I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
8. pelepasan Gips



Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~


 


1 minggu kemudian....


TING TONG,,,,


Suara bel pintu mengalihkan perhatian Joel yang saat itu baru saja selesai memasak untuk makan siang mereka berdua.


"Biar aku saja yang membuka pintu," sambut Ariel tersenyum cerah.


Ariel mengabaikan tatapan heran yang di berikan Joel padanya dan bergegas menuju pintu.


"Terima kasih sudah datang," sambut Ariel senang saat pintu terbuka dan memeperlihatkan sosok wanita dibaliknya.


"Akulah yang seharusnya berterima kasih karena kamu mengundangku, Ariel," jawabnya ramah yang tidak lain adalah polisi wanita Charlie.


"Tidak,, Tidak,, kamu pasti sibuk di jam seperti ini, dan kamu tetap datang hanya untuk memenuhi undangannku, itu membuatku tersentuh dan jujur saja, aku sangat senang," balas Ariel.


Charlie membantu Arriel berjalan menuju ruang makan. Joel yang saat itu tengah menata piring, terkejut saat Ariel kembali datang bersama Charlie disampingnya.


"Bagaimana dia bisa ada disini, Ariel?" tanya Joel tidak senang.


"Aku yang mengundangnya, bukankah jika kita ada tambahan setidaknya satu orang, suasana akan menjadi lebih hangat?" jawab Ariel.


"Sejak kapan kamu dekat dengannya?" selidik Joel menatap tajam pada Charlie.


"Jangan menatapku seperti itu, Joel,! Aku tidak memiliki maksud buruk pada Ariel," ucap Charlie tersenyum, tidak tersinggung dengan sikap Joel yang sedikit kasar.


"Jadi, duganku benar bahwa kalian saling mengenal?" tanya Ariel menatap Joel dan Charlie bergantian.


"Aku hanya sebatas mengenal namanya," elak Charlie.


"Dan aku ragu itu benar," timpal Ariel.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Ariel.


"Tidak ada, kami hanya bertemu di beberapa kasus dan itu melibatkannya sebagai dokter," jawab Charlie.


"Kau tidak perlu mengatakan hal yang seharusnya tidak kau katakan, Charlie,!" sela Joel.


"Jangan khawatir, aku tau batasanku," sambut Charlie.


"Ada apa dengan kalian berdua? Apa yag sudah terjadi di antara kalian?" cecar Ariel.


"Akan lebih baik jika kamu berhenti bertanya, Ariel,! Ini bukanlah hal yang harus kau ketahui," jawab Joel seraya berdiri.


"Nikmati makan siang kalian, aku ingin mencari udara segar," ucap Joel melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.


'Apakah dia memang sensitif seperti ini? Semua orang mengenalnya sebagai orang yang tidak pandai bergaul dan pendiam. Tapi di depanku, dia bersikap konyol, kekanakan, dan memiliki rasa percaya diri yang terlewat tinggi hingga membuat dia menjadi menyebalkan,' batin Ariel


Ariel dan Charlie saling pandang dan menaikkan bahu mereka lalu tertawa.Mereka melanjutkan makan mereka tanpa memperdulikan Joel.


"Kamu tidak perlu membereskan ini, Charlie," larang Ariel saat mereka selesai makan dan Charlie membereskan meja.


"Lalu siapa yang akan membereskannya? Kamu?" goda Charlie menaikkan alisnya.


"Hei,,, aku masih bisa melakukannya jika hanya untuk membereskan meja, lagi pula yang terluka hanya satu kakiku, bukan tanganku," protes Ariel.


"Aku justru akan merasa buruk jika membiarkanmu melakukan itu, Ariel," tolak Charlie. "Aku sudah sangat berterima kasih karena kau mau mengundangku makan siang," sambungnya.


"Tentu saja, bukankah kita sekarang teman?" sambut Ariel.


"Sebuah kehormatan bagiku untuk bisa berteman denganmu, Ariel," balas Charlie.


"Justru aku yang merasa terhormat karena aku memiliki teman seorang polisi wanita sepertimu," puji Ariel tulus.


"Dan juga seorang pemusik sepertimu," balas Charlie.


"Dari mana kamu tau?" tanya Ariel kaget.


"Siapa yang tidak tau dengan Ariel Esther? Kamu pikir dari mana aku bisa mendapatkan namamu?" goda Charlie. "Jangan lupakan satu hal penting ini, Ariel. Aku adalah seorang polisi, dan kamu terlibat insiden yang membuatku harus membuka semua identitasmu," terang Charlie.


"Tapi, sepertinya Joel tidak mengetahui siapa kamu sebenarnya," tebak Charlie.


"Yah,,,memang tidak,abaikan saja dia," jawab Ariel.


"Aku sangat bersyukur mendapatkan teman sepertimu di kota ini," sambung Ariel.


Charlie tersenyum dan memeluk Ariel sebelum pergi. Tak lama berselang, Joel kembali setelah Charlie benar-benar pergi.


"Kenapa kamu mengundangnya kemari?" protes Joel begitu melihat Ariel duduk di sofa.


"Apa salahnya? Dia temanku," bela Ariel.


"Teman? Sejak kapan?" geram Joel.


"Dengar,!! Aku tidak tau apa masalahmu, dan kenapa hal ini begitu mengusikmu? Apa yang salah dengan dia menjadi temanku?" cecar Ariel.


"Karena dia tidak baik untukmu," terang Joel.


"Itu menurutmu, bukan menurut penilainku," sanggah Ariel.


"Berhentilah masuk kedalam kehidupanku dengan melewati dia sebagai batu loncatanmu," larang Joel.


"sepertinya kamu salah paham,!" cibir Ariel. "Aku hanya berteman dengannya, dan tidak ada sangkut pautnya denganmu. Seperti yang pernah kamu katakan padaku, hubungan kita hanya sebagai dokter dan pasien, bukankah begitu?" imbuhnya.


Joel tidak bisa berkata lagi, melihat ketenangan yang ada di wajah Ariel, membuatnya melunakkan sikapnya.


"Aku memang mengatakan itu, tapi aku hanya ingin membuatmu tetap aman dan tidak terluka lagi," terang Joel.


"Aku mengerti hal itu, dan aku juga berterima kasih karenanya," sambut Ariel lembut.


"Aku juga telah salah karena mendesakmu menceritakan hal yang tidak ingin kau ceritakan," ungkap Ariel.


"Lupakan hal itu untuk saat ini, aku sebenarnya memiliki hal yang harus ku katakan padamu," terang Joel.


"Apa itu?" tanya Ariel.


"Besok, kamu bisa datang ke rumah sakit untuk melepas gips," ungkap Joel.


"Ya, datanglah jam 10 pagi. Aku akan menunggumu di sana," jelas Joel "Karena malam ini adalah jam terakhirku merawatmu sebagai pasienku,"' sambungnya.


"Itu sangat melegakan,!" sambut Ariel. "Aku akan datang besok," lanjutnya.


'Ini kabar baik, tapi kenapa aku tidak menyukainya?' batin Joel.


"Terima kasih sudah bersabar dalam merawatku selama ini, Joel," ucap Ariel.


"Itu sudah menjadi tugasku, Ariel," balas Joel.


"Apakah kita bisa tetap berhubungan walaupun kamu bukan lagi pasienku, Ariel?" tanya Joel was-was.


"Tentu saja, Joel. Kamu adalah temanku. Seorang teman yang benar-benar ku dapatkan sejak aku berada di kota ini," ungkap Ariel.


"Begitu juga denganku, Ariel. Kamu adalah seorang teman yang aku dapatkan sejak aku di kota ini," terang Joel.


"Baiklah, aku akan mulai membereskan barang-barangku, agar aku bisa pergi malam ini," tutur Joel.


"Kamu bisa melakuknnya kapanpun kamu mau, Joel. Aku tidak akan keberatan dengan hal itu," terang Ariel.


"Terima kasih, tapi akan lebih baik jika aku membereskannya hari ini," tolak Joel.


"Baiklah, jika kamu bersikeras begitu," balas Ariel.


Joel mulai mengemas semua barang-barangnya dan memasukkannya kedalam tas miliknya.


Segera setelah malam tiba, Joel pergi meninggalkan apartemen Ariel, dan kembali bekerja pada keesokan harinya.


Ariel menuju rumah sakit pada keesokan harinya sesuai dengan yang di jadwalkan Joel padanya.


Begitu tiba di rumah sakit, Ariel berjalan dengan tangan merayap di dinding, menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan dimana Joel menunggunya.


TOK,,,TOK,,,TOK,,,


Ariel mengetuk pintu yang tertuup rapat, dan mendengar suara yang sangat akrab baginya dari dalam.


"Masuk," sambutnya dari dalam.


"Permisi, dokter. Saya datang untuk pelepasan gips," sapa Ariel pada sosok dokter yang menyapanya.


Untuk sesaat, jantung ariel tiba-tiba berdetak lebih cepat saat kembali melihat Joel dalam setelan jas dokternya.


'Apakah dia memang terlihat seperti ini sebelumnya? Kenapa aku tidak menyadarinya kalau dia terlihat tampan?' batin Ariel.


Joel tersenyum lalu mengangguk dan meminta Ariel untuk duduk di ranjang yang telah di siapkan.


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Ariel segera naik ke ranjang di bantu oleh Joel.


"Baiklah, apakah kamu sudah siap?" tanya Joel duduk di depan kaki Ariel.


Ariel menganggukan kepala dan Joel tersenyum.


Joel mencuci tangannya dan mulai memotong gips yang membungkus kaki Ariel.


Tangannya dengan hati-hati dan perlahan, melepaskan gips, berusaha sebisa mungkin agar tidak melukai kaki Ariel.


Setelah gips itu terlepas, Joel membersihkan kaki Ariel dengan air dari wadah yang telah di siapkan sebelumnya.


Jarak mereka yang begitu dekat selama proses pelepasan gips, membuat jantung mereka berdetak lebih cepat.


Ariel menatap Joel yang tengah fokus pada kainya, dengan jahil Ariel meniup kening Joel untuk menutupi kegugupan yang menganggu hatinya entah dari mana asalnya.


"Jangan mengodaku, Ariel,!" ucap Joel mengingatkan.


"kamu terlihat fokus sekali," sambut Ariel tanpa merasa bersalah.


"Biarkan aku menyelesaikan ini dulu," jawab Joel tetap fokus.


Jari tangan Joel yang menyentuh kulit kakinya, membuat Ariel semakin berdebar.


"Arkhh,,, dari mana datangnya perasaan aneh ini sih? Kenapa aku jadi segugup ini?' erang Ariel dalam hati.


Joel membungkus kaki Ariel dengan handuk kering dan membersihkan sisa gips yang masih menempel, dan mulai mengerakkan kaki Ariel keatas dan kebawah.


"Apakah terasa sakit?" tanya Joel.


Ariel hanya mengeleng pelan dengan wajah yang bersemu merah.


"Baiklah, kalau begitu ini sudah selesai. Tapi kamu harus datang lagi minggu depan dan dilanjutkan hingga satu bulan kedepan," saran Joel.


"Baik, terima kasih dokter," sambut Ariel.


Joel tersenyum dan mengangguk, matanya kini beralih ke catatan yang semula tergletak dimeja.


"Kakimu masih belum sembuh sepenuhnya, jadi sangat di anjurkan kamu tidak melakukan aktivitas berat sebelum itu benar-benar pulih," terang Joel.


"Oke,, hanya itu. Kamu bisa pergi sekarang," ucap Joel menutup catatannya.


Ariel mengangguk dan beranjak dari duduknya. Kakinya menapak lantai dan mencoba berjalan lalu tersenyum puas.


"Terima kasih," ucap Ariel seraya berjalan pergi.


Namun, ketika Ariel mencapai pintu, tangan Joel menahan pintu hingga sulit untuk di buka. Tepat saat Ariel berbalik, tangan Joel berada di kedua sisi Ariel, mengurungnya diantara kedua tangannya.


"Apa maksudnya ini,?" tanya Ariel menatap mata Joel.


"Bisakah kamu tidak berpenampilan seperti ini saat keluar?" tanya Joel.


"Maksudmu,?" tanya Ariel binggung.


Joel menarik nafas panjang dan melepaskan Ariel.


'Apa yang aku lakukan? Dia bukan lagi pasienku, aku tidak bisa terus-terusan melarang apa yang boleh dan tidak di lakukan olehnya," batin Joel.


"Tidak ada, kamu bisa pergi," ucap Joel dan segera menyingkir.


Ariel menaikkan bahunya dan segera pergi dari ruangan dimana Joel berada. Dengan langkah ringan, Ariel meninggalkan rumah sakit dengan senyum lega di wajahnya.


...>>>>>>--<<<<<<<<...