
Joel masih terlelap di bawah selimut ketika tiba-tiba tangannya bergerak meraba-raba sisi lain tempat tidur disampingnya. Kedua matanya seketika terbuka lebar saat ia merasakan tempat disampingnya kosong.
Memaksa tubuhnya sendiri untuk bangun dan duduk, ia mengusap wajahnya perlahan untuk mengumpulkan kesadarannya, kembali melihat sisi tempat tidur dan tidak menemukan siapapun disana.
Pandangannya beralih ke arah jendela yang mengarah ke balkon dengan tirai sedikit terbuka dan melihat matahari telah terbit dan masih condong disisi timur.
"Sweety,,," panggil Joel.
Joel melangkah ke kamar mandi, namun tidak menemukan siapapun di sana. Kamar besar itu benar-benar kosong, tak ada seorangpun selain dirinya sendiri.
"Sweety,,," panggil Joel lagi.
"Ini tidak lucu!" ujarnya.
Perasaan cemas mulai merayap dihatinya. Joel sudah memeriksa balkon, dan itu juga kosong. Ia meraih ponsel yang di letakkan di nakas, berniat untuk menghubungi istrinya, namun segera terduduk lesu di tepi tempat tidur ketika melihat ponsel Ariel juga berada disana.
Joel membuka ponsel Ariel, namun tidak menemukan apapun yang mencurigakan.
"Ini masih sangat pagi, pergi kemana tanpa mengatakan apapun padaku?" gumamnya sedikit panik.
Joel menyambar bathrobe dan segera memakainya, karena ia memang tidur hanya mengenakan celana pendek saja. Dengan langkah tergesa-gesa, ia keluar kamar hanya memakai bathrobe, melupakan satu hal penting dimana saat ia keluar kamar tanpa membawa cardlock, dan berakhir dengan pintu kamarnya terkunci otomatis.
Masih belum menyadari akan hal itu, Joel baru akan melangkahkan kakinya untuk mencari istrinya ketika pandangannya terhenti pada sosok yang tengah berjalan kearahnya dari ujung lorong hotel.
Tubuhnya justru membeku di tempat, memadangi wanita yang dengan santainya berjalan ke arahnya dengan langkah ringan. Sementara dirinya merasakan kekhawatiran yang besar dalam hatinya.
Jarak mereka semakin dekat hingga Joel bisa melihat lebih jelas sosok Ariel yang mengenakan celana pendek dan atasan tanpa lengan serta rambut terikat. Sepatu putih dan handuk kecil yang ia letakkan di bahu kirinya, serta cucuran keringat yang terlihat sangat jelas.
Tepat saat Ariel telah berada di depan matanya, dia justru melebarkan matanya memandangi suaminya yang berdiri tak jauh dari pintu kamar mereka.
"Apa yang kamu lakukan disini?" ujar Ariel sedikit panik.
"Aku tidak melihatmu, jadi ingin mencarimu," jawab Joel.
"Uhh,,, " keluh Ariel sembari meletakkan telapak tangan di wajahnya.
"Tapi, kenapa harus dengan penampilan seperti itu?" keluh Ariel
"Sudahlah, buka pintunya sekarang!" pinta Ariel.
"Buka pintu?" ulang Joel seketika melebarkan matanya.
"Oh sial,,,!" umpatnya segera berbalik dan baru menyadari apa yang terjadi..
"Ini tidak lucu!" sungut Ariel.
"Jangan bilang kamu keluar begitu saja tanpa membawa cardlock?" tebak Ariel menyipitkan matanya.
Joel tersenyum canggung sembari mengosok tengkuknya.
"Maaf," ujar Joel lirih.
"Dengan serius???" seru Ariel tertahan.
Ariel memelankan suaranya, tidak ingin menganggu penghuni kamar lain yang kemungkinan masih tidur. Kembali melihat kearah Joel yang tengah mengaruk kepalanya.
"Tunggu disini, aku akan meminta resepsionist membuka kamar kita," ujar Joel yang segera di sambut Ariel dengan memelototkan matanya.
"Jangan bercanda!" hardik Ariel mulai kesal.
"Kamu mau kesana dengan cara seperti itu?" tanya Ariel menunjuk Joel dari atas sampai bawah.
'Wajah khas baru bangun tidur, bathrobe di tubuhnya dan rambut berantakan. Meski itu tidak mengurangi ketampanannya, justru itulah masalahnya, terlebih lagi dia tanpa memakai kacamatanya,' gerutu Ariel dalam hati.
"Lalu apa?" balas Joel.
"Aku saja," jawab Ariel.
"Tidak," cegah Joel. "Apa kamu tidak melihat bagaimana penampilnmu?" sambung Joel.
'Rambut terikat yang berubah sedikit berantakan karena olahraga, celana pendek, atasan tanpa lengan, dan tubuhnya yang basah karena keringat. Rasanya tidak adil karena dia justru terlihat lebih manis dari biasanya,' gerundel Joel dalam hati.
"Setidaknya aku lebih baik darimu," jawab Ariel seenaknya.
"Lebih baik aku yang kesana menahan malu daripada membiarkanmu di goda pria lain," balas Joel memasang wajah serius.
Ariel menutupi wajah dengan satu telapak tangannya, terkekeh pelan.
"Astaga,,,apa yang kamu pikirkan?" sambut Ariel gagal menahan tawanya.
"Aku tidak sedang bercanda!" tukas Joel.
"Okey,,, aku berhenti tertawa," sambut Ariel menghentikan tawanya.
"Tolong, tetap disini, biarkan aku yang meminta resepsionist untuk membuka pintu kamar kita," lanjutnya.
"Kaulah yang seharusnya tetap berada disini," sanggah Joel.
"Lihatlah situasinya, kamu tidak bisa kebawah tanpa pakaian," bujuk Ariel.
"Kamu juga tidak bisa kebawah dengan pakaian seperti itu," sanggah Joel tidak mau kalah.
"Berapa banyak mata pria yang akan menatapmu dengan penampilan sepert_,,,"
'CUP,,!'
Ariel memberikan kecupan cepat di bibir Joel hingga membuat pria itu terdiam seketika. Ariel tersenyum lembut, meletakkan telapak tangannya di pipi Joel sebelum kembali berkata.
"Bernafas,,!"
"Tarik nafas perlahan, dan hembuskan,"
"Tetaplah disini sebentar saja, dan aku akan segera kembali, okey?" bujuk Ariel.
"Bunny,,," panggil Ariel meminta jawaban karena Joel terus diam.
Joel akhirnya mengangguk lemah meski tidak rela sepenuhnya. Namun ia tidak ingin memperburuk keadaan dengan sikap keras kepalanya.
Melihat hal itu, Ariel tersenyum, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Joel yang tidak mengalihkan pandangannya hingga menghilang ketika pintu lift tertutup.
Selama perjalanan menuju meja resepsionist, beberapa pasang mata yang berpapasan dengan dirinya memang sempat menatapnya, namun Ariel mengabaikannya.
"Permisi,,," sapa Ariel pada resepsionist yang ternyata telah di ganti oleh seorang pria.
"Selamat pagi, nona," sapa resepsionis
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Tanpa sadar saya tidak membawa cardlock kamar saya saat saya pergi ke ruang gym, dan sekarang pintu kamar saya terkunci," jelas Ariel tesenyum canggung.
"Ah,, begitu rupanya," sambutnya dengan senyum ramah.
"Tentu saja nona, dengan senang hati. Mohon tunggu sebentar," jawabnya dengan wajah pengertian.
"Berapa nomor kamar anda?" tanyanya.
"4**," jawab Ariel.
"Baiklah, tunggu sebentar," ucapnya lagi.
Sang resepsionis mengambil sebuah kartu lain dan meminta petugas room service untuk membantu Ariel membukakan pintu kamar.
"Petugas kami yang akan membukakan pintu kamar untuk anda," jelasnya.
"Terima kasih," ucap Ariel tersenyum.
"Terima kasih kembali, semoga hari anda menyenangkan, nona," balasnya dengan senyum ramah.
Ariel pergi bersama satu petugas room service di belakangnya, mengikuti Ariel menuju kamarnya.
'Ya ampun,,, nona itu manis sekali,' batin resepsionist sambil melihat punggung Ariel yang semakin menjauh.
Tak lama kemudian, Ariel tiba di depan kamar, meminta Joel untuk menjauh sementara menggunakan isyarat tangannya yang di lakukan dengan terpaksa.
'BIP,,' terdengar suara klik tanda pintu telah di buka.
"Silahkan, nona," ujar room service sopan.
"Saya sangat terbantu, terima kasih banyak," sambut Ariel terseyum.
"Kenyamanan anda adalah prioritas bagi kami," sambutnya.
"Saya permisi, mari nona," pamit room service.
Ariel mengangguk dengan tetap mempertahankan senyum di wajahnya. Tepat ketika petugas room service itu menghilang dari pandangannya, ia segera meminta Joel untuk masuk dan menutup pintu. Ia berbalik dan menatap Joel yang kini justru menghindarinya.
"Sekarang apa?" tanya Ariel.
"Bukan apa-apa," jawab Joel singkat.
"Jawaban yang kamu katakan adalah penegasan bahwa ada apa-apa," sanggah Ariel.
Joel memilih diam dan pergi menuju kamar mandi, menghindari kontak mata dengan istrinya.
'Aku melihat cara petugas tadi melihatmu, dan itu sangat tidak menyenangkan. Tapi jika aku mengatakannya, aku khawatir tidak bisa mengendalikan emosiku lagi dan kembali menyakitimu. Aku tidak ingin kamu pergi meninggalkanku,' batin Joel.
"Apakah kamu marah padaku?" tanya Ariel.
Langkah Joel terhenti didepan pintu kamar mandi, lalu membalikkan badannya menatap manik mata Ariel.
"Aku tidak ingin apa yang aku pikirkan akan memperburuk keadaan, jadi biarkan saja," jawab Joel memalingkan wajahnya.
"Akan ku anggap jawaban itu sabagai, Ya," sambut Ariel.
Joel menoleh dengan cepat, mengarahkan pandangannya pada Ariel yang berdiri tak jauh darinya.
"Apa maksudmu mengatakan itu?" tanya Joel tak suka.
'Aku ingin bertanya kenapa dia menghilang pagi ini, tapi bagaimana jika jawabanya nanti justru membuatku tidak bisa mengendalikn emosiku lagi? Sedangkan dia menjawab pertanyaanku dengan reaksi datar seperti biasanya,' batin Joel.
"Cara berpikirmu sangat sederhana, sampai terkadang membuatku gagal untuk mengerti apa yang kamu maksudkan," jawab Ariel.
Perlahan, Ariel mulai melangkah mendekati suaminya. Seolah mengerti apa yang menjadi penyebab kegelisahan hatinya.
"Alasanku menghilang pagi ini? Itukah yang kamu pikirkan? Dan pikiran itu berkembang bahwa mungkin saja aku pergi meninggalkanmu? Atau kamu khawatir dengan bagaimana reaksimu setelah mendengar jawaban dariku?"
'JLEB,,,!'
Semua yang Ariel katakan tepat mengenai sasaran, dan cukup untuk membuat Joel menelan ludahnya.
"Aku melihatmu tertidur pulas, dan tidak ingin membangunkanmu," ucap Ariel masih terus maju mendekati Joel.
"Pagi ini aku mengikuti kegiatan aerobik bersama tamu lain, dan melanjutkan gym sebentar. Alasanku meninggalkan ponsel adalah, karena aku berpikir aku hanya sebentar dan akan kembali sebelum kamu bangun. Atau setidaknya tepat saat kamu bangun,"
Ariel berdiri tepat didepan Joel, hingga membuat ia harus mendongak ketika berbicara sambil memandang wajah suaminya.
"Pria mengodaku? Tentu saja ada," ucap Ariel berusaha menahan tawa kala melihat reaksi wajah Joel.
"Tapi, dia menjauh dalam hitungan detik saat aku dengan sengaja memperlihatkan, ini," ucap Ariel menunjukan jari manisnya yang terpasang cincin pernikahan mereka.
Ariel mengulurkan tangannya, menarik leher Joel agar pria tinggi didepannya bersedia untuk sedikit membungkuk dan mempermudah Ariel mengatakan sesuatu didekat telinganya.
"Dan mereka lebih tidak berani mendekat setelah melihat tanda yang kau buat. Bukankah atasan tanpa lengan ini bekerja sebagaimana mestinya?" goda Ariel berbisik dengan seringai kecil di wajahnya.
Joel menarik wajahnya menjauh dari Ariel, beberapa kali menelan ludahnya sendiri, hingga rona merah mulai merayap di wajahnya saat menyadari beberapa tanda merah di leher dan bahu Ariel masih terlihat jelas ketika melihatnya dari dekat.
"Pft,,,,"
Ariel sekuat tenaga menahan tawa dengan membekap mulutnya sendiri, namun hal itu tidak berguna.
"Hahahahaha,,,,"
Ariel terbahak sembari memegangi perutnya, reaksi Joel sungguh di luar perkiraannya.
"Kenapa sekarang wajahmu seperti kepiting rebus? Padahal kaulah yang menjadi pelakunya," ucap Ariel di sela tawanya.
Alih-alih menjawab, Joel justru menarik Ariel kedalam pelukannya, mendekapnya dengan erat. Merasakan betapa mudahnya Ariel memadamkan amarahnya hanya dengan dirinya memberi Ariel sedikit saja waktu untuk menjelaskan.
"Baiklah,,, sekarang lepaskan aku!" ujar Ariel mendorong Joel menjauh.
"Aku berkeringat banyak dan ini terasa lengket, juga tidak nyaman," papar Ariel.
"Kalau begitu, mandi bersama saja," saran Joel.
"Menarik," sambut Ariel, membuat Joel tersenyum senang karena Ariel setuju dengan usulnya.
Namun, Ariel segera menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dengan cepat sebelum Joel memiliki kesempatan untuk masuk.
'BLAMM,,,,!!!'
...
To be Continued...