I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
40. Kejutan 4



"SURPRISE,,,,!!!"


Ariel menoleh saat mendengar Joel dan Bram berseru bersama.


"Selamat ulang tahun, Ariel,"


Joel dan Bram kembali mengucapkan kalimat yang sama. Tersenyum lebar sembari merentangkan kedua tangannya.


"Ini,,," Ariel berkata sembari menunjuk apa yang ada dibelakangnya, masih tidak percaya dengan yang dilihatnya.


Tak lama, alunan melodi piano terdengar. Memainkan lagu selamat ulang tahun.


Ariel mengarahkan pandangannya kearah piano yang telah berada disana dengan seseorang duduk dibaliknya.


'Bagaimana cara mereka membawa piano kesini?' batin Ariel.


Ariel masih terpaku ditempatnya hingga lagu berakhir dan muncul seseorang yang sangat dikenalnya.


"Charlie,,,?" desis Ariel melebarkan matanya.


Charlie tersenyum simpul dan menghampiri Ariel. Menuntunnya menuju satu-satunya meja yang telah disediakan disana dengan empat kursi mengelilinginya.


Ditengah meja sebuah Lady Baltimore Cake dengan lilin yang tertancap dikue itu dalam keadaan belum menyala.


"Apakah kalian yang menyiapkan ini semua?" tanya Ariel dengan mata terpaku pada apa yang ada dimeja.


"Tentu saja," sambut Bram.


"Lalu kue ini?" tanya Arie menunjuk Lady Baltimore Cake yang ada dimeja.


"Sangat mudah untuk mendapatkannya jika memesan sebelumnya bukan? Dan aku ingat itu adalah kue favoritmu," jawab Bram santai.


"Apakah kau menyukai kejutannya?" tanya Charlie menyadarkan Ariel.


"Bagaimana kamu bisa berada disini?" Ariel balas bertanya.


"Ohoo,, Kata-kata besar untuk seseorang yang mengira aku tidak akan datang untuk acara penting ini," sindir Charlie.


"Eh,, Tidak,, Bukan begitu,," ralat Ariel berubah panik.


"Aku tidak bermaksud untuk menyinggungmu," sambungnya.


Charlie tertawa ringan sebelum kembali berkata.


"Kau bersikap seolah bukan dirimu, Ariel. Apakah kau sadar akan itu?" goda Charlie.


"Aku yang memintanya untuk datang," sela Joel.


"Aku ingat Charlie bisa memainkan piano, jadi kami meminta bantuannya," terang Joel.


"Jujur saja, awalnya aku menolak. Tapi saat dia mengatakan itu untukmu, aku langsung menyetujuinya dan berlatih untuk itu," timpal Charlie.


"Itu membuatku tersentuh, terima kasih banyak, Charlie," sambut Ariel.


"Sekarang, duduklah," ucap Charlie sembari membimbing Ariel untuk duduk.


Ariel menurut duduk, diikuti Charlie, Bram dan Joel. Charlie menghidupkan lilin dan mendekatkan kue pada Ariel.


"Sekarang, waktunya Make a wish," ucap Charlie.


Ariel menatap mereka secara bergantian, merasa tersentuh atas tindakan mereka. Dia pun memejamkan matanya, menyatukan kedua telapak tangnnya sembari sedikit menundukan kepalanya.


Beberapa detik kemudian, Ariel membuka matanya dan meniup lilin disambut sorakan mereka bertiga.


Ariel memotong kuenya dan membaginya untuk mereka. Tanpa sadar, ariel memberikan potongan kue pertama kepada Joel yang segera menerimanya dengan binar dimatanya.


"Tunggu dulu," cegah Ariel ketika Charlie hendak memakan kue.


"Jika kau memikirkan makanan, tenang saja. Makanan akan tiba beberapa menit lagi," sambut Bram.


"Tidak, bukan itu," sanggah Ariel.


"Aku akan membuatkan coktail untuk kalian. Bukankah ini waktu yang pas?" sambungnya.


"Coktail? Kau bisa membuatnya?" tanya Charlie.


"Hanya sedikit," ralat Ariel. " Jika hanya Negroni atau Margarita aku bisa membuatnya," ungkap Ariel.


"Benarkah???" sambut Chariel berbinar, yang dibalas dengan anggukan kepala.


"Kalau begitu, aku mau Margarita,'" ucap Charlie.


"Negroni untukku," timpal Bram.


Ariel menatap Joel sembari menaikan alisnya.


"Dan kau?" tanya Ariel.


"Aku_,,,"


"Heh,,, apa-apaan kau ini," potong Bram. "Kau harus membantunya, dia tidak mungkin membawa minuman untuk kita semua sendirian," semburnya.


"Aku tau," sungut Joel.


"Ayo, Ariel," ajak Joel meraih tangan Ariel.


Ariel dan Joel pun pergi meninggalkan atap untuk membuat minuman untuk mereka semu.


"Jadi, kau sudah merelakannya?" tanya Charlie ketika Ariel tidak terlihat.


"Kurasa,,, begitu. Walaupun belum sepenuhnya. Tapi, aku merasa lebih baik sekarang," terang Bram.


"Woww,,, Aku kagum dangan sikap dewasamu," sambut Charlie.


"Padahal, kau bisa saja yang pergi menemani Ariel membuat minuman. Tapi, kau justru membuka puluang untuk Joel," tutur Charlie.


"Karena aku tau Ariel akan lebih senang ketika bersamanya," jawab Bram.


"Yang ingin kulakuan sekarang hanyalah membuatnya bahagia. Hanya agar aku bisa melihat senyum diwajahnya," ungkap Bram.


"Sekrang aku bisa mengatkan, seseorang yang mendapatkan cintamu, dia akan bahagia," sambut Charlie.


"Pada kenyataannya, aku justru membuatnya menangis," balas Bram.


"Setiap orang harus memulai dari suatu tempat, kau ingat hal itu bukan?" ucap Charlie.


"Aku tau, dan bukan hanya kau saja yang mengatakan hal itu padaku," sambut Bram tersenyum getir.


"Tetapi, kini tujuanku adalah memastikan dia bahagia, meskipun aku bukan alasan baginya untuk bahagia," terang Bram.


"Yah,,, dia wanita baik, dia pantas mendapatkan apa yang memang pantas untuknya, termasuk kebahgiaan bersama orang yang dia cintai," sambut Charlie.


Bram mengangguk setuju lalu tersenyum.


"senang rasanya mendapatkan teman sepertimu," ungkap Bram.


"Kenapa begitu?" tanya Charlie.


"Kau adalah teman satu-satunya yang aku temui disini dan merasa sangat nyaman mengobrol denganmu," papar Bram.


"Aku senang jika kau merasa begitu," sambut Charlie tersenyum.


Ariel kembali muncul bersama Joel dengan nampan ditangannya yang berisi empat gelas minuman dan sebotol Champagne.


"Ini dia,,," ucap Ariel meletakan gelas didepan Bram dan Charlie.


Ariel juga meletakkan gelas didepan Joel dan dirinya sendiri, menyisakan botol ditengah-tengah mereka.


"Ini adalah hari penting," ucap Charlie sembari mengangkat gelasnya.


"Apapun yang menjadi harapan Ariel saat Make a wish semoga terkabul," sambungnya.


Bram mengikuti mengangkat gelasnya diikuti Joel.


"BERSULANG,,,,!!!"


Mereka berseru serentak sebelum mendentingkan gelas mereka satu sama lain. Wajah terkejut mereka tidak bisa di sembunyikan setelah meneguk minuman yang ada ditangan mereka.


"Apakah kau sebenarnya adalah seorang bartender?" celetuk Charlie.


"Sepertinya bukan hanya aku yang menyangka kau adalah seorang bartender," timpal Joel.


"Jangan berlebihan!" sangkal Ariel. "Kemampuanku tidak sebaik itu. Dan lagi, aku hanya bisa beberapa saja," tambahnya.


"Tapi, harus kuakui, minumanmu tidak kalah dengan bartender yang sesungguhnya," sambut Bram.


"Jika kau membuka Bar, kurasa minumanmu akan diminati oleh banyak orang," sambung Charlie.


"Tidak akan," jawab Ariel cepat.


Mereka tergelak, dan kembali menyesap minuman mereka, diiringi canda tawa. Mereka terus mengobrol dan bercerita satu sama lain.


Hingga dering ponsel Charlie menghentikan kegiatan mereka. Charlie segera mengeluarkan ponselnya dan mengerutkan keningnya ketika melihat layar ponsel.


"Tunggu sebentar, aku akan menjawab ini," ucap Charlie mununjuk ponsel ditangannya.


"Tentu," sambut Ariel tersenyum. "Gunakan waktumu sebanyak yang kau mau," lanjutnya.


Ariel mengikuti Charlie dengan matanya. Terlihat Charlie meletakkan ponsel ditelinganya, wajahnya tiba-tiba berubah kesal, ia meletakkan tangan dipinggangnya, dan detik berikutnya mengibaskan tangannya.


Tak lama kemudian, Charlie mengakhiri panggilannya dan menghembuskan nafas dengan kasar. Ia menoleh kearah Ariel yang tengah memperhatikannya dan tersenyum canggung.


"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Ariel ketika Charlie kembali duduk.


"Tidak ada yang penting, hanya saja aku memiliki teman yang merepotkan," jawab Charlie.


"Kalau begitu, undang saja dia kesini," saran Ariel.


"Tapi, bagaimana jika dia justru mengacau disini?" sambut Charlie.


"Aku yakin itu tidak akan terjadi. Bukankah dia temanmu? Aku tidak keberatan berkenalan dengan teman dari temanku sendiri," balas Ariel tersenyum.


"Terima kasih banyak, Ariel. Aku benar-benar tertolong," ucap Charlie.


"Aku akan menghubunginya lagi, kurasa dia kesal padaku sekarang karena aku menolak ajakannya," terang Charlie meringis.


Ariel mengangguk dan membiarkan Charlie kembali menghubungi temannya untuk bergabung bersama mereka.


...>>>>>>>--<<<<<<<...