
Lucky Luciano masuk ke dalam sebuah ruangan khusus perawatan bayi baru lahir yang butuh pengawasan ketat oleh tenaga medis. Ia berpakaian khusus, memakai masker dan penutup kepala. Seorang perawat mengantarkannya pada sebuah box transparan, inkubator, di mana sang bayi terbaring sementara di luar inkubator berbagai alat medis tersedia untuk kondisi kritis. Si bayi, entahlah, sebuah alat disambungkan ke selang tipis yang dimasukkan ke saluran napasnya melalui hidung begitupun mulut juga dipasangi selang. Banyak selang, di tangan, hidung, mulut, so bad. Lucky bernapas berat, hanya mematung di sana. Bayi itu lemparkan dirinya sendiri pada dosa-dosanya. Reinha katakan untuk bacakan doa, tetapi apakah ia pantas? Ia tak tak tahu doa seperti apa yang layak ia lafalkan sebagai pria pemilik bayi. Lucky hanya terpaku sementara alat-alat dalam ruangan itu berdengung di antara detakan lemah dada kecil itu.
"Kau tak akan temui September?" tanya Irish saat mereka berpapasan di depan ruangan NICU.
"Tidak," sahut Lucky tegas. "Aku kemari karena bayinya."
Francis sorongkan jas dan Lucky memakai kembali jasnya juga masker dan semprotkan handsinitizer.
"Kau memang bajingan, Lucky Luciano."
"Entahlah, tetapi aku lebih bajingan jika tinggalkan kekasihku yang setia. Kau bisa komentar sesuka hati, bisa skeptis atau sarkas padaku. Aku harus pergi," ujar pria itu.
"Sekali ini saja, please. Bisakah kau lihat lukanya? Cintanya tak kesampaian, sekarang bayinya mungkin akan pergi," pinta Irish terdengar pilu.
"Tidak, Irish. September inginkan sesuatu yang tak bisa kuberikan, meski, ia nekat habisi dirinya sendiri di hadapanku! Aku milik wanita lain. Kau tak bisa tawar menawar denganku."
Ponsel Lucky berbunyi dan Francis sodorkan pada Lucky.
"Bos,telpon masuk dari Tuan Elgio Durante," kata Francis melirik Irish. Lucky menerima ponsel dan hendak pergi keluar rumah sakit.
"Kau harus temui September!" hadang Irish. Mereka berhadapan.
"Lucky?" panggil Elgio terdengar di ponsel.
"Tahan panggilanmu, Elgio." Lucky menatap Irish serius. "Kami sudah sepakat sebelum berkencan; tanpa ikatan tanpa cinta, tanpa status, juga tak ada bayi; hanya berkencan. Kenapa memaksa, Irish?"
"Terlepas dari itu, cinta ...."
"Tak ada cinta," potong Lucky tajam. "Apakah aku harus bertanggung jawab untuk cinta sepihak seseorang padaku? Jika wanita satu kota punya cinta sepihak padaku, apakah aku harus menikahi mereka satu-persatu? Maaf aku harus terima telpon." Lucky mengambil jalan lain. Ia berbalik dan saat itulah September terlihat di atas kursi roda didorong seorang perawat dari ujung lorong. Mungkin ia ingin melihat bayinya.
Lucky menerima panggilan Elgio, biarkan September datang ke arahnya. Francis menggeram tak suka saat melihat September.
"Elgio, ada apa?" tanya Lucky.
"Apa kau bersama Enya? Bisakah kalian pulang sekarang? Jangan beritahu Enya ya, kami siapkan surprise acara ulang tahun untuknya," kata Elgio terdengar sangat excited dari seberang.
"Enya, belum kembali ke rumah?" Lucky keheranan. Mereka berpisah sudah hampir dua jam. Lucky menoleh pada Francis seakan bertanya, kau bisa lacak sinyal Enya? Francis lekas menggeleng. Sejak kejadian di black hole, sinyal Nona Durante tak terlacak. Bisa jadi, giginya copot atau sesuatu terjadi, Francis lupa memeriksa.
"Mengapa?" tanya Lucky menutup telpon dengan tangannya agar tak kedengaran Elgio.
"Mungkin benturan keras, Bos." Nona Reinha tak terdeteksi, tambah Francis di otaknya berharap Lucky Luciano dengar. Tanpa diperintah Francis hubungi restoran dan Reinha telah pergi kira-kira satu setengah jam lalu.
"Ada apa Lucky?" tanya Elgio di ujung sambungan terdengar curiga saat Lucky dan Francis terdengar samar-samar seperti keheranan.
"Baiklah, Elgio. Aku akan bawa Enya pulang," sahut Lucky dan menatap lurus pada September yang sampai di tempatnya berdiri. Sambungan diputus.
"Kau datang?" tanya September datar.
"Ya, aku lihat bayinya. Semoga ia bisa tertolong. Cepat sembuh September," sahut Lucky cepat.
"Segitu saja?"
"Apa ada yang lain? Kau makin banyak mau dan kau tahu bahwa aku tak akan bersama wanita lain selain Reinha Durante. Lupakan khayalanmu yang terlalu berlebihan!"
"Lucky ... " panggil September pelan.
"Bos ... " sela Francis. "Kurasa Anda harus pergi sekarang!" Francis sodorkan ponsel dan Lucky Luciano menyipit. Reinha terbaring di atas tempat tidur, lelap atau pingsan. Seoza pengirimnya.
"Lucky!"
"Berhentilah inginkan aku!" kata Lucky gusar pada September dan juga pada wanita lain yang berani mengacau pada Reinha. "Kau di sini, Francis. Urus September dan jangan libatkan aku, sekali ini lakukan dengan benar!" seru Lucky saat Francis akan ikut. Francis tampak tak suka tetapi tetap patuh.
Lucky berbalik pergi dengan cepat abaikan September juga Irish yang marah padanya. Hanya Reinha Durante, hal terpenting.
"Kau dengar, aku akan mengurusimu sejak hari ini, Nona September," ucap Francis malas-malasan. "Kuharap bayinya bisa diselamatkan. Aku akan segera jadi suamimu seperti kesepakatan kita, bosku akan mengejar kekasihnya dan mereka akan bersama malam ini," kata Francis sedingin es bikin September makan hati.
"Jangan bermimpi!"
"Bukan mimpi, ini kenyataan! Andaikan kau tak berulah, kita tak perlu susah-susah sampai di sini. Aku juga tak perlu korbankan diriku untuk menikahi eks teman kencan bosku! Kau buat segala hal jadi rumit, September. Aku tak lakukan ini untuk Bosku tetapi untuk Nona Durante. Hanya dia satu-satunya wanita yang tepat bagi bos Lucky Luciano. Aku tak ijinkan seseorang kacaukan kisah cinta mereka, termasuk dirimu!"
Irish abaikan pertengkaran di hadapannya. Ia telah matang berpikiran untuk kirimkan Lucky Luciano, Diomanta dan Familly Club' ke penjara. Ia akan mulai dengan Salsa Diomanta dan adik perempuannya lalu Lucky Luciano. Berkas kejahatan mereka telah selesai diinvestigasi diam-diam oleh seseorang yang ia kenal di kejaksaan dan mereka akan segera pergi ke penjara secepatnya.
"Kau tak akan lakukan itu, Irish," bisik September saat baca gelagat Irish.
"Maafkan aku, Septie. Manusia sampah memang harus dibersihkan," sahut Irish memandang rendah pada Francis. "Kau akan suka hadiah yang kubuat," tambahnya lagi. Mungkin ia dendam pada Elgio Durante juga Lucky Luciano, tetapi, ia akan kembali waras. Bertahun-tahun ia memburu Familly Club' dan menunda menyerang mereka. Sekarang waktunya. Ia akan kirimkan mereka ke sel dan kembali bekerja di jalur kebenaran. Carlos benar, ia mulai tak waras saat mengejar Elgio Durante. Saatnya bangun.
"Lupakan Lucky Luciano, September. Temukan kehidupan yang lebih baik. Aku akan mendukungmu. Berhenti kencan bersama pria asing hanya karena kau tertarik pada tubuhnya!" keluh Irish mengusap kepala temannya.
Sedangkan Lucky Luciano mengemudi tak tenang. Ia sangat gelisah, harusnya tak tinggalkan Reinha seorang diri. Ya Tuhan, mengapa ia selalu berakhir dengan hampir kehilangan kekasihnya itu? Bagaimana jika Seoza berikan Reinha minuman aneh dan Lucky tak sanggup bayangkan itu. Ia jadi sangat murka. Apa yang harus ia lakukan, agar dunia gelapnya berhenti mengganggu dirinya dan Enya. Ia tak bisa putus dari Enya. Tidak akan pernah.
Sementara itu di sudut lain kota, Reinha terbangun dan pegangi tengkuknya yang sakit. Semenjak jadi kekasih Lucky Luciano, ia kerap pingsan dipukuli. Apakah suatu hari, seseorang akan membunuhnya diam-diam? Hal yang sama sekali berbeda saat ia hanya jadi adik Elgio Durante. Pandangannya menyapu ruangan tempat ia berada. Hanya sebuah flat kecil dan Seoza bolak-balik dengan piring berisi makanan ke meja. Reinha bangkit dan duduk di pinggir tempat tidur.
"Apa yang kau inginkan Seoza? Lucky Luciano?" tanya Reinha muak. Berapa banyak wanita yang inginkan kekasihnya?
"Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Kau kasar padaku waktu di rumah sakit dan buatku susah jalan selama beberapa hari, aku ingin menghajarmu, tapi kau terlihat seperti patah hati berat. Apakah Lucky menendangmu jauh darinya?"
"Kau berasal dari keluarga terhormat, mengapa mau saja terjebak pada brengsek gila seperti Lucky Luciano. Lepaskan saja dia. Pria itu hanya cocok untuk wanita sepertiku yang haus dan liar." Seoza menaruh pasta di atas meja.
"Aku sangat mencintainya," aku Reinha hingga Seoza berhenti bergerak. Berdiri dari ujung pintu menuju dapur. "Dan Lucky Luciano mencintaiku," tambah Reinha.
"Jika dia cinta padamu, mengapa dia tinggalkanmu sendirian?"
"Bayinya sedang sekarat," sahut Reinha agak sempoyongan ke meja makan.
"Bayi?!"
"Ya, seorang wanita bernama September mengandung bayi Lucky dan lahiran tadi, beberapa jam lalu. Bayinya prematur dan mungkin akan segera kembali pada Pencipta." Nada sendu dan sedih Reinha buat Seoza mengernyit. Reinha Durante kedapatan meratap seakan dia yang punya bayi. Ketika bicara soal bayi seolah, ia kesakitan karena bayi itu menderita.
"Kau aneh, Nona." Kening Seoza terangkat tinggi. "Bukankah kalau si bayi hidup, Lucky mungkin akan bersama wanita yang bernama September itu?" Seoza sodorkan piring pada Reinha sedang Reinha menatap wanita di depannya ragu. Bagaimana kalau ia diracuni lagi? Reinha putuskan menerima piring.
"Mungkin kedengaran aneh tetapi Lucky Luciano akan bersamaku tak peduli berapa banyak wanita inginkan dirinya," jawab Reinha tak percaya ia duduk curhat dengan salah satu mantan teman kencan Lucky Luciano. Mereka mungkin akan saling melempar piring habis ini. "Maaf, bukan maksudku melukaimu." Reinha menghela napas panjang saat Seoza terpaku menatapnya.
"Kau mau pasta?" tanya Seoza.
"Kau tak racuni aku?"
"Tadinya sih, aku ingin beberapa pria menidurimu dan bikin Lucky gila. Tetapi, kau bagikan makanan untuk para gembel, itu buat aku tersentuh," kata Seoza jujur. "Tak ada racun di dalam sana. Kita bisa makan sepiring berdua kalau kau tak percaya," tambah wanita itu lagi.
"Baiklah, kau tahu, kalau kau berbohong. Kakakku akan menghabisimu!"
"Ya, bukan hanya Kakakmu yang hebat itu, Lucky Luciano, terlebih mungkin Francis akan jadikan tubuhku makanan singa lapar," gerutu Seoza, teringat bagaimana Francis menyeretnya keluar dari rumah sakit dan terlihat akan membunuhnya diam-diam karena berani kasar pada Reinha Durante. Mereka mulai makan. "Lucky sangat hati-hati dengan setiap teman kencannya. Heran saja, jika ada wanita sampai punya bayi dengannya. Kau tahu kami bahkan harus tes kesehatan dan pergi ke dokter ahli penyakit dalam oleh Francis, tanda tangani dokumen, sebelum kencan dengan Lucky Luciano," gerutu Seoza sekali gulung, garfunya penuh lilitan pasta. Kakinya satu di atas kursi dan wanita itu makan tanpa sopan santun, dengan lahap dan bebas.
"Apa pekerjaanmu?" tanya Reinha ikut makan meski ragu.
"Pekerja bar, dulunya. Saat bertemu Lucky, aku diberi banyak uang. Ketika kau lewati kota ada sebuah toko bunga, Melany Florist; Lucky membelinya untukku. Kau tahu kenapa Lucky sangat istimewa bagiku? Dia menyelamatkan aku dari banyak hidung belang yang ingin membeliku untuk rumah bordil mereka. Ia membayar aku dengan harga tinggi, kami lalu berkencan. Dunia kami hitam dan gelap, Reinha. Kau tak cocok bersamanya."
Reinha tersenyum. "Pastanya enak," puji tulus. "Kami berjanji untuk bersama sampai nanti, sampai aku cukup matang untuk menikah."
"Kau tidur dengannya?" tanya Seoza.
Reinha tersenyum sekali lagi, tak ingin jawab pertanyaan itu. Ia memikirkan jawaban ketika tiba-tiba pintu flat didobrak dan Lucky Luciano berdiri dengan marah di ambang pintu. Ia menyipit menatap Reinha dan Seoza yang mengobrol dengan akrab seakan mereka sahabatan.
"Kurasa kau memang sangat dicintai pria ini," keluh Seoza patah hati.
"Temukan seseorang yang baik dan mulailah hidup yang baru, trims untuk pastanya. Kau tahu, ini makanan terbaik di hari ulang tahunku," kata Reinha menatap Seoza penuh penghargaan. Seoza mengangguk, kini ia tahu mengapa Lucky Luciano memilih gadis 18 tahun dan bertahan dengannya, Reinha punya sesuatu yang tak dimiliki wanita lain. Gadis itu terlihat angkuh dan sangat pongah tetapi sekali mengobrol dengannya, Seoza tahu bahwa gadis itu seperti jelmaan malaikat yang tersesat di bumi.
"Kau tak apa? Apa dia menyakitimu?" tanya Lucky menggapai Reinha dan memeluknya erat, ketakutan.
"Tidak Lucky, kami hanya mengobrol!"
"Jangan lakukan itu lagi, Seoza. Kau tahu apa yang akan aku lakukan padamu jika kau berani menyakiti kekasihku," ujar Lucky dingin.
"Lucky hentikan! Seoza tak menyakitiku!" kata Reinha tenangkan Lucky yang hampir meledak oleh marah.
Seoza tak menyahut hanya menatap kedua orang di depannya dalam diam. Seandainya ia berani menyentuh Reinha tadi, berarti habislah ia oleh Lucky Luciano dan asistennya yang sangat kejam.
Lucky membawa Reinha pergi dari flat Seoza. Rahangnya gemelutuk dan ia tak akan biarkan wanita manapun di dunia ini menyentuh Reinha lagi. Pria itu mengemudi dengan brutal. Hidupnya benar-benar menjengkelkan belakangan. September, Seoza siapa lagi yang akan datang dan mengganggu Reinha? Mobil tidak kembali ke Durante Land. Pria itu terus lurus pergi ke Kapela tempat pemberkatan Marya dan Elgio. Ia separuh menyeret Reinha, bunyikan lonceng Biara.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Reinha pada pria yang hanya diam oleh kecamuk amarah dan kesal.
Lucky tak menggubris. Jika bayinya hidup, September akan kembali recoki mereka. Ia tak punya pilihan lain. Ia kembali menarik lonceng Biara hingga pintu terbuka. Sama sekali abaikan Reinha.
Padre Pio keluar dari dalam.
"Tuan Lucky apakah seseorang butuh sakramen pengurapan (minyak suci yang diterima oleh seseorang dalam sakratul maut)?" tanya Padre Pio. Hanya keluarga dari orang yang sekarat yang butuh penguatan, biasanya datang bunyikan lonceng biara tengah malam.
"Ya, aku butuh minyak suci malam ini jika tidak menikahi gadis ini, Padre. Aku menjelang ajal jika tak menikahinya. Urapi kami, aku mohon!" kata Lucky seperti pengemis yang tak makan selama berbulan-bulan.
"Lucky?!" seru Reinha tiba-tiba tak punya kata di kepalanya.
Padre menggeleng. "Tuan, ini sudah sangat larut. Lagipula, Anda tak bisa menikahi gadis ini tanpa saksi dan wali," kata Padre Pio tenang. "Kembalilah besok bersama wali dari kedua pihak."
"Anda akan jadi saksi dan wali kami, Padre," sahut Lucky. "Aku akan dengarkan apapun kata Anda, Padre. Tolong berkati kami!" Pria itu berlutut di kaki Padre Pio dan menarik Reinha ikut dengannya.
"Lucky?!" bisik Reinha tahan napas. "Apa yang kau lakukan? Bukan begini caranya. Elgio mungkin akan membunuh kita nanti!"
"Kau tak ingin menikah denganku?" tanya Lucky menyipit. "Apa kau keberatan aku tidak melamarmu dengan benar?" tanyanya lagi kira-kira. "Apakah kau butuh cincin?" Pria itu merogoh sakunya. Ia memesan cincin untuk melamar Reinha tadinya. Tetapi ia berubah pikiran sebab keadaan sangat tak bersahabat pada hubungan mereka. Tetapi, kini ia berubah pikiran lagi. Ia akan menikahi Reinha Durante malam ini.
"Bukan begitu," keluh Reinha.
"Mari menikah, aku bersumpah di depan Tuhan tak akan menyentuhmu. Pergilah kejar cita-citamu hingga ke ujung dunia, aku tak akan mengekangmu, hanya saja ..., menikahlah denganku. Aku hanya ingin kau jadi istriku dan melindungimu dari masa laluku yang bejat, hingga tak akan ada satu manusia pun di dunia ini sanggup lagi menyentuhmu dan menyakitimu, Reinha de Nazario Durante."
Lucky menyebut nama panjang gadis itu pertanda ia sangat serius dan meraih tangan Reinha perlihatkan cincin yang sangat gemerlap tertimpa cahaya temaram lampu-lampu yang ada di taman biara.
"Mari menikah, Enya!"
***
Wait Me Up....