
"Apa yang akan kau katakan jika aku mengatakan menikahlah dengan anakku Bram?" tanya Evrad.
"UHUUKKK,,,!!!!!"
Ariel gagal menelan minuman yang baru saja ia teguk, hampir saja menyemburkan minuman dimulutnya dan berakhir dengan tersedak.
"A-A-Apa,,,????" tanya Ariel melebarkan matanya sembari menutupi mulutnya dengan sapu tangan.
"Kenapa kau seterkejut itu, Ariel? Bukankah kamu mencintainya? Sama seperti dia yang mencintaimu?"
"Kamu tidak pernah lagi datang ke rumah karena sikapku, bukan? Aku akan meminta maaf tentang itu," ujar Evrad tersenyum.
"Dan sekarang kamu berada disini, jauh dari kekasihmu. Tidakkah kau merindukannya?" tanyanya.
'Ingin sekali aku memukulnya sekali saja. Dia mengatakan omong kosong seperti ini seolah aku akan tersentuh begitu dia selesai mengatakannya. Setelah semua perlakuannya, dia mengatakan hal konyol dengan muka badak seperti itu,' rutuknya dalam hati.
"Apapun yang kau inginkan untuk pernikahan aku akan memenuhinya, dan kau tidak perlu memikirkan apapun yang berhubungan dengan acara pernikahan. Karena mengingat kau tidak memiliki orang tua," ujar Evrad.
'Jadi Bram berada disini tanpa sepengetahuannya? Itu berarti Jessi juga tidak mengatakan padanya bahwa Bram berada disini, apa maksudnya?' batin Ariel
Ariel mengepalkan tangannya, mendengar ucapan pria didepannya sungguh menyulut emosi didalam dirinya yang telah lama ia pendam.
Emosi pada pria didepannya, emosi pada orang tua yang telah membuangnya, emosi pada pengkhianatan sahabatnya sendiri, meskipun sampai detik ini di hatinya, Ariel masih belum percaya dengan pengkhianatan itu.
Tetap saja, rasa sesak dihatinya bukanlah kebohongan. Dan sekarang dua orang yang berada didepannya seolah memberinya penegasan bahwa apa yang ia rasakan adalah nyata.
"Apa jawabanmu, Ariel? Bukankah itu yang kau inginkan setelah menjalin hubungan dengan anakku?" tanya Evrad.
"Kak,,,,!!!"
Sebelum Ariel sempat membuka suara untuk mejawab, suara dari arah pintu lebih dulu menyelanya.
"Kak,, maaf,, aku menganggu, tapi ada hal penting, dan kakak harus melihatnya sendiri," Ken berbicara dengan terengah-engah.
"Benar-benar tidak sopan," hardik Evrad dengan suara beratnya lalu mengarahkan pandangannya pada Ken dengan tatapan tajam.
"M-Maaf," ucap Ken terbata.
"Apakah kedua orang tuamu tidak mengajarkan etika kepadamu, anak muda? Berani sekali kau menyela pembicaraan orang yang lebih tua darimu disini," sergah Evrad.
"M-M-Maaf, s-saya panik," jawab Ken menundukkan kepalanya.
"Maaf Mr.Evrad, tampaknya waktu istirahat saya telah berakhir, dan tolong maafkan dia. Sikapnya bukan karena dididik dengan baik atau tidak, hanya saja ini memang sudah waktunya bagi saya untuk kembali bekerja," sela Ariel dengan tenang.
"Saya bahkan juga tidak mendapatkan didikan apapun dari orang tua saya, dan anda sangat mengetahui hal itu. Jadi, anda tidak perlu menyalahkan orang tuanya," imbuhnya.
"Itu artinya dia temanmu?" tanya Evrad. "Kenapa menyebutmu kakak?" imbuhnya.
"Saya tidak keberatan dengan caranya memanggil saya, dan bagaimana dia bersikap kepada saya. Selama saya merasa nyaman dengan hal itu," jawab Ariel tanpa menjawab sepenuhnya.
"Aku tau jelas kau tidak memiliki adik," ucap Evrad lagi. "Jadi aku yakin dia bukan adikmu," imbuhnya.
"Saya hanya orang yang berada dibawah bimbingan kak Ariel dalam bermain musik," jawab Ken sopan mewakili Ariel menjawab.
"Melatih musik?" ulang Evrad.
"Maksudmu, kau menjadi guru musik?" tanya Evrad meninggikan suaranya dengan nada tidak rela.
"Kau lebih pantas melatih di akademi musik ternama dibandingkan melatih di studio kecil seperti ini,"
"Apa yang kau pikirkan hingga kau mau melatih di tempat seperti ini, ketika namamu bisa menjadi lebih besar hanya dengan bermain piano diacara musikal ternama?" ucap Evrad berpikir.
'Aku muak dengan pembahasan hal seperti ini, dan sekarang aku tau kenapa pria tua ini bersikap sok baik padaku. dia hanya ingin menjadikanku batu loncatan untuk melambungkan namanya,' batin Ariel.
'Apakah selama ini, hal seperti ini yang selalu dihadapi Bram? Seberapa besar tekanan yang dia rasakan selama ini? Bagaimana dia bisa tetap bertahan?' batin Ariel.
Ariel bangun dari duduknya, hatinya menolak keras dengan apa yang dikatakan Evrad padanya. Semua perjuangan yang ia lakukan hanya dirinya sendiri yang merasakannya. Seberapa banyak ia jatuh kedalam lubang dan bangkit dengan kakinya sendiri hanya dirinya yang tau.
Mengarahkan pandangannya pada Evrad yang masih menatapnya dengan angkuh, Ariel tersenyum.
"Sangat disayangkan Mr.Evrad, saya hanya akan melakukan apa yang membuat hati saya nyaman, dan saya minta maaf mengatakan saya tidak sependapat dengan anda," ucap Ariel tenang.
"Saya tidak menginginkan popularitas, bahkan berpikir untuk memimpikannya pun tidak," imbuhnya.
"Benarkah? Apa kau benar mengatakan hal seperti itu? Atau itu hanyalah dalih?" cibir Evrad.
Senyuman dibibir Evrad berubah dingin, tatapannya menjadi lebih tajam. Meski begitu, Ariel tetap berdiri tegak disamping Ken seolah melindunginya.
"Apakah bocah ini adalah pelarianmu? Dia lebih kaya dariku?" ucap Evrad tersenyum sinis.
Ken mengeram kesal sembari mengepalkan tangannya sebelum angkat bicara, tidak bisa menerima dengan semua penilaian uruk yang dikatakan Evrad terhadap Ariel..
Kaliamat penuh amarah dari Ken terputus saat Ariel meraih tangan Ken untuk menghentikannya.
"Jaga nada bicaramu, Ken!" ucap Arie pelan.
"Woww,,, aku terkesan. Kau begitu jinak dengan wanita ini anak muda," sambut Evrad mencemooh dengan tawa sumbang.
"Kak,,,"
"Kak,,,"
Dari pintu masuk kembali terdengar dua suara berbeda memanggil Ariel. Membuat Evrad mengalihkan perhatiannya.
"Benar-benar, sepertinya kau dikelilingi oleh orang yang tidak memiliki etika, pantas saja sekarang kau bahkan berani membalas perkataaknku," geram Evrad menatap kearah orang yang baru saja datang.
Gina dan Oliver menghampiri Ariel dengan tingkah yang sama ketika Ken datang.
"Kak, ada yang merusak Cello, Biola dan Contrabas yang ada di ruang latihan kita," ungkap Oliver panik.
"Di ruang latihan coach Gerry juga terjadi hal serupa. Jadi mereka saling tuduh tentang siapa yang melakukannya," timpal Gina tak kalah panik.
"Kami meminta Ken untuk memanggil kakak, kerana mereka lebih mendengarkan kak Ariel dibandingkan coach Gerry. Tapi, Ken tidak segera kembali, jadi kami menyusul sementara coach Gerry berusaha menenangkan mereka," jelas Gina.
"Aku akan segera menyusul. Kembalilah lebih dulu dan katakan pada Gerry untuk tidak membiarkan siapapun menyentuh alat musiknya," ucap Ariel.
"Baik," jawab Gina dan Oliver.
Mereka bergegas pergi setelah membungkuk meminta maaf pada Evrad dan Jesica.
"Termasuk kau, Ken. Pergilah, aku percaya kamu bisa menenangkan mereka, Gina dan Oliver akan kesulitan menenangkan mereka," pinta Ariel.
"Baik," jawab Ken patuh.
Ken membungkuk meminta maaf pada Evrad serta Jesica, lalu berlalu pergi. Ariel kembali mengarahkan pandangannya pada Evrad yang tampak tercengang sesaat, namun kembali memasang wajah datarnya.
"Saya akan memberikan jawabannya, Mr.Evrad. Dengan segala kerendahan hati saya, mohon maaf, saya menolak tawaran anda. Tentang alasannya, anda bisa menanyakan langsung kepada putra anda," ucap Ariel dengan suara tenang.
Ariel sedikit membungkukan badannya, lalu tersenyum.
"Terima kasih untuk tawaran yang anda berikan kepada saya. Saya permisi undur diri, selamat tinggal," pamit Ariel.
Ariel berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Evrad yang masih tetap duduk di tempatnya bersama Jesica.
"Sampai jumpa lagi, Ariel," ucap Evrad tersenyum.
Langkah Ariel seketika terhenti, lalu berbalik dengan cepat dan menatap Evrad yang tersenyum kepadanya. Senyuman yang tidak ia tau apa artinya. Namun Ariel memilih mengabaikannya dan kembali meneruskan langkahnya keluar dari tempat itu, meninggalkan Evrad dan Jesica.
"Aku semakin ingin mendapatkannya," ucap Evrad tersenyum puas.
"Aku harus mendapatkannya bagaimanapun caranya," ucapnya lagi.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
#Di Rumah sakit.
Joel tampak keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju mobilnya. Menarik tuas kemudi, ia mulai menjalankan mobilnya dengan satu tujuan didalam pikirannya. Studio.
Selesai bekerja, Joel memeriksa ponsel dan mendapatkan balasan pesan dari Ariel. Namun hal itu justru membuat ia tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menemui Ariel langsung.
[[ Memang terjadi sesuatu, tapi aku tidak ingin kamu tau. Tolong jangan menghubungiku atau menemuiku dalam beberapa hari kedepan.! @Ariel ]]
Joel kembali membuka ponselnya untuk memastikan sekali lagi pesan itu. Namun berapa kali ia memeriksanya, itu memang pesan dari Ariel.
"Lebih baik menanyakan langsung apa maksudnya dia mengatakan hal ini," gumam Joel.
Setibanya di studio, Joel mengarahkan kakinya ke ruangan dimana Ariel biasanya melatih, namun saat ia membuka pintu, matanya menangkap sosok Bram tengah duduk disamping Ariel.
Joel tertegun selama beberapa saat sebelum kembali menutup pintu, mengurungkan niatnya untuk membuka lebar pintu itu.
Alih-alih menemui Ariel untuk bertanya apa yang terjadi, Joel memilih berbalik dan pergi. Membiarkan hatinya dipenuhi tanda tanya tanpa mendapatkan jawabannya.
....
.....
.
.
To be Continued