I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
118. Double Date



"Permisi,,,"


Lagi-lagi seseorang menyela kegiatannya, membuat Ariel tidak memiliki pilihan lain selain mengangkat wajahnya untuk mengetahui siapa orang yang menyapanya.


"Darcie?"


Ariel tekejut dengan kehadiran Darcie yang tiba-tiba. Senyum lebarnya seolah memberitahu dirinya bahawa pria itu senang kemabli bertemu dengan Ariel di cafe seperti waktu sebelumnya.


"Apakah aku boleh duduk disini?" tanya Darcie meminta ijin.


"Ah,, ya silahkan saja," sambut Ariel.


"Terima kasih,"


"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanya Darcie ketika telah duduk.


"Ah,, benar, aku lupa kapan terakhir kali bertemu denganmu," sambut Ariel.


"Aku baik, bagaimana denganmu?" balas Ariel.


"Jauh lebih baik setelah bertemu denganmu," jawab Darcie tersenyum.


"Apakah kamu memang seorang pembicara yang manis seperti ini sebelumnya?" sambut Ariel tersenyum.


"Sejujurnya tidak, namun itu keluar begitu saja hanya dengan melihatmu," ucap Darcie tersenyum.


Siapapun yang melihat senyumnya tentu akan berkata itu mempesona, dan Ariel mengakui hal itu. Namun, hal itu justru membuatnya membandingkan dengan orang lain. Seseorang yang menurutnya memiliki senyum jauh lebih mempesona dibandingkan siapapun, dan itu adalah kekasihnya sendiri.


"Ouch,,, aku tak pernah menyangka kamu akan berkata sejujur itu," sambut Ariel terkekeh pelan.


"Aku hanya mengatakan apa yang terlintas dipikiranku," sambut Darcie menaikan bahunya.


"Untuk mengoda seseorang?" seloroh Ariel tersenyum jahil.


"Tepat apakah itu bekerja?" jawab Darce balas bertanya.


"Untuk orang lain, kurasa ya," jawab Ariel.


"Apakah artinya tidak jika itu untukmu?" tanya Darcie.


"Sayang sekali, itu tidak berhasil," jawab Ariel meringis. "kamu harus berusaha lebih keras lagi," imbuhnya.


Darcie gagal menahan tawanya, ia kembali menatap Ariel yang tampak lebih ceria dari terahir kali ia bertemu.


"Sepertinya terjadi hal baik padamu," ucap Darcie.


Ariel tengah menyesap kopi dari cangkirnya saat Darcie bertanya. Ketika ia akan membuka suara untuk menjawab, Ariel justru merasakan tangan seseorang mendarat diatas kepalanya, membuat ia mendongak.


"Maaf, aku terlambat," sesalnya.


Pria itu tersenyum ketika Ariel menatapnya. Senyuman yang bahkan baru saja ia pikirkan sekarang berada didepan matanya. Matanya tampak lelah dibalik kacamata yang dipakainya, membuat Ariel kehilangan selera untuk bertanya alasan datang terlambat.


"Tidak apa-apa, duduklah," sambut Ariel.


"Kamu bersama seorang teman?" ucapnya sembari memberikan tatapan ramah pada Darcie.


"Tidak sengaja bertemu disini," jawab Ariel.


"Anda tampak tidak asing," ucap Joel pelan sembari berusaha mengingat sesuatau.


"Ah,,, ya anda yang waktu itu bersama ariel di cafe," ucap Joel setelah berhasil mengingat.


"Benar, itu sudah terjadi cukup lama," sambut Darcie.


"Joel," ucapnya mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.


"Darcie," sambutnya tersenyum menyambut uluran tangan Joel.


'Dia juga tampak berbeda,' batin Darcie.


"Sepertinya saya perlu meminta maaf atas sikap saya saat itu, itu sungguh tidak pantas," ucap Joel membuka pembicaraan.


"Ah,, tolong bicara santai saja, lagipula tempat ini juga untuk bersantai," pinta Darcie.


"Anda tidak keberatan?" tanya Joel.


"Bahkan tidak sedikitpun," jawab Darcie.


"Kejadian itu, lupakan saja, itu sudah berlalu cukup lama, dan aku bisa mengerti," tutur Darcie.


"Terima kasih," sambut Joel.


"Apakah kalian sepakat untuk mengenakan pakaian yang sama untuk bertemu?" tanya Darcie tersenyum simpul memperhatikan pakaian Ariel dan Joel.


"Ehh,,," Ariel menunduk memperhatikan apa yang ia kenakan, lalu beralih pada Joel.


Joel mengenakan Sweeter abu terang dan hitam dengan tambahan jaket hitam dan jens putih. Sementara Ariel mengenakan atasan rajut putih yang ia tutup dengan jaket hitam dan jens putih.


"Kok,,,? Aku tidak menyadarinya," ucap Ariel.


"Aku juga tidak," timpal Joel dengan reaksi sama.


"Berkencan?" goda Darcie membuat wajah Ariel merona.


Darcie tertawa puas dan memberikan tatapan penuh pengertian. Saat ia akan kembali berbicara, seseorang mendekatinya sembari sedikit membugkukkan badannya.


"Mohon maaf tuan, sudah waktunya," ucapnya sopan.


Darcie melirik jam tangannya dan tersenyum.


"Sayang sekali, waktuku sepertinya sudah habis," ujar Darcie.


"Senang bertemu denganmu, Joel. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan, begitu juga denganmu, Ariel," tutur Darcie.


"Yah,,, semoga kita bisa berbicara lebih banyak lain kali," sambut Joel.


"Sampai bertemu lagi,"


Darcie pamit sembari melambai singkat dan pergi diikuti pria yang memanggilnya dengaan sebutan tuan.


"Tuan, bukankah itu nona yang anda bantu diam-diam? Nona itu seperti bersama_,,,"


"Kekasihnya. Yah,,, aku tau, kurasa aku menyukai orang yang salah, tapi aku tak menyesal telah membantunya. Senyuman itu jauh lebih berharga dari apapun," potong Darcie tenang.


"Saya mengerti, tuan," sambutnya.


Sementara Joel dan Ariel masih terus menatap kepergian Darcie hingga pria itu menghilang dari pandangan mereka berdua.


"Ingin memesan minum?" tawar Ariel.


"Tidak," jawab Joel. "Ini saja," sambungnya.


Joel mengambil alih cangkir dari tangan Ariel dan meminumnya.


"Haruskah kita batalkan saja rencana hari ini?" tanya Ariel.


"Tidak, kenapa harus batal?" sambut Joel segera merubah posisi duduknya hingga menghadap Ariel.


"Kamu terlihat kelelahan," jawab Ariel.


"Ahh,,, itu rupanya. Hemmm,,, aku hanya sedikit kesal karena Seth seenaknya merubah jadwal dan melempar jadwal operasinya padaku," jelas Joel.


"Kau benar-benar membuang waktu cukup banyak!"


Suara keras seorang pria terdengar kesal disambut suara wanita yang menanggapinya dengan santai seolah tidak merasa bersalah menyela Joel, membuat ia tidak menyelesaiakan kalimatnya dan mengarahkan pandangannya ke sumber suara.


"Hei,,, kita bahkan tidak terlambat sedikitpun, lagipula acaranya malam dan ini masih sore,"


"Jika kau memintaku untuk menjemputmu, seharusnya kau sudah siap sejak awal, keanpa masih memintaku menunggu dan itu setengah jam,"


"Kaulah yang datang terlalu cepat,"


"Terlalu cepat? Apa kau bercanda? itu bahkan hampir mendekati waktu yang sudah di sepakati sebelumnya bersama mereka,"


Suara ribut perdebatan mereka berhasil menarik perhatian seluruh pengunjung cafe. Pertengkaran yang sangat akrab bagi Joel dan Ariel.


"Mereka salah minum obat atau bagaimana? selalu ribut setiap kali bertemu, tapi selalu ingin pergi bersama," desah Joel sembari meletakan telapak tangan diwajahnya.


Ariel tertawa pelan, tidak bisa memberikan tanggapan apapun saat apa yang dikatakan Joel juga dilakukan oleh dirinya sendiri.


"Tidakkah kamu merasa bahwa kamu juga sama saja, Joel?" sindir Ariel.


"Ukh,,, jangan ingatkan aku,,, ku akui aku memang melakukannya, tapi sekarang setidaknya ada yang lebih bisa di andalkan untuk melawannnya," sambut Joel tertawa.


Joel melingkarkan lenganya dibahu Ariel dan menempelkan dahinya didahi Ariel.


"Halloo,,, !" sembari mengetuk meja.


"Jika kalian ingin bermesraan, jangan didepan kami," decak Jesica kesal.


Jesica telah berdiri didepan meja dimana Ariel dan Joel duduk, memandangi dua sahabatnya dengan wajah kesal.


"Seharusnya kalian berterima kasih kami tidak meninggalkan kalian," sambut Joel tenang tanpa menurunkan tangannya.


"Lihat???" timpal Bram yang berada di belakang Jesica.


"Kau bukan hanya membuatku menunggu, tapi mereka juga menunggu lama karenamu," sambungnya.


"Hei,, hentikan, kalian sukses menarik perhatian seluruh cafe," sela Ariel menengahi.


"Ayo pergi," imbuhnya.


Ariel bangun dari duduknya diikuti Joel beranjak dari tempatnya meninggalkan cafe. Sesaat kemudian, Ariel tersenyum saat melihat Bram dan Jesica juga mengenakan pakaian yang senada.


Jesica berjalan beriringan disamping Ariel, dan Bram disisi lainnya, sementara Ariel juga berjalan beriringan diantara Jesica dan Joel.


Mereka melangkahkan kaki menuju tempat festival lentera yang tengah diadakan penduduk sekitar. Penerbangan lentera yang akan dilakukan malam hari membuat mereka memiliki waktu untuk berkeliling menikmati acara festival sebelum puncank acara dimulai.


Jesica menarik tangan Ariel dan menuju sebuah tenda permainan lempar bola basket, mengakibatkan dua pria yang bersama mereka sedikit tertinggal. Seringai lebar menghiasi wajahnya ketika ia tiba didepan tenda dan berbalik menatap dua pria dibelakang mereka.


"Berani tantangan?" tantang Jesica mengangkat bola basket di tangan kanannya.


"Tantangan?" ulang Bram.


"Yap,,, siapa yang terbanyak memasukan bola, dialah pemenangnya," jelas Jesica.


"Tidak, terima kasih," tolak Bram.


"Takut?" ledek Jesica.


"Siapa yang takut? Aku hanya malas," jawab Bram.


"Usahamu dalam mengelak sungguh payah, pengecut," cibir Jesica.


"Hei,,, Ugh,, baik, hanya saja, jangan marah ketika kau kalah," jawab Bram.


"A,,A,,," Jesica mengelengkan kepalanya.


"Bukan aku, tapi Joel," jawab Jesica seenaknya.


"Aku bahkan tidak mengatakan ingin bermain," sambut Joel.


"Kalau begitu, pikirkan saja hadiahnya," balas Jesica menunjuk deretan hadiah berupa boneka ukuran besar.


Joel memandangi boneka ukuran besar itu selama beberapa saat, dan beralih pada Ariel, lalu kembali lagi pada boneka itu, tertantang untuk mendapatkannya.


"Sudahlah,,, ayo ke tempat lain," ajak Ariel sembari menarik lengan Joel. "Jessi hanya memprovokasimu agar menuruti permainannya," imbuhnya.


"Tunggu dulu," cegah Joel menahan tangannya.


"Hadiahnya tampak menarik, aku ingin bermain sebentar," sambung Joel.


"Bagus,," sambut Jesica tersenyum puas.


"Tolong dua puluh bola," ucap Jesica pada penjaga tenda.


Penjaga tenda itu tersenyum ramah dan memberikan bola sesuai yang di minta Jesica. Ia meletakkan masing-masing sepuluh bola dan meminta Joel serta Bram memilih sendiri keranjang bolanya.


Dengan aba-aba dari Jesica, mereka berdua mulai melemparkan bola pada ring yang berada jauh di depan mereka.


"Tck,,, "


Bram berdecak kesal saat skornya berada dibawah Joel, membuat Jesica semakin mentertawakan dirinya.


"Ambil ini," Bram memberikan boneka yang ia dapatkan pada Jesica.


"Untukku?" sambut Jesica sedikit ragu


"Ambil atau aku buang," ujar Bram lagi saat Jesica tidak kunjung menerima boneka ditangannya.


"Eh,,, jangan!" ucap Jesica segera merebut boneka itu.


"Tapi, kau yakin memberikan ini untukku?" tanya Jesica memastikan.


Bram hanya menaikan bahunya dengan acuh dan menghindari bertatapan dengan Jesica.


Disisi lain, Ariel kembali tersenyum saat melihat sikap mereka berdua. Tangannya meraih lengan Joel dan kembali berjalan. Sesekali mereka berhenti ditenda lain yang menjual makanan atau aksesoris.


Hingga acara yang mereka tunggu-tunggu akhirnya tiba. Beberapa pasangan lain memiliki satu lentera di tangan mereka yang siap untuk dilepaskan.


Saat hitungan mundur dimulai, perlahan Ariel dan Joel melepaskan lentera ditangan mereka. Langit yang semula gelap berubah terang bersamaan dengan lentera yang mulai terbang semakin tinggi.


Ariel merasakan Joel mengenggam tangannya, seolah meminta Ariel untuk menoleh kearahnya.


"Ariel,,," panggil Joel.


"Ya,,,?" sambut Ariel.


Ariel menoleh hanya untuk menyadari Joel telah berlutut didepannya dengan kotak beludru abu terang dan cincin didalamnya disatu tangannya.


.....


.....


.


.


To be Continued...