I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
19. Ingin



Tinggalkan jejak kalian dengan koment, saran dan kritik kalian untuk menciptakan alur yang lebih baik.~~~


_ _ _ _ _ _ _ _ _ _


Acara teater yang tengah berlangsung, sama sekali tidak membuat Ariel tertarik untuk mencerna apa yang sedang di ceritakan dalam teater itu.


Joel sesekali menoleh kebelakang, namun Ariel selalu berpaling kearah lain.


Sementara itu, Bram yang berada di sampingnya, terus saja menjalankan tangannya untuk mengenggam tangan Ariel.


Ariel terus menepis tangan itu, tapi Bram tetap tidak mau berhenti. Bahkan dengan berani, Bram menjalankan tangannya mulai merangkul bahu Ariel.


Sikap Bram yang semakin berani memancing amarahnya dan membuatnya beranjak dari duduknya. Mendorong Bram yang menghentikannya dan berlalu pergi tanpa berbalik.


"Ariel,, tunggu,,!" seru Bram.


Ariel mengabaikan seruan Bram dan terus melangkah. Berniat untuk kembali ke apartemennya.


Ia berhasil mencapai pintu keluar dan akan memanggil taksi ketika sebuah tangan menghentikannya dari belakang.


"Lepaskan tanganku," sentak Ariel sembari menarik tangannya dengan kasar.


"Ariel, ini aku," ucapnya sembari menahan tangan Ariel.


Ariel berbalik dan menyadari yang mencengkram tangannya bukanlah Bram, melainkan Joel.


"Lepaskan tanganku,!" ucap Ariel dingin.


"Ada apa? Apa yang sudah terjadi?" cecar Joel.


"Tidak ada, aku hanya ingin pulang. Lepaskan tanganku,!" jawab Ariel.


"Jawabanmu justru terdengar meragukan," sindir Joel.


"Lepaskan tanganku!" pinta Ariel.


"Katakan dulu padaku, apa yang telah dia lakukan padamu,!" pinta Joel.


"Bukan urusanmu," balas Ariel dingin. "Le-pas," ucap Ariel sembari menarilk tangannya dan segera menghentikan taksi.


"Apakah aku melakukan kesalahan, Ariel?" tanya Joel dengan wajah memelas.


"Tidak," jawab Ariel.


"Lalu kenapa kamu tidak pulang bersamaku?" protes Joel melihat Ariel tetap menaiki taksi yang berhenti di depan mereka.


"Kau masih harus menemaninya, sampaikan permintaan maafku padanya," ucap Ariel setelah duduk di kursi penumpang.


"Ini tidak adil, Ariel," keluh Joel.


"Aku minta maaf jika kamu merasa begitu. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu meninggalkan Christina begitu saja. Kamulah yang harus mengantarnya pulang," ucap Ariel.


"Lalu bagaimana denganmu?" tukas Joel. "Aku yang mengajakmu kesini, aku jugalah yang membawamu kesini. Dan kau pulang tidak bersamaku?" cecar Joel.


"Begini saja, minggu depan, datanglah ke studio xxx bersamaku. Aku akan mengirimkan tiket masuknya lusa ke tempatmu bekerja," tutur Ariel.


"Memangnya ada apa disana?" tanya Joel.


"Ada sebuah pertunjukan musik dimana aku di undang untuk berpartisipasi dalam acaranya. Dan aku bebas mengajak satu orang sebagai pasanganku. Apakah itu cukup untuk menebus malam ini?" papar Ariel.


Joel termenung. Menimbang-nimbang tawaran yang Ariel berikan padanya. Di lubuk hatinya, sungguh ia merasa sangat senang.


'Apakah ini sama dengan dia mengajakku berkencan?' batin Joel.


Joel menatap mata Ariel yang masih menunggunya dengan sabar, menantikan jawabannya.


"Baiklah, lalu bagaimana dengan janjimu dengan David?" tanya Joel lagi.


"Aku sudah menghubunginya dan menunda kedatanganku," jelas Ariel.


"Baiklah," jawab Joel.


"Hubungi aku saat kamu tiba di apartemenmu," pinta Joel.


Ariel hanya mengangguk, detik berikutnya memalingkan wajahnya dan meminta sopir taksi untuk menjalankan mobilnya.


>>>>>>>>>>>


Mobil yang di kendarai Joel melaju mulus di kegelapan malam. Memasuki sebuah perumahan yang tampak asri.


"Terima kasih sudah mau mangantarku pulang, Joel," ucapnya menyunggingkan senyum.


"Bukan masalah, berbahaya untukmu jika kamu pulang sendirian, Christina," jawab Joel.


" Kamu sungguh pria yang baik," puji Cristina.


" Kamu hanya tau sedikit dari apa yang ada dalam diriku, Christina. Masih banyak hal buruk dalam diriku yang belum kau ketahui," sambut Joel.


"Aku masih memiliki banyak waktu untuk mengetahuinya," balas Christina.


Joel tersenyum tipis menanggapi perkataan Christina. Jauh di lubuk hatinya, ia terus terpikirkan bagaimana keadaan Ariel.


'Apakah Ariel sudah tiba di apartemennya? Apakah dia baik-baik saja? Kenapa dia tidak menghubungiku?' pikir Joel.


Setelah sampai di rumah Christina, Joel segera pamit dan pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Christina.


Pikirannya yang di penuhi dengan rasa khawatir pada Ariel mendorongnya hingga ia melajukan mobilnya menuju apartemen Ariel.


Ariel sendiri di kejutkan dengan kedatangan Joel malam itu, namun tetap mempersilahkaan Joel untuk masuk.


"Kenapa kau datang, Joel?"tanya Ariel. "Ini sudah sangat larut," sambungnya.


"Aku mengkhawatirkanmu. Apa lagi?" jawab Joel.


"Selain itu, kamu juga masih belum mengatakannya padaku apa yang terjadi," dalihnya.


" Apakah itu satu-satunya alasan kamu mendatangiku selarut ini?" sambut Ariel.


" Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita padaku. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," balas Joel.


" Kamu sudah melihatnya. Aku baik-baik saja. Lalu?" ucap Ariel.


"Aku tau kamu tidak baik-baik saja," sanggah Joel.


" Kurasa, kamu sudah bisa menebaknya. Dan tebakanmu memang benar," jawab Ariel.


"Jadi benar? Bram berhubungan dengan semua ini? Apa yang dia lakukan padamu?" cecar Joel geram.


"Yah,,, tapi , aku tau apa yang harus kulakukan," jawab Ariel.


"Pindah," jawab Ariel singkat.


"Jangan bercanda," tukas Joel cepat. "Kenapa harus kamu yang pindah? Lagi pula dialah yang bersalah di sini, bukan kamu. Kenapa kamu yang harus lari darinya? Itu hanya akan membuatnya semakin percaya dengan asumsinya sendiri bahwa kamu masih mencintanya," ucap Joel mengeluarkan kekesalannya.


"Aku tau itu. Bukankah tadi kamu menyanyakan kemugkinan terburuk? Tentu saja aku akan mencari cara lain," sambut Ariel.


"Apakah kamu merencanakan sesuatu?" tanya Joel.


"Kali ini belum. Tapi aku akan memikirkannya dengan hati-hati," jawab Ariel.


"Tunggu sebentar, aku akan membuatkan minum untukmu," sela Ariel lalu beranjak dari duduknya menuju meja counter.


Ariel mulai meracik mocktail untuk dirinya dan Joel. Dan segera membawa dua gelas bersamanya.


"Aku tidak tau apakah itu akan sesuai dengan seleramu. Jika kamu tidak menyukainya, kamu bisa memelepehnya," ucap Ariel penuh pengertian.


Ariel menyodorkan gelas berisi moctail yang segera di sambut oleh Joel. Joel memperhatikan warna air yang ada di gelasnya. Sedikit buih yang menempel di dinding gelas menghiasi warna mocktail yang terlihat menyegarkan.


"Apakah kamu pernah menjadi seorang bartender?" tanya Joel setelah meneguk minumannya.


"Tidak," jawab Ariel.


"Lalu darimana kamu belajar meracik minuman? Aku berani bertaruh kamu pasti juga bisa meracik cocktail dan minuman lain," sanjung Joel.


"Itu agak berlebihan. Aku hanya sering melihat temanku yang seorang bartender maracik minuman. Dan aku iseng-iseng mencoba meracik dan mencicipinya sendiri," terang Ariel.


"Awalnya memang terasa mengerikan saat aku mencoba rasanya, tapi jika kamu berkata seperti itu, kurasa kemampuanku membaik," paparnya.


"Woww,, mengensankan," puji Joel tulus.


Joel memalingkan wajahnya dari Ariiel, dan kembali menerawang.


'Apa yang sebenarnya di sembunyikan olehnya? Kenapa aku sekarang merasa sangat jauh dengannya?' bisik hati Joel.


"Joel,,,?" panggil Ariel.


"Hemm,,?" Joel bergumam dan mengarahkan pandangannya kembali pada Ariel yang tengah menunduk.


"Apakah kau membenciku?" tanya Ariel lirih.


"Pertanyaan macam apa itu?" sergah Joel tidak senang. "Apa maksudmu menanyakan hal konyol itu?" sambungnya.


"Aku,,, hanya,,, ingin tau. Jika kamu mengenalku lebih jauh dari ini dan mengetahui apa yang belum kamu ketahui, akankah kamu membenciku?" tanya Ariel lagi.


"Kamu tau kalau aku mencintaimu kan? Dan hal itu tidak akan berubah, aku tidak mungkin membencimu," sanggah Joel.


Ariel tersenyum, hatinya kembali menghangat dengan sikap yang Joel tunjukkan padanya. Namun, jauh di lubuk hatinya juga merasa bersalah karenannya.


'Apakah aku juga mencintainya? Kenapa hatiku terus-terusan ragu?' pikir Ariel.


"Oh tunggu, aku melupakan sesuatu" ucap Ariel tiba-tiba bangun dari duduknya dan meraih tasnya yang berada dimeja di belakang sofa yang ia duduki.


Tangannya merogoh kedalam tas dan mengeluarkan sebuah kotak kecil, lantas membawanya dan kembali duduk.


Ariel menyodorkan kotak itu pada Joel lalu tersenyum.


"Aku membelinya beberapa hari yang lalu, dan selalu melupakannya saat ingin ku berikan padamu," terang Ariel.


"Ini untukku?" Joel menatap kaget kotak itu dan menunjuk dirinya sendiri dan kotak itu secara bergantian.


"Ya, untukmu," tegas Ariel.


Joel meraih kotak itu dan membukannya. Matanya melebar saat melihat isinya.


Sebuah gelang rantai dengan mata gelang berbentuk papan selancar. Jari tangannya mulai membelai gelang itu dan mengeluarkannya dari kotak.


"Aku tidak tau dengan seleramu, dan aku juga tidak tau apakah kamu menyuk_,,,"


"Aku menyukainya," potong Joel dengan wajah berseri.


"Terima kasih Ariel, ini adalah hadiah terbaik yang ku terima selama hidupku, sungguh," sambungnya dengan mata berbinar.


"Syukurlah jika kamu menyukainya," ucap Ariel lega.


"Sebagai balasannya, maukah kamu datang ke rumahku besok siang?" tanya Joel. "Aku tidak memiliki sesuatu untuk ku berikan padamu. Sebagai gantinya aku ingin menjamumu makan siang besok. Aku akan membuatkan makanan apapun yang menjadi kesukaanmu," tawar Joel.


"Kamu tidak perlu melakukannya Joel," tolak Ariel.


"Tapi aku ingin. Kamu memberiku sesuatu yang sangat berharga, dan aku ingin membalasnya, kumohon,!" desak Joel.


"Baiklah, aku akan menerima tawaranmu," jawab Ariel.


"Yesss,,,,!" Joel berseru girang dan mengepalkan tangannya keudara.


"Kalau begitu, aku akan pulang sekarang agar kamu mendapatkan istirahat cukup," pamit Joel.


Joel beranjak dari duduknya diiringi Ariel menuju pintu. Ketika tiba di pintu, Joel berbalik menghadap Ariel.


"Apakah kamu memiliki makanan favorit yang sangat ingin kamu makan, Ariel?" tanya Joel.


"Semua makanan yang kau buat sudah menjadi favoritku, Joel," sambut Ariel tersenyum.


"Ayolah,, setidaknya satu saja makanan yang sangat ingin kamu makan," ucap Joel lagi.


"Ermmmm,,,, mungkin pai kacang," jawab Ariel pada akhirnya.


"Di catat," sambut Joel dengan senyum lebar. "Ada yang lain?" sambung Joel.


"Astaga,, kau hanya perlu membuatnya dan aku akan memakan apapun yangvkau buat selama itu tidak beracun, Joel," keluh Ariel menepuk dahinya.


Joel terkekeh pelan lalu mengangguk. Tangannya terulur mengusap kepala Ariel dengan lembut dan penuh kasih.


"Aku pulang," pamit Joel.


"Berhati-hatilah selama perjalanan," sambut Ariel tersenyum.


"Sampai jumpa besok Ariel," ucap Joel melangkah keluar pintu.


"Sampai jumpa, Joel," balas Ariel.


"Kuharap kau memimpikan diriku," seloroh Joel dengan senyum lebar.


"Joelll,,,,!" Ariel menjawab dengan berkacak pinggang.


"Baik,,Baik,, aku pergi," Joel terkekeh setelah menjawab dan berbalik pergi meninggalkan apartemen Ariel. Meninggalkan perasaan gembira di hatinya bahwa besok mereka akan kembali bertemu.


...>>>>>>>--<<<<<<<...