I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
71. Acara pemicu masalah



Ariel tampak berdiri disudut ruangan dengan gelas ditangannya. Sesekali ia melihat Ken tengah berbincang dengan keluarganya yang terus saja memperlihatkan gerakan tidak nyaman.


"Selamat malam, nona?"


Sapaan halus dari seorang pria berjas hitam membuat Ariel menoleh ke sumber suara. Pria itu tertegun sesaat ketika melihat Ariel dari dekat, lalu tersenyum hangat.


"Selamat malam," balas Ariel ramah.


"Apakah anda keberatan jika saya menemani anda, nona?" tanya pria itu dengan gaya khas memikat darinya.


"Tidak sama sekali," jawab Ariel tersenyum.


Kali ini pria itu tampak terpana saat Ariel tersenyum padanya. Tidak menyadari sejak awal bahwa wanita yang bersama Ken, putra dari tuan rumah akan terlihat sangat cantik ketika tersenyum dan dilihat dari dekat.


"Saya melihat anda datang bersama tuan Ken, apakah anda kekasihnya?" tanya pria itu.


"Bagaimana kelihatannya?" jawab Ariel balas bertanya.


"Ah,,, saya menolak untuk menerka-nerka hal yang belum pasti," jawabnya tersenyum.


"Begitu juga dengan saya, saya menolak untuk mengatakan hal yang akan membuat siapapun yang mendengarnya salah paham," jawab Ariel balas tersenyum.


"Ha ha ha, anda pandai menjawab, nona. Anda bahkan tidak terpengaruh dengan mereka yang membicarakan anda," pujinya dengan tulus.


"Bukankah dengan anda tau hal itu seharusnya anda tidak menghampiri saya?" ucap Ariel menaikkan sebelah alisnya.


"Saya cenderng mencari tau apa yang di katakan orang alih-alih menelan mentah berita yang hanya saya dengar," jawabnya dengan positif.


"Wow,,,saya terkesan," jawab Ariel.


"Saya Darcie. Darcie Adonis," ujarnya mengulurkan tangan.


"Adonis?" ulang Ariel menautkan kedua alisnya.


"Pemilik perusahaan parfum termuda yang menjadi perbincangan para pengusaha?" Ariel membulatkan matanya menatap sosok pria tampan didepannya dari atas sampai bawah.


Pria itu kini tampak tersenyum geli melihat reaksi Ariel.


"Apakah anda mengenal nama itu?" tanyanya belum menurunkan tangannya.


"Disetiap toko besar, nama anda selalu menjadi perbincangan hangat, namun saya tidak pernah menyangka akan bertemu anda secara langsung," papar Ariel.


"Ariel," sambut Ariel menerima uluran tangan Darcie.


"Ariel?" Darcie mengenggam hangat tangan Ariel disertai menyipitkan matanya, seolah menunggu kalimat setelahnya.


"Ariel Esther," ungkap Ariel.


"APAAA,,,,?" Darcie berseru kaget.


Secara otomatis suara Darcie menarik perhatian banyak pasang mata, menatap mereka berdua dengan intens.


"Pemusik muda berbakat yang menolak sorotan publik? yang memiliki nada sempurna? Anda sungguh Ariel Esther yang itu?" tanya Darcie mengecilkan suaranya.


"Errr,,," Ariel memutar bola matanya. "Saya tidak tau apa saja yang telah anda dengar, tapi saya yakin mereka mendramatis apa yang mereka ucapkan," kilah Ariel.


"Saya ragu itu benar, saya bahkan telah mendengarkan banyak permainan anda," ungkap Darcie. "Dan sungguh, itu menakjubkan," imbuhnya.


"Mengapa anda tidak mengatakan saja sejak awal bahwa anda seorang pemusik? Setidaknya anda tidak akan mendapat tatapan meremehkan dari hampir seluruh tamu disini termasuk tuan rumah?" tanya Darcie.


"Saya tidak ingin menarik perhatian," jawab Ariel.


"Jadi anda menjalin hubungan dengan tuan Ken? Apakah tuan Ken juga tau siapa anda sebenarnya?" tanya Darcie.


"Tidak persis seperti itu," jawab Ariel. "Hanya saja_,,,"


Tepat saat Ariel akan mengatakan sesuatu, sebuah tangan mendarat dibahu Darcie, membuat pria itu menoleh dan mendapati pria yang sedikit lebih tua darinya tersenyum kearahnya.


Pria itu berbisik pelan pada Darcie, membuatnya menganggukan kepalanya, dan menatap Ariel dengan tatapan minta maaf.


"Maaf sekali, sepertinya ada beberapa hal yang harus saya urus, saya mohon undur diri. Senang bisa berbincang dengan anda nona Ariel," ucap Darcie dengan gestur hormat.


"Saya merasa terhormat dapat berbincang dengan anda tuan Darcie," balas Ariel sopan.


"Selamat menikmati malam anda," ucapnya lagi sebelum pergi bersama temannya. Meninggalkan Ariel kembali sendiri.


Ariel hanya sempat memberi anggukan singkat sebagai balasan.


"Haahh,,, untunglah itu berakhir dengan cepat," desah Ariel pelan.


Berulang kali Ken menoleh kearah dimana Ariel berada, namun Ariel hanya memberi anggukan ringan sebagai pendorong agar Ken bertahan sebentar lagi untuk menghormati keluarganya.


Ketika malam semakin merangkak naik, Ken meninggalkan keluarganya dan menghampiri Ariel.


"Maaf kak, aku meninggalkan kakak sendiri," sesal Ken.


"Tak masalah, aku bisa mengerti. Lagi pula, aku tidak benar-benar sendiri disini. Hanya saja, aku memiliki satu saran untukmu, Ken," ucap Ariel.


"Apa?" Ken menaikan alisnya, melirik Ariel yang meneguk minuman ditangannya sampai tandas.


"Jika kamu merasa tidak nyaman berada ditempatmu berdiri saat ini, maka jangan paksakan dirimu," ucap Ariel.


"Berdirilah dengan kakimu sendiri, dan percayalah pada dirimu sendiri," imbuhnya.


"Aku hanya merasa mereka berpura-pura setiap kali aku berada didekat mereka," ucap Ken lirih.


"Semoga saja," harap Ken tersenyum kecut.


Ariel mengerjapkan matanya, merasa pandagannya mulai terasa kabur. Berulang kali ia mengelengkan kepalanya agar rasa berdenyut dikepalanya berkurang meski hanya beberapa menit.


Namun, sakit kepalanya justru semakin kuat menyerangnya. Perlahan hawa panas menjalar di tubuhya, membuat ia tidak bisa mengerti sensasi apa yang sedang ia rasakan sebenarnya.


"Kak,,?" panggil Ken.


"Uhmmm,,,," Ariel bergumam dan mengarahkan pandangannya pada Ken.


Sayangnya ia kembali mengelengkan kepalanya, berusaha untuk tetap berada dalam kesadarannya.


'Apa ini? Kenapa rasanya panas sekali? Ada apa dengan tubuhku?' batin Ariel.


"Kak,, kakak kenapa?" tanya Ken cemas.


"Sepertinya aku tidak bisa disini lebih lama lagi dari ini," ucap Ariel.


"Apakah tidak apa jika aku pulang lebih dulu, Ken?" tanya Ariel.


"Kak Ariel tidak mungkin mengemudi dengan keadaan seperti ini kan?" jawab Ken.


"Aku akan duduk diluar sebentar, dan pulang setelah merasa lebih baik," ucap Ariel lagi, bergegas meninggalkan Ken.


Ariel mulai merasakan perasaan aneh dalam tubuhnya sendiri kian menguat, seolah tubuhnya sekarang bukan lagi miliknya.


'Jelas-jelas yang aku minum adalah moktail, dan itu tidak memiliki kadungan alkohol sama sekali, tapi kenapa kepalaku terasa sakit seperti ini,' keluh Ariel dalam hati.


'Aku harus pulang sekarang, tubuhku benar-benar terasa tidak enak,' batin Ariel.


Ariel merasakan getaran diponsel yang ia genggam. Tanpa melihat layar ponselnya, ia segera menempelkan ponsel ketelinganya.


"Engh,,, ya? Apa? Siapa?" ucap Ariel seraya mecengkram kepalanya.


"Egh,, kenapa diam saja? Siapa sih? Akh,,,"


Tiba-tiba tenaga kakinya seolah menghilang, membuat Ariel terhuyung dan menjatuhkan ponselnya. Namun sebelum tubunya menyentuh tanah, sepasang tangan kokoh telah menangkapnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada kakak?" tanya Ken.


Ariel merasakan hembusan nafas Ken terasa sangat dekat dan panas. Ia mengerjapkan matanya, melihat wajah Ken sangat dekat darinya.


Suara Ken yang terdengar cemas, membawa Ariel kembali ke kesadarannya. Ariel berusaha menegakkan kakinya, berharap kesadarannya tetap ia dapatkan. Tetap saja, sakit kepalanya kian menjadi. Posisinya saat ini dimana Ken menahan tubuhnya, justru membuat rasa panas di tubuhnya bertambah.


"Aku akan antar kakak pulang," ucap Ken.


"Tapi acaramu belum selesai, Ken," bantah Ariel.


"Dan membiarkan kak Ariel pulang dengan keadaan seperti ini? Itu sama saja kakak mengambil satu tiket menuju kematian," sambut Ken terdengar kesal.


Mereka menuju tempat dimana mobil Ariel terparkir dengan Ken memapah Ariel yang tampak kesulitan untuk berjalan, setelah berhasil mengambil ponsel Ariel yang terjatuh.


Ponsel Ariel kembali berdering, tertulis nama Bunny di layar ponsel itu, namun Ken memilih mengabaikannya. Ia hanya meletakkan ponsel di dashboard mobil setelah berhasil membuka pintu mobil.


Membantu Ariel duduk di kursi penumpang, dan segera mengitari mobil, lalu duduk dibelakang kemudi.


Ken mencondongkan tubuhnya, berniat memasangkan seatbelt, namun saat wajahnya berada sangat dekat dengan Ariel, ia menelan ludahnya.


Matanya tertuju pada bibir mungil dan tipis milik Ariel yang tengah memejamkan matanya. Beberapa kali ia mencoba untuk mengalihkan pikiranya, namun gagal.


Tiba-tiba, tangan Ariel mencengkram kerah baju Ken, menariknya lebih dekat kewajahnya.


"Hei, Bunny, kenapa menatapku seperti itu? Apakah kau kembali ragu hanya untuk menciumku?" rancau Ariel membuka matanya.


"Kak, sadarlah!" ucap Ken melepaskan tangan Ariel dari bajunya.


Ariel merasa tubuhnya kian terasa panas, pandangannya kabur, dan tidak lagi menyadari dengan tindakannya. Ia hanya melihat bahwa yang kini didepannya adalah Joel.


Alih-alih bisa melepaskan tangan Ariel dari bajunya, Ken justru semakin ditarik kearah Ariel, membuatnya menekan tubuh Ariel disandaran jok mobil, hingga akhirnya bibir mereka bertemu.


Mulanya, Ken mencoba untuk melepaskan diri, namun gejolak perasaannya membuatnya terhanyut saat Ariel mengigit lembut bibir bawah Ken. Tangan Ken mulai bergerak menagkup wajah Ariel, dan lebih menekan tubuhnya, sementara satu tangannya yang bebas menekan tombol sandaran kursi untuk menurunkannya.


Ken seolah terhipnotis, gagal mengontrol perasaanya sendiri. Tangannya mulai menelisik kedalam pakaian Ariel.


Suara ponsel Ken menyela ciuman panas mereka, sebelum mereka berbuat lebih jauh, membuat Ken menjauhkan wajahnya dari Ariel.


"Ya?" sambut Ken datar.


"Aku sudah melakukan tugasku, sisanya terserah padamu. Dan perlu kuingatkan, ini kesempatanmu untuk memilikinya,"


Suara wanita dari ponsel Ken menghilang setelah menyelesaikan kalimatnya. Merubah raut wajahnya seketika.


Perasaan bersalah, merasa buruk, dan merasa dirinya telah melakukan kesalahan besar memenuhi rongga dadanya yang mulai sesak.


Ken menagkup wajahnya, lalu melirik Ariel yang kini berada disampingnya dengan mata terpejam dan pakaian sedikit berantakan karena ulahnya.


"Maafkan aku, kak. Seharusnya aku tidak mengikuti saran wanita gila itu. Aku tidak mungkin mendapatkan kakak dengan cara kotor seperti ini, maafkan aku," ratap Ken.


Ken segera memacu mobil menuju apartemen Ariel, ingin segera mengantarnya pulang dengan selamat, sekaligus menepis semua pikiran buruk yang memenuhi pikirannya.


...>>>>>>>--<<<<<<<...