I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
14. Si Korban



Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~


 


Pagi itu, di rumah sakit terlihat Joel dengan langkah terburu-buru menyusuri lorong rumah sakit menuju ruang rawat pasien yang ternyata adalah korban tengelan yang telah di tolongnya.


Joel mendapatkan telepon pagi ini yang mengatakan bahwa korban tengelam telah sadar. Mendengar kabar baik itu, Joel bergegas datang ke rumah sakit dan melupakan sarapannya.


Begitu tiba di ruang rawat, Joel di sambut dengan senyum lembut berwajah pucat dari seorang wanita yang tengah duduk bersandar.


"Ah,,, senang sekali melihat anda telah sadar, nona" ucap Joel lembut.


"Bagaimana perasaan anda?" tanya Joel sembari menerima laporan pemeriksaan dari seorang suster yang baru saja memeriksa keadaannya.


"Saya hanya merasa pusing, Dokter," balasnya.


"Hemmm,,,, tidak ada masalah serius mengenai kesehatan anda, anda hanya sedikit syok," terang Joel.


"Baiklah,,, nona Christina.Selain pusing, adakah anda merasakan hal lain, seperti kram?" tanya Joel lagi menatap Christina setelah melihat laporan medisnya.


"Tidak ada, Dokter. Hanya pusing, " jawabnya terus menatap Joel dengan pandangan kagum.


"Anda bisa berbicara santai, nona. Saya tidak keberatan. Dan tolong rileks saja," ucap Joel ramah.


"Baik,, tidak ada masalah yang serius, apakan anda sudah minum obat anda?" tanya Joel lagi seraya menyerahkan laporan medis kepada perawat yang segera pergi meninggalkan ruangan.


Christina mengangguk dengan wajah memerah.


"Anda ingin mengatakan sesuatu, nona?" tanya Joel melihat Christina ragu-ragu.


"Apa_,, Apakah anda yang menyelamatkan saya tempo hari, Dokter?" tanya Christina malu-malu.


"Itu adalah sebuah kebetulan. Saya sedang berada disana bersama seorang teman. Dan teman sayalah yang pertama kali melihat anda," terang Joel.


"Bisakah saya berbicara tidak formal kepada anda, dokter?" tanya Christina.


"Tentu saja, anda bisa melakukannya," balas Joel.


"Tapi saya harap, anda juga melakukan hal yang sama," harap Christina.


"Tentu" jawab Joel.


"Aku benar-benar berterima kasih karena kamu telah menyelamatkanku, dokter," ucap Christina dengan senyum manis dibibirnya.


"Panggil Joel saja," ucap Joel balas tersenyum.


"Sebenarnya jika bukan karena dia yang melihatmu lebih dulu, aku mungkin tidak akan melihatmu tengelam," terang Joel.


"Tapi pada akhirnya kamulah yang menyelamatkanku, bukan dia," sanggah Chrietina.


"Percayalah, jika dia bisa, dia pasti akan menyelamatkanmu juga," terang Joel.


"Lalu, kenapa dia tidak?" tanya Christina.


"Karena dia ada di kondisi tidak bisa melakukannya," papar Joel tersenyum.


"Begitukah?"


"Tentu saja,aku akan mengenalkanmu padanya lain waktu," ucap Joel tetap tersenyum.


"Aku tidak menyangka kamu juga seorang dokter," ungkap Christina.


"Semula, ku pikir kamu juga salah satu penjaga pantai yang bertugas hari itu," sambungnya.


"Aku senang kamu selamat," sambut Joel.


Christina tersenyum dengan binar dimatanya, dan terus menatap Joel. Sementara Joel hanya tersenyum ramah seperti yag biasa dia tunjukkan untuk pasien lain.


"Kapan aku boleh pulang?" tanya Christina.


Melihat kondisimu, kamu bisa pulang besok siang. Untuk hari ini, kami ingin memastikan kamu benar-benar telah pulih," jelas Joel.


Christina bersorak senang dalam hatinya. Bahkan berharap bisa berada di sana lebih lama dibawah perawatan Joel.


"Terima kasih, Joel," ucap Chriestina.


"Itu sudah menjadi tugasku, Christina," sambut Joel.


"Baiklah, aku akan pergi untuk memeriksa pasien lain. Jika kamu memerlukan bantuan, kamu bisa menekan tombol untuk memanggil perawat yang siap membantumu," saran Joel.


"Aku akan kembali memeriksa kondisimu siang nanti," sambungnya.


"Baiklah, terima kasih," sambut Christina.


Joel tersenyum sesaat sebelum pergi meninggalkan ruangan dimana Christina berada.


'Dia tampan, penuh perhatian dan seorang dokter. Menakjubkan, aku bertemu pria sempurna di saat tidak terduga,' batin Christina.


Chrstina masih menatap pintu dimana Joel menghilang lalu tersenyum penuh arti. Menanti waktu dimana Joel akan datang lagi.


...>>>>>>--<<<<<<<...


Di sisi lain pada saat yang sama.


Disebuah ruangan besar dengan berbagai macam alat musik berada di dalamnya. Mulai dari piano, biola, cello, harpa dan berbagai alat musik yang tidak kalah menarik tertata rapi pada tempatnya masing-masing.


Deretan kursi dengan kain beludru warna merah berjajar dengan rapi dan memberikan kesan mewah.


BRAAKKK,,,,,!!??!!


Pintu ganda ruangan itu tiba-tiba terbuka dengan kasar. Di balik pintu, Ariel muncul dengan wajah marah.


Amarahnya kian bertambah saat dirinya tiba diruangan itu dan mendapati ruangan itu kosong.


"Keluar kalian,!" santak Ariel.


Suara sentakan Ariel mengelegar mengisi seluruh ruangan.


Tak lama kemudian, seseorang muncul dari balik piano. Beberapa muncul dibalik deretan kursi kosong.


Kepala mereka tertunduk. Wajah takut dan marasa bersalah terlukis di wajah mereka. Dengan langkah berat, mereka melangkah menghampiri Ariel dan berdiri di depannya dengan kepala tertunduk dalam.


"Angkat wajah kalian!" hardik Ariel.


Dengan gemetar, mereka menurut.


"Katakan padaku, siapa yang menghancurkan cello yang ada di ruangan sebelah?" tanya Ariel dengan suara berat.


"Itu,,, kami,,, anu,,,"


Mereka saling bergumam dan saling dorong untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Jawab!!!" sentak Ariel.


"K-K-Kami, tidak mengenalnya. T-T-tiba-tiba orang itu memainkan cello-nya dan ketika nada yang dihasilkan sumbang, tiba-tiba ada bunyi keras." ucap salah satu dari mereka dengan terbata.


"Saat kami memeriksanya, orang itu lari meninggalkan cello yang sudah seperti itu," sambung yang lain.


"Lalu kenapa kalian kabur saat aku datang?" sosor Ariel tidak puas.


"Kami,,,, hanya,,,, "


Mereka kembali terbata dan tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ketika suara lembut terdengar dari sisi lain.


Sebuah sindiran terdengar dari balik punggungny membuat Ariel berbalik dan mendapati temannya tengah berjalan menghampiri mereka.


"Kalau begitu, kau saja yang menanyakan tentang Cello itu pada mereka," sambut Ariel.


"Bukankah tadi mereka sudah mengatakannya?" balasnya tersenyum.


"Tenanglah, caramu hanya akan manakuti mereka," sambungnya.


"Kau tak tau kan kalau yang mereka katakan adalah bohong?" sambut Ariel.


"Darimana kamu bisa tau jika mereka berbohong?" tanyannya kaget.


"Tangan mereka, dan juga cara mereka menjawab pertanyaanku," jawab Ariel mulai tenang.


"Dan yang membuaku kesal adalah mereka menjawab dengan berputar-putar tanpa menyadari bahwa aku tau mereka telah berbohong," terang Ariel.


Ariel kembali menatap tajam pada mereka yang kian menundukkan kepalanya.


"Ah sudahlah,,!!! Kau saja yang mengurusnya, Gerry. Kau tau dimana bisa menemuiku," ucap Ariel, lalu berbalik.


" Dan untuk kalian, latihan akan tetap di lanjutkan setelah makan siang!" tegas Ariel tanpa menatap mereka dan berlalu pergi.


Mereka merosot dan bersimpuh dengan wajah penuh penyesalan.


"Kami bersalah, tapi kami takut sekali saat melihat kak Ariel marah," terang salah satu dari mereka yang bernama Ken.


"Kalian masih berani mencari masalah dengannya?" sindir Gerry tesenyum.


"Kami tidak mencari masalah. Tapi kami sungguh tidak sengaja melakukannya," jawab murid lain yang bernama Alex.


"Kalian hanya harus minta maaf padanya dan mengakui kesalahan kalian, maka dia tidak akan marah lagi," jelas Gerry.


Mereka kembali menunduk. Sementara Ariel telah kembali ke ruangan dimana cello yang ada disana telah rusak.


Tangannya meraih Cello itu dan mengecek kondisinya.


"Aku harus tetap membawanya ke tempat reparasi atau mengantinya dengan yang baru," gumam Ariel lalu mendesah pelan.


Pagi ini, Ariel ada jadwal mengajar hingga sore. Namun Ariel terkejut saat tiba mendengar suara berdebam keras dari ruangan yang selalu ia gunakan untuk melatih murid-muridnya.


Yang membuatnya lebih kesal adalah tidak satupun diantara mereka yang mengacau mengakui kesalahan dan memilih kabur hingga bersembunyi di ruang latihan Gerry.


Ariel menyelipkan tangan diantara rambutnya dan mengacak pelan.


"Aku memang memiliki Cello di apartemenku, tapi jika aku menukarnya begitu saja, itu akan terlalu mencolok," desahnya.


"Tempat reparasi mana yang bisa memperbaiki ini dengan cepat?" gumam Ariel.


Tepat saat Ariel tengah binggung, ponselnya berdering, dengan nama Joel di layar ponselnya.


"Ada apa dia pagi-pagi menghubungiku?" gumam Ariel pelan


Namun, Ariel tetap menerima telepon dari Joel.


"Ya, Joel?" sambut Ariel setelah meletakkan ponsel ditelinganya.


"Apakah kamu sibuk?" tanya Joel.


"Bukankah seharusnya kaulah yang sibuk disini?" balas Ariel bertanya.


"Ha ha ha,, memang benar. Tapi aku telah selesai di jam ini dan kembali bekerja setelah jam makan siang. Itu di luar situasi darurat," jawab Joel.


"Kau terdengar terlewat santai untuk seorang dokter," sindir Ariel.


"Ini hanya sedikit waktu yang bisa ku gunakan. Tapi, katakan padaku satu hal," pinta Joel.


"Apa itu?" tanya Ariel.


"Apa yang membuatmu kesal di pagi hari?" tanya Joel.


"Hal apa yag membuatmu kesal pagi ini?" tanya Joel.


"Maksudmu?" jawab Ariel balas bertanya.


"Dari suaramu, kamu terdengar seperti ingin membunuh seseorang," sindir Joel.


Ariel tertawa ringan. Merasa jauh lebih tenang dengan ucapan konyal yang Joel lontarkan padanya.


"Aku penasaran bagaimana caramu bisa menebaknya?" sambut Ariel.


"Aku hanya memiliki pendengaran yang bagus," ucap Joel percaya diri.


"Tck,, dan sekali lagi, kau mulai mengeluarkan sisi sombongmu," decak Ariel lalu tertawa pendek.


"jadi, katakan padaku, apa yang terjadi?" tanya Joel lagi.


"Hanya kesal karena seseorang telah merusak Cello yang di gunakan untuk latihan anak didikku," ungkap Ariel.


"Apakah itu parah?" tanya Joel lagi.


"Entahlah, aku tidak tau bagaimana mejelaskannya, tapi tiap tepi Cello retak, senarnya beberapa putus. Dan saat kuganti senarnya, nada yang di keluarkan benar-benar asing dan tidak enak di dengar," papar Ariel.


"Hei,, aku tau informasi bagus tentang tempat reparasi alat musik. Mungkin kamu tertarik untuk mencobanya?" tawar Joel.


"Benarkah?" sambut Ariel senang. " Dimana itu?" sambungnya.


"Tempatnya memang agak jauh, tapi dia sungguh orang yang sangat hati-hati jika memperbaiki alat musik yang rusak," terang Joel.


"Bisakah kamu mengirikan alamatnya padaku?" harap Ariel.


"Aku bahkan tidak keberatan untuk mengatarmu kesana, Ariel," ungkap Joel.


"Benarkah? Kamu serius?" seru Ariel senang.


"Tentu saja," jawab Joel. " Bagaimana jika sore ini?" ajak Joel.


"Terdengar bagus," sambut Ariel.


"Kalau begitu, kita sepakat. dimana aku harus menjemputmu. Aku belum tau tempatmu berkerja," tanya Joel.


"Aku akan mengirimkan lokasinya padamu," jawab Ariel.


"Oke,,, oh aku lupa memberitaumu kabar baik. Wanita korban tengelam kemarin sudah sadar, dan dia jauh lebih baik sekarang," papar Joel.


"Itu melegakan, kuharap dia baik-baik saja," sambut Ariel lega.


"Dia baik, bahkan besok sudah diperbolehkan pulang," terang Joel.


"Aku turut senang mendengarnya," uangkap Ariel.


"Kalau begitu sampai jumpa nanti sore," ucap Joel.


"Sampai bertemu lagi," balas Ariel.


Ariel meletakkan ponselnya setelah Joel mematikan pnggilannya. Menghela nafas lega, Ariel menyandarkan punggungnya lalu memejamkan mata. Namun, detik berikutnya, seseorang datang dan membuat Ariel terkejut.


"Bram,,,!!!!"


...>>>>>>--<<<<<<<...