
#Di rumah sakit.
Joel menjatuhkan tubuhnya di kursi yang berada didalam ruangannya. Menyandarkan kepalanya untuk melepas lelah yang ia rasakan.
Ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu menghela nafas panjang. Menyadari malam itu sudah melewati tengah malam.
"Aku pulang lebih larut dari kemarin," ucapnya pelan, dan kembali menghela nafas.
"Dan dia beberapa hari ini selalu berangkat sebelum aku bangun,"
Joel kembali menghembuskan nafas panjang, menengadah menatap langit-langit.
"Aku merindukannya," desah Joel. "Tapi, pekerjaanku,,,,"
Sekali lagi, ia hanya bisa mendesah pelan, menyadari situsinya sedang tidak berpihak padanya. Entah sudah keberapa kalinya ia pulang disaat istrinya telah tertidur dan bangun ketika istrinya telah berangkat ke studio dengan meninggalkan catatan di nakas dan meja makan di samping sarapan yang di siapkan sang istri.
Padahal sebelumnya, mereka bisa berangkat dan pulang bersama, dimana ia akan mengantar sang istri sebelum ke rumah sakit dan menjemputnya setelah selesai bekerja meski membuat istrinya sedikit menunggu di studio. Namun sekarang, untuk mengobrol saja hampir tidak memiliki kesempatan.
Dart,,,Dart,,,
Joel melirik sekilas ponselnya yang ia ubah dengan mode getar. Mengingat ia sering pulang larut malam dan tidak ingin suara ponselnya menganggu tidur sang istri.
Nama Darcie yang tertera di layar ponsel membuat ia mengerutkan keningnya. Merasa aneh karena tidak biasanya Darcie menghubungi dirinya, terlebih lagi ini sudah melewati tengah malam.
📞📞📞" Apakah kau menghubungiku tanpa melihat jam berapa sekarang?" sambut Joel setelah menempelkan ponsel di telinganya.
"Aku melihatnya, namun aku tau kau belum tidur, bahkan belum pulang dan masih berada didalam ruangannmu," jawab Darcie dengan suara santai khasnya.
Seketika Joel mengedarkan pandangnnya, mencari tau apakah ada kamera atau semacamnya yang tersembunyi di ruangannya.
"Dan aku bukan penguntit, jadi berhentilah mencari sesuatu di ruanganmu seolah aku telah melakukan tindak kriminal," ucap Darcie lagi seolah tau apa yang Joel lakukan.
"Apakah kau sadar kalimatmu justru terdengar mengerikan?" sambut Joel.
Darcie tertawa pelan sebelum kembali berbicara.
"Pasien yang baru saja kau tangani adalah temanku, dan aku sempat melihatmu. Hanya saja aku tidak mungkin mengejarmu,"
"Itu hanya akan menimbulkan keributan," imbuhnya.
"Baiklah," sambut Joel terkekeh pelan.
" Ada apa menghubungiku?" tanya Joel.
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu sebelum aku melupakannya karena banyaknya pekerjaan yang harus ku urus," ucap Darcie.
"Apa itu?"
"Tentang acara yang pernah ku katakan pada kalian waktu itu, kuharap kalian tidak melupakannya," ucap Darcie.
"Yah,,, aku ingat. Lalu?" sahut Joel.
"Itu akan di adakan lusa malam. Aku berharap kalian bisa datang," papar Darcie.
"Aku akan mengusahakannya, dan menanyakan padanya apakah dia bisa hadir atau tidak," sambut Joel.
"Itu saja sudah cukup melegakan untuk di dengar," balas Darcie.
"Baikah, aku yakin kau ingin segera pulang karena ini sudah sangat larut, aku minta maaf sudah menahanmu dan tidak menemuimu secara langsung," ucap Darcie.
"Tak masalah," jawab Joel.
"Terima kasih, sampai jumpa lagi," ujar Darcie.
"Sampai jumpa lagi," balas Joel. 📞📞📞
Setelah obrolan singkat itu, Joel mulai membereskan barang-barangnya, menyimpan jas putihnya di tempat penyimpanan dan melangkah keluar setelah mengunci pintu ruangannya.
Hanya dalam waktu sepuluh menit saja Joel tiba di apartemen, ia kembali menghembuskan nafas panjang sebelum membuka pintu, namun terkejut setelahnya.
Joel melihat Ariel tidur di sofa dengan buku di tangannya yang hampir terjatuh. Dalam posisi duduk bersandar, menandakan ia tengah menunggu dan tidak sengaja tertidur disana.
"Aku kan sudah bilang agar tidak menungguku," gumam Joel.
Sejujurnya, dirinya senang hanya dengan mengetahui Ariel menunggu kepulangannya, namun hal itu juga membuatnya merasa bersalah karena membiarkan istrinya tidur di sofa.
Ia segera meletakkan tas kerjanya dan melepaskan mantel yang ia pakai, lalu mengantungnya. Ia menghampiri Ariel sembari mengulung lengan kemejanya, memindahkan buku dari tangan Ariel dengan hati-hati, dan mengangkat tubuh Ariel untuk dipindahkan ke kamar.
Antara sadar dan tidak, Ariel sedikit merasakan pergerakan halus, aroma cologne khas yang sangat ia kenali tercium di indra penciumannya membuat ia perlahan membuka matanya.
"Mhmm,,,"
Ariel sedikit mengerjap untuk membuat penglihatannya bisa melihat dengan benar, dan ia melihat Joel baru saja mengangkat tubuhnya, lalu melangkah ke kamar.
"Kamu sudah pulang?" tanya Ariel lirih.
"Maaf, aku tidak bermaksud untuk membangunkanmu," sesal Joel.
"Uhmm,,," gumam Ariel mengelengkan kepalanya kembali memejamkan matanya.
Joel meletakkan Ariel diatas tempat tidur dengan perlahan, mengusap lembut kepalanya dan berkata.
"Aku akan membersihkan diri sebentar, tidurlah dulu," ucap Joel mengecup kening Ariel.
Joel melepaskan kacamata dan jam tangannya, meletakkan keduanya diatas nakas sebelum masuk ke kamar mandi. Setelah beberapa menit kemudian, Joel merebahkan tubuhnya disamping Ariel, dan mendekapnya.
"Kenapa kamu tidak tidur lagi?" tanya Joel saat merasakan Ariel masih terjaga. "Apakah ada yang menganggu pikiranmu?" tanyanya.
"Tidak ada," jawab Ariel mengeleng. "Hanya merindukanmu," sambungnya.
"Maafkan aku, pekerjaku telah menyita waktuku lebih banyak dibandingkan dengan waktu yang kuberikan padamu," sesal Joel mengecup puncak kepala istrinya, lalu membelainya.
"Bukan salahmu, aku mengerti, aku juga melakukan hal yang sama dimana aku berangkat ketika kamu masih tertidur pulas. Aku ingin membangunkanmu, tapi kamu yang baru saja mulai tidur membuatku tidak bisa melakukannya," terang Ariel.
"Aku mengerti tanpa kamu harus menjelaskannya, Sweety," sambut Joel tersenyum.
"Tidurlah! Ini sudah sangat larut," ujar Joel dengan mata tertutup.
Joel merasakan kesadarannya mulai memudar, matanya terasa sangat berat untuk dibuka lagi, namun ia merasakan sentuhan hangat di pipinya yang ia tau Ariel mengecup pipinya sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya.
Entah berapa lama ia tertidur, tangan Joel meraba sisi tempat tidur disampingnya dan tidak merasakan siapapun ada disana. Dengan memaksa membuka kedua matanya, Joel mendapati sisi tempat tidur disampingnya kosong.
Sedikit kecewa karena lagi-lagi ia bangun seorang diri, ia memaksa tubuhnya sendiri untuk bangun, duduk selama beberapa saat untuk mengumpulkan nyawanya. Hingga pintu kamar terbuka membuat ia menoleh hanya untuk melihat Ariel tersenyum padanya dan menghampirinya.
"Selamat pagi, tukang tidur," sapa Ariel memberikan kecupan cepat di bibir Joel.
"Pergilah ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, aku sudah menyiapkan perlengkapannya didalam," ucap Ariel dengan senyum di wajahnya.
Joel masih terpaku di tempatnya, menatap istrinya dengan tatapan tak percaya.
"Apa artinya tatapan itu?" tanya Ariel menyipitkan matanya.
"Apakah aku masih belum bangun hingga aku bermimpi?" ucap Joel tanpa sadar.
Ariel tersenyum geli, semula ia ingin merapikan tempat tidur saat suaminya melakukan ritual pagi, namun suaminya justru tidak beranjak dari tempatnya.
Ariel duduk didepan Joel, tanpa peringatan mengecup lembut bibir Joel, menyadarkan sang suami sepenuhnya hingga dia menarik istrinya kedalam pelukannya untuk memperdalam ciuman pagi mereka.
"Masih berpikir ini mimpi?" tanya Ariel menarik wajahnya.
"Andai ini mimpi, aku menolak untuk bangun," jawab Joel melingkarkan kedua tangannya di pinggan Ariel.
"Bukankah lebih bagus jika itu bukanlah mimpi?" sambut Ariel terkekeh pelan.
"Lebih dari apapun," sambut Joel mulai melepaskan Ariel.
"Pergilah mandi! Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita," tutur Ariel.
"Untuk kita?" ulang Joel. "Maksudmu, pagi ini kita sarapan bersama?" tanya Joel.
"Tepat," sambut Ariel terkekeh melihat reaksi suaminya. "Kenapa itu terlihat mengejutkan bagimu?" sambung Ariel bertanya.
"Apakah kamu libur?" tanya Joel.
"Tidak," jawab Ariel mengeleng. "Aku meminta Ken untuk memulai pemanansan tanpa aku di sana, dan dia sanggup untuk melakukannya," terang Ariel.
Joel mengangguk mengerti dan bergegas menyelesaikan ritualnya dengan cepat, tidak ingin pengorbanan istrinya pagi ini terbuang sia-sia. Selesai dengan ritualnya, Joel mendapati pakaiannya telah disiapkan di atas tempat tidur, menghadirkan senyum bahagia di wajahnya.
Mereka menikmati sarapan bersama setelah entah berapa hari mereka tidak bisa melakukannya setiap pagi dan malam hari. Menu yang disiapkan Ariel memang sederhana, namun ia salalu merasakan nikmat yang tidak bisa ia ungkapkan. Dan pagi ini Berry Smooties dan Pancake Oatmeal terhidang didepannya.
"Ahh,, aku hampir lupa, Darcie menghubungiku tadi malam sebelum aku pulang dari rumah sakit," ungkap Joel.
"Itu tidak biasa, apakah terjadi sesuatu hingga membuatnya menghubungimu selarut itu?" tanya Ariel.
"Dia menghubungiku karena tau aku masih berada disana. Pasien terakhir yang aku rawat adalah temannya, namun dia tidak bisa menemuiku langsung karena itu sudah cukup larut," jelas Joel.
"Begitu rupanya,,,Itu bisa di mengerti mengingat itu di rumah sakit, tapi apa alasan dia menghubungimu?" tanya Ariel.
"Acara yang pernah dia sebutkan saat kita bertemu di pesawat akan diadakan lusa, dan dia mengharapkan kita untuk datang," papar Joel.
"Lalu, apa yang kamu katakan?" tanya Ariel.
"Aku belum menerimanya, aku ingin menanyakan hal ini padamu lebih dulu," jawab Joel.
"Uhmm,,, Aku akan mengikuti keputusanmu," jawab Ariel.
"Jika aku menerima undangannya, apakah itu tidak masalah?" tanya Joel.
"Tentu saja tidak," sambut Ariel terseyum.
"Kalau begitu, aku akan menghubunginya nanti dan mengatakan kita akan datang," jawab Joel.
Ariel mengangguk pelan, ia mulai membereskan meja setelah sarapan mereka selesai. Merasa semua telah dirapikan, Ariel mulai bersiap untuk berangkat ke studio.
"Mau barangkat bersama?" tawar Joel.
"Ehh,,?" Ariel segera berbalik saat duduk didepan meja riasnya.
"Apakah hari ini_,,,"
"Aku tidak lembur, dan pulang seperti biasanya, bagaimana?" tanya Joel lagi.
"Tentu saja aku mau," sambut Ariel langsung memeluk suaminya.
Joel tersenyum lembut, merasa betapa beruntung dirinya memiliki istri yang begitu pengertian. Dan merasakan kebahagiaan bisa mereka berdua rasakan hanya dengan tindakan sederhana.
Joel telah sampai distudio untuk mengantar istrinya, Joel bahkan sempat mengecup lembut bibir istrinya sebelum dia keluar dari mobil. Sampai Ariel melambai ringan mengantarkan kepergian suaminya.
Ariel baru berbalik masuk ke studio setelah mobil Joel menghilang dari pandangannya, menghadirkan tatapan penuh tanda tanya pada setiap orang yang melihat Ariel diantar oleh seseorang.
...>>>>>>>--<<<<<<<<...
.....
To be Continued...