Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 21 Hukuman bagi Pembuat Keonaran ....



Bagaimana keadaan Reinha? Apa dia sudah baikan?" tanya Marya pelan.


Elgio berusaha tidak meringis ketika Marya Corazon obati luka goresan dan lebam di wajah tampannya, sore hari setelah kembali dari sekolah. Mereka berdua hadap-hadapan di sofa tamu hunian sempit Bibi Maribel.


"Reinha sedang istirahat di kamar. Enya marah padaku bukan karena meninjunya tapi karena aku membuat keributan di kelas. Terlebih rasa malunya, aku rasa."


"Kelakuanmu jelas buat Reinha sangat bersedih. Ya, Tuhan ... kau ini. Pak Jerry mungkin sangat kesal sekarang! Kalian bahkan hampir menciderai wali kelasku."


Teringat kejadian itu, Elgio merengut dongkol. Harusnya ia tidak terpancing bedebah sialan tak bermoral itu. Gara-gara Lucky, Elgio harus menodai harkatnya sendiri. Kini ia lari dari amarah Reinha juga harus sembunyi dari Abner dan ceramah puluhan menitnya. Abner sangat gusar dan telah mencecar Elgio sejak pria itu datang ke sekolah Reinha ketika mendapat panggilan.


Baik Lucky maupun Elgio jalani sidang etika oleh Komite Sekolah dan mendapat sanksi akibat ciptakan keonaran. Hukumannya adalah mereka berdua akan memberi les tambahan tentang Ekonomi Bisnis berbasis daring, setiap Kamis dan Jumat sore di sekolah Reinha secara bergantian setelah kembali dari liburan panjang. Jika keberatan, pihak sekolah akan perkarakan ulah keduanya pada pihak berwajib.


Meskipun Abner dan sekretaris Lucky datang untuk meminta maaf secara lisan dan tertulis kemudian minta ganti hukuman, Komite Sekolah tetap pada keputusan final, tentunya setelah denda ganti rugi perabot kelas yang telah jadi puing dan tak dapat difungsikan. Elgio dan Lucky menerima ganjaran moral sebab jika keonaran selalu bisa selesai dengan uang, maka makin banyaklah kasus keonaran yang merugikan dan integritas sekolah dipertaruhkan. Lagipula, baik Elgio maupun Lucky cukup terkenal berkat bisnis mereka telah banyak berdampak pada pengembangan kota, panutan bagi kawula muda. Memalukan keduanya harus bertingkah tidak terpuji dan rendahan di sekolah.


Tangan Marya bergerak pelan di wajah Elgio sementara pria yang disentuh menahan napas. Ia menatap lurus pada Marya berusaha menahan kedua tangan agar tak menyentuh Marya. Sekian lama terjebak dalam kehidupan yang terpisah, sekarat tiap hari karena terlihat sia-sia, kini waktu membawa hatinya pada gadis itu. Masih seperti mimpi. Ia ingin lebih dekat, merajut momen yang hilang dan memandangi wanita itu tiap saat. Ia menggigit ujung bibirnya kuat, mengontrol diri.


"Setidaknya aku bisa melihatmu di kelas tiap Jumat sore nanti."


Elgio berucap parau. Dekat-dekat Marya membuatnya mabuk kepayang. Bagaimana gadis itu bisa setenang ini sedang hati Elgio telah dicambuk rindu berulang kali. Marya menggeleng geli, "Aku tidak akan ikut kelas itu."


"Mengapa?"


"Itu bukan kelas wajib. Lagian akan banyak spekulasi. Oh Me Deus, kau itukan hampir 24 tahun. Bagaimana bisa bertingkah konyol dan memalukan? Dewasalah! Apa yang membuatmu sangat marah pada Lucky?"


"Berhentilah mengomel! Aku salah, maaf. Aku cukup malu hari ini dan kau seperti penyedap rasa, menambah rasa jadi lebih berantakan."


"Kau tak masuk akal. Aku tak akan ikut kelasmu! Aku juga tak yakin apa yang akan kau ajarkan di kelasmu? Kau mungkin hanya akan jual tampang saja di sana!"


"Baiklah, aku akan punya kesempatan merayu salah satu temanmu di sekolah."


Marya sedikit menekan luka malah sengaja untuk pernyataan Elgio yang barusan lewat.


Aawwhhhh ... aawwhhh .... Elgio menjerit kesakitan.


"Kau menciptakan masalah untukku juga, Elgio. Aku mungkin akan viral setelah ini berkat menciummu di sekolah."


Marya berubah murung, mula-mula Ethan Sanchez kini Elgio Durante. Ia belum bersiap untuk hadapi amarah lain di sekolah. Beruntung liburan panjang dimulai setidaknya mungkin amarah mereka akan mereda selama liburan.


"Aku akan menikahimu secara sah. Aku sedang bersiap-siap."


"Hmmm ... jangan terburu-buru! Aku mungkin tak secantik anganmu. Jangan menyesal saat melihat jelas wajahku."


"Aku tak pernah peduli wajahmu sekalipun mungkin kau mirip kambing. Aku muak pada wanita cantik. Bagaimana kalau kau buka saja topimu dan kita lihat rupamu? Kau tidak bosan menutup matamu?"


Marya tersenyum geli, "Berhenti berisik! Nah, sudah selesai. Kembalilah ke rumah!"


"Segitu aja?" Elgio tak begitu senang. Marya mengusirnya seperti membasmi nyamuk.


"Ya, pergilah! Bibi Maribel akan melihatmu di sini." Marya bangkit berdiri.


"Mengapa takut? Kau istriku sekarang!" Elgio sekonyong-konyong menyusul Marya. Ia memeluknya.


"Elgio ...."


"Sepertinya aku ingin memelukmu sepanjang hari bahkan tak akan cukup. Apakah hanya aku sendiri yang menderita karena tak menemukanmu?"


"Aku masih 17 tahun," ujar Marya seakan tahu kemana arah tujuan dekapan hangat itu.


"Aku masih belum dewasa. Kau bisa kembali nanti saat usiaku 21 tahun. Kita hanya akan berkencan, tidak lebih."


Elgio tertawa lebar, "Ya Tuhan. Kau ini lucu. Apa yang ada di pikiranmu? Beritahu aku, mungkin bisa kuluruskan. Lagipula aku hanya ingin memelukmu."


Elgio mengacak Hoodie Marya sebelum beranjak menjauh ke jendela amati situasi di luar. Buruk baginya karena harus berhadapan dengan Reinha dan Abner. Lebih buruk lagi jika Bibi Maribel pergoki mereka berduaan di huniannya. Saat ia kembali, Marya sedang merapikan kotak obat.


"Dalam 12 Minggu ke depan kamu akan jalani terapi perilaku kognitif."


"Terapi?"


"Ya. Kau tahu?! Beruntungnya Sosiofobia yang kamu alami itu bukan sesuatu yang sangat parah. Jadi, aku memanggil Psikiater untuk menolongmu."


"Em, Elgio. Aku tidak yakin?"


Elgio memutar tubuh Marya hingga menghadap padanya.


"Terapi ini bertujuan untuk mengurangi rasa cemas, gelisah atau mengurangi dampak kesakitan akibat kenangan buruk di masa lalu. Kamu mungkin akan dihadapkan langsung pada situasi yang membuatmu cemas atau takut, kemudian psikiater akan memberikan solusi untuk menghadapi situasi tersebut. Seiring waktu, rasa percaya dirimu akan meningkat untuk menghadapi situasi ini, meskipun tanpa pendampingan."


"Kamu mirip Psikiater saat ini."


"Kemarilah, aku ingin memelukmu dan tak akan kulakukan lagi sekalipun aku ingin. Ini yang terakhir kali."


Elgio meraihnya lagi dan berterima kasih sebab ia menemukan gadis itu dan juga sangat jatuh hati padanya.


"Aku tidak butuh terapi, Elgio. Aku memang kehilangan jati diriku dan kesepian tetapi sekarang kamu telah memberi aku alasan untuk sembuhkan diri. Tetaplah tinggal di sisiku."


Keinginan sederhana itu membungkam Elgio. Keduanya menikmati waktu berharga itu.


"Baiklah, mari buat momen yang indah dan akhiri semua kekelaman."


Marya mengeratkan pelukannya dan mengangguk di sana menyetujui. Ia akan mencoba bangkit sekarang karena cinta Elgio menghembusi jiwanya.


"Apa pendapatmu jika kuberitahu bahwa Nyonya Salsa Diomanta akan datang mengunjungi kita kemari?"


"A-pa maksudmu?"


"Ibumu akan datang makan malam dan bernegosiasi denganku. Ia ingin aku menikahi adik tirimu."


"Ibu?!"


****


Maaf yah, updatenya lama. Tempatku lagi dirundung badai parah banget. Gak ada sinyal, listrik dan lumpuh selama hampir 4 harian.


Dukung selalu. Jangan Lupa like dan komentar yah. Boleh kritik juga kok. Makasih udah mampir.


NB:


Elgio karakternya rada-rada preman dan agak temperamen jika menyangkut Reinha dan Marya, jadi jika harapkan karakter sempurna mungkin bisa lihat di Novel satu. Anda bisa berkenalan dengan Raavero Alves.


Karakter Elgio ini terinspirasi dari karakter putera semata wayang Author, El Chyzarino Cesc.