
"Apa yang membuat kalian berpikir bahwa aku marah pada kalian?" tanya Ariel memecah keheningan.
Mereka serentak menatap Ariel dengan raut wajah tak percaya.
Ariel menatap lurus kedepan. Diruang latihannya yang tampak luas dengan alat-alat musik yang di atur dengan rapi.
"Sejujurnya, akulah yang harus meminta maaf pada kalian. Aku sudah mengacaukan apa yang kalian siapkan hanya kerana suasana hatiku yang tidak bagus," papar Ariel.
"Dan kami-lah yang menyebabkan hal itu terjadi," sambut Bram.
"Tidak," Ariel mengelengkan kepalanya. " Kalaupun Charlie tidak memberikan alamat dimana dia berada, Jessi selalu memiliki cara untuk menemukan orang yang dia cari," jawab Ariel.
"Tetap saja, aku lah yang membuat jesica berada disana, dan mengacaukan segalanya," sesal Charlie.
"Kalau begitu," Ariel beralih menatap Charlie.
"Katakan padaku, apakah kamu mengharapkan hal itu terjadi?" tanya Ariel.
"Apa? Tentu saja tidak," jawab charlie cepat.
"Itulah tepatnya yang ingin kukatakan. Tidak satupun dari kalian menginginkan hal ini terjadi, bukan?"
"Disamping itu, aku juga sudah memperkirakan bahwa suatu saat aku akan kembali bertemu dengannya, hanya saja aku memang tidak menduga dengan cara seperti ini," tutur Ariel.
Ariel kembali meneguk minumannya dan menghembuskan nafas panjang.
"Lalu, untukmu Joel," ucap Ariel menatap Joel.
"Jangan menatapku seperti itu,!"
"Seolah kau sangat terbebani dengan fakta bahwa kau dan Jessi memiliki hubungan. Bukankah sudah kukatakan, aku tidak akan mendesakmu untuk menceritakan apa yang tidak ingin kau ceritakan?" ucap Ariel tenang.
"Tidak,, aku tidak lagi menjalin hubungan dengannya. Dia hanyalah masa lauku," sanggah Joel.
"Itu benar," timpal Charlie.
"Hubungan mereka berakhir sudah cukup lama. Aku bisa membuktikannya padamu," terang Charlie.
"Aku tau, kau tidak perlu melakukanya, Charlie," sambut Ariel.
"Sungguh?" tanya Charlie.
Ariel mengangguk pelan, dan kembali mengalihkan pandangannya.
"Lalu kenapa kamu tidak membalas pesanku? dan pesan mereka? Bahkan tidak mengangkat telepon dari kami," tanya Joel.
"Karena aku sedang fokus untuk persiapan pertunjukan mereka. Aku tidak bisa mengabaikan mereka hanya kerena masalah pribadiku. Biar bagaimanapun pertunjukan nanti adalah impian mereka," terang Ariel.
"Pertunjukan diadakan hanya tinggal mununggu hari, dan aku ingin memastikan mereka tampil sebaik mungkin," sambungnya.
"Jadi,,, mereka berdua yang akan tampil?" tanya Bram.
"Salah satunya tidak, dia hanya minta aku melatihnya diluar jam latihannya bersama temanku, Gerry. Namun itu cukup untuk membantu Ken. Itu sebabnya aku melatih mereka berdua bersama," jelas Ariel.
"Walaupun pertunjukan kali ini adalah orkestra, namun akan ada saat dimana dia akan bermain solo," imbuhnya.
"Ahh,,, begitu rupanya," desah Joel.
Keheningan menyelimuti mereka. Namun, berbeda dengan saat mereka datang, beban dihati mereka terangkat setelah mendengar penjelasan Ariel.
Bram menatap Ariel yang masih mengarahkan pandangannya lurus kedepan. Hal itu membuatnya teringat akan Jesica dan kemungkinan hal buruk yang akan Jesica lakukan terhadap Ariel.
"Aku tidak ingin merusak suasana, tapi_,," Bram mengantung kalimatnya dan menatap Ariel yang menoleh padanya.
"Mulai sekarang, kamu harus lebih berhati-hati, Ariel," ucap Bram cemas.
"Melihat situasi kemarin, aku memikirkan Jesica akan melakukan sesuatu untuk memenuhi keinginannya," papar Bram
"Aku tau, dan aku juga memikirkan hal yang sama," jawab Ariel.
Perasaan cemas merayap memenuhi hati Joel ketika ia tiba-tiba teringat ancaman yang Jesica lontarkan padanya.
Pikirannya memikirkan kemungkinan terburuk yang akan dilakukan Jesica terhadap Ariel.
"Bagaimana jika Jesica melakukan hal nekat? Melakukan sesuatu yang buruk padamu, Ariel?" ungkap Joel cemas.
"Sama sepertimu, aku juga mengenal Jessi. Walaupun yang aku kenal adalah sisi palsunya. Tapi aku mengerti dengan jalan pikirannya, Joel," sambut Ariel tenang.
"Kamu tidak bisa meremehkan ancaman yang keluar dari mulutnya, Ariel. Dia tidak menerima kekalahan," ucap Charlie cemas.
"Aku berterima kasih karena kalian peduli padaku. Dan kalian harus tau, aku tidak akan pernah menganggap ucapannya sebagai sebuah gertakan, setidaknya tidak akan lagi," papar Ariel.
Jeda keheningan berlangsung selama beberap saat hingga mereka menghabiskan minuman mereka.
"Kamu benar-benar tidak marah?" tanya Bram memastikan sekali lagi.
"Sama sekali tidak. Tapi, bohong jika aku tidak terkejut dengan fakta yang aku dapatkan," ucap Ariel melemparkan kaleng minumannya yang telah kosong ketempat sampah.
"Bagaimana bisa? Kalian bedua,," Ariel menunjuk Bram dan Joel bergantian.
"Memiliki hubungan dengannya?" sambungnya dengan alis terangkat.
"Aku tidak bisa berkomentar," celetuk Charlie mengangkat kedua tangannya.
"Errr,,,, itu,,,," Joel menatap Bram yang juga melakukan hal yang sama seolah baru menyadari sesuatu.
Charlie menatap Ariel yang juga menatapnya dan mengerakkan kepalanya. Detik berikutnya tertawa terbahak melihat reaksi Joel dan Bram.
"Apa yang membuat kalian tertawa?" protes Bram.
"Bukan apa-apa," jawab Charlie.
Ariel mengangguk setuju lalu tersenyum menatap mereka bertiga bergantian.
"Ah,,, sebelum aku melupakannya. Kalian harus datang saat pertujukan Ken diadakan. Ini adalah pertunjukan pertamanya, karena dia akan tampil bertiga saat penutupan acara," terang Ariel setelah tawanya mereda.
"Bertiga?" mereka serentak bertanya.
"Benar. Ken, Oliver dan Gina. Kalian pernah bertemu dengan mereka berdua di pertunjukan sebelumnya," jelas Ariel.
"Kapan tepatnya acara itu?" tanya Joel.
"Empat hari mendatang," jawab Ariel.
"Aku pasti datang," jawab Bram cepat.
"Aku tidak mungkin mengabaikan undangan temanku," sambung Charlie.
"Aku juga tidak mungkin melewatkannya," timpal Joel.
"Terima kasih," sambut Ariel tersenyum.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
Sebuah rumah besar yang terlihat seperti manison tampak sepi dengan hanya ada beberapa orang yang berada didalamnya.
Jesica tengah duduk disebuah gazebo dengan laptop didepannya. Tak lama kemudian, ponsel yang berada disampingnya berdering.
Jesica meraih ponselnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Ya,?" jawabnya setelah mendekatkan ponsel ditelinganya.
"Dia melatih musik disebuah studio musik," terang seseorang dari ponsel Jesica.
"Apa nama studio itu?" tanya Jesica.
Jesica segera mengetik nama studio yag disebutkan melalui laptopnya. Detik berikutnya, ia tersenyum puas.
"Apa lagi yang kau dapatkan?" tanya Jesica lagi.
"Dalam empat hari kedepan, dia diundang untuk ikut serta dalam pertunjukan orkestra. Dan tentu saja alat musik yang di gunakan dikhususkan untuknya," paparnya.
"Pertunjukan?" Jesica mengulang ucapan penelepon dengan kening berkerut. "Alat musik apa yang akab digunakan?" imbuhnya.
"Piano, Cello dan Biola," terangnya .
"Kerja bagus," ucap Jesica.
Jesica mengakhiri panggilannya, lalu tersenyum sinis.
"Tidak kusangka, kau sekarang lebih baik dari yang ku kenal dulu. Kau bahkan melatih mereka yang akan tampil dipertunjukan musik yang bisa melambungkan siapa saja yang bermain disana," cibir Jesica.
"Mari kita lihat, sejauh mana keberuntunganmu akan bertahan. Aku hanya perlu mematahkan kaki yang menopangmu hingga kau bisa berdiri sampai sekarang, dan membuatmu terjatuh lagi hingga kau kupa bagaimana caranya berdiri" ucap Jesica pada dirinya sendiri.
...>>>>>>>--<<<<<<<...