
###Pagi hari. . . .
Ariel duduk dibalkon kamarnya, masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia kenakan saat merayakan ulang tahunnya bersama ketiga temannya.
Duduk bersandar pada satu-satunya kursi malas yang ada dibalkon kamarnya. Matanya terlihat lelah karena tidak tidur sejak kejadian tak terduga yang terjadi tadi malam.
"Haahhh,,," Ariel mendesah pelan.
"Kenapa aku begitu memikirkan perkataan Jessi? Kenapa aku harus merasa terganggu dengan kemunculannya yang terlihat sangat mengenal Joel?" ucap Ariel pada diri sendiri.
"Pada akhirnya, aku menyia-nyiakan usaha mereka yang menyiapkan kejutan ulang tahun untukku. Padahal aku tak berniat begitu," ucapnya lagi.
"Sepertinya aku harus meminta maaf pada mereka," imbuhnya
Ariel menyisir rambut mengunakan jarinya, lalu menghela nafas panjang. Matanya menerawang menatap langit yang berubah semakin terang.
Bangun dari duduknya, Ariel segera masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke studio.
Beberapa saat kemudian, Ariel duduk dimeja riasnya. Mencoba menutupi wajah lelahnya menggunakan riasan.
"Aku tidak bisa mengabaikan jadwal latihan kali ini. Pertunjukan mereka sangat penting bagi mereka," ucap Ariel menatap bayangan dirinya sendiri dicermin. "Terutama Ken," imbuhnya.
Ariel menyambar tas yang tergletak di meja dan segera keluar dari apartemennya menuju studio.
>>>>>><<<<<<
Ditempat lain pada waktu yang sama.
Joel bersiap untuk berangkat menuju rumah sakit untuk bekerja.
Tepat saat Joel keluar dari rumahnya, ia dikejutkan dengan kedatangan Jesica yang tersenyum kepadanya.
"Akhirnya aku menemukan rumahmu, Joel. Ternyata kamu benar-benar masih menyukai pantai, sama seperti dulu," ucap Jesica tersenyum cerah.
Joel menatap datar dan mengabaikan Jesica untuk menuju mobilnya.
"Kau akan menyesal jika terus mengabaikanku, Joel," ucap Jesica dengan seringai licik di wajahnya.
"Bahkan kalaupun kau membunuhku sekalipun, aku tak peduli," jawab Joel dingin.
Joel terus melangkah tanpa memperdulikan ucapan Jesica.
"Benarkah? Itu terdengar menarik. Tapi, apakah kamu tidak mau mendengar apa yang akan terjadi pada Ariel?" cibirnya.
Joel berhenti tepat saat tangannya hendak membuka pintu mobil. Amarah dengan cepat merayap kewajahnya, dan berbalik menatap tajam Jesica yang menyeringai lebar padanya.
"Kau mengancamku?" dengus Joel.
"Ini dinamakan negoisasi, Joel," sambut Jesica.
Jesica melangkah maju mendekati Joel. Tangannya terulur dan meletakkan telapak tangannya dipipi Joel, lalu tersenyum.
"Lagi pula, aku tidak akan menyakitimu, terlebih lagi dengan wajah tampan ini, aku tidak bisa membiarkanya tergores sedikitpun," ucap Jesica.
Rahang Joel mengeras dengan tangan mengepal disisi tubuhnya. Menatap tajam pada Jesica.
"Persetan dengan semua hal yang kau katakan padaku," ucap Joel sengit sembari menepis tangan Jesica.
Joel segera masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan Jesica begitu saja. Sementara Jesica masih belum beranjak dari tempatnya. Menatap kepergian Joel, dan kembali tersenyum.
"Kita akan lihat, sajauh mana kau akan terus menghindariku, Joel," ucapnya.
Jesica mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Cari sebanyak mungkin informasi tentang orang yang fotonya kukirim padamu. Kau harus memberikan hasilnya kurang dari dua hari," perintahnya pada seseorang melalui ponselnya.
"Baik," jawaban patuh terdengar dari seberang telepon.
Dengan hal itu, Jesica kembali memasukkan ponsel kedalam saku celanannya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Disisi lain, Joel baru saja tiba dirumah sakit dan segera menuju ruangannya untuk berganti pakaian.
Sebelum ia mulai bekerja, Joel mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Ariel.
Tut,,,,
Joel mendesah pelan dan mencoba menghubungi lagi.
Lagi,,,
Panggilan kelima Joel masih tetap tidak dijawab. Dan mencoba sekali lagi,
"Apakah kau benar-benar marah padaku, Ariel?" gumam Joel merasa frustasi.
Joel memutuskan untuk mengirim pesan dan memasukkan ponsel kedalam saku celananya setelah mematikan suaranya.
Tanpa Joel ketahui, Charlie melakukan hal yang sama. Begitu pula dengan Bram. Merasakan hal yang sama dengan yang Joel rasakan mengingat Ariel tidak menjawab satupun panggilan dari mereka.
>>>>>>><<<<<<<
#Di studio..
Saat Ariel tiba, ia disambut dengan tingkah aneh semua orang yang ada disana. Setiap orang yang melewatinya menundukkan kepala mereka, engan menatap mata Ariel dan hanya menyapanya dengan gugup.
"Ada apa dengan mereka?" gumam Ariel ketika tiba di ruang latihannya.
Sementara itu, beberapa orang yang sebelumnya berpapasan dengan Ariel tengah membicarakan tentang dirinya.
"Beliau cantik, dan memang jarang tersenyum sejak datang ketempat ini. Kemampuannya juga luar biasa, tapi kenapa kalian seperti takut pada beliau?"
Seorang pria bertanya kepada dua teman yang ada didepannya. Sebelumnya mereka berpapasan dengan Ariel sebelum memasuki ruang latihan mereka yang dilatih oleh salah satu teman Ariel.
"Kau ini tidak tau atau pura-pura tidak tau sih?" decak temannya kesal.
"Hei,, aku tidak tau apa yang terjadi selama seminggu terakhir karena aku ijin," sanggahnya.
"Kalau begitu, kenapa kau tidak tanyakan langsung saja padanya?" ledek teman satunya lagi.
"Ah,,, kau benar. Sekalian saja aku pindah. Aku merasa coach Ariel tidak keberatan jika aku memintanya untuk melatihku," ucapnya bersemangat.
Dia segera berdiri dan berniat perg namun tertahan oleh tangan temannya.
"Heh,,, kamu mau cari masalah?" decaknya kesal.
"Apa sih, apa salahnya? Toh coach Gerry belum datang. Dan ini pertama kalinya aku melihat coach Ariel datang sepagi ini," sambutnya.
"Kemarin, coach Ariel baru saja marah besar kepada kita semua, lebih tepatnya semua yang ada di studio ini," terangnya.
"tentu ada alasan dibalik ini bukan?" tanyanya.
"Memang ada, dan beliau memang sedikitpun tidak membentak kami, tapi justru itu yang terlihat lebih mengerikan,"
"Ahh,,, aku tidak percaya jika coach Ariel akan bersikap seperti yang kalian pikirkan. Dan aku akan membuktikannya. Sekrang aku mau kesana," ungkapnya.
"Hei,,,Niels,,, kembali,,," teriak temannya meminta dia yang bernama Niels untuk membatalkan niatnya.
Niels hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. Ia segera mendatangi ruang latihan Ariel yang menurutnya kosong.
Namun, ketika ia tiba disana, Ariel tengah melatih satu muridnya memainkan Cello.
Niels memperhatikan bagaimana cara Ariel melatih, dan terpana saat jarinya yang mengambil alih memainkan alat musik yang dipegang muridnya untuk memberikan contoh.
"Masuk, dan tutuplah pintunya jika memang kamu ingin masuk," ucap Ariel tanpa menoleh.
"Eh-hh,,, anu,, saya,, ma-af,, saya akan keluar," ucap Niels tergagap.
'Ishh,,, memalukan. Aku jadi terlihat seperti penyusup,' rutuk hatinya.
Ariel berbalik dan menatap orang yang masuk ke ruang latihannya tanpa mengetuk pintu.
"Tunggu sebentar," cegah Ariel.
'Oh sial,,, apakah aku akan dihukum? Kenapa setelah berhadapan langsung aku jadi begini sih,' ratapnya.
Niels menutup matanya dan berputar untuk menghadap Ariel yang masih menatapnya.
"S-saya tidak b-bermaksud untuk mengintip," ucap Niels gugup.
"Hahhh,,," desah Ariel pelan.
"Apakah kau bermain piano dengan posisi punggung seperti itu?" ucap Ariel membuat Niels menegakkan kepalanya.
"B-b-bagaimana anda bisa tau s-saya memaninkan piano?" tanya Niels dengan raut wajah tak percaya.
"Kemarilah, dan katakan apa ynag ingin kau katakan," pinta Ariel tidak menjawab pertanyaan Niels.
'Ukh,,,, bagaimana jika aku dihukum?' batinnya.
"Kalau kakak memintanya dengan cara seperti itu, dia akan takut," celetuk Ken terkekeh pelan.
"Aku bahkan tidak mengigit, apa yang membuatnya takut?" sambut Ariel.
"Kak Ariel bahkan tidak menyadarinya," Ken tergelak sembari menepuk dahinya.
'Merek terlihat akrab sekali, aku bahkan tidak bisa seakrab itu pada coach Gerry,' batin Niels.
"Jadi, apa kau mau tetap diam atau mau bicara?" ucap Ariel lagi membuyarkan lamunan Niels.
"Itu,,, saya,,emm,,, saya ingin meminta bantuan anda, coach," ungkap Niels.
"Maksudmu, melatihmu?" tebak Ariel.
"Benar," jawab Niels mengangkat wajahnya, ingin menunjukkan kesungguhannya. Namun kembalu menunduk saat bertemu mata Ariel
"Baik, dengan satu syarat," jawab Ariel tanpa erpikir.
"Ehh,,, anda serius, coach?" Niels segera mengangkat wajahnya.
Ariel melipat tangannya dan menatap Niels.
"Apa syaratnya?" tanya Niels.
"Jangan gunakan sebutan itu padaku!" tegas Ariel.
"Ehh,, Tapi_,,,"
"Hanya itu syaratnya, mau atau tidak itu terserah padamu," tegas Ariel.
"Tapi, jika saya memanggil coach Ariel, bukan dengan sebutan itu, saya harus memanggil apa?" tanya Niels binggung.
"Sama sepertinya," jawab Ariel mengerakkan kepalanya menunjuk Ken.
"Apa?" Niels terkejut dengan perintah Ariel.
"Itu permintaan, bukan perintah. Dan satu hal lagi, aku tidak menerima sikap formalmu padaku," papar Ariel.
"Itu,,, apakah tidak berlebihan?" tanya Niels gugup.
Ariel manaikan bahunya dan berbalik memungungi Niels, menghampiri ponsel yang ia letakkan di atas tas miliknya.
'Kenapa banyak sekali panggilan tak terjawab? Dan pesan masuk?' batin Ariel.
Ariel membuka salah satu pesan dan itu dari Joel,
[ @Joel " Aku minta maaf, Ariel."]
...>>>>>--<<<<<...