I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
74.Menghindar



Beberapa hari setelah kejadian itu, Ken menjadi lebih pendiam dan menghindari Ariel disaat ia latihan. Bahkan ia sempat membolos latihan hanya karena tidak ingin bertemu dengan Ariel untuk sementara waktu.


Sama seperti sore itu, Ken tampak tergesa-gesa untuk segera keluar dari ruang latihan setelah jam latihan selesai. Tidak seperti biasanya yang akan meminta jam latihan tambahan dan pulang saat hari gelap.


"Tunggu sebentar, Ken!" cegah Ariel menghentikan langkah kaki Ken menuju pintu.


'Ukh,,, sekarang apa?' keluh Ken dalam hati, menutup matanya sesaat sebelum memutar tubuhnya menghadap Ariel.


"Iya kak?" sahut Ken memaksakan senyum diwajahnya.


"Bisakah kau menunda sebentar jam pulangmu?" pinta Ariel.


"Ehm,,, a-apakah aku melakukan kesalahan?" tanya Ken gugup.


Ariel mengerutkan keningnya, merasa sikap Ken berubah aneh sejak pulang dari acara itu. Ken terkesan selalu menghindarinya, bahkan menghindari tatapannya.


"Tidak, hanya beberapa pertanyaan yang perlu kau jawab," jawab Ariel.


"T-tapi_,,,"


Ken memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap Ariel, namun segera menunduk kembali.


"Haahhh,,," desah Ariel. "Aku mengerti, kau bisa pulang. Maaf sudah menahanmu," sambungnya.


Tanpa banyak bicara lagi, Ken segera melenggang pergi. Meninggalkan kebingungan dalam benak Ariel.


"Apa yang sebenarnya terjadi saat itu? Apakah aku melakukan kesalahan? Apakah aku tanpa sengaja mempermalukannya didepan umum? Kenapa sulit sekali mengingat apa yang terjadi malam itu?" gumam Ariel menekan pelipisnya.


Ariel kembali mendesah pelan, seraya membereskan barang-barangnya. Sementara Ken berdiri selama beberapa saat di depan pintu, merasa sangat bersalah atas tindakannya, namun ia juga tidak berani untuk jujur.


Ken melenggang pergi, meninggalkan satu-satunya tempat yang biasa membuatnya bisa tersenyum. Tempat yang bisanya membuat ia ingin berlama-lama berada di sana, kini berubah menjadi tempat yang ingin ia hindari.


Melangkah gontai meninggalkan tempat latihan, Ken bersiap untuk memanggil taksi ketika sebuah mobil mendekatinya. Kaca mobil itu diturunkan untuk memperlihatkan seorang wanita memakai kacamata hitam dan penutup wajah menoleh kearahnya.


"Naik!" perintahnya.


Mendengar suara wanita itu, Ken tercekat dan segera naik tanpa perlawanan. Mobil itu pergi begitu saja membawa Ken bersamanya.


"Kau melepaskan kesempatan yang aku berikan," ucapnya sinis memecah keheningan.


"Aku tidak mau mengunakan cara itu," jawab Ken pelan.


"Pengecut," cibirnya.


"Aku tidak peduli, setidaknya aku tidak menjadi seorang baj*ngan," jawab Ken tegas.


"Cih,,, kau tau dia tidak akan mencintaimu bukan? Apakah kau juga tau dia telah menjalin hubungan dengan orang lain?" pancingnya.


"Aku tau, dan aku juga melihatnya," jawab Ken.


"Dan kau akan membiarkannya? Disaat kau bisa merebutnya?"


"Kau lebih dulu mengenalnya jika dibandingkan dengan dia, kau lebih lama bersamanya, kenapa harus kau yang mengalah?"


"Sedangkan dia, jika kau ingin tau, dia adalah orang yang pernah menabraknya hingga membuatnya tidak bisa berjalan selama beberapa hari,"


"APAAA,,,??" seru Ken terkejut segera memutar badannya menghadap wanita yang tengah mengemudikan mobil.


"Kau bodoh jika merelakan orang yang kau cintai bersama orang yang telah mencelakainya,"


Wanita itu terus berbicara untuk memprovokasi Ken, berharap bisa memanipulasi pikirannya.


Sejurus kemudian, senyum kecil tersungging di bibir wanita itu dibalik penutup wajahnya tatkala melihat kemarahan diwajah Ken.


"Turunkan aku dihalte depan," ucap Ken memalingkan wajahnya.


Intonasi pada suaranya berubah, matanya manyala karena marah, dan Ken berhenti tepat dijalan yang biasa dilalui Ariel ketika pulang.


Tanpa banyak bicara, wanita itu menepikan mobilnya, membiarkan Ken turun, dan segera pergi.


Wanita itu tersenyum puas, bergumam pelan tanpa melepaskan kacamata hitamnya.


"Joel hanya milikku, aku hanya perlu merusak hubungan mereka untuk bisa mendapatkan Joel. Jika itu masih tidak cukup, aku hanya perlu menyingkirkannya," ujarnya dengan seringai diwajahnya.


Sementara Ken menunggu, ia terus mengawasi arah jalan dimana Ariel biasanya akan lewat. Namun, saat mobil Ariel terlihat, mobil itu justru berbelok kearah yang jelas bukan menuju apartemen Ariel.


Hal itu membuat Ken gusar, dan segera mengikuti Ariel menggunakan taksi.


"Apa-apaan?" desis Ken.


Ken melihat Ariel berhenti didepan rumah sakit, dimana Joel telah menunggu disana. Ariel keluar dari mobil dan beralih ke sisi penumpang, membiarkan Joel mengambil alih mengemudikan mobil.


"Kak Ariel bahkan membiarkan orang lain mengemudikan mobil miliknya," gumam Ken pelan.


"Jalan," ucap Ken kepada sopir taksi.


Ken memutuskan untuk pulang, tidak ingin melihat lebih lama saat Ariel bersama Joel.


Sesampainya dirumah, yang tentu saja dalam keadaan kosong, Ken langsung menuju kamarnya, tak lupa ia mengunci pintu, dan menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur.


"Kenapa kak Ariel justru terlihat sangat senang ketika bersamanya?" gumam Ken.


"Setiap kali melihat orang itu, aku selalu merasa ada memori yang hilang dari ingatanku. Saat itu memang sudah agak lama, teman kak Ariel datang dan ada tiga orang, dua pria dan satu lagi,,, siapa? Apakah itu pria atau wanita?" gumamnya.


"Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali? Padahal sepertinya orang itu juga datang saat pertunjukan pertamaku, itu artinya aku bertemu tidak hanya satu kali, tapi aku benar-benar melupakannya,"


Ken terus berkata-kata pada dirinya sendiri. Matanya menerawang, mencoba mengingat kepingan memori yang hilang namun selalu gagal.


Tangannya meraba disamping tempat tidurnya, mengeluarkan foto Ariel yang selalu ia simpan di bawah bantal sejak ia merasa Charlie bisa saja masuk ke kamarnya kapanpun.


Ia mulai meraba foto ditangannya, membelai wajah Ariel yang tersenyum lembut menghadap kamera. Tangannya beralih meraba bibirnya, mengingat kembali saat pertama kali ia bisa merasakan bibir Ariel.


"Jika kak Ariel tau, apakah dia akan membenciku?" ucapnya lirih.


"Dari segala kemungkinan yang bisa terjadi, aku sangat tidak ingin kemungkinan kak Ariel membenciku, aku sangat tidak menginginkan itu," ratapnya.


"Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa dia mau membantuku? Dan kenapa semua jalan yang dia pilihkan untukku itu terasa salah?" ucap Ken ketika mengingat wanita yang tadi menemuinya.


Berpikir keras siapa wanita yang menyarankan untuk memberikan obat Afrodisisk pada Ariel agar dirinya bisa memiliki Ariel sepenuhnya.


Dan dengan bodohnya dirinya setuju begitu saja, itu sebabya Ken membawa Ariel ke acara bisnis yang diadakan keluarganya, yang memang sebelumnya terus mendesaknya untuk datang. Dengan dalih keluarganya yang memang selalu berusaha mempermalukan dirinya didepan semua orang, ia meminta bantuan Ariel untuk menemaninya. Padahal ia sendiri bisa menghadapinya.


Rencana itu pun berjalan dengan sangat mulus, ditambah dengan orang tak terduga yang mendekati Ariel malam itu menambah kesempurnaan rencana yang sudah ia atur.


"Aargghh,,,, Sh*it,,,!" umpat Ken mengacak-acak rambutnya.


Tok,,,


Tok,,


Tok,,,,


Suara ketukan pintu mengejutkan Ken, dengan cepat ia segera menyembunyikan foto Ariel.


"Ken,,, Aku membelikan makanan untukmu, apakah kamu tidak keberatan kita makan bersama? Setelah ini aku harus berangkat lagi karena lembur,"


Suara Charlie terdengar dari balik pintu, terdengar lembut dan menunjukkan kasih sayang tulus.


"Aku segera turun," sambut Ken setengah berteriak agar Charlie bisa mendengarnya.


"Baiklah,"


Hening,,,,


Setelah mengatakan itu, suara Charlie menghilang, Ken segera menganti pakaiannya dan segera turun, menemui Charlie untuk makan bersama.


"Maaf, aku tidak memiliki banyak waktu untuk memasak untukmu," sesal Charlie ketika menyodorkan makanan yang ia beli kepada Ken..


"Ini bahkan lebih baik dari yang disuguhkan oleh pelayan," sahut Ken.


Gerakan tangan Charlie yang hendak menyuap makanan kemulutnya seketika terhenti, ia menatap sang adik dengan tatapan tak percaya. Untuk pertama kalinya ia mendengar adiknya menyahuti perkataannya.


"Begitukah?" balas Charlie menaikkan alisnya.


"Aku tersanjung," imbuhnya.


Hening,,,!!!


Ken mulai menyuap makanannya, sesekali melirik kearah Charlie yang tampak tenang menikmati makanan didepannya. Kantung matanya terlihat sangat jelas, dan wajahnya tampak lelah, namun Charlie masih saja menyempatkan makan bersamanya.


"Terima kasih," ucap Ken tiba-tiba.


"Uhukk,,ehem,, " Charlie menepuk dadanya seraya meraih air minum dan meneguknya.


"Apa?" Charlie menaikkan alisnya, ingin memastikan apakah ia salah dengar atau tidak.


"Kau sudah membelikan Cello untukku, aku berterima kasih untuk itu," ucap Ken.


"Ahh,,, itu,, apakah kau menyukainya?" tanya Charlie, berusaha untuk bisa terus berkomunikasi dengan adiknya.


Pasalnya, selama adiknya tinggal bersamanya, bisa dihitung berapa kata yang adiknya katakan padanya.


"Yah,, aku menyukainya. Bahkan itu sudah di stel dengan sangat baik. Apakah kau meminta pemilik toko untuk menyetelnya?" tanya Ken mulai mengangkat wajahnya menatap Charlie.


"Tidak, tapi temanku yang melakukannya," jawab Charlie.


Dalam hatinya ia merasa takjub dengan banyaknya kalimat yang diucapkan sang adik padanya.


"Kau memiliki teman yang bisa bermain musik?" sambut Ken sedikit terkejut.


"Yah,,, bisa dikatakan dia sangat baik dalam musik," jawab Charlie bangga.


"Aku bisa mengenalkannya padamu jika kamu ingin, mungkin kalian akan cepat akrab karena kesukaan kalian sama," papar Charlie tersenyum.


"Bukankah itu berarti dia juga seumuran denganmu?" sambut Ken menyipitkan matanya.


"Hei,,,apa maksudnya wajah mu itu. Dia memang lebih tua darimu, tapi dia cantik, bahkan tidak terlihat jika usia kami sama. Tak akan ada yang menyangka ketika melihat sosoknya secara langsung dan ketika dia menyebutkan usianya," ungkap Charlie.


"Padahal kau sendiri juga wanita, tapi kau mengagumi wanita lain," cibir Ken.


"Kau berkata begitu karena belum melihatnya, coba saja, sekali melihatnya kamu pasti akan setuju dengan apa yang aku katakan," jawab Charlie tersenyum.


Charlie menyelesaikan makannya, dan bersiap untuk membereskan alat makan yang ia gunakan, namun dengan cepat Ken mencegahnya.


"Tinggalkan saja itu, aku akan mengurusnya. Bukankah kau bilang akan berangkat lagi?" ucap Ken tanpa menatap Charlie.


Selama beberapa saat, Charlie terdiam. Menatap sosok adik didepannya yang tiba-tiba berubah. Namun ia tidak ingin momen itu berubah menjadi kaku seperti sebelumnya, hingga ia hanya menuruti keinginan sang adik.


"Baiklah, tolong ya! Aku berangkat," ucap Charlie.


Ken menatap punggung sang kakak dalam seragam polisi yang melekat di tubuhnya. Punggung yang berdiri didepannya ketika ia merasa muak dengan keluarganya sendiri.


"Ah,,," Charlie menghentikan langkahnya didepan pintu dan berbalik.


"Jika kamu ingin keluar malam ini, pastikan tidak pulang terlalu larut," ucap Charlie.


"Aku tau," sahut Ken.


Charlie tersenyum, dan berbalik lagi menghadap pintu, membukanya lalu pergi.


Sementara Ken tampak termenung, memikirkan kembali semua sikapnya yang telah ia tunjukkan kepada Charlie.


Melampiaskan semua emosi pada orang yang bahkan baru ditemuinya. Sedangkan Charlie justru menariknya menjauh dari rumah yang selama ini membuatnya sesak, dan berusaha keras melindunginya.


"Haahh,,,, aku ingin sekali menceritakan ini pada kak Ariel. Kakak selalu tau apa yang sebaiknya aku lakukan, tapi sekarang aku bahkan tidak berani untuk menatapnya," desah Ken.


Mendesah untuk kesekian kalinya, Ken segera membereskan meja makan dan mencuci peralatan makan yang ia dan kakaknya gunakan. Selesai dengan itu, ia kembali ke kamarnya


...>>>>>>>--<<<<<<<...