti mainan," terang Ariel.


"Aku kagum kamu menyadarinya," seloroh Bram.


"Menurutmu, apakah hal seperti ini adalah pertama kalinya bagiku?" sindir Bram menaikan alisnya


"Hei,,,, Ayolah. Jagan mengungkit masa lalu," rutuk Ariel dengan wajah memerah. "Lagi pula itu kan alahmu karena membuatku menunggu," imbuhnya.


"Dan membuatmu kesalh hingga memesan makanan yang tidak kamu suka dan memintaku untuk memakannya setelah kau puas bermain dengan makananmu," sambung Bram.


Mereka tidak bisa menahan tawanya. Bram dengan lembut mengangkat tangan Ariel dari tangannya ketika mereka berehenti tertawa.


"Aku tak masalah memakan ini. Lalu, untukmu makanlah ini,! Bukankah ini makanan favoritmu?" ucap Bram kembali menarik piring makanan Ariel dan memberikan piring miliknya pada Ariel.


"Tapi--,,," Ariel ragu-ragu menatap piring yang disodorkan Bram padanya.


Didepannya, sepiring Meatloaf yang masih hangat terhidang didepannya. Bram bahkan telah memotonnya menjadi potongan yang lebih kecil,mempermudah Ariel untuk memakannya. Mangembalikan nafsu makannya yang sempat hilang.



[Meatloaf adalah olahan daging giling beserta aneka rempah dan disantap bersama saus barbeque. sangat digemari di negara amerika, terutama ameria utara.]


"Maoknlah (makanlah),! " Bram berkata dengan mulut penuh, telah lebih dulu menyuap makanannya.


"Akhan inghin alou tdhak de makhn (Akan dingin kalau tidak dimakan," ucapnya lagi.


Ariel tertawa melihat Bram terus bicara tanpa menelan makanannya lebih dulu. Membuat noda saus menempel disudut bibirnya.


"Kau benar-benar tidak menghilangkan kebiasaan burukmu, Bram" sambut Ariel disela tawanya.


"Apha?" Bram masih saja mengunyah makanannya sembari menaikkan alisnya.


Ariel mencondongkan tubuhnya pada Bram dengan tangan terulur, lalu menyeka saus yang ada disudut bibir Bram dengan dengan ibu jarinya.


Bram tercengang untuk beberapa saat ketika tatapan mereka bertemu. Jantungnya berdegup lebih cepat saat wajah Ariel sangat dekat dengan wajahnya.


'Apakah ini hanya perasaanku saja atau Ariel memang terlihat lebih cantik dari sebelumnya?' bisik hatinya.


Ariel menaikkan alisnya ketika Bram mendadak berubah kaku. Lalu meletakkan punggung tangannya di dahi Bram.


"Apa kau sakit, Bram?" tanya Ariel polos.


"T-Tidak," jawab Bram tergagap.


Ariel memiringkan kepalanya dan menjauh dari Bram untuk duduk dikursinya sendiri.


"Tentu saja," jawab Bram cepat.


Ariel menaikkan bahunya dan mulai menyuap makanannya. Tapi kini giliran Bram yang justru tidak menyentuh makanannya lagi.


"Apakah rasa makanannya aneh?" tanya Ariel. "Aku akan pesankan makanan lain untukmu," sambungnya.


"Tidak perlu, ini sudah cukup," jawab Bram.


Bram mengatur nafas dan menenangkan detak jantungnya. Lalu mengarahkan pandangannya ke toko coklat yang ada diseberang tempat mereka duduk.


"Boleh aku menanyakan sesuatu, Ariel?" tanya Bram.


"Ya, tentu. Apa itu?" balas Ariel.


"Apakah kau datang kesini bersama Joel?" tanya Bram.


Seolah baru saja menyadari pertanyaanya, Bram merutuk dirinya sendiri karena membahas Joel. Yang dianggapnya menggali lubang untuk dirinya sendiri.


"Tidak," jawab Ariel santai.


"Aku tidak sengaja melihatnya di toko itu. Dan aku juga tak berencana menyapa karena dia tengah bersama seseorang," papar Ariel.


'Huuff,,, untunglah,' batin Bram lega.


"Lalu apa yang membuatmu kesal?" tanya Bram lagi.


Ariel menatap Bram, lalu memalingkan wajahnya ke jendela selama beberap detik dan kembali menatap Bram.


"Aku pun bertanya-tanya, kenapa aku kesal," jawab Ariel menaikkan bahunya.


"Tapi jujur saja, aku mersa lebih baik sekarang," ungkap Ariel tersenyum.


"Aku tau apa yang akan membuatmu jauh lebih baik lagi," sambut Bram balas tersenyum.


Ariel menaikkan alisnya penasaran dan melihat Bram mengangkat tangannya memanggil pelayan.


Seolah itu sebuat isyarat yang telah direncanakan, seorang pelayan datang dengan nampan berisi Deesert dan meletakkan dimeja mereka.


"Kapan kamu memesannya?" tanya Ariel melebarkan matanya.


Deesert yang menjadi favoitnya tersaji didepannya. Ariel menatap lekat wajah Bram.


'Dia masih ingat dengan semua makanan favoritku,' batin Ariel.



[Shoofly pie. Makanan khas amerika yang terbuat dari remah-remah mentega dan molase,]


"Aku memesannya saat kau sibuk melamun dengan menatap Joel yang ada di seberang sana bersama wanita genit itu," papar Bram.


"Apa maksudmu wanita genit?" sambut Ariel tertawa.


"Wanita itu adalah Cristina. Dia pernah menjadi pasien Joel," terang Ariel.


"Itu lebih mengerikan. Kau juga pernah menjadi pasiennya," sambut Bram tidak senang.


"Hei,,, itu tidak semengerikan itu, mereka berteman. Dan itu wajar," jawab Ariel.


"Dan kau juga berteman dengan Joel, Ariel. Jangan lupakan itu," balas Bram.


"Kenapa justru kau yang terlihat marah disini?" sambut Ariel tertawa hambar.


Perkataan Bram perlahan menganggu pikirannya. Namun dengan segera Ariel menepis pikiran itu agar tidak mengontrol hatinya.


"Apakah aku boleh menonjoknya sekali saja?" ucab Bram setengah berbisik lalu mengedipkan matanya.


"Dalam mimpimu," sambut Ariel menempelkan cream putih di hidung Bram.


"Ariellll,,," suara protes Bram hanya disambut tawa ringan oleh Ariel.


Ariel memakan deesert dengan senang hati dan tidak menyisakan sedikitpun. Menumbuhkan senyum puas diwajah Bram.


"Terima kasih, Bram," ucap Ariel memecah keheningan yang terjadi.


"Untuk?" tanya Bram mengerutkan keningnya.


"Usahamu menghiburku, dannn,,,, makanan yang kamu berikan padaku," jawab Ariel menunjuk piring kosong yang ada di meja.


"Bukan masalah," balas Bram.


"Tapi aku penasaran akan sesuatu," sambungnya.


"Apa itu?" tanya Ariel.


"Kenapa kamu ada disini?" tanya Bram. "Dan, tolong jangan menggunakan jawabanku sebagai jawabannya," imbuhnya.


"Baiklah," jawab Ariel kembali terkekeh pelan.


"Aku baru saja dari tempat reparasi alat musik. Cello yang ada ditempat kerjaku rusak, jadi aku membawanya untuk diperbaiki. Dan hari ini waktu yang dijanjikan olehnya bahwa Cello telah selesai, jadi aku mengambilnya," papar Ariel.


"Kenapa kau tak menceritakannya padaku?" protes Bram.


"Itu terjadi saat aku baru saja keluar dari rumah sakit, dan kau tau apa artinya bukan?" sambut Ariel tenang.


Bram mendesah panjang sebelum kembali berkata.


"Aku bisa membelikan Cello yang baru untukmu, Ariel," tawar Bram.


"Tidak perlu. Itu adalah Cello dari tempatku bekerja. Dan tentu saja mereka memiliki kualifikasi tersendiri mengenai Cello yang mereka miliki," terang Ariel.


"Kalau begitu, untukmu saja," ucap Bram lagi.


"Aku sudah memiliki satu diapartemenku, Bram. Terima kasih tawarannya, aku menghargainya. tapi aku menolaknya," tolak Ariel.


"Baiklah. Tapi sebagai gantinya, maukah kau ikut denganku? Sebentar saja, aku janji kau pulang sebelum malam," ajak Bram sembari mengulurkan tangannya.


"Kemana tepatnya?" tanya Ariel.


"Tempat yang akan kau sukai," jawab Bram tersenyum.


Ariel menimbang-nimbang ajakan Bram untuk sesaat.


'Aku memang tidak melakukan kegiatan apapun setelah ini, dan aku juga tidak memiliki janji dengan siapapun. Kurasa tidak akan buruk jika aku pergi bersamanya sebentar. Anggap saja untuk mengalihkan pikiranku. Lagi pula, dia telah berubah,' pikir Ariel.


Ariel menatap Bram yang masih menunggunya dengan penuh harap, ketika tangan Ariel terulur untuk menyambut tangan Bram.


Bram tersenyum senang dan mengandeng Ariel pergi setelah membayar tagihan dari bistrot tempat mereka menikmati makan siang mereka.


"Tinggalkan saja mobilmu, aku akan meminta seseorang untuk mengantar mobilmu ke apartemenmu dengan aman," janji Bram yang disambut dengan anggukan kepala Ariel.


Tanpa mereka sadari, Joel telah melihat mereka mulai dari saat Ariel menyeka sudut bibir Bram ketika mereka makan dengan hati bergemuruh. Tanpa mengetahui bahwa Ariel juga melihatnya bersama Christina.


...>>>>>>>--<<<<<<<...