
"Kuharap ini tidak mempengaruhi apapun karena apa yang akan aku katakan berhubungan dengan kita berempat yang secara kebetulan berada dalam satu lingkaran yang sama,"
Jesica menarik nafas panjang. Pandangannya bertemu dengan Ariel, memperlihatkan sebuah penyesalan yang besar.
"Jujur, pikiran jahat itu bukanlah pura-pura, saat kamu bersama Bram, saat itu juga aku tertarik padanya,"
"Parahnya saat itu aku sedang menjalin hubungan dengan Joel, lebih tepatnya masih bersamanya,"
"Aku merasakan berada di titik terendah karena merasa telah mengkhianatimu, dan aku ingin berhenti,"
"Hingga saat aku tau bahwa tuan Evrad merestui hubungan kalian berdua dengan tujuan menjadikanmu sebagai pion dalam bisnisnya, membuatku mengurungkan niatku untuk mundur,"
"Aku membuat jebakan yang justru membuatku terperangkap didalamnya. Dan hal itu membuatku menyakitimu," tutur Jesica menatap Ariel.
"Disaat yang sama aku juga menyakitimu, Jo,"
Jesica beralih pada Joel lalu tertunduk.
"Itu tidak dibenarkan apapun alasannya, aku tau itu, tapi membiarkanmu masuk dalam genggaman tuan Evrad benar-benar membuatku tidak bisa diam saja. Itu hanya akan mengulang kehidupan masa lalumu," tutur Jesica.
"Tunggu sebentar,, apa maksudmu dengan mengulang masa lalu?" tanya Ariel menegakkan badannya.
Jesica tersenyum kecut, merasa berat untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Gadis kecil yang terpisah dari orang tuanya dan selalu kamu lindungi ketika seorang pria dewasa memukuli kalian berdua. Kamu bahkan berusaha agar gadis kecil itu bisa kembali bersama orang tuanya meski itu menghabiskan semua uang yang telah kamu hasilkan dengan bekerja di kedai burger,"
"Aku bisa mengerti jika kamu lupa tentang itu, karena sebelum itu kamu menerima pukulan di kepalamu hingga kamu dirawat beberapa hari,"
Pernyataan Jesica membungkam mereka yang hanya bisa mendengarkan. Untuk mengeluarkan satu kata untuk menyelapun, mereka tidak bisa menemukan kata yang tepat.
"Bagaimana kamu bisa tau tentang semua itu?" tanya Ariel setelah berhasil menguasai keterkejutannya.
"Gadis kecil itu,,, ada di depanmu, Ariel," ungkap Jesica.
"APAA,,???" seru Ariel terkejut.
"Kedua orang tuaku menemukanku berkat foto yang kamu sebarkan, dan mereka membawaku disaat aku tertidur di rumah sakit untuk menjagamu,"
"Aku terbangun saat mereka sudah membawaku ke kota lain. Sekeras apapun aku memaksa mereka untuk kembali menemuimu, mereka tidak membiarkanku pergi. Mereka hanya memberikan uang sebagai tanda terima kasih dan meminta atasanmu untuk menyampaikan pesan bahwa aku telah kembali bersama orang tuaku,"
Jeda keheningan berlangung selama beberapa saat, hingga Jesica melanjutkan ceritanya.
"Selama aku berada disana, aku terus memikirkan cara agar aku bisa berada dimanapun aku inginkan dan melakukan apapun yang aku mau,"
"Dan satu-satunya cara hanyalah aku hrus mengambil alih perusahaan orang tuaku dan mendirikan perusahaanku sendiri,"
"Saat aku berhasil melakukannya dan kembali, kamu tidak lagi berada disana. Rumahmu bahkan berubah menjadi sebuah nightclub,"
"Dan yang mendirikan nightclub itu adalah orang yang sama dengan orang yang selalu memukulmu,,,, tuan Evrad,"
"Hei,,, apa maksudmu?" geram Bram mencengkram bahu Jesica.
"Bukan kau satu-satunya orang yang terkejut dengan fakta itu disini," sentak Jesica menepis tangan Bram.
"Aku bisa tau hal ini setelah aku berhubungan denganmu, apa kau pikir aku mengatakan hal seperti ini tanpa alasan? Apa kau pikir aku bodoh?" cecar Jesica menatap tajam mata Bram membuat dia bungkam.
"Kau pikir bagaimana caraku untuk menyikapinya ketika mendengar ini disaat Ariel juga berhubungan denganmu?"
"Satu-satunya cara yang kupikirkan adalah aku harus berada didunia yang sama untuk melawannya, dunia bisnis dan berpikir sama sepertinya agar aku bisa menangkapnya,"
"Untuk menangkap seorang penjahat, aku juga harus berpikir seperti penjahat. Tapi, itu justru berimbas padamu," sesal Jesica menatap Ariel.
"Setelah aku bisa bertemu lagi denganmu, dan merasa senang karena hal itu, tak lama setelah itu, kamu bertemu dengan Bram,"
"Aku bersumpah tak perna mengetahui tentang Bram sebelumnya, aku sendiri sangat terkejut saat tau Bram adalah putra dari tuan Evrad. Aku mengetahuinya setelah kamu menjalin hubungan dalam beberapa tahun. Hingga aku tidak memiliki pilihan lain selain bermain dengan api dengan kosekuensi kamu membenciku,"
"Ambisi tuan Evrad semakin gila saat dia tau namamu semakin merangkak naik didunia musik. Dan aku tidak bisa lagi jika harus menunggu lebih lama lagi,"
"Itulah sebabnya aku bersikap seolah aku telah menjadi bonekanya selama beberapa bulan, dan aku mendapatkan hasilnya. Hasil terbaiknya, aku mendapatkan bukti tambahan dari Bram,"
Ariel tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk menanggapi pernyataan Jesica. Betapa Jesica telah mengorbankan banyak hal untuknya.
Kini, Ia juga menyadari, bukan dirinya satu-satunya yang terluka disini. Namun mereka semua juga merasakan luka yang sama.
"Awalnya aku berpikir bisa menyelesaikan hal ini dengan cepat, namun aku tak menyangka lima tahun bahkan tak cukup. Dan saat tuan Evrad mengatakan harus mendapatkanmu, aku tidak bisa lagi bersikap hati-hati dan memilih untuk mengambil resiko,"
"Tanpa kuduga, bantuan datang dari dua arah, dan itu benar-benar membuat masalah itu selesai,"
Jesica menghembuskan nafas panjang, ia mengangkat pandangannya dan menatap Ariel yang masih terlihat kesulitan untuk mencerna apa yang baru saja ia dengar.
"Maafkan aku, Ariel. Aku bersalah, aku menyadarinya sejak awal dan tetap melakukannya. Terlepas dari apa yang menjadi alasannya, aku tetaplah melakukan kesalahan, aku akan menerimanya jika kamu membenciku dan aku janji tidak akan menganggumu lagi," sesal Jesica.
"Saat melihat wanita itu mendorongmu, dan disaat yang sama aku tidak bisa melakukan apapun, aku menyadari satu hal bahwa aku tidak ingin kehilangan sahabatku untuk kedua kalinya_atau mungkin ketiga kalinya," tutur Jesica dengan tulus.
Ariel masih menatap lekat manik mata milik Jesica. Ia tidak tau apa yang harus dikatakan dalam situasi seperti saat ini. Sedetik kemudian, Ariel tersenyum hangat, merasa hanya itu hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk meringankan rasa bersalah Jesica dan memutar badannya agar menghadapnya.
"Aku memaafkanmu sejak lama, apakah kamu masih tidak mengerti, Jessi?" sambut Ariel.
"Dan setelah kamu menceritakan semua itu, justru menjadi alasan lebih kuat bahwa aku memang sudah seharusnya memaafkanmu. Andai aku tau sejak awal, aku akan memaafkanmu lebih cepat, aku tak akan sekalipun berpikir untuk membencimu," papar Ariel.
Jesica mendekat dan memeluk Ariel dengan erat. Hal yang dulu adalah kebiasaan mereka berdua dan sempat merenggang, kini kembali terjalin, bahkan manjadi ikatan yang lebih kuat dari sebelumnya.
"Aku juga minta maaf padamu, Jo. Sungguh mengelikan saat aku harus terus menganggumu hanya untuk mengujimu apakah kau pantas untuknya atau tidak," ungkap Jesica sembari bergidik. "Kau lebih dari kata pantas untuk Ariel," imbuhnya.
"Tetap saja, aku bersalah padamu. Dan tolong jangan salah paham, bukan berarti aku menjadikanmu batu loncatan atau apapun kau menyebutnya, tapi yang pernah aku lakukan padamu dulu tidak ada sangkut pautnya dengan Ariel. Akulah yang terlalu payah menjaga hatiku sendiri," papar Jesica.
"Aku memaafkanmu saat kau memberikan jaketmu pada Ariel dan mengabaikan dirimu sendiri. Itu membuatku sadar kau tidak seburuk yang ku pikiran, dan mungkin dugaan Ariel memang benar adanya," jawab Joel.
"Ah ya, satu orang lagi," ucap Jesica beralih menatap Bram.
"Aku bahkan tidak mengaharpkannya," sambut Bram.
"Bagus," balas Jesica.
"Apakah aku boleh bergabung, tuan dan nona sekalian?"
Charlie menyela mereka dengan berdiri diambang pintu bersama Ken disampingnya. Melipat kedua tangannya dan tersenyum lebar.
"Rasanya seperti melihat sebuah drama digedung bioskop," ucap Charlie.
"Kita keluar saja," jawab Jesica.
"Ada satu pasien yang membutuhkan istirahat disini," sambungnya.
"Bukan ide buruk, mengingat mereka perlu bicara setelah beberapa hari bertengkar," goda Bram.
"Bertengkar?" ulang Charlie.
"Siapa?" tanya Charlie.
Joel dan Ariel saling pandang, enggan untuk mengatakan sesuatu yang akan membuat Charlie semakin mengodanya.
"Baiklah, kita bicara di luar. Aku masih perlu bertanya hal yang berkaitan dengan hari ini," ucap Charlie.
Charlie mengarahkan pandangannya pada Ariel dan kembali berkata.
"Maaf, Ariel. Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja, biar bagaimanapun juga, dia terbukti bersalah. Dan kesalahannya bukan kali ini saja," tutur Charlie.
"Aku mengerti, maaf sudah membebanimu," sambut Ariel lesu.
"Hei,, apa maksudmu? Kau tidak membebani siapapun. Jika kau ingin aku merasa lebih baik, maka istirahatlah," ucap Charlie tersenyum sembari mengedipkan matanya.
Charlie berbalik dan pergi bersama Ken, diikuti Bram dan juga Jesica. Sebelum menutup pintu, Jesica kembali menoleh pada Ariel, lalu kepada Joel.
"Katakan saja jika aku perlu mengunci pintunya dari luar, akan ku lakukan dengan senang hati," ucap Jesica sembari mengedipkan matanya.
"JESICA,,,!!!" geram Joel sembari melemparkan bantal, namun menutup lebih cepat.
"Apakah Jesica memang orang seperti ini? Dia jauh berbeda dengan Jesica yang ku kenal," ucap Joel.
"Sejauh yang ku tau, di suka bertindak seenaknya," jawab Ariel.
Joel kembali menghadap Ariel, mengosok tengkuknya dengan canggung.
"Uhm,,, apakah kamu ingin sesuatu?" tanya Joel.
Ariel mengeleng pelan, "Tidak,"
"Makan atau minum sesuatu_,,,?"
"Joel,,," potong Ariel.
"Hm,, Ya? Ada sesatu yang kamu inginkan?" sambut Joel.
"Terima kasih," ucap Ariel.
"Untuk?" tanya Joel mengerutkan keningnya.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku," ucap Ariel.
"Tolong jangan katakan itu," jawab Joel kembali duduk di tepi tempat tidur.
"Akulah satu-satunya orang yang harus berterima kasih padamu karena kamu tetap disini, saat ini, dan bersamaku," tutur Joel.
"Dan, tolong tarik kembali kata-kata yang kamu ucapkan tadi, aku ingin hubungan kita kembali seperti semula," harap Joel.
"Kamu tidak perlu lagi berurusan dengan orang itu," imbuhnya.
Terjadi jeda keheningan cukup panjang diantara mereka, menumbuhkan kegelisahan dalam benak Joel, hingga saat Ariel menganggukkan kepalanya, hembusan nafas lega dan senyum kebahagiaan tidak bisa disembunyika dari wajahnya, membuat Joel secara spontan mendekap Ariel dengan erat.
...>>>>>>>--<<<<<<<<...
###Beberapa bulan kemudian...
Entah sejak kapan, hubungan pertemanan mereka berempat semakin kuat. Mereka menjadi lebih sering berkumpul bersama di akhir pekan hingga malam. Charlie serta Ken juga terlihat menjadi lebih dekat seiring berjalannya waktu. Ken bahkan tidak lagi menghindar ketika harus menemui keluarganya dan bisa mengatakan dengan bangga bahwa ia memiliki kakak yang hebat disisinya.
Disebuah cafe, beberapa pasangan tengah menikmati kopi untuk menemani sore mereka atau sekedar menghangatkan tubuh mereka. Salah satu diantara mereka, Ariel tegah duduk sembari membaca buku, hingga seorang pelayan menyela kegiatannya untuk meletakkan pesanan miliknya.
"Permisi,, silahkan pesanannya," pelayan itu memberikan senyum ramah khas miliknya.
"Terima kasih," sambut Ariel balas tersenyum.
Pelayan itu hanya mengangguk dan segera pergi. Ariel melirik jam tangannya dan menghembuskan nafas setelahnya. Tangannya kembali membuka buku, mulai membaca.
"Permisi,,"
Lagi-lagi seseorang menyela kegiatanya, membuat Ariel tidak memiliki pilihan lain selain mengangkat wajahnya.
....
....
.
.
To be Continued...