
"HENTIKANNNN,,,,!!!!"
Joel dan Ariel serentak berseru sembari menutup kedua telinga mereka. Joel segera meletakkan gitar ditangannya dengan posisi bersandar pada piano.
Joel serta merta menarik kerah baju Bram hingga membuatnya jatuh kebelakang melalui kursi yang ia duduki.
BUGH,,,!!!
"Arghh,,," erang Bram memegangi kepalanya ketika kepalanya mendarat dilantai.
"Apa kau sudah gila!" sentak Bram meringis memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, dan berusaha bangun.
"Aku masih menyayangi kepalaku, kau tau?" degusnya. " Dan kepalaku bukanlah batu," imbuhnya menatap joel kesal setelah berhasil berdiri.
"Jangan khawatir, biaya perawatan medis aku akan menanggungnya jika terjadi sesuatu pada kepalamu," sambut Joel enteng.
Ariel tertawa sembari memegangi perutnya. Melihat pertengkaran mereka yang justru terasa konyol baginya sekarang.
"Ariel,,,,!!!" rajuk Bam masih mengelus kepalanya sendiri.
"Maaf,, hemph,, ha ha ha,," Ariel berusaha menghentikan tawanya dengan menutup mulutnya namun gagal dan kembali tertawa.
"Terus saja tertawa, bukankah itu sangat lucu?" dengus Bram.
"Sangat," sambut Ariel lalu tertawa lagi.
Kali ini Joel ikut tertawa saat mengingat bagaimana tadi Bram terjatuh.
"Teman macam apa kalian yang mentertawakan teman kalian yang baru saja terjatuh," sungut Bram sembari melipat tangannya.
"Jangan salahkan aku, bukankah aku tadi sudah memperingatkanmu? Kalaupun bukan Joel yang melakukannya, maka akulah yang akan melakukannya," sambut Ariel.
"Tck,,, tertawalah sepuas kalian," decak Bram lalu berbalik dan meraih gitar yang bersandar pada piano.
"Maaf,,, " ucap Ariel menghampiri Bram.
"Duduklah, biarkan aku melihat kepalamu," bujuk Ariel.
"Kenapa?" tanya Bram.
"Aku tidak bisa melihatnya jika kamu berdiri, aku tau, aku pendek. Tapi tidak perlu membuatnya terlihat lebih jelas kan?" jawab Ariel.
Bram bergeming, dan tidak berbalik saat menyadari Ariel berada tepat dibelakangnya. Tangan Ariel menyentuh bahu Bram dan menekannya perlahan agar Bram menurut untuk duduk dibangku piano yang telah ia geser.
'Bagaimana bisa? perasaanku padanya sedikitpun tidak berubah? Padahal aku sudah berusaha untuk melepaskannya,' ratap hatinya.
Ariel menyelipkan jarinya dirambut Bram dan membuka tempat dimana tadi Bram terjatuh dengan kepala yang membentur lantai.
"Ehmm,, Joel,,, bisakah kau membantuku?" tanya Ariel.
"Ada apa?" balas Joel menghampiri Ariel.
"Haruskah kita mengompresnya?" tanya Ariel.
Joel melihat sedikit bengkak pada kepala Bram, dan meyentuhnya, membuat Bram mengerakkan kepalanya untuk menghindari tangan Joel yang menyentuhnya.
"Tidak apa-apa, memang akan sedikit sakit, tapi tidak fatal," terang Joel. "Tunggu sebentar," imbuhnya.
Joel meraih jaketnya yang berada dikursi tempanya tadi duduk dan mengeluarkan obat oles dari saku jaketnya.
Ariel dan Bram megerutkan kening mereka saat Joel kembali menghampiri mereka dengan obat oles ditangannya.
"Apakah kau selalu membawa obat kemanapun?" sindir Bram menyipitkan mata skeptis.
"Nada bicaramu menyebalkan, kau tau?" gerutu Joel. " Aku selalu membawanya saat kaki Ariel masih belum pulih. Dan entah kenapa aku menjadi tidak sadar selalu membawa ini kemanapun," papar Joel.
"Kau yakin obat itu bisa mengobati kepalaku?" selidik Bram.
"Apa yang kau pikirkan?" sambut Joel mengerutkan kening.
"Bukankah itu sudah jelas?" balas bram tidak sabar. " Ini kepala, bukan kaki," tambahnya.
"Aku berani menjaminnya," jawab Joel serius.
"Aku tidak mungkin mengabaikan seseorang yang terluka," tuturnya.
"Ya ya ya,, kode etik yang kalian banggakan. Kau pikir ulah siapa kepalaku jadi seperti ini?" sindir Bram.
"Oh,,, maaf tentang itu, aku sengaja melakukannya kalau-kalau itu yang kau maksudkan," cetus Joel.
"Ayolah, hentikan!" keluh Ariel berkacak pinggang.
"Berikan ini padaku," ucap Ariel merebut obat oles ditangan Joel.
"Sekarang kau duduk dengan tenang dan biarkan aku mengobatimu," tegas Ariel.
"Apakah setelah itu kamu mau kembali bermain musik lagi denganku? Hanya satu lagu saja," pinta Bram menghadap Ariel
"Baiklah, sekarang berbalik dan diamlah," pinta Ariel.
Bram membalikan badannya dan memunggungi Areil, sementara Ariel mengobati kepala Bram.
'Aku tak bisa menyengkal, mereka memang terlihat serasi, tapi aku juga tidak akan mundur begitu saja,' batin Joel.
"Joel,,," panggil Ariel.
"Uhmm,,,," joel bergumam sebagai jawaban.
"Apakah tidak masalah jika aku bermain satu lagu lagi bersama Bram?" tanya Ariel.
"Tak masalah, aku bisa menunggu," jawab Joel.
'Aku tidak mungkin egois dengan mengatakan tidak dan memaksanya. Itu hanya akan membuat hubunganku dengan Ariel berubah canggung,' pikir Joel.
'Anggap saja ini balasan untuknya karena sudah memberiku waktu berdua bersama Ariel ketika membuat minuman,' batinnya.
Tak lama kemudian, mereka berdua memposisikan diri dengan gitar ditangan Bram dan Ariel duduk didepan piano.
"Mulailah lebih dulu dan aku akan mengiringinya. Kaulah yang menentukan lagunya," ucap Ariel.
"Kau yakin?" tanya Bram.
"Apakah kau lupa siapa aku?" Ariel balas bertanya dengan alis terangkat.
"Baiklah, aku mulai," jawab Bram tersenyum.
"Woww,,, luar biasa sekali. Baru beberapa detik lalu seseorang mengeluhkan kepalanya sakit dan sekarang tersenyum konyol seolah tidak terjadi apa-apa," sindir Joel.
"Berisik," cetus Bram.
Joel terkekeh pelan, dan duduk dengan mennyilangkan kedua tangannya.
Bram mulai memetik gitar ditangannya. Selang beberapa detik, Ariel mulai menekan tuts piano mengiringi melodi petikan gitar dari Bram.
'Mereka luar biasa,' batin Joel.
'Sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi sekarang,' imbuhnya.
Joel duduk dengan tenang menikmati melodi yang memenuhi keheningan malam.
###Disisi lain.
Jesica muncul dengan mobilnya dan melihat Charlie berdiri didepan sebuah gedung apartemen tengfah menunggunya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jesica setelah turun dari mobilnya.
"Seperti biasa, kau menemukanku dengan mudah walaupun aku tidak memberikan alamatnya," sambut Charlie tersenyum kecil.
"Bukankah kaulah yang mangajariku bagaimanan caranya melacak GPS?" balas Jesica.
"Kau benar," sambut Charlie.
"Ayo, jalan," ajak Charlie.
"Kau meninggalkan temanmu?" tanya Jesica menyipitkan matanya.
"Yah,,, rasanya tak nyaman jika menolakmu" kilah Charlie.
"Wow,,, aku terkesan. Seorang Charlie merubah keputusan hanya dalam hitungan menit," cibir Jesica.
"Karena kau adalah sahabatku. Apakah itu kurang jelas?" sambut Charlie tenang.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Ayo masuk," ajak Jesica.
Charlie mengangguk dan berniat menyaakan kembali mobilnya. Namun gerakannya terhenti seolah menyadari sesuatu.
"Ada apa?" tanya Charlie.
"Aku mendengar sesuatu yang familiar," ungkap Jesica.
Charlie terdiam dan memfokuskan pendengarannya. Samar-samar dirinya memang mendengar sesuatu, suara piano.
"Hei, Charlie. Dimana tepatnya acara ulang tahun temanmu?" tanya Jesica.
"Diatap apartemen itu. Tapi kurasa mereka sudah berhenti," tutur Charlie menujuk apartemen dimana Ariel tinggal.
'Aku mengenali permainan piano ini. Tapi, itu tidak mungkin dia kan?' batin Jesica.
"Ayo pergi," bujuk Charlie.
"Sebentar," jawab Jesica.
Jesica keluar dari mobil dan berjalan menuju apartemen.
'Tck,,, apa sebenarnya yang dia inginkan?' gerutu Charlie dalam hati.
Charlie mengejar Jesica dan menghentikan langkannya. Rasa cemas mulai merayap dihatinya.
" Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Charlie setelah berhasil menangkap tangan Jesica.
"Aku hanya ingin mmastikan sesuatu," jawab Jesica.
"Memastikan apa?" tanya Charlie mengerutkan keningnya.
"Kau tunggu saja dimobil," ucap Jesica melepaskan tangannya dari Charlie dan melangkah masuk kedalam gedung.
Jesica melangkah masuk dan menuju lift yang mengarahkannya keatap. Mau tak mau Charlie mengikuti Jesica.
'Ku harap Joel tidak berada disana. Entah dia sedang diapartemen Ariel, atau dimana saja. Aku hanya berharap Joel tidak disana,' batin Charlie.
"Bukankah ini hanya akan menghabiskan waktumu,?" tanya Charlie didalam lift,
"Sama sekali tidak. Aku hanya ingin memastikan sesuatu, setelah itu pergi," jawab Jesica.
Charlie menghembuskan nafas pelan. Merasa percuma jikaingin menghentikan Jesika ketik dia menginginkan sesuatu.
Ketika pintu lift terbuka, suara alunan piano yang diiringi gitar terdengar semakin jelas. Memunculkan senyuman yang tidak bisa diartikan.
Jesica melebarkan matanya setelah melihat apa yang ada didepannya begitu pintu yang menuju atap terbuka.
'Huft,,, syukurlah,, Joel tidak terlihat. Dengan begitu aku bisa membawa Jesica keluar dari sini," batin Charlie lega.
Kelegaan Charlie ternyata hanya bertahan sementara. Tepat saat dirinya hendak membuka suara dan menarik Jesica pergi sebelum Ariel menyadari kedatangan mereka, Jesica justru mengucapkan kalimat yang tidak pernah diduga olehnya, dan membuatnya terkejut.
"Tak bisa ku percaya, aku bisa melihatmu setelah sekian lama disini, ARIEL,,"
...>>>>>>>--<<<<<<<...