I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
Chapter Bonus bagian 1



10 tahun kemudian......


"JOIEEE,,,,,!!!!!"


Suara sopran yang disertai dengan amarah terdengar bersamaan dengan munculnya seorang gadis berusia sekita 10tahun membuka pintu dan melompat dari tangga setinggi lima meter dengan begitu mudahnya.


Rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai berkibar lembut ketika tubuh kecilnya melayang diudara dalam hitungan detik dan mendarat dengan sempurna.


Pintu kembali terbuka memperlihatkan wanita paruh baya dengan wajah marah menatap putrinya yang telah berada dibawah dengan cekikikan khasnya.


"Kemari atau dihukum," ujar wanita itu dengan nada mengancam.


Wanita berambut coklat bergelombang yang terurai dengan penampilan anggun namun bisa membuat seluruh penghuni rumah mengkerut takut hanya dengan wajah marahnya.


"Aku kan sudah bilang tidak sengaja, Mom," jawab gadis bernama Joie.


"Jika tidak sengaja, kenapa lari?" tanyanya dengan wajah marah.


Wanita yang tidak lain adalah Ariel memandangi wajah putrinya dengan kesal.


Ariel berjalan cepat menuruni tangga untuk menghampiri putrinya, namun Joie bersiap untuk kabur.


"Mom, hati-hati," tegur suara lain dari belakangnya.


Dibelakang Ariel laki-laki dengan wajah dan usia yang sama dengan Joie berdiri menatap ibunya dengan cemas. Saudara kembar Joie yang bernama Jordan.


Perbedaan meraka selain gender terletak pada rambut lurus Joie yang panjang dan hitam sementara Jordan rambut pendek coklat bergelombang serta warna mata mereka yang berbeda.


Ariel melangkah menuruni tangga dengan langkah cepat, diikuti Jordan dibelakangnya yang terus merasa takut jika ibunya terjatuh atau mengalami apapun itu.


Joie berlari dengan gerakan lincahnya menuju pintu keluar, berniat kabur dari amarah sang ibu.


'BUUKK,,!!'


'DUGH,,,,!!!'


"Aawww,,,"


Joie mengerang pelan saat tubuhnya terhempas dan mendarat dilantai dengan jatuh terduduk sembari mengusap pantatnya yang terasa panas.


"Auuhh,,, sakit,," rintihnya.


Ia segera mengangkat wajahnya ketika merasakan tubuhnya seolah menabrak dinding yang cukup keras dan ternyata tubuh menjulang seorang pria telah berdiri didepannya, menatapnya sedikit terkejut.


"Daddy,,," desis Joie melebarkan kedua matanya.


Pria itu melipat kedua tangannya, tau persis dengan sikap Joie yang satu ini.


"Masalah apa lagi yang kamu timbulkan?" tanyanya tersenyum lembut.


Ia segera membantu putrinya berdiri, menepuk lembut pakaiannya dan kembali menatap wajahnya dengan posisi berlutut didepan Joie.


"Aku tidak sengaja memutuskan senar Cello milik, Mommy," terangnya dengan jujur.


Joie berkata seolah tengah mengadu dan meminta perlindungan diwaktu yang sama pada sang ayah.


"Haahh,,, lalu kenapa kabur jika memang tidak sengaja?" tanyanya lagi.


"Daddy tau sendiri bukan? Mom itu serem kalau sedang marah. Apalagi itu menyangkut alat musik. Jo juga sama, ngomel sampai mulutnya berbusa," ujar Joie blak-blakkan.


"Ehhh,,, siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu?" tegurnya.


"Kalau begitu, Daddy saja yang menghadapi Mommy," jawabnya.


"Sekarang kamu melemparkan masalah pada Daddy yang baru saja pulang bekerja?"


Suara ibunya sekali lagi membuat Joie bergidik. Baginya, hal yang sangat ia takuti adalah membuat sang ibu marah, meskipun sang ibu tidak pernah kasar padanya dan membentaknya, justru hal itulah yang membuat sang ibu terlihat lebih mengerikan ketika sang ibu menggunakan suara tinggi untuknya. Meskipun ia akan lebih takut lagi ketika ibunya marah dan memilih diam.


"Sekarang apa?" tanya Ariel melipat tangannya menatap Joie yang telah tertunduk.


"Haahhh,,," desah Ariel.


"Padahal aku tidak ingin memperlihatkan seperti ini disaat kamu pulang," sesal Ariel.


Ariel menghampiri suaminya yang tidak lain adalah Joel. Mengambil alih mantel dan tas kerjanya dari tangan sang suami.


"Maaf, Mom," sesal Joie dengan kepala tertunduk.


"Lalu jelaskan!" pinta Ariel.


"Hey,, sudahlah," lerai Joel meletakan tangan dibahu Ariel.


"Tidak bisa!" tukas Ariel. "Kamu tidak bisa membiarkannya begitu saja ketika dia bersikap tidak bertanggung jawab," sambungnya.


Ariel kembali menatap putrinya yang kian tertunduk.


"Joie,,,!" ulang Ariel meminta jawaban.


"Aku cuma ingin bisa seperti, Jo. Bisa main bersama, Mommy," terangnya dengan menundukkan kepalanya.


"Tapi aku selalu saja tidak bisa memainkan apapun. Aku iri sama Jo yag bisa main piano bareng Mommy," ungkapnya.


"Aku justru iri sama kamu karena kamu bisa lebih cepat ingat apa yang diajarkan Mommy daripada aku," sela Jordan.


Joie segera mengangkat wajahnya, manatap saudara kembarnya yang berdiri tak jauh dari ibunya.


"Itu karena telingamu yang bermasalah," jawab Joie.


"Itu berarti jari tanganmu juga berada dalam masalah," balas Jordan.


"Ukh,,, menyebalkan, kenapa tanganku yang kamu salahkan?" sungut Joie.


"Lalu, jangan salahkan telingaku," balas Jordan.


"Padahal kamu bisa dengan mudah tau melodi itu benar atau salah hanya dengan sekali dengar, sedangkan aku perlu lebih dari tiga kali," ujar Jordan lagi.


"Tapi kamu bisa memainkan semua alat musik di rumah sementara aku tidak," balas Joie.


Melihat pertengkaran kedua anaknya, Joel berniat untuk melerai mereka, namun Ariel justru menahannya dan berbisik pelan.


"Keluarkan ponselmu," bisik Ariel.


"Kenapa?" tanya Joel bingung.


"Keluarkan saja," pinta Ariel.


Joel menurut mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memberikan ponsel kepada Ariel.


Ariel segera membuka perekam video dan merekam pertengkaran kedua anaknya. Joel tersenyum sembari mengelengkan kepalanya kala melihat cara sang istri menghentikan pertengkaran kedua anaknya tanpa tenaga.


"Tapi kamu mirip Daddy," balas Jordan.


"Siapa bilang? Daddy jago masak, tapi aku tidak. Justru kamu yang jago masak," jawab Joie.


"Tapi aku tidak bisa surfing seperti, Daddy, sementara kamu bisa" balas Jordan.


"Kamu bisa menyelam," sambut Joie.


"Dan kamu bisa membuat lagu," balas Jordan.


"Apasih? Lagu kan hanya tinggal menulis saja, kamu saja yang payah," ujar Joie.


"Lalu, apa susahnya membuat pai kacang? Itu kan hanya tinggal panggang saja, kenapa kamu selalu membuat bongkahan arang yang tidak bisa dimakan?" balas Jordan tak mau kalah.


"Jo_,,, Ukh,, Momm,,,,,!!!" seru Joie saat menyadari ibunya merekam aksi pertengkran mereka.


Jordan pun turut terdiam menyadari kedua orang tuanya justru menikmati pertengkaran mereka.


"Ukh,,, Mom,,, stop,, kenapa merekam?" keluh Jordan.


Mereka berdua saling pandang dan menatap kedua orang tuanya.


"Heee,,, kenapa berhenti? Lanjutkan saja!" goda Ariel terkekeh bersama suaminya.


"Sepertinya ini akan menjadi hiburan malam ini," celetuk Joel.


"NO WAY ,,,!!" seru Joie dan Jordan serentak.


"Mom,, hapus videonya, please,!" harap Joie.


"Tidak akan," jawab Ariel.


"Aku minta maaf karena sudah merusak Cello, aku kan tidak sengaja, Mom," ratap Joie.


"Ehemm,,, lalu?" sambut Ariel melipat kedua tangannya.


"Uhm,,,, baik,, baik,, aku akan baikan sama Jo," ujar Joie.


"Tapi hapus videonya," pinta Joie.


"Mommy menolak," jawab Ariel sembari memasukan ponsel ke saku mantel suaminya.


"Mom,,,!" ratap Joie.


"Jo bahkan diam saja, kenapa kamu seribut itu?" tanya Ariel mengoda anaknya.


"Aku tidak suka diledekin, Mommy pasti akan menunjukkan videonya ke aunty Jessi kan?" tuduh Joie.


"Pft,,, Ha ha ha,,,"


Joel gagal menahan tawanya. Merasa anak perempuannya lebih bersikap bar-bar dibadingkan saudaranya.


"Itu tuduhan menarik, sepertinya Mommy harus mencobanya," jawab Ariel dengan nada santai.


"Itu salahmu karena menyebut aunty Jessi," cetus Jordan.


"Diam!" tukas Joie memajukan bibirnya sembari menatap ayahnya yang terus tertawa.


"Daddy bahkan sampai tertawa seperti itu," sungutnya.


"Diamlah!" tegur Ariel seraya menyikut perut suaminya.


Ariel menghampiri putrinya yang masih cemberut, tersenyum sembari mengelengkan kepalanya.


"Apakah sekarang kamu marah?" tanya Ariel mengusap kepala putrinya.


"Bukankah Mom yang marah padaku? Aku sudah merusak Cello Mommy," jawab Joie mendongak menatap wajah ibunya.


"Senar bisa diganti, Mommy marah bukan karena kamu merusaknya, tapi karena kamu tidak bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan dan memilih lari," terang Ariel.


"Maafin aku, Mom," sesal Joie memeluk ibunya.


"Sudah dimaafkan," sambut Ariel tersenyum.


"Jadi, apakah sekarang mau menyiapkan makan malam atau melanjutkan dramanya?" goda Ariel.


"Mom,,,!" sungut Joie menjauh sesaat lalu memeluk ibunya lagi.


"Bagaimana kalau kita makan diluar?" saran Joel.


"Mau,,,!" sambut Jordan antusias.


"Aku juga mau," timpal Joie.


"Kalau begitu, kenapa kalian tidak segera mandi dan bersiap?" jawab Joel tersenyum memandangi anaknya secara bergantian.


"Yyaayyy,,," seru Joie dan Jordan serentak.


Mereka berdua segera berlari menuju kamar masing-masing. Ingin segera siap dan berangkat untuk makan malam bersama. Melupakan apa yang baru saja terjadi seolah pertengkaran itu tak pernah ada, namun secara bertahap mengubah sikap mereka menjadi lebih baik.


"Kenapa tiba-tiba ingin makan diluar?" tanya Ariel.


"Rasanya sudah lama kita tidak keluar untuk makan malam," jawab Joel merangkul istrinya dan berjalan menuju kamar.


"Tapi, akhir pekan kita akan pergi, bukan?" tanya Ariel lagi.


"Memang benar," jawab Joel "Tapi, liburan akhir pekan dan makan malam itu berbeda," jawab Joel.


"Dan aku juga sering disibukkan dengan pekerjaanku, itu membuatku seperti ada jarak dengan mereka" imbuhnya.


"Mereka memahami hal itu lebih dari yang kamu tau, Beloved" sambut Ariel.


"Dan kamulah yang berperan membuat mereka mengerti," jawab Joel.


"Karena kamu memberi kasih sayang yang berlebih untuk mereka," balas Ariel.


Ariel mengecup pipi suaminya, tersenyum penuh rasa terima kasih.


"Bersihkan dirimu, atau mereka akan protes lagi karena kamu lama," ucap Ariel.


Ariel menjauh dari suaminya untuk menyimpan tas dan mantel yang tadi di kenakan suaminya di kamar mereka.


Joel tersenyum lembut dan mengangguk. Ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya sementara Ariel menyiapkan pakaian untuknya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


...See You Next Ya ;) :) :)...