I'LL ALWAYS LOVE YOU

I'LL ALWAYS LOVE YOU
90. Pertemuan yang buruk



"Apa kau berencana menghancurkan grup kita dengan memasukan wanita ini untuk bermain berasama kita?" ujar Marc sinis.


"Dia baru saja datang, sedangkan kita telah berlatih beberapa minggu bahkan mungkin bulan hanya untuk pertunjukan ini, apa kau pikir dia bisa mengimbangi kita?" sambung Marc.


"Jika kau ingin kita hancur, maka lakukan saja," imbuhnya.


Suasana berubah menjadi tegang. Wajah Albert bahkan berubah pucat setelah mendengar apa yang dikatakan Marc pada Ariel. Ketika Albert akan mengatakan sesuatu, salah satu dari mereka bangun dari duduknya, lalu menatap Marc.


"Perkataanmu terlewat kasar, Marc," tegur John.


Ia beralih kepada Ariel dengan tatapan meminta maaf.


"Tolong maafkan dia, dia tidak bermaksud untuk_,,,"


"Suara sarkasmu sudah aku perhatikan dari saat aku datang kemari," potong Ariel, membuat John terdiam. "Apakah itu kalimat terbaik yang bisa kamu katakan padaku?" imbuhnya.


"Savuage [[Jala*ng]],!" Marc mencemooh menggunakan bahasa prancis.


"MARCC,,," sentak Albert.


"Jaga bicaramu," ucap Albert mengeram kesal.


"Apa?" cibirnya dengan wajah sinis. " Dia bahkan tidak akan tau apa yang aku katakan," sambungnya.


"Dia_,,"


"Albert,," potong Ariel yang segera mengelengkan kepalanya saat Albert menatapnya.


"Apa yang kau katakan tentangnya?" Joel mengeram kesal dan memberikan tatapan tajam pada Marc.


"Ha ha ha kau bahkan tak tau apa artinya, kenapa kau harus kesal?" ucap Marc sinis.


"Aku memang tidak tau, tapi aku bisa tau itu bukanlah hal baik jika dilihat dari cara kamu mengatakannya," ujar Joel menahan emosinya.


"Shhh,, Joel, biarkan saja," bisik Ariel.


"Tapi aku merasa mereka menghinamu," jawab Joel kesal. "Kamu datang jauh-jauh kemari bukan untuk di hina, apa kamu pikir aku bisa menerimanya?" geram Joel.


"Lalu, katakan padaku! Menurutmu apa yang aku katakan?" tantang Marc.


"Hei,,, tolong berhenti! Kenapa kalian bertengkar? Bahkan ini pertemuan pertama," sela Edgar melerai .


Mereka yang semula diam mulai angkat bicara, menenangkan Marc dan meinta maaf pada Ariel juga Joel.


"Sekarang apa? Kalian semua tetap setuju wanita ini ikut bermain?" tanya Marc.


"Sikapmu justru terasa sangat meremehkannya sebelum kamu tau pasti bagaiana dia, Marc," ucap Dennis.


"Jangan sampai kau menjilat ludahmu sendiri," timpal Abel.


"Jika Albert sebegitu percayanya pada Ariel, kenapa kita tidak?" sambut Edgar.


"Baik, kalau begitu, mari kita lihat sejauh mana dia akan menginjak-injak wajah kita semua," dengus Marc.


"Dia juga tidak memiliki kesempatan untuk berlatih karena piano sudah dipindahkan kesana, apa dia bisa bermain tanpa berlatih?" timpal Marius tak kalah sinis.


"Kalau begitu, perlihatkan padaku permainan kalian," sela Ariel.


"Cih,,, seolah kau akan bisa melakukannya hanya dengan melihat kami berlatih," cibir Marius.


"Bagaimana jika aku memang bisa melakukannya?" tantang Ariel dengan suara tenang.


"Kau hanya beruntung memiliki nama yang hampir sama dengan idola kami, akan tetapi, bukan berarti kau memiliki kemampuan sama," sambut Marc.


"Idola kalian?" ulang Ariel. Mengerutkan keningnya.


"Walaupun dia tidak pernah menunjukkan wajahnya di depan kamera, namun permainannya menakjubkan dengan membelakangi kamera," jelas John menyela.


"Dan dia seorang wanita?" tanya Ariel.


"Benar. Kami hanya mendengar suara musik yang dimainkan olehnya, namun tidak pernah melihat wajahnya," Brice menyela ikut menjelaskan.


"Oh,,, jadi karena hal ini kau takut bermain di depanku?" sindir Ariel mencoba untuk memprovokasi Marc.


"Kenapa aku harus takut dengan wanita sepertimu?" dengus Marc.


"Tapi kau menolak untuk bermain," jawab Ariel menaikkan kedua bahunya dengan santai.


"Baik, mari bermain," jawab Marc.


Albert berdiri dengan wajah bingung, merasa gagal mengendalikan situasi yang ada didepannya.


"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Ariel meminta jawaban.


"Baiklah," jawab John.


Mereka saling pandang selama beberapa saat, lalu mengangguk setuju memainkan lagu yang akan mereka mainkan di pertunjukan besok malam.


Joel berdiri disamping Ariel dan menatap mereka dengan tatapan kesal.


"Kau menatap mereka seolah ingin membunuh mereka, apa kau sadar akan itu?" tegur Ariel berbisik seraya menyodokkan sikunya ke perut Joel.


"Kenapa mereka bersikap semenyebalkan itu?" ucap Joel kesal.


"Akan aku katakan alasannya setelah ini, jadi jangan pasang wajah pesikopatmu sekarang, oke Bunny?" ucap Ariel mengedipkan sebelah matanya.


"Baik, hanya karena kamulah yang memintanya," jawab Joel.


Sekilas, Joel menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya, memperhatikan Ariel yang kini berubah fokus saat permainan musik mereka dimulai.


Tidak bisa di pungkiri, Joel terpukau dengan permainan mereka. Kekompakan mereka terasa sangat kental, saling mengisi dan melengkapi dengan alat musik yang berbeda dari tangan mereka, namun juga terasa sangat menyenangkan dan menenangkan disaat yang sama.


'Wooww,,,, mereka bermain dengan sangat baik, semua emosi mereka benar-benar mereka tuagkan kedalam alat musik yang mereka mainkan. Dan lagu ini sepertinya lagu yang mereka ciptakan sendiri,' batin Ariel merasa kagum dengan permainan mereka.


Suara tepuk tangan menggema tepat setelah mereka mengakhiri permainan mereka. Banyak orang berkumpul melihat mereka dengan tatapan takjub, bahkan mereka juga tidak segan memasukan banyak uang di koper cello yang masih terbuka.


Mereka kembali berkumpul dan menatap Ariel seolah meminta pendapat.


"Dari banyaknya orang yang melihat kalian, juga bersorak karenannya, tentu kalian tau apa artinya itu," sambut Ariel.


"Tentu saja," jawab Marc bangga.


"Kami berlatih sangat keras untuk ini, dan jika kau mengacaukannya, itu sama saja kau membunuh kami," timpal Marius.


"Dimana tepatnya besok kita bertemu?" tanya Ariel mulai merasa bosan dengan sikap Marc dan Marius.


"Lebih tepatnya jam sepuluh malam," sambung Darrel.


"Baiklah, sampai jumpa besok di sana," ucap Ariel.


Ariel membungkukkan badannya dan bergegas pergi meninggalkan mereka. Mengabaikan cemoohan yang kembali di lontarkan Marc.


"Wanita itu menyebalkan, dia berbicara seolah itu hal mudah," geram Marc.


"Sudahlah, kita fokus saja untuk besok," ucap John.


"Kau berkata seperti itu karena kau menyukainya bukan?" cibir Marius.


"Dia memang cantik, tapi aku akan membencinya jika dia mengacaukan pertunjukan kita besok," ucap Marc.


John hanya menghela nafas panjang, namun tidak menyangkal dangan apa yang dikatakan Marc.


Albert menatap teman-temannya secara bergantian. Sebenarnya ini juga salahnya karena menerima Ariel begitu saja dan itu sangat mendadak. Dan Ariel juga datang saat hari tampilnya hanya tinggal menghitung jam.


Namun, entah kenapa ia merasa sangat percaya bahwa Ariel bisa melakukannya dan tidak akan mengacaukan apapun.


Sementara itu, Ariel menjalinkan jari tangannya di jari tangan Joel. Membawanya dengan sedikit memaksa untuk manjauh dari tim Albert.


"Katakan padaku apa yang dia katakan tentangmu tadi!" pinta Joel dengan wajah serius.


"Ayolah, Joel!" keluh Ariel. "Tidak bisakah kita menikmati waktu kita berdua saja?" sambungnya.


"Bukankah kamu mengatakan tujuan utama kita adalah berlibur? Atau kamu akan membatalkannya hanya karena satu gangguan dari orang menyebalkan?" ucap Ariel menurunkan bibirnya, segera menghentikan langkahnya dan melepaskan tangan Joel.


"Hei,,, bukan begitu," sambut Joel melunak dan kembai meraih tangan Ariel. "Jangan pasang wajah seperti ini," imbuhnya sembari menyelipkan rambut kebelakang telinga Ariel.


"Aku hanya tidak suka dengan cara dia berbicara padamu," terang Joel.


"Tidak semua orang akan menyambut baik dengan kedatangan kita, Joel,"


"Hal itu juga berlaku di dunia musik. Meremehkan, menjatuhkan, menghina juga berbangga diri, itu hal yang akan terjadi dimanapun kakimu berpijak," ucap Ariel tenang.


"Dan aku juga yakin, kamu juga mengalami hal yang sama, namun dengan keadaan berbeda," imbuhnya.


"Itu,,, memang benar,, hanya saja,, aku,,,"


Joel kehabisan kata-kata untuk di ucapkan. Apa yang dikatakan Ariel memang benar, bahkan sepenuhnya benar. Dirinya juga pernah merasakannya ketika orang-orang meragukan kemampuan medisnya.


Di saat yang sama, Joel merasa takjub dengan cara Ariel menghadapi mereka, ketenannganya tidak goyah sedikitpun.


"Apakah kita akan menghabiskan waktu disini? Atau kita akan jalan-jalan sebentar sebelum kembali ke hotel?" tanya Ariel.


"Adakah tempat yang ingin kamu kunjungi?" jawab Joel balas bertanya.


"Aku ingin ke Musée d'Orsay," jawab Ariel dengan mata berbinar.


"Hmmm,,, tempat apa itu?" Joel mengerutkan keningnya.


"Itu adalah museum yang terletak di tepi sungai Seine di arrondissement Vll. Museum yang menyimpan karya seni prancis dari masa tahun 1848-1914. Seperti lukisan, patung, meuble, objek d'art, dan fotografia,"


"Dan kau tau apa yang menarik?" ujar Ariel antusias.


Joel menaikkan alisnya dengan penasaran.


"Orsay dulunya adalah sebuah stasiun. Banyak orang yang menyebutnya bekas stasiun yang di sulap menjadi museum, dan memiliki karya seni terkenal, terutama lukisan impresionis seperti karya Van Gogh," jelas Ariel panjang lebar.


Joel tersenyum melihat betapa kekasihnya sangat mengilai seni, bahkan sampai tau detail tentang tempat yang berhubungan dengan seni.


"Kalau begitu, kesanalah tujuan kita," ucap Joel.


"Sungguh?" Ariel menatap Joel dengan tatapan tak percaya.


"Tentu saja, aku menjadi penasaran seperti apa tempat itu setelah mendengar ceritamu," jawab Joel.


"Kalau begitu, sebagai balasannya, lusa akan menjadi hari penuh untukmu," sambut Ariel tersenyum senang sembari memeluk Joel.


"Kenapa?" tanya Joel bingung.


"Aku sudah mengatur perjalanan ke pantai Belharra," jawab Ariel meloggarkan pelukannya.


"Belharra?" ulang Joel mengerutkan keningnya.


"Pantai yang terletak di Saint Jean de Luz, di arah utara Basque Country di teluk Biscay," terang Ariel.


"M-Maksudmu,,, pantai yang terkenal dengan ombak tingginya yang hanya datang beberapa kali dalam setahun? Apakah pantai itu?" tanya Joel melebarkan matanya tak percaya.


"Tepat sekali. Bagaimana menurutmu?" balas Ariel menyeringai. "Dan aku juga dengar lusa adalah saat dimana ombak itu akan muncul," paparnya.


Joel terpaku di tempatnya, memandangi wajah kekasihnya dengan tatapan tak percaya. Seolah apa yang baru saja ia dengar adalah mimpi.


"Joel,,?" panggil Ariel was-was.


"Apakah kamu tidak menyukainya? Kita bisa pergi ke tempat lain, tak masalah kemanapun itu," ucap Ariel pelan menganggap reaksi Joel karena tidak menyukai rencanannya.


Tanpa peringatan, Joel menarik Ariel kedalam pelukannya, mengucapkan terima kasih entah berapa kali yang membuat Ariel tertawa. Mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua dengan tatapan tidak suka, lalu membuang wajahnya dan meninggalkan tempat itu.


...>>>>>>>--<<<<<<<...


Disudut lain....


Langit telah berubah warna menjadi jingga. Aliran sungai yang tampak tenang membentang didepan seorang pria yang tengah duduk di kursi yang disediakan disana.


"Saya sudah mendapatkannya, tuan,"


Suara pria lain bernada sopan membuat pria yang tengah duduk di tepi sungai menoleh.


"Ah,, terima kasih, Sam," ujarnya tersenyum.


'Kenapa rasanya tuan Bram kembali murung? Apa yang terjadi saat aku pergi membeli tiket?"' batin Sam.


.....


.....


.


.


To be Continued