I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
65.Kisah yang sama



"Siapa yang berbohong?"


Suara Charlie menyela mereka kemudian duduk di tempatnya semula, menatap Ariel dan Bram secara bergantian.


"Dan kenapa aku harus mengatakannya padamu?" cibir Ariel.


"Kau ini,,,"


Charlie menarik hidung Ariel dengan gemas.


"Akh,,, hei,,, lepaskan," pekik Ariel menepis tangan Charlie, lalu menutupi hidungnya.


Charlie hanya tertawa melihat reaksi Ariel, begitu juga dengan reaksi ketika Ariel gagal membalasnya.


Joel kembali muncul ketika pertengkaran kecil mereka berlangsung, menjadikan Bram yang berada diantara mereka sasaran empuk untuk aksi saling dorong mereka.


"Ada apa ini?" tegur Joel.


Suara Joel menghentikan mereka. Membuat mereka menoleh, dan melihat Joel muncul dengan nampan berisi pai kacang ditangannya.


"Untuk kali ini, aku bersyukur kau muncul, Joel," desis Bram sedikit memajukan bibirnya.


Joel tertawa dan duduk kembali ditempatnya semula. Meletakkan pai yang ia bawa didepan mereka.


"Kudapan terakhir yang aku buat," ucapnya.


Tanpa basa-basi, Bram segera menyambar pai itu dan memasukan kedalam mulutnya. Tanpa memperdulikan apakah itu panas atau tidak, Bram melahapnya seolah tengah kelaparan.


"Hauff,,,," desis Bram meniup pai panas didalam mulutnya. "Semhuha yahang khau buhat enhak,, (Semua yang kau buat enak)," ucap Bram dengan mulut penuh.


"Pft,,,, kau masih saja suka berbicara dengan mulut penuh," sambut Ariel tertawa.


"Jika kalian tidak mau, aku dengan senang hati akan menghabiskannya," ucap Bram bersiap mengambil pai lagi setelah yang berada dimulutnya sukses masuk kedalam perut.


"Eehhhhh,,, enak saja," seru Ariel dan Charlie serentak.


Ariel meraih nampan berisi pai dan menjauhkannya dari Bram untuk mengamankannya, sedangkan Charlie menahan Bram agar tidak bergerak.


"Kenapa sekarang kalian kompak?" gerutu Bram.


"Karena pai yang di buat Joel tidak dijual dimana pun," jawab Ariel.


"Dan tak akan bisa ditemukan dimanapun," timpal Charlie.


"Ugh,, hei Joel,, buatlah lebih banyak!" perintah Bram seenaknya.


"Aku senang jika kau menikmatinya, tapi membuatnya tidak secepat saat kau memakannya," sambut Joel tergelak.


Untuk sesaat, Joel melirik Ariel yang memperebutkan makanan yang ia buat bersama Charlie dan Bram.


Mereka kembali menikmati sisa malam itu dengan canda tawa. Hingga saat malam semakin larut, mereka mengakhiri acara mereka.


"Aku akan mengantarmu, Charlie," ucap Bram.


"Hei,, jangan meremehkanku, aku bisa pulang sendiri," sambut Charlie.


"Aku tau, tapi biar bagaimanapun juga, kamu tetap wanita. Aku akan menjadi bre*n*sek jika membiarkanmu pulang sendiri," balas Bram.


"Kalau begitu, kau bisa mengantar Ariel," jawab Charlie.


"Ada Joel disini, tentu saja dia yang akan mengantarnya. Kita bagi tugas," jawab Bram.


"Baiklah,,, lakukan sesukamu," jawab Charlie menyerah.


Mereka berdua akhirnya pergi, meninggalkan Joel dan Ariel.


"Ayo pulang!" ajak Joel.


"Kita bereskan dulu semua ini, Joel," jawab Ariel menunjuk meja.


"Aku bisa melakukannya nanti setelah mengantarmu," jawab Joel.


"Membiarkanmu melakukannya sendiri itu tidak adil disaat kita mengacaukannya bersama," jawab Ariel.


"Ini sudah larut, Ariel. Aku bisa melakukannya sendiri nanti atau besok," bujuk Joel.


"Membiarkan ini sampai besok akan memancing serangga, Joel," balas Ariel.


"Aku bereskan dulu sebentar, dan aku tidak menerima penolakan," tegas Ariel.


Ariel membereskan beberapa gelas dimeja dan membawanya kedalam, sementara Joel yang merasa tidak punya pilihan lain membereskan sampah yang tersisa.


Sisa api unggun ditutup dengan pasir dan kayu sebagai tanda, sisa sampah yang tidak diselesaikan oleh Bram dikumpulkan menjadi satu dan meletakkannya dikeranjang sampah.


Merasa semua telah selesai, Joel segera masuk dan mendapati dapur telah bersih. Gelas telah dicuci dan diletakkan dirak pengering.


"Cepat sekali Ariel menyelesaikannya," gumam Joel.


Joel mengedarkan pandangannya mencari Ariel, dan menemukannya duduk bersandar di sofa.


"Ariel,,, Aku sudah selesai, ayo ku antar pul_lang,,," Joel mengecilkan suaranya.


Disofa, Ariel duduk dalam keadaan tertidur, hembusan nafasnya yang begitu tenang membuat Joel terus memandangi wajahnya.


Joel mendekat dengan langkah pelan, berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, dan duduk disamping Ariel.


Perlahan, tangannya terulur menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya,


"Rasanya tidak adil, ketika tidurpun kamu tetap terlihat cantik," gumam Joel.


"Jika aku memindahkannya, apakah dia akan terbangun?" gumam Joel lagi.


Merasa akan membangunkannya jika ia memindahkan Ariel, dengan hati-hati, Joel membaringkan Ariel di sofa, dan masuk kedalam kamar untuk mengambil selimut.


Joel menyelimuti Ariel dengan hati-hati, dan berlutut didepan Ariel yang masih tertidur, mengusap wajahnya dengan lembut lalu tersenyum.


"Selamat tidur, Sweety," bisik Joel seraya mencium kening Ariel.


Ketika Joel berdiri dan berniat untuk tidur disofa lain, tiba-tiba tangan Ariel menahan tangan Joel masih dalam keadaan tertidur.


"Sepertinya aku akan kesulitan untuk tidur malam ini," desah Joel meletakkan telapak tangan didahinya.


>>>>>>>--<<<<<<<


Disisi lain, Bram malajukan mobilnya kearah yang ditunjuk Charlie tanpa banyak bicara.


"Apakah kau masih belum bisa lepas darinya?" tanya Charlie memecah keheningan.


"Apakah aku memperlihatkannya dengan jelas?" jawab Bram balas bertanya.


"Sangat jelas, hingga aku berpikir Ariel pun akan menyadarinya," jawab Charlie.


"Kuharap itu tidak terjadi, karena mereka telah menjalin hubungan," ucap Bram.


"Apakah itu berdasarkan asumsimu saja?" tanya Charlie menaikan alisnya.


"Itu terlihat jelas, Charlie. Hanya saja mereka yang tidak memperlihatkan hubungan mereka karena ada perassan yang mereka jaga," ungkap Bram, tersenyum getir.


"Kenapa kau harus menghukum dirimu sendiri seperti ini, Bram?" sambut Charlie prihatin.


"Apa lagi yang bisa kulakukan?" balas Bram.


"Hal pertama yang harus kau lakukan adalah memaafkan dirimu sendiri," jawab Charlie.


"Sulit, tapi bukan hal mustahil untuk dilakukan," imbuhya.


"Yang aku lihat darimu sekarang adalah, kamu terus menyalahkan dirimu sendiri disaat Ariel bahkan dengan tulus telah memaafkanmu,"


"Meski aku juga tau, itu bukan berarti dia melupakan atas apa yang pernah kamu lakukan padanya. Tapi, dia mengambil langkah berani dengan cara berdamai dengan dirinya sendiri, sekarang giliranmu," tutur Charlie.


Bram merenungi tiap kata yang dilontarkan Charlie padanya. Tiap kata yang dikeluarkan Charlie hampir sama dengan apa yang di katakan Ariel padanya.


"Aku sedang mencobanya, tapi sepertinya usahku masih kurang," sambut Bram tertawa sumbang.


"Itu lebih baik dari pada kamu tidak mengusahakan apapun," balas Charlie.


"Ahh,,, itu, rumahku tak jauh lagi," seru Charlie menunjuk rumah berpagar.


Bram mengangguk dan menghentikan mobilnya didepan rumah berpagar.


"Apakah kau tinggal disini sendiri?" tanya Bram.


"Tidak, aku tinggal besama adikku. Tapi dia memiliki kesenangannya sendiri, jadi aku hanya bisa mendukungnya selama itu positif," jawab Charlie.


"Adik?" ulang Bram dengan kening berkerut.


"Ya, meski sedikit mengejutkan jika ternyata aku memiliki seorang adik dan aku bertemu dengannya belum lama ini," papar Charlie.


"Maksudmu, selama ini kamu terpisah dengannya?" tanya Bram.


"Benar, aku memintanya untuk tinggal bersamaku karena keluarga kami cukup rumit, dan aku tau dia tidak menyukai rumah itu, sama seperti aku yang juga membenci rumah itu," ungkap Charlie.


"Sekarang aku mengerti kenapa aku bisa merasa santai ketika bersamamu, termasuk Ariel," sambut Bram.


"Maksudmu?" tanya Charlie.


"Aku memiliki kisah yang mungkin hampir sama denganmu," ungkap Bram.


"Jadi, Ariel juga memiliki masalah yang sama? Mendapat tekanan keluarga?" tanya Charlie dengan wajah tak percaya.


"Dia tidak seberuntung itu, jika itu dibandingkan dengan yang aku dan kamu hadapi," terang Bram.


"Aku bisa membaca jalan ceritanya saat kamu mengatakan kamu tidak menyukai berada di rumah. Mereka yang menyebut dirinya orang tua, menekankan agar kita harus bersikap sebagai seorang anak dan membunuh perasaan yang ada di dalam diri kita sendiri,"


"Mereka memaksakan kehendaknya, dengan bumbu itu yang terbaik untuk masa depan, dan segala bentuk bujukan agar kita bergerak sesuai dengan keinginan mereka,"


"Dan kita hanya bisa menjadi boneka hingga kita melakukan pemberontakan karena hati kita lelah dan muak dengan semuanya,"


"Kau mengetahui dengan sangat tepat, Bram," sambut Charlie tersenyum getir.


"Kurasa, itu juga yang membuatmu bisa akur dengan Joel," imbuhnya.


"Dia? Hei,,, kau yakin dia bukan hanya sekedar anak manja?" tanya Bram tak percaya.


"Perbedaanya adalah, orang tuanya tidak pernah sekalipun menganggap dirinya ada. Dan dia dibesarkan oleh neneknya," ungkap Charlie.


"Sekarang terasa jelas kenapa kita bisa merasa nyaman dan tanpa beban ketika bersama. Kita, kau, aku, Joel, memiliki kisah yang hampir sama," lanjutnya.


"Termasuk Ariel," ralat Bram.


"Tadi kau berkata kita lebih beruntung darinya, apa yang terjadi dengan keluarganya?" tanya Charlie.


"Kedua orang tuanya tidak begitu merawatnya ketika dia masih kecil, dia hanya dirawat oleh pengasuh, ketika usianya belum mencapai lima tahun, mereka membuangnya. Mungkin terlalu kasar jika aku menggunakan kata dibuang, tapi aku tidak bisa memberikan kata yang lebih baik untuk orang yang meninggalkan seorang anak kecil ditempat kumuh begitu saja,"


"Dan Ariel harus bekerja untuk bertahan hidup. Namun dia juga diam-diam menyelinap ke tiap seklolah yang dia temui untuk belajar, meski pada akhirnya dia tidak bisa merasakan kehidupan sekolah," ungkap Bram.


"Dia hidup dengan tangan dan kakinya sendiri, selalu kabur ketika di tempatkan di panti asuhan oleh orang yang meneukannya, dan tidak lagi peduli dengan keluarganya,"


"Tentu saja dia tidak akan menceritakan hal ini kepada siapapun, tapi aku mengetahui ini dari orang yang mengetahui masa kecilnya," papar Bram.


"Sekarang aku bisa mengatakan bahwa kau memang bre*n*sek Bram," sambut Charlie.


"Kau mengetahui masa lalunya dan kau menyakitinya, apa yang ada di pikiranmu?" dengus Charlie.


"Aku mengetahui fakta ini setelah hubungan kami berakhir, Charlie. Dan kau tau? saat aku bertemu lagi dengannya setelah beberapa tahun tak bertemu, aku justru bersikap bodoh dengan memaksanya kembali padaku, apakah menurutmu aku yang seperti ini masih pantas untuk dimaafkan?" ratap Bram tersenyum getir.


Jeda keheningan panjang menyelimuti mereka, hingga Charlie kembali berbicara.


"Dia pernah mengatakan padaku bahwa dia benar-benar memaafkanmu, Bram. Yang dia lihat dalam dirimu yang sekarang adalah, kamu telah berubah," tutur Charlie.


"Jika kamu mengatakan hal ini didepannya, aku pastikan kamu akan mendapatkan tamparan gratis darinya," sambungnya.


"Mungkin memang itulah yang aku perlukan sekarang," sambut Bram tertawa sumbang.


"Sekarang aku harus masuk," ucap Charlie melirik pintu rumahnya.


"Sepertinya adikmu menunggumu," ujar Bram tersenyum simpul.


"Senang bisa menghabiskan waktu bersama lagi, Bram. Selamat malam," pamit Charlie.


"Selamat malam," jawab Bram.


Charlie segera turun dari mobil, tetap berdiri disana hingga mobil Bram menghilang dari pandangannya.


Tersenyum kecil, ia berbalik berjalan menuju pintu dan masuk kedalam rumahnya.


"Siapa yang mengantarmu? Diantar oleh seorang pria itu bukan sosok Charlie yang kukenal,"


Suara sarkas menggema menyambut Charlie ketika ia masuk kedalam rumah.


...>>>>>>>--<<<<<<<...