I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
23. Pertunjukan



Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _


Joel membetulkan posisi dasinya, berdiri dengan gelisah menunggu Ariel di depan apartemen dimana Ariel tinggal.


Malam ini adalah malam pertunjukan dimana Ariel turut serta dalam pertunjukan musik yang akan ia hadiri.


Dalam hatinya, Joel bersorak senang saat Ariel menawari dirinya untuk menjadi pasangan saat datang ke acara itu.


Suara langkah kaki terdengat dari balik punggungnya. Merapikan sedikit jasnya, Joel berbalik dan terpana dengan apa yang di lihatnya.


Ariel mengenakan gaun malam dengan gradasi warna hitam dan abu tua. Bagian bahu yang terbuka, memperlihatkan kulit putih bersihnya.


Rambutnya di biarkan setengah tergerai dengan hiasan anyaman rambutnya sediri yang melingkari rambut yang tergerai.


Tanpa sadar, rahang Joel terbuka, membuat Ariel terkiki pelan dan menyentil hidungnya.


"Kamu harus berhati-hati. Siapa tau ada lalat yang akan bersarang di sana," ucap Ariel lalu tertawa pelan.


Ariel menatap Joel, terkesima dengan penampilan resmi yang diperlihatkan malam itu.


Tubuh tinggi yang sangat selaras dengan tubuh berototnya terbungkus dalam setelan resmi membuat penampilan Joel lebih meninjol dari sebelumnya yang hanya mengenakan kemeja dan jas dokternya.


"Wow,,, siapa yang akan menyangka, seorang dokter yang biasa mengenakan pakaian putih, terlihat sangat tampat dengan setelan jas berwarna gelap," puji Ariel.


Joel meraih tangan Ariel dan membawanya ke dekat bibirnya, kemudian mengecup lembut bak bangsawan.


Dengan senyum yang tak pudar, Joel membukakan pintu mobil untuk Ariel, dan membimbingnya untuk masuk.


"Aku tak tau kau bisa bersikap sebagai seorang pria, Joel," goda Ariel.


"Karena kau pantas di perlakukan sebagai seorang bangsawan," jawab Joel


Ariel merasakan pipinya memanas, dan segera masuk kedalam mobil untuk menyembunyikannya dari Joel.


"Bailklah. Siap untuk perjalanan, Nona?" goda Joel tersenyum.


"Ya,,, tentu," jawab Ariel.


"Boleh aku jujur tentang satu hal,?" tanya Joel mulai menjalankan mobilnya.


"Tentu, apa itu?" jawab Ariel.


"Kamu cantik sekali malam ini," puji Joel.


"Benarkah? Apakah itu bearti di hari sebelumnya aku tidak cantik?" goda Ariel.


"Kamu selalu cantik, bahkan dalam pakaian pasien rumah sakit sekalipun" jawab Joel.


Ariel memukul bahu Joel main-main, lalu tertawa.


"Aku hanya jujur," ucap Joel tertawa renyah.


"Kau tertalu jujur, Joel," sambut Ariel.


Mereka kembali tertawa, obrolan demi obrolan mengalir hinnga mereka tiba di tempat dimana acara pertunjukan musik di adakan.


Joel memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang di arahkan Ariel. Dan di sambut dengan pemandangan yag membuat rahangnya jatuh.


Di tempat parkir khusus, Bram telah berdiri di depan pintu masuk, menunggu kedatangan seseorang.


Merasa bahwa yang di tunggu adalah Ariel, Joel membukakan pintu mobil dan segera mengandeng Ariel begitu dia keluar dari mobilnya.


"Ada apa, Joel?"tanya Ariel heran dengan perubahan sikap Joel yang tiba-tiba.


"Tidak ada, hanya ingin mengandengmu, apakah aku berlebihan?" sambut Joel.


"Sama sekali tidak," jawab Ariel tersenyum.


Ariel meletakkan tangannya di lengan Joel yang kemudian meremasnya lembut dengan satu tangan yang lain.


Keanehan yang Ariel rasakan akhirnya terjawab saat ia melihat Bram tengah berdiri di depan pintu masuk. Berdiri bersandar dengan satu tangan memainkan ponselnya untuk mengalihkan perhatiannya.


"Bram,,, kamu datang?" sapa Ariel ramah.


"Tentu saja aku datang. Aku tidak mungkin mengabaikan undangan yang aku terima," sambut Bram dengan seringai.


Matanya melirik ke arah Joel yang mengandeng Ariel lalu tersenyum.


"Aku perlu mengingatkan satu hal pada kalian," harap Ariel.


Mereka menatap Ariel dengan pandangan bertanya lalu mengerutkan kening mereka.


"JANGAN BERTENGKAR,"


Ariel menekankan suaranya sebagai tanda bahwa dirinya tidak main-main dan menatap mereka berdua dengan ancaman.


"Kalian mengerti kan?" tanya Ariel tersenyum manis.


'Beerrrrrr.....'


Mereka bergidik lalu mangangguk patuh. Seolah cuaca dingin datang secara mendadak dan membuat mereka mengigil ketika Ariel tersenyum kepada mereka.


"Aku mengerti," jawab mereka serentak.


Ariel tersenyum dan mangangguk. Namun, tak melepaskan tatapan penuh ancamannya. Bram berdiri di sisi Ariel dan mulai melangkah mengimbangi Ariel dan Joel yang juga melangkah masuk.


Mereka akhirnya tiba di belakang panggung dan di sambut dengan antusias oleh beberapa murid Ariel yang ikut menghadiri acara tersebut. Dan salah satu diantaranya adalah Gina.


"Wahhh,,, kakak tidak mengatakan apapun padaku kalau kakak akan membawa dua pasangan sekaligus," celetuk Gina.


"E-e-hh sedikit kok kak," jawab Gina gugup.


"Apa yang terjadi sekarang? Kamu gagap lagi?" ucap Ariel tertawa ringan.


"Kakak ahh,,," protes Gina.


"Tapi kak, apakah aku boleh mengatakan satu hal ?" tanya Gina.


"Apa itu,?" jawab Ariel.


"Kakak cantik sekali malam ini," puji Gina tulus.


"Terima kasih, kamu juga cantik, Gina," balas Ariel.


"Sepertinya kakak sudah waktunya tampil," ucap Gina setelah mendengar pembawa acara menyebutkan nama Ariel.


Ariel mengangguk.


Kini Ariel berbalik untuk berhadapan dengan Joel dan Bram yang tengah menatapnya dengan tatapan kagum.


"Kau tak pernah mengatakan padaku bahwa kau adalah seorang pemusik terkenal," ucap Joel tidak bisa menutupi keterkejutannya.


"Karena dia tidak suka memperkenalkan dirinya sebagai pemusik pada orang lain," sela Bram.


"Aku bertanya padanya, bukan padamu," cetus Joel.


"Dan aku hanya memberikan jawaban yang memang akan dia katakan," balas Bram.


"Oh, sayangnya aku tidak perlu kamu yang menjelaskannya," sambut Joel.


"Kalau begitu kau tidak perlu mendengarkannya, anggap saja angin lalu," balas Bram santai.


Ariel meletakkan telapak tangan di dahinya, menghembuskan nafas panjang.


"Kalian cukup serasi, silahkan lanjutkan perdebatan kalian, aku permisi," sela Ariel mulai melangkah meninggalkan mereka.


" Cukup menyenangkan bertemu denganmu, dan selalu membuat Ariel kesal," cetus Joel.


"Sayangnya bukan aku yang memancing keributan disini," ucap Bram membela diri.


"Cih,," cibir Joel lalu berbalik menuju kursi penonton.


"Setidaknya aku bersikap sebagai tamu terhormat disini," sindir Bram.


Sindiran Bram menghentikan langkah Joel yang segera berbalik dan menahan kekesalannya. Joel menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


"Ah,, ya, kau benar. Aku tidak terlalu pandai dengan sikap sebagai tamu terhormat disini, tapi setidaknya akulah yang di pilih Ariel sebagai pasangan, bukan sebagai tamu," balas Joel.


"Kau hanya beruntung," dengus Bram.


"Benar, dan keberuntungan itu akan selalu bersamaku," jawab Joel.


Joel kembali meneruskan langkahnya dengan senyum puas di wajahnya. Ia kemudian duduk di deretan bangku penanton di barisan depan, dimana ia bisa melihat Ariel tampil tanpa halangan apapun.


Acarapun berlangsung dengan keheningan suara penonton. Suara piano yang memenuhi ruangan seoalah menyentuh hati setiap pendengarnya. Beberapa diantara mereka meneteskan air mata saat melodi piano memenuhi seluruh ruangan.


Joel tidak bisa mengalihkan pandangannya sedikitpun, dan hanya terpaku pada Ariel yang tersenyum lembut saat jari-jarinya menari diatas tuts piano dan menghadirkan melodi yang menyentuh.


Senyuman yang tidak pernah di lihat sebelumnya. Ekspresi wajah yang tak pernah di tunjukkan padanya. Joel seoalah melihat sosok Ariel yang berbeda dengan biasanya.


'Dia sungguh berbeda, apakah ini adalah dia yang sebenarnya? Luka seperti apa yang pernah dia rasakan? Kenapa lagu ini terasa seperti dia takut untuk kembali berjalan setelah terjatuh?' bisik hati Joel.


Ariel menyelesaikan lagunya lalu berdiri menghadap penonton, membungkuk memberi hormat dengan senyum tulus tersungging di bibirnya.


"Untuk lagu selanjutnya, saya akan mempersembahkhan lagu yang belum lama ini saya sempurnakan. Sebuah lagu yang saya tujukan untuk seseorang yang bahkan saya sediri tidak tau dan tidak mengerti tentangnya. Tapi saya ingin menyampikan apa yang saya rasakan melalui lagu ini. Semoga para hadirin bisa menerima maksud saya melalui lagu ini," Ariel menyelesaikan kalimatnya dan membungkukan bandannya.


Ariel kembali duduk menghadap piano. Jari tangannya menekan tiap tuts dengan sentuhan halus namun penuh penegasan.


Melodi indah kembali mengalun mengisi seisi ruangan. Sayup-sayup Joel manangkap maksud dari lagu yang di bawakan Ariel, membuatnya tertegun.


'Apakah Ariel memutuskan untuk kembali membuka hatinya lagi? Ku harap itu benar,' harap Joel dalam hatinya.


'Haahhh,,,, aku kalah. Aku tak akan bisa lagi mendapatkan hatinya,' desah Bram dalam hati.


Bram bangun dari duduknya dan pergi meniggalkan ruangan. Berusaha menenagkan hatinya.


"Apakah anda baik-baik saja,"


Suara bernada khawatir terdengar dari belakang punggung Bram.


Ketika Bram berbalik, ia mendapati seorang wanita menatapnya khawatir.


"Saya baik-baik saja. Terima kasih," jawab Bram.


"Anda yakin?" tanyanya lagi.


"Yah. saya hanya mencari udara segar," jawab Bram memaksakan sebuah senyuman di bibirnya.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi," pamitnya.


"Emmm maaf, apakah anda keberatan menemani saya sebentar di sini? Ah,, maaf saya lancang. Anda bisa kedalam, maaf sudah menahan anda," ucap Bram membungkukkan badannya.


"Saya tidak keberatan," jawab wanita itu tersenyum.


"Omong-omong, saya Bram," ucapnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan.


..."Charlie," jawabnya menyambut tangan Bram....


...>>>>>>>--<<<<<<<...