
"Ayah,,,,"
"Tuan Evrad,,,,"
Bram dan Jesica kembali saling pandang, menelan ludah mereka dengan kasar.
"Kepada nona Ariel Esther, silahkan untuk naik panggung,"
Suara pembawa acara terdengar lagi. Ariel mengedarkan pandangannya dan bertemu dengan Darcie yang saat itu berada tidak jauh dari tempat dimana piano diletakkan.
Entah kenapa, Ariel justru merasa tenang ketika Darcie tersenyum dan memberinya anggukan lembut seolah menyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja, hal itu cukup untuk membuat dirinya bisa memikirkan apa yang harus dilakukan.
Hingga terbersit dalam benaknya ini adalah cara yang bisa ia gunakan untuk mengakhiri semua rumor yang sebelumnya sempat beredar. Membersihkan namanya, sekaligus nama Bram dan suaminya yang ikut terseret karena dirinya.
Meski berita itu telah dihapus, banyak orang telah membacanya, dan beberapa dari mereka yang membacanya akan selalu ada orang yang percaya dengan berita itu.
Ariel beralih memandangi suaminya yang segera merasakan sedikit kebimbangan hatinya, dia tiba-tiba menoleh. Tersenyum lembut seperti biasanya, seolah mengatakan 'Apapun yang terjadi aku selalu disisimu'
Joel meremas lembut jemari tangan Ariel, memberikan dukungan penuh untuk istrinya atas apapun yang akan dilakukan.
"Aku tidak akan pergi kemanapun," tegas Ariel.
"Mengertilah situasinya, Ariel," sergah Jesica.
"Pernahkah aku mengatakan padamu bahwa kau adalah sahabat terbaikku dan selamanya akan tetap begitu?" tanya Ariel tersenyum.
"Dan aku minta maaf padamu, Bram. Aku minta maaf atas tindakanku malam ini dan apa yang akan terjadi nanti pada Mr.Evrad," ucap Ariel saat pandangannya tertuju pada Bram.
"Apa maksudmu mengatakan itu?" sergah Bram.
"Aku berasumsi, beliau ada disini, mengawasiku, mengawasi kalian, dan bersiap untuk melanjutkan apa yang sejak awal telah direncanakan. Aku melakukan kesalahan dengan tidak mengatakan hal ini sejak awal,"
"Tapi, setelah apa yang sudah kalian lakukan untukku, aku juga tidak bisa membiarkan ini terus menjadi teror bagi kalian,"
"Jika kalian berusaha untuk melindungiku, kenapa aku tidak melakukan hal yang sama? Bukankah itu tidak adil?" ucap Ariel.
Sisi tenang yang di perlihatkan Ariel seolah menular pada Joel yang di sampingnya. Tidak ada rasa cemas yang terlihat diwajahnya.
"Situasinya berbeda, Ariel. Kumohon mengertilah, dan segera pergi tinggalkan tempat ini," bujuk Jesica.
Ariel hanya tersenyum, mengelengkan kepalanya lalu berbalik meninggalkan Jesica menuju tempat dimana telah disiapkan sebuah piano disana.
Joel tidak mengatakan apapun selain mengenggam tangannya, melangkah bersamanya, dan berdiri disisinya. Meski tanpa mengatakan apapun, Ariel bisa merasakan bahwa Joel percaya sepenuhnya padanya, dan ia tidak ingin mengecewakan suaminya.
"Kenapa dia justru mengandeng pria lain disaat dia dikabarkan akan menikah dengan putra tuan Evrad?"
"Apa dia tidak malu memamerkan keintiman di depan umum bersama pria lain? Menjijikkan,"
"Padahal tuan Evrad selalu mengatakan dia wanita baik, tapi kurasa itu hanya cangkang,"
"Benar, lihat saja siapa yang dia bawa sekarang,"
"Ku akui, dia pria tampan, tapi bodoh. Bisa-bisanya dia mau mendampingi jal*ng sepertinya,"
Kalimat terakhir yang sempat didengar Joel membuat ia tidak bisa menerimanya dan nyaris mengeluarkan emosinya ketika Ariel bisa menghentikannya lebih cepat.
"Biarkan saja, mereka hanya memprovokasi kita, jika kamu sampai terpancing, itu hanya akan membuat mereka senang," ucap Ariel.
"Haahh,,, kamu benar, kepala dingin sangat diperlukan saat ini," jawab Joel menghembuskan nafas perlahan.
Mereka melanjutkan langkah mereka hingga mereka berada didepan seluruh tamu, tepat disamping piano yang sengaja di persiapkan untuk Ariel.
Ariel berdiri didepan para tamu, sementara Joel berada dua langkah dibelakangnya. Sejenak Ariel mengedarkan pandangannya, lalu tersenyum sebelum membungkukkan badannya. Hingga ia mulai berbicara.
Disudut lain, Darcie terus mengawasi Ariel bersama asisten yang setia menemaninya, memperlihatkan tatapan penuh harap ketika mereka berdua melihat Ariel terlihat akan menyampaiakan sesuatu sebelum memainkan piano.
###Flasback on.
#Beberapa hari sebelumnya. . .
"Tuan, saya bisa pastikan tuan Evrad akan hadir dalam acara anda, termasuk putranya dan nona Jesica sahabat nona Ariel," papar Frank.
"Undang satu orang lagi yang sekarang menjadi asistennya," titah Darcie.
"Maksud anda, tuan Ken?" tanya Frank.
"Ya, perusahaan mereka pernah bertransaksi dengan kita, itu bisa di jadikan alasan untuk mengundangnya," jelas Darcie.
"Baik," jawab Frank patuh.
"Apakah anda yakin tidak ingin membicarakan ini bersama nona Ariel terlebih dulu? Atau setidaknya suaminya," tanya Frank.
"Tidak,! Pergerakan kecil dari mereka akan membuat Evrad kembali bersikap hati-hati, dan itu akan semakin sulit untuk membuatnya berhenti, juga menyulitkan kita untuk menghentikannya," terang Daecie.
"Tapi, anda bisa saja dengan mudah membuatnya berhenti jika anda memperingatkan, dia," sambut Frank.
"Itu hanya akan membuat Ariel dinilai sebagai orang yang bersembunyi di balik punggung seseorang yang memiliki kuasa lebih tinggi,"
"Dan mereka yang telah membaca berita tentang Ariel dimajalah akan tetap menganggap rumor yang sempat beredar adalah kebenaran yang Ariel tutupi, itu hanya akan membuat Ariel dinilai buruk," terang Darcie.
"Tapi bagaimana jika nona Ariel justru pergi meninggalkan acara karena malu?" tanya Frank.
"Termasuk anaknya sendiri juga bisa lepas sepenuhnya. Presepsiku, Ariel akan mengatakan pada semua orang bahwa Joel adalah suami sah, sedangkan Bram hanya sahabat yang ditarik paksa ayahnya sendiri untuk mengakui berita pernikahan mereka," ungkap Darcie.
"Anda menciptakan peluang agar mereka bisa berbalik melawan dengan satu gerakan, tentu itu akan memiliki resiko. Apakah resikonya akan sepadan dengan hasil yang mereka dapatkan?" jawab Frank kembali bertanya.
"Disini aku hanya bisa bertaruh dengan kemungkinan, jika Ariel menghindar dan memilih pergi, aku akan menggunakan caraku untuk membungkam mereka,"
"Sebaliknya, jika Ariel memilih maju dengan kakinya sendiri, maka bisa dipastikan, semua orang akan segan padanya. Terlebih mereka juga tau aku berteman dengannya, dan hal terakhir aku hanya perlu memberi gertakan kecil pada Evrad untuk tidak menganggu mereka berdua lagi,"
Darcie mengakhiri penjelasannya sembari menutup berkas ditangannya. Sekali lagi, pandangannya menerawang jauh. Ia sendiri bahkan tidak bisa memahami pemikirannya sendiri. Kenapa ia harus berusaha keras hanya untuk membantu wanita yang bahkan baru saja dia kenal.
"Anda benar-benar memberikan kepedulian yang cukup besar pada nona Ariel," ucap Frank dengan suara pelan.
"Aku bahkan masih tidak mengerti kenapa aku melakukan ini," jawab Darcie lirih namun cukup untuk didengar Frank yang berada disisinya.
"Pastikan keadaan acara nanti tetap terkendali. Jangan biarkan terjadi sesuatu padanya juga suaminya," pinta Darcie.
"Saya akan melakukan sesuai perintah anda," jawab Frank.
##Flashback off.
Ariel menarik nafas perlahan sebelum mulai berbicara.
"Sebelumnya, ijinkan saya untuk meminta maaf atas apa yang tidak sengaja saya lakukan menimbulkan rasa tidak nyaman untuk para tamu undangan yang berada di tempat ini,"
"Melihat bagaimana cara anda sekalian melihat saya disini bersama seseorang yang mungkin memunculkan banyak pertanyaan,"
Ariel menoleh sejenak, menatap suaminya sekali lagi sebelum beralih pada seluruh tamu yang hadir.
"Bahkan sebelum saya berdiri disini, beberapa diantara kalian bertanya dan kalian menjawabnya sendiri dengan seenaknya, apakah saya salah?" tanya Ariel.
Suasana yang sebelumnya hening berubah riuh. Suara gunjingan mulai terdengar disusul dengan cemoohan yang saling bersahutan.
"Apakah kau berdiri didepan hanya untuk bersikap sok polos?"
"Oh,, atau karena kau berteman dengan tuan Adonis membuatmu bisa menegakkan kepalamu tanpa merasa malu?"
"Sungguh, tuan Evrad sepertinya sial karena menerima mu menjadi menantunya dan sekarang melihatmu mengandeng pria lain,"
"BINGGO,,," celetuk Ariel dengan senyum lebar.
Seketika suasana berubah hening.
"Ahh,, ternyata dugaanku benar, Mr.Evrad. Saya semula hanya menduga anda berada di tempat ini, tapi mendengar mereka berkata begitu menunjukan anda berada disini, dan saya yakin anda juga mendengar saya,"
"Siapa pria yang bersama saya saat ini?" tanya Ariel.
"Akan saya perkenalkan, dia,,," Ariel menoleh dan mengulurkan tangannya, meminta Joel untuk maju dan berdiri disampingnya.
Joel menyambut uluran tangan Ariel, dan berdiri disampingnya.
"Adalah suami saya, satu-satunya orang yang saya cintai," ungkap Ariel.
"Kami menikah beberapa bulan lalu," ujar Ariel sembari menujukan cincin mereka.
"Jika kalian bertanya-tanya tentang berita yang pernah beredar, dan saya yakin anda sekalian tidak akan percaya jika saya mengatakan, saya bahkan tidak tau sama sekali ada yang menyebarkan berita itu,"
"Saya dan Bram hanya menjalin hubungan persahabatan murni, tanpa dasar perasaan yang lebih dari itu, itu adalah fakta yang tidak bisa diubah,"
"Kau mencampakkan putra tuan Evrad hanya untuk mencari orang yang lebih kaya darinya, bukankah begitu?" celetuk salah satu tamu.
Satu orang mencoba untuk memprovokasi tamu lain agar kembali menyerang Ariel. Sebelum hal itu berhasil, Ariel kembali berbicara.
"Lebih kaya? Dengan serius?" sambut Ariel tertawa gelak.
"Astaga,,, sekarang saya bertanya-tanya, jika memang itu yang saya inginkan, aku akan mengoda Darcie dibandingkan suami saya sekarang," jawab Ariel tersenyum tanpa beban.
"Apa yang kurang dari sosok sepertinya?"
"Dia memiliki bisnis yang dikenal disemua kalangan. Kekayaan melimpah, dan disegani bahkan hampir semua yang berada ditempat ini,"
"Muda, tampan dan berpenampilan sempurna,"
"Orang seperti dialah yang seharusnya menjadi target sempurna, jika_,,,, memang benar itu yang saya inginkan,"
"Apakah penalaran logika saya salah?"
Hening. . . .
Mereka terbungkam ketika mendengar Ariel menyebut nama Darcie dengan begitu santai seolah bukan apa-apa, dan sang pemilik nama hanya tersenyum tanpa mengeluarkan protes apapun atau sekedar memberi teguran.
Keheningan berakhir ketika Ariel kembali berbicara
.....
....
To be Continued...