I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
16. Joel



~Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~


 --------------


Sebuah mobil terparkir didepan gedung dimana orang-orang berlatih alat musik. Sebuah gedung dengan banyak pintu dan dinding kaca dimana setiap sudut memiliki simbol nada yang berbeda.


Pemilik mobil terlihat mengetuk-ngetuk gagang kemudi menjadi tanda ia tengah menunggu seseorang.


Kacamata yang bertengger di hidungnya sesekali di betulkan posisinya dengan dua jarinya.


Tangannya kini terangkat meperlihatkan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Dia masih belum keluar juga. Apakah dia mengurungkan niatnya untuk pergi?" gumamnya.


Tak lama kemudian,,,


Ariel terlihat melangkah keluar dari pintu gedung itu. Saat di luar gedung, Ariel mengeluarkan ponselnya berniat menghubungi seseorang ketia Joel membunyikan klakson dan menurunkan kaca mobil untuk melambaikan tangannya.


Ariel tersenyum dan mengrngkan niatnya, lalu kembali memasukan ponsel kedalam saku celananya.


Detik berikutnya, seorang pria yang lebih muda darinya keluar dengan koper cello di tangannya dan menyapa Ariel.


"Apakah kakak memesan taksi?" tanyanya.


"Tidak, tapi tolong bawakan itu ke mobil yang ada di sana," jawab Ariel menunjuk mobil Joel.


Joel segera keluar dari mobil dan membuka bagasi. Memberi tanda bahwa cello bisa di masukan ke dalam mobilnya.


Pria itu mengangguk patuh dan melakukan hal yang di perintahkan padanya.


"Terima kasih sudah membantu membawakan ini, Ken," ucap Ariel saat Ken telah memasukan cello kedalam mobil.


"Kakak jangan sungkan padaku seperti itu dong," sambut Ken tersenyum. "Kakak bisa minta bantuan apapun dariku," sambungnya.


"Baiklah, kau bisa pulang," balas Ariel.


"Apakah kakak besok datang lagi?" tanya Ken melirik ke arah Joel.


" Kurasa tidak. lagi pula jadwalku tidak setiap hari," jawab Ariel.


"Tidak bisakah besok kakak datang lagi walaupun kakak tidak memiliki jadwal mengajari kami?" harap Ken.


"Kenapa? Bukankah kalian justru takut jika aku yang melatih kalian?" tanya Ariel mengerutkan keningnya.


"Itu tidak mungkin," sanggah Ken. " Kami justru lebih bisa menangkap dengan cepat jika kakak yang melatih kami," sambungnya.


"Akan ku pikirkan, dan semoga itu tidak bertepatan dengan jadwalku yang lain," sambut Ariel.


"Terima kasih kak," balas Ken senang.


Ken membungkukkan badannya sebelum pergi dan tersenyum ramah pada Joel yang segera membalasnya.


"Sepertinya kamu sangat disukai disini," komentar Joel terdengar saat Ken telah pergi.


"Kau hanya belum tau yang sebenarnya," sambut Ariel tersenyum.


"Yah,, aku masih memiliki banyak waktu untuk mengetahuinya," balas Joel.


"Kita berangkat sekarang?" tawar Joel yang di sambut anggukan kepala Ariel.


Mereka segera masuk kedalam mobl dan memulai perjalanan mereka.


"Mungkin akan memakan lebih banyak waktu untuk sampai kesana, dan kita bisa kembali saat malam. Apakah kamu tidak keberatan?" tanya Joel dalam pejalanan.


"Justru akulah yang harus mengatakan itu padamu, Joel. Dalam hal ini kamu sama sekali tidak terlibat," sambut Ariel.


"Aku senang bisa membantumu, Ariel. Dan aku akan melakukannya lagi walaupun kamu tidak memintanya," balas Joel.


"Terima kasih, Joel," jawab Ariel.


Joel menganggukan kepalanya lalu tersenyum.


"Omong-omong, gedung tadi, tempatmu bekerja? Sebagai guru musik?" tanya Joel penasaran.


"Terus terang, aku tidak begitu mengerti tentang hal yang berhubungan dengan musik," terang Joel.


"Sederhananya adalah aku mengajar di sana, melatih mereka cara bermain musik, seperti guru musik pada umumnya," jelas Ariel.


"Yang membuatku tidak mengerti adalah, kamu bisa berangkat bekerja kapanpun kau mau," balas Joel.


"Karena memang seperti itulah jadwalku di atur," kilah Ariel.


"Begitu ya?" balas Joel.


"Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau yang merawat wanita yang tengelam itu?" tanya Ariel mengalihkan pembicaraan.


"Yah,,, mau bagaimanapun, aku yang secara kebetulan menyelamatkannya, jadi dia menjadi pasienku. Tapi, saat jam kerjaku selesai, itu akan di ambil alih oleh temanku," jelas Joel.


"Sangat melegakan untuk di dengar," sambut Ariel.


"Oh,,, bagaimana jika besok kita menemuinya? Kebetulan aku bisa cuti besok, dan dia juga diperbolehkan pulang," ajak Joel. "Dia juga ingin bertemu denganmu, dengan orang yang secara tidak langsung menyelamatkannya," sambungnya.


"Kaulah yang menyelamatkannya, bukan aku," tukas Ariel.


"Tapi, hal itu tidak akan terjadi jika kamu tidak melihatnya," sanggah Joel.


"Akan kupikirkan, tapi aku tidak bisa menjanjikannya," balas Ariel.


"Aku mengerti," sambut Joel.


Mereka kembali dalam keheningan hingga tiba disebuah toko kecil yang menjual suku candang berbagai alat musik.


"Aku sungguh beruntung mengetahui tempat ini, dan semua ini berkatmu, Joel. Terima kasih," ucap Ariel senang.


Joel menenteng koper dan meletakkannya dengan hati-hati ketika berada di dalam toko, Seorang pria seumuran dengan Joel muncul dari balik tirai yang menutupi pintu.


Pria itu memberlihatkan senyum ramahnya dibalik kacamata tebal yang dipakainya.


"Ini kejutan yang menyenangkan, apa yang membuatmu sudi datang ke gubukku ini, Joel?" sapanya dengan seloroh yang membuat Joel tertawa.


"Apakah itu sarkasme baru yang kau buat, David?" sambut Joel.


David tertawa dan melirik kearah Ariel dan tersenyum lebar.


"Hooo,,, jadi siapa si cantik ini yang kau bawa? Kekasihmu? Atau ca_,,,," Davied tersenyum jahil tanpa melepas kontak mata dengan Ariel.


"Di temanku, dan dia ingin meminta bantuanmu," potong Joel cepat.


"Bantuanku?" David menatap Ariel dengan alis terangkat.


"Benar," jawab Ariel tersenyum. "Saya Ariel, saya mendengar dari Joel, anda bisa memperbaiki alat musik yang rusak, itulah alasan saya memintanya mengantar saya kesini," ucap Ariel ramah.


"Manis sekali," sambut David. " Pertama, tolong jangan bersikap formal padaku, itu tidak cocok untukku yang kumal ini," selorohnya.


"Dan lagi, teman Joel adalah temanku juga. Jadi kamu bersikapalah sebagai teman padaku, bagaimana?" David mengulurkan tangannya dan menyungiingkan senyum lebarnya.


"Baiklah," jawab Ariel menyambut uluran tangannya.


"Jadi, alat musik apa yang kau ingin aku memperbaikinya?" tanya David.


Joel mengangkat koper Cello yang tadi dibawanya di depan wajahnya. Tanpa ragu, David menyambutnya dan meletakkannya dimeja. Mengeluarka isinya dan memperhatikan dengan seksama.


Jari tangannya mulai membelai Cello dengan hati-hati, seolah itu adalah barang berharga miliknya.


"Ini memang rusak yang tidak parah, retakan di setiap sisi bisa kubuat menjadi seperti baru, tapi aku punya satu masalah," ungkapnya.


"Apa itu?" tanya Ariel.


"Aku tidak pandai dalam menyetel nada yang benar. Aku khawatir jika aku asal memposisikan senar Cello ini, justru akan menghasilkan nada yang aneh," paparnya.


"Aku bisa melakukannya," sambut Ariel antusias.


"Kau yakin?" tanya David.


"Sangat yakin," balas Ariel.


"Baiklah, datanglah lagi tiga hari setelah sekarang, aku akan memperbaiki hal yang bisa di perbaiki terlebih dulu, baru setelah itu kamu menyempurnakan nadanya, dan aku hanya perlu memberikan sentuhan akhir agar Cello ini sempurna," papar David.


"Baik, aku pasti datang," sambut Ariel.


"Kamu terlihat jauh lebih bersemangat saat diminta untuk datang, Ariel," sindir Joel.


"Tentu saja. Kapan lagi aku bisa melihat proses perbaikan Cello dengan mataku sendiri," sambut Ariel berbinar.


Joel memasang wajah masam yang segera di sadari David. Dangan senyum jahilnya, David justru memancing Joel untuik melihat reaksinya.


"Jadi, kau bersedia datang sendiri kesini untuk menemuiku kan?" tanya David.


"Tentu saja aku bersedia," jawab Ariel masih tidak menyadai reaksi Joel.


"Aku akan mengentarmu, Ariel," tukas Joel.


"Bukankah kamu bekerja?" tanya Ariel mengerutkan kening.


" Aku bisa mengaturnya," jawab Joel.


David sontak terbahak melihat reaksi Joel. Dengan mengeleng-gelengkan kepalanya, David tersenyum sebelum berkata,


"Tenanglah Joel, aku tidak akan merebutnya," ucapnya tersenyum geli.


"Berisik,,!" tukas Joel.


"Kalian membicarakan apa sih?" smbut Ariel binggung.


" Apakah kamu tidak menyadarinya?" goda David.


Ariel memiringkan kepalanya dan menatap David binggung. Sementara David hanya membalas dengan senyuman pengertian.


" Ayo kita pulang," ajak Joel mengulurkan tangan pada Ariel.


Ariel segera menyambutnya dengan senyum mengembang lalu mengangguk.


"Aku akan datang tiga hari lagi sesuai janji, terima kaih banyak, David," ucap Ariel tersenyum.


"Bukan masalah, Ariel. Aku senang bisa membantu temanku," sambutnya.


Ariel tersenyum lagi dan pamit pergi. Sementara Joel justru menyembunyikan wajahnya.


"Kamu terlihat senang saat bersamanya," ucap Joel begitu berada di luar.


"Tentu saja, bagaimana tidak? Dia orang yang menyenangkan. Dan,,,, Cello-ku akan kembali sempurna hanya dalam hitungan hari. Bayangkan saja!" ucap Ariel girang dengan senyum lebar.


" Jadi,,, kamu senang dan bersemangat karena Cello?" tanya Joel dengan mata melebar.


"Yap,,, memangnya ada yang salah?" tanya Ariel.


Joel menepuk dahinya. Merasa konyol untuk dirinya sendiri yang merasa Ariel tertarik pada David karena David bisa memperbaiki alat musik miliknya.


Menutupi rasa malunya, Joel hanya mengeleng dan mengajak Ariel untuk pulang.


...>>>>>>>--<<<<<<<...