I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
84. Apa yang disembunyikan bram



"Apakah kau melupakan sesuatu, Ken_,,, Eh,,,, Bram,,,??"


Ariel terkejut dengan kedatangan Bram yang tiba-tiba. Lebih terkejut lagi ketika melihat wajah Bram lebab dan memiliki luka sobek di sudut bibirnya. Luka yang sama dengan luka yang didapatkan Joel. Perbedaanya adalah luka Joel lebih dalam dari Bram.


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Ariel.


"Aku,,,,"


"Masuk dulu," ujar Ariel mempersilahkan Bram masuk.


"Terima kasih," ucap Bram lesu.


"Apakah bocah laki-laki yang kau latih datang berkunjung pagi ini?" tanya Bram ketika melihat cangkir kopi di meja.


"Ah,, itu,, benar, dia datang dan baru saja pulang. Dia meminta jadwal latihan diluar jadwal biasanya," terang Ariel seraya membereskan cangkir.


"Apakah kau juga mau minum, Bram?" tawar Ariel.


"Air putih dingin saja," jawab Bram.


Ariel menatap Bram sejenak untuk mencari tau ada apa sebenarnya, namun segera berbalik mengambilkan gelas dan menuangkan air yang ia keluarkan dari lemari pendingin.


"Kau tampak pucat, Ariel. Apakah kamu sakit?" tanya Bram cemas.


"Hanya flu ringan untuk sekarang," jawab Ariel.


"Untuk sekarang?" ulang Bram mengerutkan keningnya.


"Aku sempat demam, dan itu sudah tidak lagi," jawab Ariel.


"Apakah dokter itu juga tau tentang sakitmu?" dengus Bram.


"Justru dialah yang merawatku, Bram," tutur Ariel.


"Maksudmu, dia menginap disini?" tanya Bram melebarkan matanya.


"Untuk satu alasan, ya, dia menginap. Dan sepenuhnya hanya merawatku hingga demamku turun," jelas Ariel.


"Lalu, luka di tanganmu?" tanya Bram lagi.


"Kenapa kau datang justru melakukan introgasi padaku?" sambut Ariel menyipitkan matanya.


"Ini," ujar Ariel menydorkan segelas air yang segera di sambut Bram dan meneguknya.


"Ada apa dengan wajahmu? Apakah kau baru saja berkelahi?" tanya Ariel seraya duduk di samping Bram.


"Biarkan aku melihatnya," ucap Ariel seraya mengulurkan tangannya hendak memeriksa luka Bram.


'TAK,,,!!!'


Bram menepis tangan Ariel sebelum sempat menyentuh wajahnya.


"Tidak perlu! Biarkan saja," ujar Bram memalingkan wajahnya.


Kerutan didahi Ariel menukik lebih tajam. Ia segera berdiri untuk mengambil kotak obat dan kembali duduk disamping Bram.


Tangannya kembali terulur, namun mendarat dibahu Bram dan memaksa Bram untuk menghadap kearahnya.


"Diam, dan jangan bergerak, oke!" tegas Ariel. "Kau mengenalku bahwa aku keras kepala, bukan?" sambungnya.


Ariel mulai membersihkan luka diwajah Bram menggunakan kapas yang telah dibasahi antiseptic, menahan wajah Bram dengan meletakkan jari tangannya di dagu Bram.


"Bagaimana ceritanya kamu bisa mendapat luka seperti ini?" tanya Ariel.


Pandangan mata Bram hanya tertuju pada wajah Ariel yang mengobati luka diwajahnya dengan lembut. Meski tidak saling bertatapan, tak bisa di pungkiri bahwa jantung Bram berdebar dengan jarak antara Ariel dengan dirinya.


'Arhh,,, aku benar-benar harus bisa mengendalikan diriku untuk tidak mengecup bibir itu. Jarak ini benar-benar menyiksaku,' erang Bram dalam hatinya.


Selesai dengan kapas, Ariel mengoleskan obat di luka Bram dengan hati-hati.


Tangan Bram bergerak mencengkram, pergelangan tangan Ariel, sebelum Ariel bisa mencerna dengan tindakan Bram, bibir Bram lebih dulu mendarat di bibir Ariel.


"Baiklah, sudah selesai," ucap Ariel menjauhkan wajahnya dari Bram.


Suara Ariel membuatnya tersentak, dan menariknya kembali ke kenyataan.


"Maukah kau menceritakannya padaku, Bram?" tanya Ariel.


"Itu,,,, aku tidak bisa menceritakannya sekarang," jawab Bram tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang sempat berfantsi tentang Ariel.


"Baiklah, aku tak akan memaksamu," ucap Ariel. "Lalu, ada apa kamu datang pagi_ ah bukan, ini bahkan hampir siang," ralatnya.


"Hanya ingin memastikan keadaanmu bahwa kau tidak benar-benar melakukan bunuh diri," sambut Bram terkekeh pelan menyembunyikan kegelisahan hatinya.


"Ha ha,,, sangat lucu," jawab Ariel mengerucutkan bibirnya.


"Pft,,, ha ha ha,, aku hanya bercanda," ucap Bram. "Tapi aku sungguh ingin memastikan keadaanmu, terakhir kulihat, kau tidak dalam keadaan baik," sambungnya.


"Bahkan dia sampai bisa membuatmu demam," dengus Bram.


"Aku baik-baik saja, dan dia juga yang merawatku," jawab Ariel.


"Itu artinya kalian telah berbaikan?" Bram menaikkan alisnya.


"Anggap saja begitu," jawab Ariel.


"Sebentar," imbuhnya.


Ariel kembali berdiri untuk meletakkan kotak obat ke tempatnya semula, sementara Bram menatap punggung Ariel dengan tatapan sendu.


Ia segera beranjak dari duduknya sebelum Ariel kembali, membuka pintu dengan hati-hati dan pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun pada Ariel.


"Tck,,,dia pergi tanpa pamit, sungguh sikap yang SANGAT baik, ish,," decak Ariel kesal.


Ariel mengambil gelas di meja yang tadi di gunakan Bram dan berniat mencucinya, namun gerakan tangannya terhenti ketika melihat jam tangan tergletak diantara kaki meja dan sofa.


"Ini milik Bram, dasar ceroboh, kenapa menjatuhkannya disini," gerutu Ariel.


'BRRUUKK,,,!!'


Tepat saat ia membuka pintu, Ariel justru menabrak seseorang yang berdiri disana. Tebuh keras yang ia tabrak membuatnya terhuyung kebelakang dan nyaris jatuh saat tangan kokohnya menangkap Ariel lebih cepat.


"Woahh,,, ada apa ini? Kenapa kamu buru-buru seperti ituu? Itu juga berbahaya, kau tau?" ucapnya.


Suara familiar yang keluar darinya membuat Ariel mendongak.


"Joel,,," desis Ariel terkejut.


Ariel menegakkan kakinya dan melepaskan pegangannya dari Joel.


"Kamu mau kemana? Jangan berpikir bisa pergi kemanapun dalam keadaan sakit," tegur Joel.


"Bukan begitu," sanggah Ariel.


"Apakah kamu berpapasan dangan Bram?" tanya Ariel.


"Dia datang?" Joel balik bertanya.


"Itu artinya tidak? Cepat sekai dia pergi," gerutu Ariel.


"Ada apa dia kemari?" tanya Joel melangkah masuk, lalu menutup pintu.


"Aku juga tidak tau, dia datang dengan wajah aneh, dan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku," terang Ariel.


"Omong-omong, ada apa kamu datang kemari? Bukankah seharusnya kamu masih bekerja?" tanya Ariel cepat menganti topik.


"Kenapa? Tentu saja membuat makan siang untukmu," jawab Joel melangkah mendahului Ariel menuju meja counter.


"Hei,,, aku baik-baik saja sekarang," jawab Ariel kembali ke meja dimana ia meninggalkan gelas yang digunakan Bram, meletakkan jam tangan di sana dan mengambil gelas berniat mencucinya.


"Aku tidak yakin kau akan makan dengan benar," sambut Joel menyeringai.


"Hei,, tinggalkan saja itu, aku akan mencucinya nanti," cegah Joel saat melihat Ariel akan mencuci gelas.


"Apakah aku juga tidak diperbolehkan mencuci gelas bahkan jika itu hanya dua?" sambut Ariel bertanya.


"Tidak! Kau harus banyak istirahat," tegas Joel merebut gelas dari tangan Ariel.


"Kau tau? Kau menjadi lebih menyebalkan sekarang," gerutu Ariel.


Ariel beranjak dari depan wastefel ketika tiba-tiba Joel menarik Ariel kearahnya, mengunci pergerakan Ariel dengan meletakkan satu tangannya yang tidak terluka dibelakang Ariel, lalu mendorongnya hingga ia terjebak di wastefel.


"Benarkah? Aku menyebalkan? atau kaulah yang menjadi pasien yang sulit untuk di atur disini?" tanya Joel mendekatkan wajahnya.


"Oh,,, dan kau kebratan tentang itu?" tantang Ariel mencondongkan kepalanya, membalas tatapan Joel padanya.


"Kau terlalu sering menyiksaku," dengus Joel.


Joel mengecup lembut bibir Ariel, membuat Ariel terkesiap. Detik berikutnya, Ia memejamkan matanya, merasakan kelembutan sikap Joel untuknya tanpa tuntutan.


"Duduklah, kau boleh disini hanya jika kau menurut duduk," ujar Joel setelah mengakhiri ciuman mereka.


"Atau apa?" tantang Ariel lagi.


"Berhetilah mengodaku," geram Joel menarik hidung Ariel.


"Aaahhh,,, " pekik Ariel lalu menutupi hidungnya.


"Iya,, iya,,, " sungut Ariel.


Ariel menurut duduk, dan menopang dagunya. Tidak melepaskan pandangannya dari Joel yang tengah memotong sayuran.


"Pernahkah ada yang mengatakan padamu bahwa kau telihat seksi saat memasak?" goda Ariel.


'TAAKK,,,,!' suara pisau terjatuh terdengar nyaring, membuat Joel menatap Ariel dengan gemas.


"Ariellll,,," geram Joel


Ariel tertawa terbahak-bahak, namun bersyukur karena Joel tidak kembali mendekatinya, dan memilih melanjutkan memasak.


"Bisakah kau biarkan aku fokus?" sambung Joel.


"Baik,, Baik,, aku berhenti menganggumu," ucap Ariel disela tawanya.


TAk TAK TAK


Suara pisau mengisi keheningan yang ada diantara Joel dan Ariel. Tak berselang lama, Ariel kembali memecah keheningan.


"Joel,,," panggil Ariel.


"Apa? Jika kau hanya ingin mengodaku, aku benar-benar akan membuatmu diam," ancam Joel.


"Ha ha ha,, Hei,,, aku serius sekarang, aku hanya ingin bertanya," ucap Ariel.


"Baiklah, katakan!" jawab Joel.


"Apakah kamu bertemu dengan Bram dalam dua hari terakhir?" tanya Ariel.


"Maksudku,,, setelah kejadian di rumahmu waktu itu," imbuhnya.


"Tidak, kenapa kau bertanya?" jawab Joel balas bertanya.


"Aku terkejut melihatnya saat tadi datang kemari, wajahnya lebam, dan memiliki luka yang sama sepertimu, sobek di sudut bibirnya,"


'DEG,,!!'


Dengan cepat, Joel mengangkat wajahnya dan menatap Ariel, ingin memastikan apakah itu candaan atau bukan.


"Aku pikir kamu tau sesuatu," imbuhnya.


'Apa ini? Kebetulan macam apa ini? Tidak mungkin dia adalah orang berjaktet waktu itu kan?' batin Joel.


>>>>>>>--<<<<<<<