
Keheningan berlangsung setelah Ariel duduk di kursi penumpang disamping Joel, hingga Joel membuka suara untuk memecah keheningan.
"Apakah Ken juga datang berkunjung pagi ini?" tanya Joel.
"Tidak, dia memang tinggal disana," jawab Ariel.
"Mereka saling mengenal?" Joel kembali bertanya dengan kening berkerut menoleh sekilas kearah Ariel lalu kembali fokus dengan jalan didepannya.
"Kau akan terkejut mendengar ini," jawab Ariel tersenyum.
"Benarkah?" sambut Joel. " Mengapa?" imbuhnya.
"Mereka kakak beradik," ungkap Ariel.
"Lelucon yang buruk," cibir Joel.
"Siapa yang bilang kalau itu sebuah lelucon?" sambut Ariel menaikkan sebelah alisnya.
"Ehhh,,,, kau serius?" seru Joel dengan wajah terkejut.
"Mana mungkin aku membuat lelucon tentang hubungan mereka? Tentu saja aku serius, mereka sendiri yang mengatakannya padaku," ungkap Ariel.
"Tapi, kenapa Charlie diam saja? Bukankan mereka berdua pernah saling bertemu di studio?" tanya Joel heran.
"Mungkin terdengar konyol, tapi mereka berdua sama-sama melupakan pertemuan itu," jawab Ariel.
"Kompak," komentar Joel disertai tawa.
"Aku juga mengatakan hal yang sama tentang mereka," sambut Ariel ikut tertawa.
"Ini kebetulan yang mengejutkan, aku bahkan tidak pernah terpikirkan tentang ini," ujar Joel setelah tawanya mereda.
Ariel mengangguk setuju dengan apa yang Joel katakan.
"Kita mau kemana?" tanya Ariel.
"Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin membeli beberapa pakaian, dan aku memerlukan saran darimu, apa yang cocok untukku," tutur Joel.
"Kenapa? Apakah ada alasan yang mengharuskanmu membeli pakaian dengan menggunakan saranku?" tanya Ariel.
"Bukankah lusa kita akan berangkat? Aku akan menyebutnya liburan," jawab Joel.
"Aku tidak memiliki banyak pakaian resmi, dan aku tidak ingin telihat konyol saat berada disampingmu yang akan mempermalukanmu," jelas Joel.
"Okey,,, aku setuju dengan menemanimu membeli pakaian, tapi aku tidak setuju dengan kalimat kamu mempermalukanku,"
"Itu benar-benar tidak enak didengar," sungut Ariel.
"Ha ha ha,,, baiklah,,, aku tarik kembali kata-kataku, aku ingin bisa lebih percaya diri ketika berada di sampingmu," ralat Joel.
"Dengan senang hati," sambut Ariel tersenyum.
Joel meraih tangan Ariel dengan satu tangan, sementara satu tangan lainnya mengemudi, lalu meremas lembut tangan Ariel yang segera membalasnya, sampai Joel menghentikan mobilnya di pusat perbelanjaan yang berada dipusat kota.
Mereka melangkah masuk kedalam pusat perbelanjaan dengan jari tangan mereka yang saling terjalin. Sesekali mereka berhenti disebuah toko yang menarik perhatian mereka walaupun berakhir dengan tidak membeli apapun, hingga mereka sampai di sebuat toko yang menjual berbagai macam pakaian.
Ariel mulai memilah pakaian yang mungkin akan cocok jika Joel yang memakainya, begitu juga dengan Joel yang melakukan hal yang sama.
Saat Joel telah menemukan pakaian yang menurutnya akan cocok untuk Ariel, ia segera menghampiri Ariel yang berada sepuluh langkah dari tempatnya berdiri.
Tepat saat Joel berdiri di belakang Ariel, saat itu Ariel juga berbalik menghadap Joel.
"Ariel, sepertinya ini akan cocok untukmu,"
"Joel, kurasa ini cocok untukmu,"
Serentak mereka berbicara sembari menunjukan beberapa stel pakaian ditangan mereka.
Tertegun selama beberapa saat, mereka kemudia tertawa menyadari apa yang mereka lakukan. Bahkan beberapa pengunjung lain yang tidak sengaja mendengar mereka saling berbisik, namun cukup untuk didengar Joel karena jarak mereka yang tidak terlalu jauh.
"Mereka serasi sekali, aku iri melihatnya," ucap wanita yang tengah bersama temannya.
"Kekasihku bahkan tidak pernah bersikap semanis pria tampan itu," timpalnya.
"Cobalah untuk memastikannya," saran Ariel.
"Kamu juga harus mencobanya," balas Joel.
Baik Joel dan Ariel saling memberi dan menerima pakaian ditangan mereka dan bersama menuju kamar pas.
Beberapa menit kemudian Joel keluar dengan sweeter garis abu terang dan biru gelap.
Tak lama kemudian Ariel juga keluar dari kamar pas yang bersebelahan dengan Joel. Jaket hijau lumut dengan dalaman berwarna putih dan jens hitam.
"Bagaimana?" tanya Ariel ragu sembari terus melihat pakaiannya sendiri.
"Manis," puji Joel tersenyum.
Ariel mengangkat wajahnya dan memandangi Joel telah mengenakan pakaian yang ia pilih.
"Hoo,,, sekarang kau sama sekali tidak terlihat seperti seorang dokter, kamu terlihat lebih bebas," tutur Ariel.
"Jadi,,?" Joel menaikkan kedua alisnya.
"Sangat cocok untukkmu, Joel," jawab Ariel.
"Kalau begitu aku akan mengambil ini," sambut Joel tersenyum puas.
"Kalau begitu, cobalah setelan yang satunya, aku ingin melihatnya," saran Ariel.
Beberapa menit kemudian Joel kembali keluar dengan setelan jas berwarna hitam dengan dasi abu gelap dan bergaris coklat.
Ariel terpaku di tempatnya, terpana dengan apa yang ada didepannya. Setelan jas yang menempel sempurna di tubuh tingginya, dengan kacamata yang senantiasa dipakai Joel membuatnya menjadi terlihat lebih tampan dari sebelumnya.
"Apakah aku terlihat aneh?" tanya Joel saat melihat Ariel hanya diam menatap dirinya.
Ariel melangkah maju mendekati Joel, tangannya terulur untuk melepaskan kacamata Joel, namun mengernyit tidak rela dan segera memakaikan kacamata Joel lagi.
"Apa maksud reaksimu tadi?" tanya Joel menyipitkan matanya.
"Awas saja jika kau sampai melepas kacamatamu disaat kamu memakai jas ini," ancam Ariel.
"Kenapa?" Joel bertanya dengan kening berkerut.
"Itu hanya akan membuat banyak wanita mendekatimu seperti lalat," cetus Ariel.
"Hmph,,," Ariel segera menutup mulutnya seolah telah salah bicara, namun Joel yang telah mendenganya dengan sangat jelas menumbuhkan seringai dibibirnya.
"Dan kamu akan cemburu?" goda Joel.
"Tidak,,, ehm,, aku ganti baju dulu," ujar Ariel cepat.
Ariel berbalik untuk kembali masuk kedalam kamar pas untuk menganti pakaian yang ia coba.
Namun, saat ia akan menutup pintu, tangan Joel menahannya dan menarik Ariel keluar, lalu mengurung Ariel diantara kedua tangannya dengan punggung menempel dinding disamping pintu.
"Apakah sangat sulit untuk mengakui bahwa kau cemburu jika aku didekati wanita lain?" goda Joel menyeringai.
Joel menatap Ariel dengan senyum kemenangan. Beberapa kali Ariel selalu berhasil mengoda dirinya, membuat ia ingin membalas dan ingin menikmati reaksi wajah Ariel.
Hal terakhir adalah saat Ariel mengodanya hingga membuat masakan miliknya berubah hitam, dan Ariel tertawa puas saat itu, jadi kali ini ia ingin membalik keadaan.
Akan tetapi,,,,,
Gerakan tangan Ariel hampir tidak terlihat, ia menarik dasi Joel, dan sukses membuat Joel membungkuk, membuat wajahnya berada tepat di depan wajah Ariel.
"Sepertinya dasi ini kurang cocok untukmu, kita perlu mencari dasi yang lebih cocok nanti," ucap Ariel.
Perlahan, senyuman diwajah Ariel kian melebar, tangannya masih mencengkram dasi yang melingkar di leher Joel.
"Apakah kau sedang mengodaku, atau kau hanya sekedar ingin membalas kejadian kemarin?" tebak Ariel.
"Tapi, kamu harus tau satu hal, Bunny," sambungnya.
"Apa maksudnya? Hal apa yang harus aku tau?" tanya Joel bingung.
"Usahamu gagal," jawab Ariel percaya diri.
"Itu belum gagal_,,,"
Ariel menarik dasi Joel lebih dekat kearahnya, dan mendaratkan kecupan cepat di bibir Joel, hingga membuat Joel terkesiap.
Memanfaatkan celah yang ada, Ariel mendorong dada Joel dan langsung masuk kedalam kamar pas, lalu mengunci pintunya dengan cepat.
'Argh,,,, kenapa dia bersikap begitu? Membuatku berdebar saja,' rutuk Ariel dalam hati sembari bersandar dibalik pintu.
'Tck,,, niatnya aku hanya ingin mengodanya, tapi justru aku yang masuk kedalam godannya hingga tidak bisa membalas,' decak Joel tersadar setelah Ariel menutup pintu.
Joel menghembuskan nafas panjang, lalu tersenyum sembari mengeleng-gelengkan kepalanya sebelum masuk kedalam kamar pas dimana pakaian miliknya berada.
...>>>>>>>--<<<<<<<<...
Mobil hitam itu melaju kencang dan berhenti tepat didepan sebuan monison dengan gerbang utama yang besar dan menjulang tinggi. Gerbang itu segera terbuka ketika mobil itu membunyilan klakson dengan tidak sabar.
Segera setelah gerbang itu terbuka, mobil itu langsung masuk dan bethenti di halaman monison yang terliht sangat luas.
Bram tampak keluar dari dalam mobil itu dengan wajah merah padam, dengan diikuti pria yang selalu mendampinginya berjalan dibelakang Bram. Satu tangannya membawa berkas yang iya cengkram dengan kuat seolah itu adalah hal yang membuatnya sangat marah.
'SSRRAKK,,,!!!'
Bram menghempaskan berkas itu hingga surat-surat didalamnya terhambur keluar, dan selembar foto terselip diantara lembaran kertas itu. Ia menghempaskan berkas itu di meja tepat di depan seorang pria paruh baya yang memiliki aura tegas di wajahnya.
"Aku sudah bilang bahwa aku tidak mau melakukannya, kenapa Ayah bersikeras memaksaku untuk menikahinya?" sentak Bram.
"Jaga bicaramu, Bram!" betaknya dengan suara bariton yang menggema.
"Kau mencintainya, dan dia kekasihmu, apa salahnya jika kalian menikah?" ujarnya tanpa beban.
"Dia bukan lagi kekasihku, dulu Ayah bahkan tak pernah melihatnya dengan cara seperti cara Ayah melihatnya sekarang," sambut Bram kesal.
"Apakah Ayah tau? Jika Ayah tetap melakukan hal ini, itu adalah tindakan ilegal," dengus Bam.
"Kenapa aku harus peduli tentang itu? Aku hanya perlu membuatmu menikah dengannya," ujarnya dengan nada suara tidak bisa dibantah.
Bram mendengus kesal, lalu berbalik pergi meninggalkan pria paruh baya yang ia panggil dengan sebutan ayah.
Orang yang mengikuti Bram awalnya hanya terdiam melihat kemarahan di wajah Bram, namun tak lama kemudia ia menarik nafas panjang dan membernikan diri membuka suara.
"Haruskah saya memberitahu dia tentang ini, tuan?" tanyanya
....
.....
.
.