I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
22. Hadiah.



Satu hari setelah Ariel memberikan tiket masuk studio musik kepada Joel.


>>>>>>


Ariel akhirnya menyetujui permintaan Bram untuk berkencan denganya sore hari untuk menonton film di bioskop pada malam harinya.


Bram membawa Ariel ke sebuah galeri seni yang tengah diadakan sore itu.


Bram mengandeng tangan Ariel, dan mengajaknya berkeliling melihat lukisan yang di pajang di setiap sudut lorong galeri.


"Jadi, kau masih tertarik dengan lukisan?" tanya Ariel memecah keheningan.


"Tentu saja. Aku selalu menyukai seni. Dan kau tau? Nanti akan ada acara lelang di ruang utama. Dan salah satu barang yang akan di lelang adalah sebuah biola dengan ukiran unik dan sangat langka. Bahkan ku dengar biola ini tidak semua orang bisa membuatnya," papar Bram.


"Benarkah?" Ariel manaikan alisnya.


"Jadi kau mengajaku kesini karena kamu ingin membeli biola itu?" tebak Ariel.


"Ya. Dan itu untukmu," sambut Bram.


Ariel menghentilan langkahnya. Menatap Bram dengan tatapan tidak suka.


"Ada maksud apa di balik biola yang akan kau berika padaku, Bram?" selidik Ariel.


"Ayolah, Ariel. Jangan teralalu sinis padaku. Aku tau aku salah dan membuatmu marah atas sikap konyolku. Aku hanya tidak bisa menahan diri. Tapi Aku bersumpah tidak memiliki niat untuk menyakitimu lagi, " terang Bram.


"Kau bahkan tidak termasuk dalam kategori orang yang bisa di percaya," sindir Ariel.


"Kejam sekali," desah Bram.


"Siapa kejam pada siapa?" sindir Ariel lagi membuat Bram tersudut.


Acara pelelangan pun berlangsung. Ariel menunggu dengan sabar biola yang di ceritakan Bram padanya akan di tampilkan.


Sejujurnya, Ariel tertarik, namun memilih untuk menyembunyikan ketertarikanya dari Bram karena tidak ingin membuat Bram berpikir ia memberi Bram kesempatan untuk mendekatinya lagi.


Setelah satu jam, biola itu akhirnya muncul.


Tak bisa di pungkiri, Biola itu memang sangat indah. Ariel membelalakan matanya saat mendengar harga penawaran pertama untuk biola itu sangatlah tinggi.


Ariel menjadi lebih terkejut lagi saat Bram turut serta dalam menawar. Bram tidak segan-segan dalam menyebutkan nominal harga yang mebuat Ariel kembali melebarkan matanya.


Orang lain yang menghadiri acara pelelangan, menawar harga lebih tinggi dari Bram. Namun, Bram tetap tidak mau kalah dan menaikkan lagi harga penawarannya.


Setelah persaingan sengit untuk mendapatkan biola, kemenangan mutlak di daptkan Bram setelah Ia menyebutkan harga yang tidak bisal lagi membuat siapapun yang mendengarnya berkutik.


Setelah beerapa saat, acara lelang pun berakhir. Ariel dan Bram menunggu proses pembelian barang lelang di sebuah ruangan dimana ada sebuah piano besar di sana.


"Selama menunggu, kamu bisa memainkannya jika kamu mau, Ariel," tawar Bram saat menyadari Ariel tidak mengalihkan pandangannya dari piano.


"Tidak, terima kasih. Aku khawatir justru akan merusak pianonya," tolak Ariel.


"Itu tidak mungkin terjadi, lagi pula aku tau persis bagaimna caramu memperlalukan alat musik yang kamu mainkan," tutur Bram.


"Dan lagi, kita berada di ruang VIP," sambungnya.


"Tidak perlu," jawab Ariel menolak lagi tawaran Bram.


Bram mengangguk dan berhenti mendesak. Tak lama berselang, seorang pria masuk dan membawakan biola yang akan di bayar Bram.


Transaksi berjalan mulus, mereka akhirnya meninggalkan tempat itu dengan biola di tangan Bram.


Bram kemudian meletakkan biola itu dengan hati-hati di mobilnya.


"Jadi, kita nonton sekarang?" tawar Bram.


"Yah. Tentu," jawab Ariel.


Bram tersenyum senang dan mulai menjalankan mobilnya. Dalam perjalanan, Bram sesekali mencuri pandang pada Ariel yang duduk di sampingnya.


'Entah kapan terakhir kali aku bisa melihatnya sedekat ini tanpa seruan marah darinya. Dia masih tetap cantik seperti sebelumnya,' bisik hati Bram.


Barm memasuki kawasan bioskop yang terlihat ramai. Ditangannya telah mengenggam dua buah tiket yang dipilihnya sendiri. Sebelum film dimulai, Bram bahkan menyempatkan untuk membeli pop corn dan minuman favorite Ariel.


"Ini dia, minuman untukmu. Kopi favoritmu dan popcorn," ucap Bram menyodorkan gelas pada Ariel.


Kedua tangannya sibuk denga membawa makanan dan minuman, hampir tidak memungkinkan untuk bisa mengeluarkan tiket dari saku celananya.


"Terima kasih," sambut Ariel menerima minuman dari Bram.


Ariel membantu Bram dengan membawa gelas minumannya saat hendak masuk kedalam ruangan dimana film yang akan mereka tonton diputar.


Bram tersenyum terima kasih dan segera memberikan tiket mereka agar dapat kembali membawa sediri gelas minumannya.


Walaupun ia sendiri tau, Ariel tidak akan keberatan membawakan satu gelas minuman miliknya, namun Bram tetap tidak ingin Ariel melakukannya.


Mereka akhirnya duduk dengan tenang, dalam hitungan detik, sebuah layar besar mulai memperlihatkan sebuah film bertema romantis.


Sesekali, Ariel meneguk minumannya, matanya tertuju pada film. Perlahan ia pun mulai bosan dengan film yang di putar didepannya.


"Aku akan ke toilet sebentar," bisik Ariel pada Bram.


"Kita keluar saja," sambut Bram.


"Tapi, film nya belum selesai," ucap Ariel mengingatkan.


"Tidak apa-apa. Aku tak mempermasalahkan hal itu," jawab Bram.


Bram menuntun tangan Ariel untuk keluar dari ruangan itu dengan hati-hati. tempat mereka duduk memudahkan mereka untuk keluar tanpa menganggu penonton lain, hingga mereka berhasil keluar tanpa keributan.


"Aahh,,, leganya," desah Arie setelah mereka berada di luar.


"Sesuai dugaan, kamu masih tidak menyukai film sejenis ini," celetuk Bram tersenyum.


Bram terkekeh mendengar perkataan Ariel. Ia kemudian tersenyum lembut sebelum kembali berkata.


"Inilah alasanku memilih tempat duduk tadi, Ariel. Aku berpikir mungkin kamu akan bosan dan mencari alasan untuk keluar," papar Bram.


"Jadi, kita bisa pulang sekarang?" tanya Ariel.


Bram termenung sesaat, lalu mendesah pelan.


"Baiklah, lagi pula kamu juga sudah menepati janjimu, maka aku akan menepati janjiku. Aku akan mengantarmu pulang," desah Bram.


"Terima kasih," sambut Ariel.


Bram tersenyum getir lalu mengangguk pelan. Tangannya terulur untuk mengandeng tangan Ariel yag di sambut tatapan bingging dari Ariel.


"Bolehkah aku? Hanya sampai di tempat dimana aku memarkir mobilku," ucap Bram memelas.


"Hemm,, bersikap sebagai seorang bangsawan terhormat?" sindir Ariel menaikan alisnya.


"Aku tau, aku menyebalkan. Tapi aku juga tau cara mengistimewakan seseorang," balas Bram.


Ariel menaikan bahunya, namun segera menerima uluran tangan Bram.


"Tidak buruk," celetuk Ariel.


Bram terbahak, namun tatapannya melembut. Mereka memutuskan untuk pulang, tidak lagi tertarik dengan akhir film yang meraka tinggalkan.


"Terima ksih sudah mengantarku, Bram," ucap Ariel sebelum keuar dari mobil Bram.


"Dengan senang hati, Ariel," sambut Bram tersenyum.


"Bisakah kita melakukannya lagi lain kali?" harap Bram.


"Aku akan memikirkannya," jawab Ariel. " Selama kamu janji bisa menjaga sikapmu," sambungnya.


"Terima kasih, itu sudah lebih dari cukup untuk ku dengar," balas Bram.


"Selamat malam, Bram," ucap Ariel sembari membuka pintu mobil dan melangkah keluar.


"Malam, Ariel. Semoga kamu bisa tidur nyenyak," sambut Bram.


Ariel tersenyum dan mengangguk, kemudian tangannya menutup pintu mobil.


Ariel melangkah tanpa menoleh lagi kebelakang. Ia tau pasti Bram masih belum beranjak dari tempatnya.


Semua sikap manis yang di tunjukkan padanya, sedikitput tidak mengoyahkan hatinya. Langkahnya terpaksa berhenti dan kembali membalikkan badan saat ia mendengar Bram kembali memanggil namanya.


"Ariell,,, Tunggu,," seru Bram.


Ariel melihat Bram menghampirinya dengan tangan menenteng koper biola, yang segera di sodorkan padanya saat jarak mereka hanya berjarak satu langkah.


"Ini milikmu, Ariel," ucapnya.


"Aku masih mengingat jelas bukan aku yang membelinya di tempat pelelangan, tapi kamu," jawab Ariel.


"Aku tau, tapi aku membeli ini untukmu," ungkap Bram.


"Itu lelucon yang buruk. Kau mengeluarkan uang sebanya itu hanya untuk memberikan barang secara cuma-cuma? Jangan bercanda," cecar Ariel.


"Tapi aku memang sengaja membeli ini hanya untukmu. Jika bukan untukmu aku tak akan membelinya," terang Bram.


"Itu terlalu berharga untukku, aku tak pantas menerima itu," tolak Ariel.


"Tidak ada satupun yang terlihat tidak pantas untukmu, kumohon terimalah," ucap Bram tidak menurunkan tangannya.


"Sebagai gantinya, apa yang harus ku lakukan untukmu sebagai bayarannya?" selidik Ariel.


"Astaga,,, aku memberikan sesuatu bukan tanpa dasar. Ini murni untukmu. Kamu tak perlu melakukan papun untukku. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasihku karena kamu tetap mau berteman denganku," terang Bram.


"Terlepas dari semua yang pernah kulakukan padamu, kamu tetap membuka pintu pertemanan untukku. Terlepas dari aku yang bersikap kurang ajar padamu beberapa hari lalu, dan kamu masih tetap menerima ajakan nonton dariku, itu aalah harga yang tidak mungkin bisa kubayar bahkan dengan sepuluh biola ini," papar Bram.


"Jadi, aku mohon dengan sangat, terimalah!" pinta Bram.


Ariel menatap dalam mata Bram, dan tersentuh dengan kesungguhan dan niat tulusnya. Tangannya kemudian terulur untuk menerima biola itu.


"Baiklah, aku terima. Terima kasih banyak Bram," ucap Ariel.


"Kalau begitu, sebagai gantinya, tiga hari dari sekarang, aku ada pertunjukan musik. Kuharap kamu bisa datang sebagai tamu untukku," harap Ariel.


"Dengan senang hati, Ariel," jawab Bram dengan wajah berseri.


Ariel mengeluarkan tiket VIP dari tasnya yang selalu ia bawa kepada Bram yang menerima dengan mata berbinar.


'Tiket tamu memang selalu tak ku gunakan selama ini, karena Bram datang di pertunjukanku dulu sebagai pasangan, tapi, sudahlah. Toh hanya tiket tamu. Aku bahkan masih memiliki tiga tiket lagi,' batin Ariel.


Bram tersenyum dan menyinpan tiket itu di saku kemejanya.


'Senang sekali rasanya aku bisa kembali melihatnya bermain,' batin Bram.


"Kalau begitu, aku pulang dulu, Ariel," pamit Bram.


Ariel mengangguk dan tersenyum tipis. Tangannya melambai ringan saat Bram telah berada dimobilnya dan mulai bergerak meninggalkan apartemen Ariel.


Tempat tinggalnya akhirnya di ketahui Bram saat Bram kembali bekunjung ke tempat biasa Ariel melatih dan ia tak berada d sana.


Gery yang tidak mengetahui permasalahan nya dengan Bram, dengan mudah memberikan alamanya hanya dengan Bram mengatakan drinya adalah teman Ariel dari kota sebelumnya Ariel pindah ke kota sekarang.


Ariel mengangkat bahunya lalu berbalik memasuki apartemen yang ia tinggali


...>>>>>>--<<<<<<<<...