
'*Apa ini? Kebetulan macam apa ini? Tidak mungkin dia orang berjaket waktu itu kan? Bram tidak mungkin membuat Ariel terluka? Tapi kenapa situasinya seperti ini*?' batin Joel.
"Aah,,,!"
Tanpa sadar Joel mengores jarinya sendiri dengan pisau di tanganya ketika ia justru menatap Ariel setelah mendengar ucapannya.
"Aish,," Joel segera menunduk untuk melihat jarinya sembari mengibaskan tangannya.
"Hei,, apa yang kau lakukan,," seru Ariel segera menghampiri Joel.
"Bukan apa-apa, hanya goresan kecil," jawab Joel segera mengalirkan air di wastefel untuk membersihkan darah yang keluar.
Ariel menarik tangan Joel untuk melihat lukanya.
"Sebentar," ujarnya sebelum berbalik meninggalkan Joel dan kembali dengan plester luka ditangannya.
Ariel kembali meraih tangan Joel dan membersihkan darah yang masih keluar.
"Apakah ini karena kau tidak memakai kacamatamu atau karena kau memikirkan sesuatu?" tanya Ariel mendongak menatap Joel setelah menutup lukanya menggunakan plester.
"Kamu bukan orang yang akan melakukan hal ceroboh," tambahnya.
"Pikiranku sedikit teralihkan," jawab Joel.
"Dan apa itu?" selidik Ariel.
"Bisakah kita membicarakan itu nanti? Aku akan menyelesaikan masakannya lebih dulu," ucap Joel.
"Biarkan aku membantu," tawar Ariel.
"Tidak! Kamu cukup duduk saja, dan tunggu sampai aku selesai. Lagi pula sebentar lagi aku selesai," sanggah Joel.
"Tapi_,,,"
"Duduk saja, aku ingin bertanya sesuatu padamu," potong Joel setengah mendesak.
"Baiklah," desah Ariel menurut duduk.
"Menurutmu, jika aku melawan Bram dalam segi fisik, siapa yang lebih unggul?" tanya Joel.
Joel mulai menghidupkan kompor dan meneruskan aktivitas memasaknya setelah mencuci bersih semua sayuran yang ia potong.
"Eeii,,, apa-apaan itu pertanyaannya, kenapa bertanya sepert_,,,"
"Jawab saja Ariel," potong Joel.
Ariel menatap Joel yang menunggu jawabannya dengan wajah serius, namun justru itulah permasalahannya yang membuat Ariel bingung untuk menjawab.
"Apakah yang kamu maksudkan jika kamu bertarung melawan Bram?" tanya Ariel memastikan.
Joel menganguk pasti, membuat Ariel melebarkan matanya.
"Okey,,, tolong jangan tersinggung. Aku memang belum tau kemampuanmu dalam hal itu, tapi bisa dikatakan, kamu bukanlah tandingan Bram," ucap Ariel.
"Bukan berarti aku meragukan kemampuanmu," sambung Ariel cepat.
"Tapi, Bram memang sangatlah terampil dalam hal itu, kalaupun kamu juga terampil, kamu masih berada di bawah Bram," imbuhnya.
"Bagaimana kamu bisa tau bahwa aku berada di bawahnya?" tanya Joel berusaha menekan emosinya.
"Sederhana, aku tau dari tangan kalian berdua, dan saat tangan kalian mengenggam tanganku, aku bisa merasakan perbedaannya. Berbeda dengannya, kamu bukan orang yang akan menggunakan kekerasan," terang Ariel.
Joel terdiam, hatinya bergemuruh, bukan karena Ariel menyanjung Bram didepannya, melainkan karena semua hal yang terjadi seolah terhubung.
Orang yang akan menculik Ariel malam itu seolah terputar lagi didepan matanya, namun ia juga tidak mau mengambil kesimpulan terlalu cepat, dan membuat Ariel kembali salah paham terhadapnya.
Banyak hal yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, dan nyaris membuat Ariel jauh darinya. Tapi, hubungan mereka kembali baik juga tidak luput dari bantuan Bram yang menengahi mereka.
Joel berpikir keras, memikirkan kemungkinan apa saja yang mungkin terjadi dengan situasi saat ini. Tapi apa yang bisa ia katakan?.
"Hei,, aku tidak bermaksud untuk membandingkanmu dengannya," ucap Ariel kembali menghampiri Joel yang tampak memikirkan sesuatu.
"Kalian berdua memang jauh berbeda, akan tetapi, kalian juga memiliki hal sama yang dimiliki satu sama lain," jelas Ariel. "Sama sepertimu, Bram juga bukan orang yang memiliki hubungan baik dengan orang tuanya,"
"Kamu memiliki hal yang tidak bisa dilakukan olehnya, begitu juga sebaliknya," ucap Ariel meraih tangan Joel, lalu mengengamnya.
"Bagaimana jika pada akhirnya aku tidak bisa melakukan semua hal yang bisa dia lakukan meskipun itu sederhana? Bagaimana jika dia mengalahkanku dalam semua hal?" tanya Joel.
Sebenarnya bukan itu yang ingin di katakan Joel pada Ariel, namun ia juga tidak ingin Ariel memikirkan apa yang ada didalam pikirannya. Dan jika itu akan menyeret Ariel dalam bahaya, maka ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Jika memang akan begitu, biarkan saja. Apa masalahnya? Abaikan saja," jawab Ariel.
Joel menatap Ariel sedikit terkejut dengan jawabannya.
"Dia mau seperti apapun dan lebih baik dalam hal apapun, namun orang yang aku cintai berdiri didepanku sekarang. Kenapa aku harus melihat kearah lain jika dengan kamu berada disisiku saja sudah cukup untukku?" sambung Ariel.
"Berhentilah memikirkan tentang segala hal yang dimiliki Bram dan segala yang bisa dia lakukan. Jika pada akhirnya kamulah yang melakukan segalanya untukku," tambahnya.
Joel menatap Ariel dengan tatapan haru dan terima kasih. Merasa perasaannya terhadap Ariel kian bertambah dalam.
"Dan kau tau apa yang menarik?" ucap Ariel tiba-tiba.
"Apa?" Joel mengerutkan keningnya.
Ariel berjinjit dengan tangan yang melingkar dileher Joel, lalu medekatkan wajahnya. Saat wajah mereka semakin dekat, Ariel tersenyum.
"Masakanmu menjadi hitam karena kau tidak mematikan apinya," ucap Ariel menahan tawa. "Apakah itu warna alami?" imbuhnya
Sementara Ariel telah menjauh dari Joel sambil tertawa.
"Sayang sekali, aku menolak dengan sangat jika aku harus memakan bongkahan arang itu," ledek Ariel menjulurkan lidahnya.
"ARIELLLLL,,,,!" Joel mengeram gemas menatap Ariel yang terus mengodanya.
Joel mengabaikan masakannya dan beralih mengejar Ariel. Aksi kejar-kejaran pun berlangsung.
Ariel mengitari sofa untuk menghindari Joel, namun dengan satu lompatan, Joel mencegat Ariel dengan melompati sofa. Hingga dengan cepat Joel berhasil menangkap pergelangan tangan Ariel dan menarik tubuh Ariel kearahnya.
Melingkarkan tangan di pinggang Ariel, untuk mengunci pergerakannya, dan mulai mengelitik tubuhnya.
"Oke,,, ampun,, sudah,, lepaskan aku,," pinta Ariel terus tertawa karena geli.
"Tidak akan," geram Joel masih terus mengelitik Ariel.
"Baik,,,aku menyerah,,, sudah,,Aaahh,, ha ha,, sudah,,, hentikan,, Joelll,,," Ariel menyerah, tidak bisa bergerak karena kuncian tangan Joel.
Ariel mengatur nafasnya setelah Joel benar-benar berhenti. Pandangan mereka terkunci satu sama lain, lalu tersenyum. Joel menempelkan dahinya di dahi Ariel, terkekeh pelan tanpa melepaskan Ariel dari tangannya.
"Sekarang apa?" tanya Joel.
"Pesan makanan saja," saran Ariel.
"Itu salahmu karena kamu berada di dua tempat yang berbeda disaat yang sama," sindir Ariel.
"Baiklah,,, ku akui itu. Aku akan memesan makanannya," desah Joel.
Joel melepaskan Ariel dan mengeluarkan ponselnya. Ia memesan makanan untuk mereka berdua dan duduk di sofa.
Seketika ia tersentak ketika melihat jam tangan di meja, jam tangan yang ia kenali, jam tangan yang sama dengan jam tangan orang itu.
'Aku yakin ini jam tangan yang sama, bagaimana bisa ada di sini?' batin Joel.
"Ariell,," panggil Joel.
"Uhm,,,?" jawab Ariel yang tengah meneguk air dari gelas.
"Jam tangan siapa ini?" tanya Joel.
"Oh,, itu,,, milik Bram. Itulah alasan kenapa aku tadi buru-buru keluar karena Bram menjatuhkannya. Kurasa dia tidak sadar itu terjatuh, tapi saat aku ingin mengejarnya kamu didepan pintu," terang Ariel sembari berjalan mendekati Joel.
"Kenapa?" tanya Ariel tanpa curiga.
"Bukan apa-apa, hanya sedikit tertarik dengan jam nya," kilah Joel.
"Kamu tidak cocok dengan jam itu, aku akan mencarikan yang lebih cocok nanti," ucap Ariel duduk disamping Joel dan meletakkan gelas di meja.
"Heee,,, sungguh? Jalan-jalan akhir pekan nanti tampaknya tidak akan buruk," sambut Joel meletakkan kembali jam tangan itu dimeja.
"Sebenarnya, aku justru ingin mengajakmu ke Paris, aku mendapatkan undangan dari Albert. Bagaimana menurutmu?" tawar Ariel dengan senyum lebar dibibirnya.
"Albert?" ulang Joel mengerutkan keningnya.
"Orang yang menawariku untuk bergabung di orkestra, ingat?" jelas Ariel.
"Ahh,, dia. Sejak kapan kamu berhubungan dengannya?" selidik Joel.
"Belum lama ini sebenarnya. Dia orang yang menyenangkan ketika diajak mengobrol. Dan kami mengobrol banyak tentang alat musik," ungkap Ariel.
"Aku juga ingin belajar alat musik lain, dan mereka kebetulan satu kelompok. Jadi, aku bertanya tentang pertunjukannya, dan aku bersedia mengisi tempat piano asal mereka mengajariku memainkan alat musik lain," terang Ariel.
"Dan,,, kau tau? Mereka memberiku dua tiket, jika malam hari aku akan bermain musik, maka siang harinya kamu bisa surfing," ungkap Ariel dengan mata berbinar.
"Haruskah aku cemburu pada alat musik?" gerutu Joel.
"Boleh saja," goda Ariel.
Joel menepuk dahinya, lalu tertawa. Menyadari kekasihnya hanya bersemangat ketika membicarakan tentang musik, namun bersikap datar saat menyebutkan nama Albert didepannya.
"Jadi, bagaimana?" tanya Ariel lagi sembari mengerjapkan matanya dengan penuh harap.
"Bagaimana aku bisa menolak jika kamu sudah memasang wajah seperti itu," keluh Joel.
"Ahhhh,,, senangnyaa,,," seru Ariel segera memeluk Joel.
'Lebih baik aku tidak mengatakan tentang itu padanya, aku akan menyelidikinya sendiri,' batin Joel tersenyum membalas pelukan Ariel.
Rencana liburan mereka pun mulai direncanakan esok harinya.
...>>>>>>>>>--<<<<<<<<<...
Disisi lain.
Ken berjalan pulang menuju rumahnya dengan wajah lesu. Dengan hati-hati, ia membuka pintu rumah yang hampir sepenuhnya gelap, menandakan pemilik rumah telah tidur.
'BRRUUGHH,,,,,,!!!!!!'
...............
.
.