
Keesokan harinya,,,,
Joel manjalani aktivitas seperti bisanya, menyapa dengan ramah pasian yang ia kunjungi disetiap ruangan, melakukan semua tugasnya dengan wajah berbinar, dan berharap hari cepat berganti sore.
Tanpa menyadari sikapnya telah menjadi bahan pembicaraan para perawat yang bergosip ria di sela waktu luang mereka. Diantaranya tiga perawat yang sejak awal mengagumi Joel sejak hari pertamanya datang ke rumah sakit itu.
"Apakah dokter Joel baru saja mendapatkan balasan cinta dari seseorang?" bisik salah satu perawat yang heran dengan sikap Joel hari ini.
"Kenapa?" tanya rekannya bingung.
"Apakah kamu tidak lihat? Dokter Joel tidak biasanya dengan raut wajah seperti itu," balasnya.
"Setauku, dokter memang sedikit pendiam jika bersama kita yang hanya seorang perawat," ujarnya.
"Tapi dokter juga bersikap kaku ketika bersama dokter wanita. Aku bahkan sampai menyayangkan ketampanan dokter Joel seperti sia-sia karena dokter tak banyak bicara dengan rekan kerjanya jika bukan tentang pekerjaan," sambutnya.
"Apakah kamu ingat? Dokter terasa berbeda sejak dokter Joel menolong wanita yang kecelakan saat itu?" tanyanya.
"Maksudmu, wanita yang kakinya di Gips?" tanyanya menimpali.
"Benar, dokter Joel bahkan merawat wanita itu di apartemennya bukan?"
"Aku dengar kabar, bahwa itu dokterlah yang menabraknya ingga membuat wanita itu mengalami keretakan di tulang fibulanya,"
"EEHHHH...?"
"Kamu serius? Siapa yang mengatakannya?"
Perbincangan beberapa perawat itu kian memanas dengan dugaan-dugaan yang mereka buat sediri, karena sikap Joel yang lebih kearah tertutup pada siapapun selain pada pasiennya.
Sikap Joel yang sangat jauh berbeda ketika berhadapan dengan teman dan pasien membuatnya tidak banyak yang mau bergaul dengannya, kecuali Seth.
Tanpa mereka sadari, seseorang yang tidak sengaja mendengar obrlan mereka, memancarkan luapan amarah yang besar dari wajahnya.
Tanpa menunggu dan mencari tau kebenarannya, orang itu segera menuju ruangan dimana biasanya Joel berada.
Dengan kasar, orang itu yang tidak lain adalah Bram membuka pintu tanpa permisi.
"Kau harus belajar apa itu mengetuk pintu sebelum masuk, Bram," sindir Joel saat melihat Bram.
"BUGH,,,!"
Tanpa peringatan, Bram mendaratkan pukulannya diwajah Joel, membuatnya mengeluarkan darah dari sudut bibirnya, kacamatanya terlempar bersamaan dengan pukulan berikutnya.
"BUGH,,,!!"
"Ukh,,, hei,, apa-apaan kau, Bram?" sentak Joel memegangi wajahnya.
Joel menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya, menatap Bram bingung dan kesal diwaktu yang sama, namun tidak membalas.
Bram mencengkram kerah baju Joel dengan amarah yang terlihat jelas, bahkan membuat Joel terdiam hanya dengan melihat sorot matanya.
"Bren*sek kau, Joel," dengus Bram. "Apa alasanmu tidak mengatakan apapun tentang kau yang menabrak Ariel hingga dia berakhir dirumah sakit ini, hah,!?" bentak Bram.
'Dari mana dia mengetahui hal ini? Yang tau tentang kasus itu hanya Charlie, tapi dia tidak mungkin kan mengatakan itu padanya?' batin Joel melebarkan matanya.
"Dari mana aku tau?" tanya Bram dengan mencibir, seolah tau apa yang ada didalam pikiran Joel.
"Apakah jika aku tidak tau tentang ini, kau akan terus menyembunyiannya?" tanya Bram sinis.
Bram melonggarkan cengkraman dikerah baju Joel, menatapnya dengan tajam menunggu jawabannya.
"Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya darimu, Bram. Sungguh!" ucap Joel mulai buka suara.
"Aku hanya tidak ingin_,,, ukh,, baiklah, aku tau ini terdengar egois, tapi aku sedikitpun tidak memiliki niat tersembunyi dari hal ini," ucap Joel.
Joel menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar, lalu menatap Bram.
"Aku hanya merasa kau selalu lebih unggul dariku, kau memiliki segalanya jika dibandingkan denganku, kau bisa dengan mudahnya membalik keadaan jika itu berhubungan dengan Ariel. Jika aku mengatakan hal itu, aku seolah telah melakukan hal fatal yang membuatku kalah telak darimu," ungkap Joel, membuat bram melepaskan cengkraman baju Joel.
"Aku bersalah, aku tau itu. Dan aku menyarankan Ariel agar melaporkan perbuatanku, tapi dia menolak. Yang bisa kulakukan saat itu hanya merawatnya hingga dia benar-benar sembuh," jelas Joel.
Joel membungkuk untuk mengambil kacamatanya, lalu mengenakannya setelah membersihkan kacamata itu.
"Aku tidak lari dari tanggung jawab itu,mengambil tanggung jawab penuh dan memberikan semua yang terbaik untuk perawatannya meski itu belumlah cukup untuk menebus kesalahanku. Tapi, aku juga tidak menyangka akan jatuh cinta padanya, itu diluar perkiraanku, bahkan aku tak pernah bermimpi tentang itu, tapi aku tidak bisa menyangkal hatiku," papar Joel dengan tulus.
"Dan Ariel juga mencintaimu," ungkap Bram.
"Entahlah," sambut Joel menaikan bahunya.
"Dia tidak pernah mengatakannya, dan aku tidak ingin mendesaknya. Kalaupun dia pada akhirnya tidak mencintaiku, aku akan menerimanya," sahut Joel.
"Dia mencintaimu, dan aku bisa melihatnya," ucap Bram. "Itu adalah bukti bahwa kau jauh lebih baik dariku, dan akulah yang kalah telak darimu," imbuhnya.
"Aku tidak ingin terbuai dari sesuatu hanya berdasarkan dugaan," jawab Joel.
"Terserah,!" dengus Bram.
"Satu hal lagi, wanita yang bernama Christina, akan lebih baik jika kau menjaga jarak dan membuat batasan dengannya," saran Bram.
"Kenapa?"
"Karena aku akan menghajarmu jika kau tidak mendengarkanku,!" tegas Bram dengan suara serius.
Bram berbalik dan berniat meninggalkan Joel. Tangannya masih terkepal seolah ia belum sepenuhnya meluapkan amarah dihatinya.
"Bram,,!"
Bram menghentikan langkahnya, menunggu apa yang akan dikatakan Joel tanpa menoleh.
"Jesica," jawab Bram singkat.
"Apakah kau menemuinya?" tanya Joel terkejut. "Tapi, bagaimana mungkin? Dia bahkan tak tau tentang Ariel yang di rawat di sini?" imbuhnya.
"Jangan lupakan satu hal penting tentang dirinya! Dia bisa mendapatkan semua informasi apapun yang dia inginkan," jawab Bram dingin.
"Dan kau menemuinya untuk informasi ini?" tanya Joel lagi.
"Bahkan tidak sedikitpun aku memiliki pemikiran itu. Dia hanya memberitauku," jawabnya.
"Lalu kenapa kau menemuinya?" tanya Joel tak mengerti.
"Apakah kau pikir aku akan diam saja setelah insiden sabotase yang menimpa Ariel malam itu?" jawab Bram kembali melempar pertanyaan.
Joel tertegun menatap punggung Bram. Untuk beberapa alasan, Joel harus mengakui apa yang dilakukan Bram sangatlah tulus. Bram kembali melangkah.
"Hei,,!"
Joel kembali menghentikan Bram saat tangannya berada di knop pintu.
"Pukulanmu terasa sakit, aku akan membalasnya suatu hari nanti," ucap Joel tersenyum tipis.
"Silahkan saja, aku akan menunggu apakah kau bisa dan memiliki alasan untuk itu," jawab Bram melirik Joel dari balik bahunya.
"Kau sahabat terbaik, Bram," ucap Joel tulus.
"Cih,,, siapa yang sudi menjadi sahabatmu," cibir Bram tersenyum tipis.
"Jika bukan sahabat, kau tak akan datang hanya untuk menghajarku disaat aku melakukan hal salah," balas Joel tulus.
"Aku tidak terkesan dengan rasa percaya dirimu yang tinggi itu,"
"BLAMM,,,,!!!"
Suara keras pintu yang menutup, meninggalkan keheningan sejenak di ruangan dimana Joel berada.
Joel manatap pintu selama beberapa saat sebelum kembali duduk. Tangannya meraih kotak obat dan meneteskan cairan antiseptic pada kapas dan mulai mengobati dirinya sendiri dengan bantuan cermin.
"Ukh,,," rintihnya pelan.
"Dasar, apa yang dia makan hingga pukulannya terasa sakit seperti ini," gerutu Joel.
Sesaat kemudian, Joel trsenyum tipis ketika mengingat ucapan Bram.
[[ Dia mencintaimu, aku bisa melihatnya]]
"Aku juga bisa melihatnya bahwa kau sangat mencintainya, Bram. Anehnya, aku merasa bisa mempercayakan Ariel padamu jika dia kembali mencintaimu," gumam Joel.
Joel melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya, lalu berdiri untuk melepaskan jasnya dan menyimpanya ditempat penyimpanan.
Joel bergegas keluar dari ruangannya setelah membereskan barang-barangnya, dan melangkah keluar.
"Sudah mau pulang?" tegur Seth yang kebtulan akan menemui Joel.
"Yah,,, sebelum itu, aku sangat berterima kasih padamu karena mau membantuku dengan datang lebih cepat," ucap Joel tersenyum.
"Itu bukan hal besar, terlepas dari kau juga sering membantuku, bantuan kecil seperti ini bukanlah apa-apa. Tapi, katakan padaku! Apakah kau berkencan dengan wanita yang pernah kau rawat itu?" tanya Seth.
Joel hanya tersenyum sembari mengosok belakang lehernya. Namun, cukup bagi Seth untuk mengerti.
"Baiklah,,, aku paham, pergilah!" ujar Seth tertawa ringan.
Joel pergi meninggalkan Seth yang hanya bisa mengeleng-gelengkan kepalanya, tersenyum geli melihat tingkah teman yang di kenal pendiam, namun menjadi sosok berbeda hanya ketika ia bersama wanita yang ia lupakan namanya.
Mobil Joel melaju mulus meninggalkan rumah sakit, dan berhenti di sebuah pusat perbelanjaan. Ia membeli beberapa bahan makanan yang diperlukan.
ketika ia melangkah keluar setelah selesai berbelanja, matanya tak sengaja melihat sebuah kalung yang membuatnya tertarik dan segera membelinya tanpa pikir panjang.
Sementara itu, disisi lain, Bram tengah duduk disebuah cafe bersama Charlie dan Jesica. Suara tawa ringan keluar dai bibir Jesica saat ia menyadari Charlie dan Bram memberinya pandangan skeptis.
"Aku tidak akan memaksa kalian untuk percaya padaku, aku juga sudah mengatakan apa yang kalian minta. Apa lagi yang kalian berdua inginkan?" cibir Jesica.
"Lalu kau, Charlie. Tak bisa ku percaya, kau begitu saja membuangku setelah kau bertemu dengan Ariel, dan kau lebih mendengarkannya dari pada mendengrkanku," sindirnya.
"Aku hanya melihat mana sudut yang benar bagiku," sahut Charlie datar.
"Terserah," dengus Jesica.
"Jawabnku tetap sama. Aku tidak pernah melakukan sabotase apapun di acara Ariel malam itu atau entah kapan yang kalian maksudkan, jawabanku akan tetap sama," jelas Jesica.
"Lalu, kenapa kau menyelidiki Ariel?" tanya Bram dingin.
"Karena aku menyukainya. Dia selalu banyk kejutan, bahkan sampai sekarang hal itu tak berubah. Aku bahkan terkejut dia mencapai titik menjadi pemusik yang sangat diakui," sambut Jesica tenang.
"Dan kepada siapa kau memberikan informasi tentang Ariel?" tanya Bram curiga.
"Aku sudah cukup baik dengan memberitahumu bahwa Joel yang mencelakai Ariel. Dan aku tidak ingin memberikan informasi lebih untukmu,!" tegas Jesica.
"Kau cukup gunakan saja hal itu untuk kembali merebut hati Ariel, mudah bukan?" imbuhnya.
"Tak perlu repot mengajariku bagaimana aku harus bersikap," sambut Bram kaku.
Jesica hanya menaikan bahunya dengan acuh dan bangun dari duduknya, meninggalkan Charlie dan bram yang masih duduk termenung. Kembali memikirkan siapa yang menjadi kemungkinan mencelakai Ariel.
...>>>>>>>--<<<<<<<...