
"APAAA,,,,,?????"
Joel tanpa sadar meninggikan suaranya karena terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar dari Bram.
"Ariel menganggapnya sebagai sahabat baiknya, tapi wanita gila itu justru mengkhianatinya," ungkap Bram.
"Dan yah, Aku turut andil kala itu. Aku menjadi seorang breng*ek yang menyakiti Ariel bersamanya. Aku sungguh menyesalinya sekarang," ungkap Bram mengacak-acak rambutnya.
"Aku ingin memperbaiki apa yang telah ku rusak, aku tidak akan membiarkan dia menyakiti Ariel lagi," papar Bram tulus.
"Woww,,,, ini pertama kalinya kau terbuka padaku," sambut Joel takjub.
"Aku sempat berpikir kau adalah orang yang memiliki harga diri yang terlewat tinggi," sambungnya.
"Itu tidak penting sekarang,!" tukas Bram. " Sekarang, yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya agar Ariel tidak bertemu dengannya, dan jangan biarkan dia tau tentang hubunganmu dengan Jesica dalam waktu dekat," terang Bram.
"Aku sempat bepikir hal ini akan kau jadikan sebagai batu lancatanmu agar kamu bisa kembali mendekati Ariel dan mengambil hatinya, kenapa kau justru membantuku?" ungkap Joel bingung.
"Jika itu adalah kamu, apa yang akan kamu lakukan?" Bram balas bertanya.
Joel terdiam, memahami posisi Bram. Andaikan dirinya yeng berada di posisi Bram dan ingin memperbaiki kesalahan, dirinya tidak akan memilih cara yang justru akan berkibat menciptakan jarak baru antara dirinya dengan Ariel.
Bahkan jika cara yang dia lakukan akan menyakiti dirinya sendiri, maka ia akan tetap melakukannya lagi dan lagi.
Dan, jika pada akhirnya Ariel akan memilih Bram, ia akan mendukung hubungan mereka. Karena sekarang dirinya benar-benar melihat ketulusan yang ada didalam diri Bram terhadap Ariel.
"Aku akan melakukan hal yang sama," jawab Joel setelah terdiam beberapa saat.
"Apakah Ariel tau Jesica ada dikota ini?" tanya Joel.
"Dia tau, tapi mereka belum pernah bertemu," terang Barm.
"Bagaimana dengan Jesica?" tanya Joel lagi.
"Kurasa dia masih belum tau sejauh ini," jawab Bram ragu.
"Kau ragu?" ucap Joel menyipitkan mata.
"Karena aku memang tidak tau apakah Jesica mengetahui tentang Ariel yang berada dikota ini. Mereka benar-benar putus hubungan sejak saat itu," terang Bram.
Keheningan memenuhi ruangan dimana mereka berada setelah apa yang diungkapkan oleh Bram. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga, pintu yang terbuka membuat mereka terkejut.
"Lho,,, Joel kau masih disini?" tanya seseorang berpakaian dokter sama seperti Joel.
"Ahh,,, maaf. Aku telah menganggu, kupikir kamu sudah pulang karena ini sudah melewati jam kerjamu," sambungnya ketika matanya bertemu dengan Bram.
"Tak apa, Seth. Dia temanku, dia datang bukan untuk berobat, aku pergi setelah ini," papar Joel.
"Ah, begitu. Baiklah kalau begitu," jawab Seth, lalu mengarahkan pandangannya pada Bram dan tersenyum ramah.
"Aku tidak pernah bertemu dengan teman Joel sebelum ini. Aku Seth," Seth mengulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Bram," sambut Bram menyambut uluran tangan Seth yang menjabatnya dengan hangat.
"Senang bertemu denganmu, Bram," balas Seth tersenyum hangat.
"Begitu juga denganku, senang bertemu denganmu, Seth," jawab Bram.
Mereka berdua melepaskan tangan mereka. Seth kembali mengarahkan pandangannya pada Joel dengan tatapan penuh tanya.
" Tapi, apakah ada sesuatu yang terjadi? Tadi aku melihat nona itu keluar dari sini dengan wajah marah diikuti dua security. Apa yang talah terjadi?" tanya Seth penasaran.
"Dia membuat keributan," jawab Joel.
"Dan secara kebetulan aku datang," sambung Bram.
"Keributan?" Seth mengerutkan alisnya.
"Sejauh ini, nona itu selalu datang dengan baik-baik. Dan selalu menanyakan tentangmu, jadi kupikir dia kenalanmu," papar Seth.
"Jadi yang memberitahunya tentang jadwalku itu kau, Seth?" tanya Joel melebarkan matanya.
"Ya,,, dia berkata kalau dia mengenalmu dengan baik, saat aku curiga pun dia bisa mengetahui tentangmu dengan sangat baik. Jadi saat dia bertanya tentang jadwal dan alamatmu, aku memberitaunya," ungkap Seth.
Joel mengusap wajahnya dengan gusar. Tidak menyangka bahwa yang memberitau semua yang Joel tutupi adalah temannya sendiri. Namun dirinya juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Seth yang memang dari awal tidak mengetahui apapun.
"Apakah aku melakukan kesalahan?" tanya Seth saat melihat reaksi Joel.
"Kau tidak seharusnya memberitaunya tentang privasiku pada orang yang tidak kau kenal, Seth!" erang Joel.
"Eh,?? Jadi apakah nona itu berbohong? Atau dia melakukan hal yang buruk padamu? Tapi dia sangat mengenalmu," tanya Seth bingung.
"Maafkan aku, aku seharusnya lebih berhati-hati," sesal Seth.
"Aku benar-benar minta maaf, Joel," sesal Seth.
"Sudah ku bilang, ini bukan salahmu. Ini terjadi karena kamu tidak tau. lupakan saja," ucap Joel.
"Aku pulang dulu," sambungnya.
"Baiklah," jawab Seth.
"Ayo Bram," ajak Joel.
Joel keluar dari ruangannya setelah melepas jasnya dan meletakkannya dilemari miliknya yang ada diruangan itu.
Joel melangkah dengan pertanyaan yang memenuhi pikirannya, sementara Bram berjalan disampingnya, sesekali melirik kearah Joel.
'Apa yang akan terjadi jika Ariel tau aku pernah berhubungan dengan Jesica? Akankah dia membenciku? Disamping itu, apa yang akan dilakukan Jesica terhadap Ariel jika dia tau aku mencintai Ariel?' bisik hati Joel.
"Jangan memikirkan hal yang belum tentu terjadi," ucap Bram tanpa menghentikan langkahnya.
"Ariel tidak seperti yang kau pikirkan," sambungnya.
"Apa maksudmu? Aku tidak_,,,"
"Kau berpikir Ariel mungkin membencimu jika dia tau tentang kamu dan Jesica, benar bukan?" potong Bram.
Joel menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Bram yang masih melangkah dan berhenti didepannya, lalu berbalik menghadap Joel.
"Cepat atau lambat, dia akan tetap tau tentang kau dan Jesica. Tapi sebelum dia mengetahuinya, kamulah yang harus memberitau padanya dengan caramu sendiri," terang Bram.
"Tapi untuk saat ini, lebih baik kita mencari cara agar mereka tidak bertemu. Mungkin ini terdengar egois, karena aku juga bagian dari apa yang telah membuat Ariel terluka. Tapi, jika Ariel bertemu kembali dengan Jesica dalam waktu dekat, aku khawatir Ariel akan lebih mengunci dirinya sendiri," ungkap Bram.
Bram berbalik dan melanjutkan langkahnya diikuti Joel.
"Baiklah, aku setuju," sambut Joel.
Jeda keheningan terjadi selama beberapa saat hingga mereka mencapai tempat parkir.
"Hei,,, Bram. Katakan padaku! Apa yang membuatmu datang menemuiku?"tanya Joel tiba-tiba baru menyadari ini pertama kalinya Bram menemuinya ditempatnya bekerja.
"Apakah kau lupa atau apa? Besok Ariel ulang tahun, tentu saja aku ingin membuat kejutan untuknya. Dan aku memerlukan bantuanmu, tentu saja," terang Bram.
"Kau yakin mengatakan hal itu padaku?" sindir Joel.
"Jangan memulai pertengkaran yang tidak perlu!" dengus Bram.
"Kau bersukap seperti bukan dirimu, Bram. Bukankh akan wajar jika aku curiga padamu?" tukas Joel.
"Karena aku ingin bersaing secara sehat denganmu, an satu hal yang pasti, kau tidak seburuk yang ku bayangkan," sambungnya.
"Bagaimana jika Ariel memilihku?" sambut Joel.
"Itu lebih baik dibandingkan dengan orang yang bernama Ken itu," jawab Bram geram.
"Ah kau benar, kita masih belum tau siapa yang benama Ken, selain dia adalah anak didik Ariel," sambut Joel.
"Apakah kau masih mengingat wajahnya?" tanya Bram.
"Tidak terlalu, tapi jika aku melihatnya sekali lagi, aku akan ingat," papar Joel.
"Kalau begitu, kita cari tau besok. Sekalian saja kita menjemput Ariel. Tapi alasan apa yang akan terdengar masuk akal?" ucap Bram meletakkan ibu jari dan telunjuknya didagu.
"Apakah kau bisa bermain musik?" tanya Joel tiba-tiba.
"Yah,, bisa. Tapi tidak semahir Ariel," jawabnya.
"Lalu? Apa hubungannya?" tanya Bram.
"Kita gunakan itu saja. Dia akan dengan senang hati dan tidak akan curiga kan kalau kita minta dia mengajari kita memainkan alat musik," papar Joel.
"Aku setuju," smbut Bram senang.
"Untuk masalah kejutannya, aku sudah mempersiapkan sesuatu. Memang tidaklah besar, aku akan menyiapkan itu di atap apartemennya," terang Bram.
"Jadi kalau kamu besok libur bekerja, bantu aku saat Ariel tidak di apartemennya," sambung Bram.
"Dengan senang hati," sambut Joel tersenyum lebar.
Mereka terdiam dan saling pandang untuk beberapa saat, lalu tertawa. Mereka menyadari satu hal yang sama. Tidak peduli apapun itu, mereka hanya ingin Ariel bisa tetap tersenyum.
...>>>>>>>--<<<<<<<...