I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
76. Mencari petunjuk



Disisi lain diwaktu yang sama, dimana Charlie baru saja pergi meninggalkan rumah Jesica, ditempat lain Joel diam-diam menemui Ken tanpa sepengetahuan Ariel.


Joel menunggu hingga jadwal latihan selesai, dan meminta Ken untuk ikut dengannya ketika Joel melihat Ken keluar dari studio.


"Apa yang ingin kakak tanyakan padaku?" tanya Ken memecah keheningan sesaat setelah Joel menjalankan mobilnya.


Joel melirik Ken sekilas, lalu kembali fokus pada jalan didepannya.


"Aku hanya ingin tau apa saja yang terjadi diacara yang dihadiri Ariel malam itu hingga dia pulang dalam keadaan seperti itu," jawab Joel tenang.


'DEG,,,!'


"Itu,,, aku sudah mengatakannya, dan hanya itu yang aku tau," jawab Ken.


"Maksudku adalah, adakah seseorang yang mendekatinya atau sesuatu?" tanya Joel lagi.


"Ehmm,,," Ken bergumam, tampak berpikir sejenak.


"Ada satu pria yang mendekatinya, mereka sempat mengobrol, dan tak lama setelah itu, pria itu pergi, dan aku kembali bersama kak Ariel," terang Ken.


"Apakah setelah itu sikap Ariel sudah berubah?" tanya Joel.


"Masih belum, kak Ariel bertingkah aneh beberapa menit setelahnya, dan sempat berjalan keluar. Tapi saat aku menyusul kak Ariel, kakak sudah setengah sadar, jadi aku membantu kak Ariel sampai ke mobil," jelas Ken.


"Lalu kenapa kau tak mengangkat panggilan dariku jika kau bersamanya?" selidik Joel.


"Saat itu, ponsel kakak jatuh, dan aku mengambilnya setelah membantu kak Ariel kedalam mobil," kilahnya.


'Jadi, Bunny adalah kak Joel? Kak Ariel mencintainya, sampai merubah panggilannya seperti itu,' batin Ken menyembunyikan senyum getirnya.


"Memangnya, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ken pura-pura tidak tau.


"Dia tidak sengaja meminum obat yang seharusnya tidak dia konsumsi. Dan itu memiliki efek samping karena dosisnya berlebih," ungkap Joel.


"Apa,,??" seru Ken terkejut.


Yang mengejutkan bagi Ken saat mendengar ucapan Joel adalah tentang efek samping yang harus ditanggung Ariel. Ia sama sekali tidak memperkirakan hal itu.


"Bagaimana bisa?" desis Ken berusaha menutupi yang sebenarnya.


'Tidak, apa yang sudah aku lakukan? Efek samping? Wanita itu tidak mengatakan apapun padaku tentang efek sampingnya,' batin Ken.


"Apakah keadaan kak Ariel buruk?" tanya Ken pelan.


"Beruntungnya tidak terjadi hal buruk padanya," sambut Joel.


Joel melirik Ken yang memprlihatkan raut wajah penyesalan, dan ia hanya tau Ken merasa bersalah karena telah membawa Ariel keacara itu yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Ariel.


"Kau tau?" ucap Joel membuat Ken mengangkat wajahnya menatap Joel.


"Jika kau memperlihatkan wajah seperti itu pada Ariel, sama saja kau telah menyinggungnya," lanjutnya.


"Dia membantumu karena kau seperti adik baginya, bukan salahmu jika disana terjadi masalah yang melibatkannya,"


"Tapi, jika kau berikap merasa bersalah dan menghindarinya, itu berarti kau membuat dia berpikir bahwa dia telah melakukan kesalahan padamu," papar Joel.


"Tapi, kak Ariel tidak bersalah, akulah yag bersal_,,"


"Itu dari sudut pandangmu, namun berbeda dengan sudut pandangnya, aku yakin kau tau seperti apa dia jika mengingat kau lebih lama mengenalnya dibandingkan denganku," potong Joel cepat.


Ken menatap Joel dengan pandangan kagum, seolah hal itu membuka pikirannya dan mulai mengerti mengapa Ariel mencintai pria yang kini didepannya.


"Kak Joel benar-benar cocok bersama kak Ariel," ucap Ken pelan.


"Kau berkata seperti itu seoalah kami sedang menjalin hubungan," sambut Joel tertawa.


"Bukankah itu memang benar? Atau dugaanku saja yang salah?" jawab Ken balas bertanya.


"Bagaimana kau bisa menduga hal seperti itu?" tanya Joel menghindari menjawab pertanyaan Ken.


"Dari cara kak Ariel memandang kak Joel," jawab Ken.


"Begitukah?" sambut Joel.


"Hei,,, katakan dimana rumahmu? Aku akan antar kamu pulang," tanya Joel mengalihkan perhatian Ken.


"Aku turun dipersimpangan depan saja, itu tak jauh dari rumahku, dan kakak tidak perlu mengantarku sampai rumah," ucap Ken.


"Baiklah," jawab Joel.


"Jadi,,, kakak sedang berusaha menghindari pertanyaanku, benar kan?" selidik Ken.


"Apa?" Joel menaikkan alisnya.


"Kakak menjalin hubungan dengan kak Ariel," ucap Ken dengan seringai diwajahnya mengoda Joel.


"Benar, tapi tolong untuk tidak menyebarkan hubungan kami," harap Joel.


"Kenapa?" tanya Ken bingung. "Apakah kak Ariel yang memintanya?" imbuhnya.


"Tidak, hanya saja aku memiliki alasanku sendiri," jawab Joel.


"Apakah itu kak Bram?" tebak Ken.


"Aku justru merasa yakin kak Bram sudah tau tentang ini tapi memilih diam, dan aku bahkan yakin kak Bram akan senang mendengar hal ini," ujar Ken.


"Bagaimana kau bisa yakin?" sambut Joel.


"Karena cara kakak dan kak Bram melihat kak Ariel sama," jawab Ken.


Joel tersenyum simpul, merasakan adanya perubahan yang ada didalam diri Ken.


"Ah,,, disini saja, aku turun disini," ucap Ken membuat Joel menghentikan mobilnya.


"Dengan siapa kau tinggal?" tanya Joel sebelum Ken turun.


"Bersama kakakku," jawab Ken. "Terima kasih sudah mengantarku," ucap Ken.


"Tidak masalah, lagi pula aku juga ada perlu denganmu," jawab Joel.


Ken mengangguk dan segera keluar dari mobil Joel, melangkah memasuki kawasan perumahan.


Ketika Joel akan kembali menjalankan mobilnya, suara dering ponsel menghentikannya lebih dulu, membuat ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Raut wajahnya berubah cerah saat menatap layar ponselnya.


"Hai, Sweety, bagaimana harimu?" sambut Joel setelah menempelkan ponsel ditelinganya.


"Sama seperti biasanya," jawab Ariel. "Dimana kamu sekarang?" tanya Ariel.


"Aku_,,," Joel berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya.


"Aku baru saja keluar dari rumah sakit, dan akan pulang untuk mengambil barangku yang tertinggal,"


"Tapi setelah itu harus kembali lagi kerumah sakit. Sepertinya aku tidak bisa menemuimu hari ini," sesal Joel.


Hening,,,,


',,,,'


Joel mengerutkan keningnya, lalu menatap ponsel dan memperlihatkan panggilannya masih terhubung.


"Sweety, apa kau masih disana?" tanya Joel mendekatkan ponsel ke telinga lagi.


"Begitu ya, baiklah, aku mengerti. Kebetulan hari ini aku juga sedikit sibuk, jadi sepertinya akan sulit untuk bertemu denganmu. Jaga kesehatanmu, dan jangan biarkan tubuhmu terlalu lelah bekerja," ucap Ariel.


"Kalau begitu, kau juga harus menjaga kesehatanmu sebagai balasnnya," sambut Joel.


"Aku akan melakukannya," sambut Ariel.


"Bye,Bunny," ucap Ariel.


"Bye, Sweety," balas Joel.


Panggilan berakhir, namun perasaan Joel justru berubah menjadi tidak tenang. Tangannya melepaskan kacamatanya dan menekan diantara kedua mata dengan jarinya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk berbohong, tapi aku ingin mencari tau siapa sebenarnya yang memasukan Afrodisiak di minumanmu, hingga membuat kamu meminumnya,"


"Apa alasannya hingga dia melakukan itu padamu? Jika itu untuk membuatmu malu, cara itu terlalu ekstrim, mengingat tak seorang pun yang kamu kenal disana" gumam Joel.


Joel kembali menjalankan mobilnya dan berhenti ditempat yang tidak terlalu ramai, mulai membuka laptopnya.


"Aku memang bukan profesional, tapi jika hanya meretas data pribadi seseorang, itu sangat mudah bagiku," gumam Joel.


Sementara itu, disisi lain, Ariel menurunkan ponsel dari telinganya setelah mengakhiri panggilannya dengan Joel, mengeluarkan hembusan nafas panjang.


Ia mengangkat wajahnya, menatap pintu rumah didepannya, lalu tersenyum getir.


"Aku baru saja dari rumah sakit, dan lagsung ke rumahmu. Berpikir terjadi sesuatu padamu. Tapi, kamu mengatakan baru saja keluar dari rumah sakit dan akan pulang?"


"Apa maksud semua ini, Joel?" desah Ariel.


Ariel berdiri didepan pintu rumah Joel yang terkunci, lalu duduk di kursi santai yang ada didepan rumah Joel, menunggu.


Beberapa kali Ariel merubah posisi duduknya, bersandar, berbaring, dan berjalan mondar-mandir, namun hingga malam, Joel masih belum kembali.


"Hats-chi,,,!!"


"Ugh,,, kenapa udara semakin dingin sih," keluh Ariel setelah bersin sembari mengosok hidungnya.


Tangannya beralih mengosok kedua lengannya dan menatap lautan yang terlihat dari tempatnya berdiri. Ikat rambut yang semula ia pakai, tanpa sadar terlepas dan jatuh dibawah kursi yang ia duduki.


"Hats-chi,,,!" lagi, Ariel kembali bersin dan ia hanya mengosok kedua telapak tangannya karena tidak membawa jaket.


Setelah malam semakin merangkak naik, Ariel memutuskan pergi setelah menunggu hingga tengah malam Joel masih belum pulang. Dan berencana datang lagi keesokan harinya. Namun hal itu berakhir sia-sia saat Ariel kembali datang, rumah Joel masih tetap kosong.


Ariel menghubungi Joel, dan mendapatkan jawaban sama seperti yang ia terima di hari sebelumnya, membuatnya kembali menunggu hingga malam.


"Ada apa sebenarnya? apakah aku melakukan kesalahan?" gumam Ariel menengadah menatap langit dengan wajah lelah. Hal itu terus berulang hingga lima hari berturut-turut, namun Ariel tetap berpikir bahwa mungkin Joel sibuk.


Namun, saat ia datang lagi di siang hari berikutnya, Ariel justru dikejutkan dengan pemandangan didepannya. Sebuah pemandangan yang membakar hatinya.


Didalam rumah Joel, dengan pintu setengah terbuka, Ariel mendapati Joel tengah berciuman dengan Christina. Dan yang lebih mengejutkan baginya, Joel hanya mengenakan handuk yang ia lilitkan ditubuhnya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...