I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
127. Ancaman Basi



Didepannya, seorang pria paruh baya duduk dengan angkuh, menatap tajam pada Jesica yang terlihat sedikit abai. Pria yang tidak lain adalah Evrad, ayah dari Bram.


"Aku tidak akan tingal diam begitu saja jika kau tidak segera menghapus namaku dari daftar hitam," ujarnya dengan nada angkuh khasnya.


"Dan anda akan menganggu Ariel lagi? Memaksanya untuk menikah dengan putra anda?" cibir Jesica.


"Saya masih cukup bersabar dengan tetap menghormati anda sebagai orang yang lebih tua disini, namun jika anda kembali membuat masalah dan kembali melakukan hal tidak masuk akal, saya bisa saja menghilangkan sisi kemanusiaan yang saya berikan kepada anda," tegas Jesica.


Wajahnya menunjukan ketegasan yang tidak gentar dengan ancaman yang Evrad ungkapkan.


"Ariel sudah menikah, apakah menurut anda dia bersedia menikah dengan orang yang tidak dia cintai?" ujar Jesica.


"Ariel mencintai anakku," tegas Evrad kekeh dengan pemikiran kolotnya.


"Dulu,, ya,,sebelum Bram menyakitinya. Namun itu tak berlaku lagi, sekarang dia hanya mencintai satu pria, dan itu adalah suaminya sekarang," tegas Jesica.


"Omong kosong,!" sergah Evrad.


"Ariel mencintai anakku, hingga dia rela melakukan apapun yang aku inginkan hanya agar bisa tetap bersama, Bram anakku," sambungnya.


"Apapun yang anda inginkan?" ulang Jesica dengan kerutan tajam di keningnya.


"Apa yang sedang anda bicarakan?" tanya Jesica.


"Aku memberinya satu permintaan, dan itu adalah dengan membuat semua orang mengenal siapa dia hanya dengan menyebutkan namanya," ungkap Evrad


"Apa yang dia capai, tidak ada hubungannya dengan hal konyol itu," dengus Jesica mulai terpancing emosi.


"Dia hanya bodoh karena menutupi identitasnya dan menghindari sorotan media," lanjut Evrad tanpa beban. "Aku membantunya agar semua orang tau siapa dia," imbuhnya.


"Lebih bodoh lagi karena dia pergi ke kota ini dan menjadi pelatih di studio kumuh, melatih orang-orang yang bahkan belum tentu akan memiliki kesempatan untuk bergabung di grup orkestra terendah," jelas Evrad.


"CUKUP,,!!!" bentak Jesica.


"Satu hal yang harus anda tau," ucap Jesica dengan tatapan tajam.


"Ariel adalah sahabatku, tak seorangpun boleh menyentuhnya tanpa ijin dariku. Termasuk kau, tua bangka menyebalkan!" ujarJesica sembari mangacungkan telunjuknya.


"Ternyata dugaanku benar," sambutnya dengan suara tenang.


"Kau mendekatiku dan masuk kedalam lingkaran yang bertentangan dengan hatimu hanya untuk melindunginya," ucap Evrad dengan suara sinis.


"Mengesankan," ujarnya datar.


"Apakah itu artinya kau juga mencintai anakku?" tanyanya dingin.


"Apapun jawabannya, itu tak akan mendatangkan keuntungan bagimu, bukankah begitu?" sambut Jesica segera menangkap apa maksud dari perkatan Evrad.


"Gadis cerdas," puji Evrad tersenyum senang.


"Tapi, ada yang harus anda tau tuan Evrad yang terhormat," ujar Jesica tersenyum percaya diri.


"Yang menghapus informasi Ariel dari media dan menutup rapat semuanya bukanlah aku. Tapi, aku bersyukur bantuan itu datang dari seseorang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dariku," ungkap Jesica.


Pernyataan itu membuat Evrad melebarkan kedua matanya. Ia tak menyangka seseorang yang memiliki posisi lebih tinggi dari Jesica akan membantu Ariel secara diam-diam, bahkan sampai sekarang ia tidak tau siapa orang itu selain fakta tentang orang itu bisa melakukan apa saja.


"Tentu kau tau apa artinya itu bukan?" sambung Jesica.


"Dan kau tau apa? Aku tak perlu lagi bersikap hormat padamu karena kau tak layak sama sekali mendapatkan sambutan hormat dari siapapun termasuk anakmu sendiri," ujarnya.


Evrad terdiam. Tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas Jesica.


"Jika kau masih tetap tidak berhenti, maka jangan salahkan aku jika aku mengungkapkan kepada media tentang kekerasan yang pernah kau lakukan terhadap anak di bawah umur yang pernah kau lakukan!"


'DEG,,,!'


Bagai disambar petir, Evrad terkejut bukan main dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bangun dari duduknya, menatap tajam Jesica yang justru menantangnya. Seolah ia telah memiliki semua bukti yang di butuhkan untuk melakukan niatnya.


"Sekarang aku minta dengan sangat," ucap Jesica lagi seraya bangun dari duduknya.


"Tolong tutup pintu itu dari luar!" pinta Jesica meninjuk pintu dengan tangannya.


Evrad tidak mengatakan apapun meski ia menuruti apa yang Jesica minta. Namun ia berpikir keras untuk mencari tau darimana Jesica mengetahui rahasia yang telah ia simpan selama bertahun-tahun. Ia sadar bahwa Jesica tidak main-main dengan apa yang baru saja diucapkannya.


'SRUUGHH,,,'


Jesica terduduk dalam keheningan panjang setelah pintu tertutup rapat. Ia kembali mengingat apapun yang bisa membantunya untuk mengentahui siapa orang yang telah menghapus semua data Ariel yang telah tersebar luas tanpa cela. Bahkan bisa di katakan sangat sempurna tanpa satu goresan kesalahan.


"Jika orang seperti itu berada di pihak kami, dan melindungi Ariel, itu akan sangat menguntungkan. Tapi_,,,"Jesica menelan ludahnya.


"Jika orang seperti itu berbalik menyerang, aku tidak tau apa yang bisa aku lakukan,"


Apapun usahanya, Jesica tetap tidak bisa mengetahui apapun, orang itu melakukan hal yang nyaris mustahil di lakukan, dia bahkan bisa menghilangkan jejaknya sendiri tanpa bekas, hingga sangat sulit melacaknya.


"Peretasan," gumam Jesica.


"Joel, Sam, hanya mereka berdua yang tau tentang peretasan, tapi kemampuan mereka tidak sebaik kemampuan orang itu. Siapa dia? Dan kenapa membantu Ariel? Ada hubungan apa?"


"Haiss,,, apa yang sedang mereka lakukan sekarang? Jika aku menghubungi Ariel sekarang, itu sama saja aku menganggunya," gumamnya.


Jesica kembali menghembuskan nafas pelan, lalu tersenyum tipis mengingat hubungannya dengan sahabat terbaiknya jauh lebih dekat dari sebelumnya, bahkan lebih dekat saat mereka belum mengenal Bram untuk pertama kalinya. Tanpa sadar, mata Jesica perlahan terpejam, meninggalkan hembusan nafas lembut dan teratur.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


"Hey,,, Sweety,, bangun,,,"


Suara lembut Joel terdengar disertai tepukan lembut dipipi Ariel membuat ia sedikit mengeliat.


"Mhmm,,,,?"


Belum tersadar sepenuhnya, Ariel membuka sedikit matanya, melihat Joel duduk di tepi tempat tidur telah memakai setelan pendek santainya.


"Sejujurnya aku lebih ingin kamu tetap tidur, tapi kamu juga perlu makan," ucap Joel mengusap lembut puncak kepala Ariel.


"Ayo bangun, dan kita makan siang," lanjutnya.


Ariel mengangkat tangannya, menunjukan lima jarinya dengan mata masih tertutup.


"Lima menit lagi," ujar Ariel sedikit parau.


"Baiklah, aku akan siapkan air untukmu berendam," sambut Joel tersenyum.


Joel pergi ke kamar mandi, mengisi bathub dengan air hangat. Memastikah suhu airnya cukup, ia kembali menghampiri isterinya yang masih tidur karena ulahnya.


"Hey,,,Sweety,,, ayo bangun! Air sudah siap," ucap Joel.


Ariel mengeliat, merubah posisinya menjadi duduk dan baru akan bergerak untuk turun dari tempat tidur ketika gerakannya terhenti sembari meringis menahan sakit di tubuhnya.


Joel segera menyadarinya mulai menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh polos Ariel dan mengangkatnya menuju kamar mandi.


"Sepertinya ada bayi besar di rumah ini," goda Joel terkekeh pelan dan segera mendapatkan pukulan ringan di dadanya.


"Kamu pikir, karena siapa aku seperti ini?" sungut Ariel.


Joel hanya tertawa ringan sembari menurunkan Ariel dengan perlahan kedalam bathub berisi air hangat. Tangannya mengikat rambut panjang Ariel agar tidak basah, lalu mengecupnya.


"Berendamlah sebentar, aku akan manyiapkan makan siang untukmu," ucap Joel.


"Uhm,,, Bunny,,"


"Ya,?" sambut Joel.


"Apakah aku bisa mendapatkan sesuatu yang dingin dan segar?" pinta Ariel.


"Apapun yang kamu inginkan," sambut Joel.


Seutas senyum tipis tumbuh di bibir Ariel kala merasakan kelembutan suaminya. Ia bersandar dengan mata terpejam, berharap rasa lelah yang ia rasakan meninggalkan tubuhnya dengan berendam.


Tanpa menutup pintu, Joel meninggalkan Ariel berendam sementara dirinya menyiapkan makan siang. Tak lupa, ia juga memesan makanan yang diminta isterinya.


Makanan yang ia pesan datang tepat setelah ia selesai menyiapkan makan siang. Segera ia kembali ke kamar untuk memanggil isterinya, mengajaknya makan siang bersama.


Ketika Joel kembali ke kamar, ia melihat Ariel baru saja selesai mengenakan atasan tanpa lengan dengan celana pendek diatas lutut. Rambutnya yang terikat sedikit berantakan justru menambah kesan manis di wajahnya.


"Sudah selesai?" tanya Joel pura-pura kecewa.


"Apa?" sambut Ariel berbalik menghadapnya.


"Berharap aku masih didalam kamar mandi?" sambungnya sembari menyipitkan mata.


"Lebih dari apapun," jawab Joel cepat.


"Mesum," sindir Ariel.


"Itu bukan masalah selama aku melakukannya didepanmu bukan?" jawab Joel enteng.


Ariel menepuk dahinya, lalu mendorong Joel keluar kamar menuju meja makan yang telah tersaji menu makan siang sederhana.


Ariel menikmati makan siang dengan lahap, seolah memperlihatkan bahwa dirinya benar-benar kelaparan. Hingga Joel mengatakan sesuatu yang membuat gerakan tangannya terhenti.


"Aku sudah mengatur perjalanan ke Karibia untuk malam ini,"


Satu kalimat itu cukup untuk membuat Ariel kembali bergidik, gerakan tangannya yang tengah menyuapkan makanan kedalam mulutnya terhenti begitu saja, digantikan dengan wajah muram.


.....


.....


.


To be Continued...