
"Siapa yang mengantarmu? Diantar seorang pria itu bukan sosok Chrlie yang ku kenal,"
Suara sarkas menggema menyambut Charlie saat ia masuk kedalam rumah, membuatnya segera berbalik kearah sumber suara.
"Kapan sebenarnya kau akan memanggilku kakak?" keluh Charlie.
"Jangan terlalu banyak berharap tentang itu," jawabnya ketus.
"Lalu kenapa kau harus peduli dengan siapa aku pulang?" balas Charlie datar.
"Aku hanya_,,,"
"Kau hanya perlu mengabaikannya, dan anggaplah aku tidak ada di rumah ini," potong Charlie.
"Aku lelah, aku akan ke kamar. Lakukan saja apa yang kau sukai selama itu tidak melewati batas," imbuhnya.
Charlie segera berjalan menuju kamar, mengabaikan adiknya yang masih saja bersikap dingin padanya.
Ia yang sudah melakukan segala cara untuk membuatnya menerima dirinya sebagai kakak, mulai kehabisan cara. Selain itu, keluarga yang terus menganggunya tanpa sepengetahuan sang adik, dan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya bertumpuk menjadi satu dibahunya.
"Lalu kenapa kau membawaku kemari jika pada akhirnya kau akan bersikap sama dengan mereka?" tanyanya sengit.
Langkah Charlie terhenti, hatinya bergemuruh mendengar kalimat yang tak pernah ia duga sebelumnya akan keluar dari adik yang telah ia sayangi.
Detik berikutnya, ia berbalik menghadap adiknya yang tengah berdiri dengan satu tangan disaku celananya, seolah apa yang baru saja ia ucapkan adalah kalimat ringan yang bisa diucapkan kapan saja.
"Aku tidak memaksamu untuk tetap bertahan bersamaku disini, mengetahui bahwa kau adalah adikku masih cukup mengejutkan bagiku, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan saat kau diperlakukan sama ketika aku berada disana," tutur Charlie menahan emosinya.
"Aku tau aku hanya sosok asing bagimu, begitu juga kamu yang masih asing bagiku. Aku menyesal karena tidak datang saat nenek tiada, dan tidak pernah datang untuk mencari tau tentangmu lebih cepat sejak aku pergi dari rumah itu, tapi apapun yang aku lakukan untukmu adalah tulus, bukan karena itu adalah tugas karena aku seorang kakak,"
Charlie mengeluarkan isi hatinya yang membuatnya sesak, menatap sekali lagi mata sang adik yang masih menatapnya tanpa ekspresi.
'Mata itu terlihat jauh berbeda dengan ketika dia pulang dari latihan musiknya. Apakah itu karena seseorang, atau karena memang dia sangat menyukai musik?' batin Charlie.
"Aku tidak akan menekanmu untuk melakukan apa yang kamu sukai, bahkan jika kamu mau berlatih musik didalam rumah ini, aku akan mendukungmu, Ken," ungkap Charlie dengan intonasi lembut.
Adik yang disebut Ken itu melebarkan matanya, merasa ia telah salah mendengar sesuatu hinga tak mempercayai apa yang baru saja ia dengar.
"Apakah itu usahamu untuk menyuapku?" cibir Ken.
"Alat musik apa yang kau inginkan? Jika itu cukup untuk merubah wajah masammu setiap kali aku pulang bekerja dalam keadaan lelah, aku akan membelikannya untukkmu," jawab Charlie mempertahankan sikap lunaknya.
"Kau pikir aku akan percaya?" sambutnya skeptis.
"Cello, aku pernah mendengar ayah menyebut Cello saat aku menanyakan tentang kasus kecelakaan nenek. Apakah aku salah, Ken?" balas Charlie.
Sekali lagi, Ken melebarkan matanya terkejut. Ia lupa Charlie adalah seorang polisi. Insiden kebakaran itu tentu saja Charlie mengetahuinya, bahkan ia tinggal bersama Charlie tak lama setelah itu. Namun, ia tidak menyangka Charlie akan mengingat hal itu.
"Kau tidak perlu tau tentang itu," sambut Ken.
"Haahh,,, baiklah,, sekarang aku benar-benar lelah. Aku akan mencari Cello yang cocok untukmu. Selamat tidur, Ken," ujar Charlie memutuskan sepihak.
"Aku tidak mengatakan aku mau menerim_,,, Hei,, Charlie,," Ken berseru kesal saat Charlie masuk kedalam kamar begitu saja tanpa menunggu ia menyelesaikan kalimatnya.
"Tck,,, menyebalkan,," decak Ken menghentakkan kakinya dan melangkah menuju kamarnya sendiri.
"BAMM,,,!!!!"
Ken dengan sengaja membanting pintu kamar, lalu menguncinya.
Ia berusaha sebisa mungkin agar Charlie tidak masuk kedalam kamarnya, dimana ia menyimpan foto orang yang ia sukai. Orang yang telah membuatnya kembali mencintai musik, meski ia juga sadar perasaannya adalah perasaan sepihak.
Ken menghempaskan tubuhnya ditempat tidur, wajahnya melembut ketika matanya melihat bingkai foto yang ada disamping tempat tidurnya, sebuah foto yang mampu menghadirkan senyum lembut di wajah kerasnya.
Tangannya terulur meraih foto itu, membelai sosok wanita yang berfoto bersamanya dengan penampilan anggun yang membuat ia tidak bisa melupakannya.
"Apakah kakak tau betapa aku sangat mendambakan kakak?" desis Ken terus membalai foto di tangannya.
"Aku sungguh sangat berharap kakak bisa menjadi kekasihku, bukan hanya sekedar adik atau murid kebanggan, tapi kakak menutup hati kakak karena masa lalu kelam yang kakak alami,"
"Aku sadar, dua pria itu juga menyukai kakak, dan itu artinya aku akan bersaing dengan mereka jika aku ingin mendapatkan kakak. Dan itu terasa mustahil bagiku untuk menang jika bersaing dengan mereka. Tapi, jika aku membuktikan kesungguhanku, apakah kakak akan mencintaiku?"
"Saat rumor di studio tersebar pun, sejujurnya aku menyukainya. Mereka menganggap kita menjalin hubungan, betapa aku berharap itu benar. Alasan sebenarnya aku diam saja dan mengabaikannya karena aku menikmatinya. Karena aku sungguh-sungguh mencintai kakak, aku sangat mencintai kak Ariel,"
Ken mencium bingkai foto tepat di wajah Ariel yang berfoto bersamanya saat pertunjukan pertamanya. Mendekapnya dengan erat hingga matanya perlahan menutup, menghadirkan hembusan nafas tenang saat Ken terlelap dalam tidurnya dengan senyum dibibirnya.
...>>>>>>>--<<<<<<<...
"Eghmmm,,,,,!!!"
Suara gumaman pelan keluar dari Ariel yang terlihat mengeliat ditengah tidurnya.
Ia mengerjapkan mata dengan malas, merasa enggan untuk bangun. Merasakan sisa rasa lelah ditubuhnya setelah pesta kecil semalam.
Masih setengah sadar, Ariel menarik selimutnya lebih tinggi, memposisikan kepalanya ke posisi ternyaman baginya, ingin kembali tidur tanpa peduli jam berapa saat itu dan segera mengernyit saat merasakan hal aneh dibawah kepalanya.
'Apakah aku mejatuhkan bantalku?' pikir Ariel.
Ariel mengerjapkan mata lagi, menggosok pelan matanya untuk mendapatkan kesadaran sepenuhnya, dan tekejut saat melihat apa yang ada di sekelilingnya.
Ruangan itu bukanlah kamarnya, juga bukan apartemenya. Seolah kesadarannya telah kembali penuh, Ariel terkejut saat menyadari, ia tidur dipangkuan Joel.
'Aku masih bermimpi? Ini mimpi, ini mimpi,' bisiknya dalam hati. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya mimpi meski itu tidak berguna.
Ariel menelan ludahnya tak percaya, menganggap itu adalah mimpi. Joel yang tertidur bersandar di sofa dengan Ariel dipangkuannya.
Ariel mengerjap lagi, mengosok matanya sekali lagi, dan melihat Joel bergerak bersamaan dengan membuka kedua matanya tanpa penghalang kacamata miliknya, menatap Ariel dengan senyum lembut khas miliknya.
"Selamat pagi, Sweety. apakah tidurmu nyenyak?" sapa Joel dengan suara lembut.
Jika saja keadaanya tidak secanggung sekarang, Ariel tentu akan sangat senang mendapatkan sapaan selamat pagi termanis menurutnya. Tapi_,,,
Joel membungkuk untuk mengecup kening Ariel, tepat saat wajah mereka sangat dekat, Ariel bangun dari berbaringnya dengan spontan.
"Aakkhh,,,,!!" Arie terpekik.
"Jedugg,,,!!!"
Tindakan spontan Ariel menyebabkan dahinya membentur dahi Joel dengan cukup keras. Meninggalkan rintihan kecil di wajah Ariel yang mengosok dahinya.
"Auhhh,,,!!!" rintih Joel.
Joel melakukan hal yang sama, menggosok dahinya, meringis menahan sakit yang ia dapatkan dipagi hari.
"Ouhh,,,, Kamu kenapa, Ariel? Kenapa bangun dengan tiba-tiba seperti itu?" rintihnya.
Ariel mengabaikan sakit yang berdenyut didahinya, menatap Joel dengan tatapan seribu pertanyaan.
"Kenapa aku masih disini? Kenapa kamu disini? Apa yang terjadi semalam?" cecar Ariel.
Ariel melihat sekeliling dengan panik.
'Tidur di sofa? Joel yang kujadikan bantal? Dan selimut ini?' batin Ariel.
Ariel mengelengkan kepalanya.
'Konyol. Hal bodoh apa yang sudah aku lakukan? Aku bahkan tidak minum,' rutuknya dalam hati.
Seringai lebar tumbuh menghiasi wajah Joel. Kembali mendekatkan wajahnya pada Ariel yang terlihat panik.
"Apakah kamu tidak ingat apa yang kita lakukan semalam?" tanya Joel.
"DEG,,,,!!!"
...>>>>>>>>--<<<<<<<...